Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Musafir Bernama Lazark

Di depan gerbang akademik, para orang tua murid masih berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran dan kegelisahan. Guncangan dahsyat serta aura mengerikan yang tadi menyebar ke seluruh penjuru membuat mereka tidak sabar menunggu. Mereka mendesak untuk segera masuk ke dalam, ingin memastikan keselamatan anak-anak mereka masing-masing. Namun para pengawal berbaris rapat dan berusaha sekuat tenaga mencegah mereka masuk — peraturan masih berlaku, masa latihan belum selesai, dan tidak ada yang boleh masuk.

Di sisi lain, di ruangan tempat Angel dirawat, Rey, Kael, dan Ellion baru saja berhasil menenangkan Angel. Namun ketenangan itu terganggu ketika seorang pengawal datang dengan napas terengah-engah membawa kabar: para orang tua semakin gelisah dan berbondong-bondong mendesak masuk, menuntut penjelasan atas kekuatan menakutkan yang baru saja mereka rasakan.

Ellion yang tubuhnya masih terasa sangat lemas dan tak berdaya tampak ingin berdiri namun kembali terjatuh. Melihat keadaan itu, Kael segera mengambil keputusan.

"Biarkan aku yang turun menghadapi mereka," ucap Kael tegas. "Kau istirahatlah, Ellion. Tubuhmu belum pulih."

Kael pun berangkat bersama pengawal yang tadi membawa kabar, menuju gerbang utama tempat kerumunan orang tua berkumpul. Namun saat Kael berdiri di hadapan mereka, bukannya tenang, para orang tua maupun pengawal yang berjaga justru menatapnya penuh keheranan. Pakaian yang dikenakan Kael masih berlumuran bau ikan, jaring ikan yang tadi dibawanya masih tersampir di bahu — siapa yang akan menyangka seorang nelayan biasa berdiri di sini mewakili pihak akademik?

Kael mencoba menenangkan mereka dengan suara lembut namun tegas. "Tenanglah, semuanya... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik saja di dalam."

Namun usahanya sia-sia. Kata-kata itu justru memicu kemarahan para orang tua. Keributan semakin memanas, dan ada di antara mereka yang mulai mengeluarkan kekuatan sihirnya, siap menerobos masuk dengan paksa.

Kael menoleh ke arah Rebeca yang berdiri di antara kerumunan, matanya seolah meminta izin. Ia tahu ia harus mengeluarkan kekuatannya sekali lagi untuk mendamaikan keadaan, namun ia tidak berani melakukannya tanpa persetujuan Rebeca. Dan saat itu, salah satu orang tua dengan wajah penuh amarah mengangkat tangannya, hendak menyerang para pengawal yang menghalangi jalan...

Tiba-tiba...

Wusss...!

Seorang sosok muncul di tengah-tengah mereka dengan langkah yang tenang namun memancarkan tekanan yang luar biasa. Ia berpenampilan seperti seorang musafir yang telah menempuh perjalanan jauh, pakaiannya sederhana namun penuh bekas perjalanan. Di pinggangnya tersampir sebilah pedang yang seluruhnya masih dibungkus dengan kain, tidak terlihat sedikit pun wujud aslinya. Namun begitu ia mengayunkan tangan yang memegang gagang pedang itu...

Kael tertegun. Matanya membelalak tak percaya. Ia merasakannya — kekuatan yang mengerikan, begitu akrab, dan seketika membuat darahnya mendidih seakan ingin kembali bertarung. Bahkan di dalam ruangan, Ellion yang masih berbaring lemas tiba-tiba tersentak, merasakan kehadiran itu. Sosok ini... membawa mereka kembali ke masa lalu, ke masa-masa perang yang penuh pertumpahan darah.

Musafir itu tersenyum, menatap sekeliling dengan tatapan tajam yang menakutkan.

"Apa yang sudah kalian lakukan terhadap Nona Mudaku?" suaranya bergema, berat dan penuh ancaman. "Apakah kalian ingin bertarung denganku?"

