Indonesia
NovelToon NovelToon
Samson Otot Kawat Tulang Lunak

Samson Otot Kawat Tulang Lunak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Sci-Fi
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: PenaGabut_

Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyamaran Muka Klimis

"Samson! Lu yakin jas hitam Papi yang baunya kayak kapur barus ini pantes buat gue pakai?!" gerutu Bang Jarot seraya menarik-narik kerah jasnya yang terasa agak sempit di bahunya yang kekar.

Pagi sebelum fajar terbit, pelataran gedung bertingkat Developer Mega Indah sudah dipenuhi kendaraan berlalu-lalang. Namun, perhatian beberapa satpam di depan pintu masuk mendadak tertahan pada sesosok pemuda bertubuh tegap setinggi 178 sentimeter yang melangkah anggun bagai model papan atas di atas runway.

Samson tampil memukau dengan kemeja putih licin tanpa lipatan, celana bahan terpotong rapi, dan tatanan rambut poni yang klimis sempurna diterpa angin pagi. Di samping kirinya, Kenanga berdiri sigap mengenakan setelan jas hitam bergaya tomboi lengkap dengan kacamata hitam tebal, sementara Bang Jarot dan dua anak buahnya yang berwajah cerah—hasil eksfoliasi semalam—berjalan tegap di belakang mereka sebagai tim pengawal.

"Aduh Bang Jarot sayang, tolong posisi dadanya dibusungkan sedikit dong! Jangan mengkerut gitu, nanti wibawa tim inspeksi estetika kita luntur sebelum sampai di lift!" bisik Samson dari sudut bibirnya tanpa merusak senyum manis di wajahnya.

"Gue risih, Sam! Biasanya gue pakai jaket kulit bau asap knalpot, ini malah disuruh bau parfum bunga lavender!" balas Bang Jarot berbisik halus.

"Diam dulu lu berdua, satpamnya makin dekat tuh," potong Kenanga dingin seraya membetulkan kacamata hitamnya.

Dua orang satpam bertubuh tegap langsung menghadang langkah mereka tepat di depan pintu kaca otomatis gedung.

"Selamat pagi. Ada keperluan apa ya, Pak, Bu? Apakah sudah ada janji dengan pimpinan?" tanya satpam berwajah tegas itu sambil meneliti penampilan rombongan aneh tersebut.

"Aduh Mas Satpam... sebelum saya jawab, saya mau tanya dulu deh. Mas ini pasti sering kena shift malam tanpa pakaikan sunscreen pas apel pagi ya?" tanya Samson dengan suara lembut yang bikin satpam itu berkedip bingung.

"Hah?! Apa hubungannya sama shift malam, Mas?!"

"Coba deh Mas meraba area pipi kanan. Itu pori-porinya tersumbat debu polusi jalanan parah lho! Kalau dibiarkan seminggu lagi tanpa double cleansing, bisa jadi jerawat mendalam yang merusak ketampanan seragam Mas ini!" Obrolan Samson panjang lebar bagai dokter spesialis kulit berpengalaman.

Satpam itu refleks meraba pipinya sendiri dengan wajah panik. "E..hh... beneran, Mas? Tapi saya kan kerja—"

"Kami ini Tim Audit Kualitas Lingkungan dan Estetika Tata Ruang Pusat!" potong Samson cepat seraya menepuk bahu satpam itu mantap. "Kami ada jadwal inspeksi mendadak ke ruangan Direktur Utama terkait dampak radiasi pembangunan mall terhadap kelembapan udara warga sekitar. Mana jalur lift khusus VIP-nya?"

Satpam yang sudah terhipnosis oleh analisis jerawat dan gaya meyakinkan Samson langsung menunjuk ke arah koridor kanan tanpa ragu-ragu. "O...hh... jalur VIP di sebelah sana, Pak Audit! Silakan, langsung ke lantai delapan belas!"

Kenanga menahan tawa melihat betapa mudahnya pertahanan gedung bernilai miliaran rupiah itu jebol hanya karena kekhawatiran satpam akan jerawat di pipi. "Gila lu, Sam. Muka lugu centil lu beneran sakti," bisik Kenanga saat mereka melangkah masuk ke dalam lift transparan.

"Ini namanya power of skincare, Mbak Ken," sahut Samson bangga seraya membetulkan tatanan poninya di cermin lift. "Kuncinya cuma satu: percaya diri dan pahami masalah pori-pori lawan!"

TING!

