Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban mudah. Dan itu membuat Sean marah. Bukan pada Vivi. Tapi pada situasi yang tidak bisa ia kendalikan. Dari atas, terdengar suara pintu kamar sedikit terbuka. Sean langsung menoleh. Refleks. Tegang. Namun yang keluar bukan Vivi. Bukan ayahnya. Hanya cahaya dari dalam kamar yang sedikit berubah arah. Seperti seseorang berdiri lalu bergerak di dalamnya.

Sean langsung menegang lagi. “Dia ingin merebut semuanya…” Suara Bibinya kembali muncul. Tapi kali ini tidak setegas sebelumnya. Terdengar seperti peringatan. Seperti suara yang mulai kehilangan tempatnya.

Sean menatap tangga lagi. Lalu ke adik-adiknya. Lalu kembali ke atas. Wajahnya masih keras. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai retak pelan. Ia tidak tahu harus percaya siapa. Bibi Helda yang selama ini dianggap seperti perpanjangan ibu mereka yang hilang atau Vivi yang setiap hari justru membuat rumah ini tetap berjalan tanpa diminta apa-apa.

Sean akhirnya berbalik pelan. Bukan naik. Bukan turun. Tapi duduk di anak tangga. Menunduk. Tangan kecilnya mengepal di lutut. Untuk pertama kalinya sejak Vivi datang ke rumah ini, Sean tidak sedang menyusun rencana untuk “menang”. Ia sedang bingung. Dan kebingungan itu jauh lebih berbahaya daripada kemarahan.

***

Sejak kamar baru itu selesai, Sean mulai merasa ada sesuatu yang berubah di rumah mereka. Bukan perubahan besar.Bukan sesuatu yang langsung terlihat. Tetapi cukup untuk membuatnya gelisah.

Pagi hari, Ayah dan Vivi turun bersama untuk sarapan. Tidak bergandengan tangan. Tidak terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Bahkan mereka masih sering canggung satu sama lain. Namun tetap saja Mereka turun dari kamar yang sama. Dan itu membuat Sean teringat lagi pada ucapan Bibi Helda.

Telepon itu datang saat Sean sedang membereskan tas sekolah. Layar ponselnya menunjukkan nama yang sudah sangat dikenalnya. Bibi Helda. Sean langsung mengangkat. "Halo, Bi."

"Sean, bagaimana keadaan di rumah?"

Sean diam sesaat. "Biasa saja."

"Masih biasa?" Nada suara Helda terdengar tajam. "Ayahmu sudah sekamar dengan perempuan itu, kan?"

Sean tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Di ujung sana terdengar helaan napas panjang. "Ibu kalian sebentar lagi dilupakan."

Jantung Sean langsung berdegup lebih cepat. Kalimat itu selalu berhasil mengenainya. Karena itulah ketakutan terbesar Sean. "Bibi..."

"Dengarkan Bibi." Suara Helda menjadi lebih pelan. Lebih meyakinkan. Seperti orang yang sedang mengajarkan sebuah kebenaran. "Perempuan itu pintar. Wajar karena dia guru. Dia tahu kalau datang sebagai teman atau pengasuh, kalian pasti menolak. Jadi dia masuk lewat cara lain."

Sean menggenggam ponselnya lebih erat. "Maksudnya?"

"Dia menikahi ayah kalian dulu. Tidak seperti calon ibu tiri sebelumnya. Yang berkenalan sebelum menikah dengan ayah kalian. Sekarang dia sudah resmi menjadi bagian keluarga. Kalian tidak bisa mengusirnya."

Kalimat itu membuat perut Sean terasa tidak nyaman. Karena sebagian dirinya tahu itu benar.

"Vivi itu licik. Dia masuk ke rumah itu lewat pintu yang tidak bisa kalian tutup. Sekarang ayahmu. Besok adik-adikmu. Lalu suatu hari nanti kamu."

Sean menelan ludah. "Aku nggak akan begitu."

"Semua anak berpikir begitu." Jawaban Helda datang terlalu cepat. "Sampai akhirnya mereka lupa. Kamu memakan masakannya, kan? Itu adalah bukti kalau kamu juga akan masuk perangkapnya!"

Setelah telepon berakhir, Sean tetap duduk di tepi ranjang. Ponselnya sudah mati. Tetapi kata-kata itu masih bergema. Ayahmu. Adik-adikmu. Lalu kamu. Di bawah, aroma sarapan mulai tercium. Biasanya itu tidak berarti apa-apa. Namun sekarang Sean mendadak memperhatikannya. Karena aroma itu bukan berasal dari satu orang. Ia mendengar suara Vivi. Lalu suara Ayah. Kemudian suara panci. Disusul suara Saka yang berteriak karena salah memecahkan telur. Dan suara Yuan yang mengomentari semuanya.

Sean turun perlahan. Lalu berhenti di tengah tangga. Dari sana ia bisa melihat dapur. Vivi sedang mengaduk sesuatu. Ayahnya sedang memotong buah. Pekerjaan yang dulu hampir tidak pernah dilakukan Ayah. Saka membuat kekacauan. Ella tertawa. Lili berusaha mencuri potongan pisang.Semuanya berisik. Tidak teratur. Tetapi hangat. Dan justru itulah yang membuat Sean semakin bingung.