Satu kalimat itu membuat suasana seketika berubah menjadi mencekam. Para orang tua, para pengawal, bahkan murid-murid yang mendengarnya merasakan ketakutan yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya.

Dari sudut pandangnya, Rebeca segera mengirimkan pesan melalui batin — telepati — kepada sosok itu. Ia tahu siapa dia.

"Lazark... jangan berlebihan. Jika kau terus seperti ini, aku pun akan menyerangmu juga, meskipun kau adalah tangan kanan Dewa Penghancur."

Lazark tersenyum miring seakan menerima teguran itu, namun tidak terlihat takut sedikit pun. Perlahan tubuhnya terangkat melayang di udara, menatap kerumunan di bawahnya dengan sorot mata yang mengintimidasi.

"Kembalilah, wahai orang tua para murid," perintahnya dengan suara yang menggelegar. "Urusan ini biar aku yang menanganinya. Jika dalam hitungan ketidak ada yang pulang sekarang juga... aku akan menghancurkan bangunan ini beserta anak-anak kalian yang ada di dalamnya!"

Ia tertawa keras, tawa yang penuh ancaman dan keyakinan mutlak bahwa ia mampu melakukannya.

Ancaman itu akhirnya membuat para orang tua mundur ketakutan. Satu per satu mereka berbalik dan pulang ke rumah masing-masing. Tak lama kemudian, gerbang utama menjadi sepi. Tinggallah Rebeca, beberapa pengawal yang berjaga, dan Kael.

Kael menatap para pengawal itu dengan wajah serius. "Kalian semua kembali ke dalam gedung. Jaga tempat ini baik-baik."

Para pengawal itu mengangguk patuh. Mereka tahu betul bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di sini — kehadiran sosok musafir itu saja sudah cukup memberi tahu bahwa urusan ini bukan lagi urusan biasa. Mereka pun segera melangkah masuk kembali ke dalam akademik.

Kini hanya tersisa tiga orang: Kael, Rebeca, dan Lazark. Ketiganya saling berdiri diam, menatap satu sama lain. Tidak ada yang membuka suara. Keheningan itu berlangsung cukup lama.

(Penulis bingung sendiri... kenapa sih keluarga ini setiap kali bertemu pasti harus diam-diam dulu menunggu siapa yang berbicara duluan? Aneh sekali, penulis apa keluarga ini ya? Wkwkwkwkwk)

Hingga akhirnya, Lazark meledak tertawa — tertawa sekencang-kencangnya, seakan baru saja melakukan hal paling lucu di dunia.

"Hahahaha! Lucu sekali bukan? Aktingku tadi! Hahahaha!"

Belum selesai tawanya terdengar, prak! Rebeca langsung memukul kepala Lazark dengan kesal.

Harus diakui, Lazark memanglah tangan kanan Sang Dewa Penghancur — sosok yang kejam, tak memiliki belas kasihan, dan akan menebas siapa pun yang menghalangi jalan tuannya tanpa peduli nyawa sebagai taruhannya. Namun di sisi lain, jika sudah berada di dekat orang-orang yang dianggapnya keluarga, Lazark adalah sosok yang kocak dan usil selayaknya anak kecil. Apalagi di hadapan Rebeca, istri dari tuannya sendiri — ia selalu saja mencari cara untuk mengerjai atau sekadar bercanda dengannya.

(Maafkan aku, karakter Lazark... tapi maaf ya, aku harus membanned sifatmu yang terlalu lucu ini, nanti malah jadi chat favorit pembaca hahahahahaha)

Setelah puas tertawa, Lazark menatap Kael lalu Rebeca dengan wajah serius namun tetap bercanda.

"Bagaimana kabarmu, murid pertamaku? Kael, si Shadow..." tanyanya lembut. "Dan kabarmu, Rebeca..."

Lalu ia menatap pakaian mereka berdua — pakaian Kael yang masih lusuh bau ikan, dan pakaian Rebeca yang juga tampak tidak rapi. Lazark menunjuk mereka dengan jari sambil tersenyum mengejek.