Pintu lift terbuka di lantai delapan belas. Koridor berkarpet tebal dengan interior kemewahan menyambut mereka. Di ujung koridor, terlihat sebuah pintu kayu jati besar bertuliskan RUANG DIREKTUR UTAMA: BAPAK REZA MEGA INDAH.

Namun, sebelum mereka berhasil mendekati pintu tersebut, sosok Pak Niko—pria berjas hitam yang kemarin mengancam akan meratakan pasar—tiba-tiba keluar dari ruangan sebelah sambil membawa tumpukan berkas.

Mata Pak Niko membelalak lebar saat melihat rombongan Samson, Kenanga, dan Bang Jarot berdiri di tengah koridor.

"K...KKAA..LIAN..?! NGAPAIN PREMAN PASAR DAN COWOK CENTIL INI BISA MASUK KE SINI?!" teriak Pak Niko histeris seraya menjatuhkan berkas di tangannya. "SATPAM! ADA PENYUSUP!"

"Aduh, Pak Niko! Suaranya jangan melengking gitu dong! Frekuensi tinggi bisa memicu tekanan darah naik dan bikin kerutan wajah makin dalam!" tegur Samson santai.

Tanpa membuang waktu, Kenanga langsung melompat maju. Sebelum Pak Niko sempat menekan tombol darurat di dinding, cewek tomboi itu mencekik leher jas Pak Niko dan menguncinya di tembok dengan gerakan jiu-jitsu yang sangat presisi.

"Diam lu kalau kagak mau leher lu patah!" gertak Kenanga dingin.

Bang Jarot dan anak buahnya dengan cepat mengambil alih posisi pintu keluar, memastikan situasi tetap aman. Sementara itu, Samson dengan langkah anggun mendekati pintu jati besar, lalu mendorongnya perlahan.

Di dalam ruangan serba mewah itu, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kacamata berlapis emas di balik meja kerjanya. Pria itu adalah Pak Reza, pemilik korporasi pengembang raksasa tersebut.

Pak Reza mendongak kaget melihat pintu ruangannya diterobos. "Siapa kalian?! Berani-beraninya masuk tanpa izin!"

Samson melangkah masuk, menarik napas dalam-dalam, lalu membusungkan dadanya tegap. Keberaniannya untuk membela tempat tinggal Papi, mata pencaharian warga pasar, dan tentu saja meja rias kesayangannya kini berada di puncaknya.

"Selamat pagi, Pak Reza yang terhormat," sapa Samson dengan nada bariton yang tegas namun tetap elegan. "Kami adalah perwakilan resmi dari warga Pasar Subuh dan Bengkel Perkasa Putra. Dan kami ke sini bukan untuk minta dikasihani, tapi untuk membongkar kebohongan dokumen penggusuran buatan anak buah Bapak!"

Pak Reza mengerutkan dahinya, menghentakkan bolpoin mewahnya ke atas meja hingga berbunyi nyaring. "Kebohongan apa?! Semua dokumen eksekusi lahan itu sah menurut hukum!"

"Sah menurut hukum atau sah menurut dompet pribadi Pak Niko?!" potong Kenanga seraya melempar tubuh Pak Niko yang sudah gemetaran ke dalam ruangan.

Bang Jarot mengunci pintu ruangan dari dalam dan bersedekap dada di samping pintu. Kehadiran lima pria berbadan kekar bersetelan rapi itu membuat suasana ruangan Direktur Utama mendadak sangat mengintimidasi.

Pak Niko yang tersungkur di karpet mahal langsung pucat pasi. "P...paakk Reza... mereka ini orang-orang liar dari pasar tradisional yang mau bikin rusuh!"

"Bohong!" seru Samson lantang seraya melempar sebuah map plastik transparan ke atas meja kerja Pak Reza. "Tadi malam, anak buah Bang Jarot berhasil menemukan dokumen asli sertifikat kepemilikan lahan Pasar Subuh yang ternyata disembunyikan oleh Pak Niko di dalam bagasi mobilnya!"

Pak Reza tertegun. Ia meraih map tersebut, membuka halamannya satu per satu, dan matanya seketika membelalak lebar melihat stempel serta tanda tangan asli instansi pemerintah yang selama ini dilaporkan hilang oleh Pak Niko.

"Niko... apa-apaan ini?!" bentak Pak Reza dengan suara menggelegar, menatap tajam ke arah anak buahnya yang mulai mandi keringat dingin. "Kamu memalsukan laporan eksekusi dan berniat menggelapkan uang ganti rugi ratusan warga pasar?!"