Selicik apa Vivi ? Kenapa ia masih memasak sendiri? Kenapa ia masih mencuci bekas coretan Lili dari dinding? Kenapa ia tetap membantu Yuan belajar meski sering dikerjai? Kenapa ia tidak pernah meminta dipanggil Mama? Kenapa ia masih menyimpan foto ibu mereka yang tergantung di ruang keluarga? Bahkan tidak pernah sekali pun meminta foto itu diturunkan.

Sean berdiri diam cukup lama. Sampai akhirnya Yuan muncul di sampingnya. Entah sejak kapan. "Mikir apa?"

Sean terkejut. "Nggak."

"Bohong."

Sean mendengus. "Kamu kenapa sih?"

Yuan ikut melihat ke arah dapur. Lalu berkata pelan, "Kamu masih dengar omongan Bibi Helda ya?" Anak sembilan tahun itu menyeringai kecil. "Aku pintar."

Sean kembali menatap dapur. "Kalau Bibi benar gimana?"

Yuan ikut diam. Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat serius."Aku nggak tahu."

"Kalau Mama dilupakan gimana?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Yuan menatap Ayah mereka yang sedang tertawa karena Lili menempelkan kulit pisang ke lengannya. Lalu menatap foto ibu mereka yang masih tergantung di dinding ruang makan. Foto yang selalu ada di sana. Setiap hari. Tidak pernah dipindahkan. Tidak pernah diturunkan. Akhirnya Yuan menjawab. "Kalau Ayah lupa..." Sean menunggu. "Kenapa fotonya masih ada?" Sean terdiam. "Kalau Vivi mau merebut semuanya..." Yuan menunjuk dapur. "Kenapa dia nggak pernah minta dipanggil Mama?" Sean kembali diam. "Kalau dia mau menggantikan Mama..." Yuan menatap kakaknya. "Kenapa dia selalu bilang dia bukan Mama?"

Sean diam, ia tidak mengatakan apa-apa selain mengamati. Bahkan saat Yuan turun pun ia tetap diam, namun di hatinya semua bicara. Sean kini yakin, Vivi sudah mendapatkan ayahnya dan sekarang adik-adiknya. Kini hanya tinggal dirinya yang masih bertahan.

***

Sore itu suasana rumah jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada suara Saka yang berlarian. Tidak ada Ella yang cerewet. Bahkan Yuan memilih diam dan pura-pura membaca buku. Karena semua orang tahu sesuatu telah terjadi. Dan pusat masalahnya adalah Sean.

Hari itu seharusnya menjadi hari penting. Tes masuk sekolah unggulan yang sudah dipersiapkan selama berminggu-minggu. Baskara bahkan meluangkan waktu khusus untuk mengantarnya. Vivi membantu mengulang pelajaran setiap malam. Sean sebenarnya mampu. Semua orang tahu itu. Bahkan Yuan pernah berkata bahwa Sean bisa lulus dengan mudah jika mau. Tetapi ketika hasil lembar ujiannya diperlihatkan Baskara hampir tidak percaya. Hampir seluruh jawaban kosong. Kosong. Benar-benar kosong. Dan di halaman terakhir Sean malah menggambar wajah guru pengawas. Lengkap dengan kumis besar dan telinga seperti gajah. Padahal gurunya perempuan.

1
Aleendra
bagus
Kustri
jadi.... vivi udh gk ngajar lg ato gmn
kt'a mau diserahin yayasan?
Kustri
apa gk punya art, rumah segede gitu, anak sebyk itu? 🤔
klo gk punya berarti bas pelit! 🤮
Ira arif
ngilangin duit milyaran berani, sekarang kepepet bawa2 nama Alina... pret banget lah
Ira arif
gengsian, ujung-ujungnya vivi juga yang nolongin
Ira arif
malah Sean yang peka
Ira arif
bukannya kamar baru, lemari baru.... kenapa masih nyempil barang punya Alina
Ira arif
yaelah... kagak diskusi main mutusin aja
Ira arif
lha yang punya bu mega kok disuruh manut alina
Ira arif
tapi yang dibantu ngelunjak
Ira arif
ini serius horang kaya tapi gak punya ART sama sekali? atau gak masuk cerita aja? kayaknya semua2 vivi yang kerjakan
Ira arif
ini ponakan anaknya helda? pantesan dia julid ke vivi, takut gak dibiayai lagi kali ya. Terus nenek ema bukannya masih hidup?
Kustri
baskoro usia 32 klo gk salah, trus saka anak paling besar usia 10th🤔 berarti bas nikah usia 22th, mgkin stlh lulus kuliah lgsg nikah trus pnya anak yaa🤭
Kustri
lily paling kecil umur brp?
pas vivi dateng stlh akad lily digendong pembantu, ini ngomong ky udh umur 10th lbh🤔🤔🤔
Kustri
vi, saranqu... pasang foto pengantin kalian spy sadar klo kau ibu'a skrg😂
Kustri
eh, dr sinta👊kau bohong ya, bertahun"... kasian vivi, apa maksudmu menyembunyikan kenyataan klo vivi normal, hah!
Sakura
😂😂😂😂😂begitulah kalau menikah dengan orang yang belum selesai dengan masa lalu nya. Dan parahnya lagi keluarga masa lalu termasuk serakah dan ga tau diri. semasa hidup anak dijadikan tulang punggung sampai sudah mati pun masih harus menafkahi secara tidak langsung.
Ira arif
penasaran sama alasan si tante bikin diagnosa palsu, jahat banget lho ini
Ira arif
sering banget ya pola kalimatnya bukan karena... bukan karena... melainkan...
macam AI 🤭
Ira arif
beli aja sih, susah amat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!