"Tapi kenapa baju kalian berdua terlihat seperti pengemis dan lusuh begitu? Hahaha!"

Prak! Sekali lagi Rebeca memukul kepala Lazark.

Kael menahan tawa melihat gurunya yang sedang kesakitan sambil memegang kepalanya. Lazark menatap Kael dengan wajah sedikit kesal.

"Sudah lama aku tidak merasakan tangan ku mendarat di dahimu ya, Kael..." gumamnya dengan nada seakan menyimpan dendam kecil.

Rebeca segera menghentikan keributan kecil itu. "Sudah, cukup. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Ayo kita segera menemui Angel."

Mereka bertiga pun bergegas menuju ruangan pemulihan tempat Angel berada. Sesampainya di sana, mereka melihat beberapa prajurit berdiri tegak di luar ruangan, pedang terhunus, bersiaga dengan penuh kewaspadaan untuk melindungi Angel untuk terakhir kalinya.

Melihat pemandangan itu, Lazark justru tertawa dengan nada mengejek.

"Wah, wah... baru kali ini ada yang berani menghunuskan pedang kepadaku lho! Apa kalian tidak lihat itu, Kael?" tawanya terdengar khas, bergema di lorong itu.

Para prajurit yang merupakan murid-murid terlatih langsung dari Ellion itu seketika merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat kejadian kekuatan Angel meledak tadi. Tubuh mereka menegang, keringat dingin mulai menetes.

Lazark menyeringai, matanya berkilat jahil. "Sepertinya aku harus melayani kalian ya... Hehehehe."

Belum sempat Lazark melangkah maju, jep! Rebeca langsung mencubit telinganya dengan kuat.

"Kamu ini mau melakukan apa lagi? Diamlah!" tegur Rebeca dengan nada tegas.

Para prajurit itu saling berpandangan dengan wajah bingung. Pemandangan di hadapan mereka sungguh membingungkan — sosok yang aura kekuatannya saja bisa membuat mereka gemetar ketakutan, ternyata bisa dicubit seperti anak kecil oleh wanita di sampingnya.

(Nah kan... wkwkwkwkwk, tuh karakter bukan lagi sekadar Over Power, cuma bisa jadi bahan tertawaan saja)

Saat itu juga, pintu ruangan terbuka dan Rey berlari keluar menghampiri mereka bertiga. Rey menatap wajah mereka satu per satu, lalu mengangguk dengan hormat.

"Saya mengenal ketiga orang ini," kata Rey kepada para prajurit. "Mereka diizinkan masuk."

Rebeca dan Kael melangkah masuk, namun saat Lazark hendak ikut masuk, Rebeca langsung menahannya.

"Kamu tidak boleh masuk," ucap Rebeca singkat.

Wajah Lazark seketika berubah sedih dan memelas. "Kenapa aku tidak boleh masuk? Aku ingin melihat Nona Mudaku..."

(Percuma saja wajah memelas, kamu memang ditakdirkan menjadi karakter humoris, Lazark)

Lazark menghela napas panjang, lalu matanya beralih ke arah lima prajurit yang tadi menghunuskan pedang kepadanya. Wajahnya seketika berubah, tersenyum lebar dengan tatapan yang seakan tidak bersalah namun terasa sedikit aneh.

"Wah, iya juga... masih ada kalian di sini ya," katanya dengan senyuman yang membuat bulu kuduk berdiri. "Temanilah aku. Aku lapar. Tidak perlu khawatir soal biaya, aku yang akan mentraktir kalian kalau sudah menemani aku."

Kelima prajurit itu saling bertukar pandang, bingung namun seakan ada kekuatan yang membuat mereka tidak berani menolak. Dengan wajah pasrah, mereka pun menuntun Lazark menuju tempat istirahat untuk menyuguhkan berbagai makanan enak untuknya.

(Sudah segini saja kelakuanmu, Lazark. Kasihan juga padamu... karakter yang seharusnya Over Power, tapi malah jadi konyol begini hahahahaha)

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!