"S...ssaaya... saya bisa jelaskan, Pak..." jawab Pak Niko memelas, tubuhnya gemetaran bagai daun kering tertiup angin.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" potong Samson tegas seraya mengibaskan tangan cantiknya di udara. "Tindakan kelicikan Anda bukan cuma merugikan ratusan kepala keluarga pedagang pasar dan bengkel Papi saya, tapi juga sudah membuat kelembapan kulit wajah saya menurun drastis karena stres berat selama tiga hari terakhir!"

Bang Jarot dan Kenanga saling pandang, menahan tawa mendengar menyelipnya keluhan skincare di tengah momen pengungkapan kejahatan korporasi bernilai miliaran rupiah tersebut.

Pak Reza menghela napas panjang. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kebesarannya, lalu menundukkan kepala secara mendalam di hadapan Samson, Kenanga, dan Bang Jarot.

"Saya atas nama pimpinan Developer Mega Indah memohon maaf sebesar-besarnya atas kecurangan anak buah saya. Rencana penggusuran Pasar Subuh dan Bengkel Perkasa Putra dibatalkan detik ini juga! Seluruh hak lahan warga akan dikembalikan secara utuh," tegas Pak Reza jujur.

Mendengar keputusan spektakuler itu, Samson melompat kegirangan seraya menepuk kedua tangannya heboh. "Horeeee! Bengkel Papi selamat! Pasar Subuh aman! Meja rias dan seluruh koleksi skincare mahal Samson tetap lestari!"

Kenanga tersenyum lebar dan menepuk bahu kekar Samson, sementara Bang Jarot menyeringai puas seraya mengelus pipinya yang kini terasa makin halus dan glowing.

"Tapi Samson... ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui sebelum merayakan kemenangan ini," ujar Pak Reza dengan nada suara yang mendadak berubah amat berat.

Pria tua itu menarik sebuah laci rahasia di bawah mejanya, lalu mengeluarkan sebuah album foto kusam berdebu dan meletakkannya tepat di depan Samson.

Samson mengerutkan dahi. Dengan jemari lentiknya yang gemetaran, ia membuka lembar pertama album foto tua tersebut. Pupil mata Samson seketika membelalak lebar, napasnya tertahan, dan wajahnya berubah pucat pasi melebihi efek bedak tabur mana pun.

Di dalam foto berformat hitam-putih itu, terlihat sosok pria gagah bertubuh tinggi besar dengan tatanan rambut klimis sempurna, mengenakan apron salon dan sedang memegang botol serum antik. Pria di dalam foto itu sangat mirip dengan Papi... namun di bagian bawah foto, tertulis sebuah nama yang membuat dunia Samson serasa runtuh seketika:

"Salon & Barbershop Putra Perkasa — Pendiri Utama: Ir. Joko Perkasa & Reza Mega Indah (1998)."

"P...paapi... dulunya... racik skincare sama Bapak?!" bisik Samson dengan suara bergetar tak percaya. Pak Reza tersenyum tipis, menatap Samson dalam-dalam. "Bukan cuma meracik, Samson. Papimu itu dulu adalah pioneer master skincare terbaik se-ibu kota. Dan alasan sebenarnya pengembang kami mengincar lahan itu... adalah untuk mengambil kembali Formula Rahasia Krim Awet Muda milik Papimu yang hilang dua puluh tahun lalu."

DUARRR!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Samson, Kenanga, dan Bang Jarot melongo tanpa kata. Rahasia terbesar dalam hidup Papi Joko yang selama ini pura-pura garang di balik mesin oli dan kunci pas... akhirnya terbongkar!

1
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk kedip^ berharap ada yang terpesona ye Son 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Coba Samson majunya pake daster dan bando pink andalan pasti lucu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Mirip menaranya papi gak tuh Mi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Daster emng is the best ya Mam 😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk kehangatan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
hati^ bang Jarot, jangan sampe menaranya terguncang yeee 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
bener-bener bando unggulan ini 🤣🤣🤣
Siti Choiriyah
cus tak kepoin... gk seru gk tak kasih gif🤗
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwk Kenjiro bakal tersamson-samson ni 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
jangan panggil sayang son, jadi gagal paham kita 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
hati^ ye Kenjiro,,, jangan smpe terpesona sma Samson loh 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
yang ada Kenjiro kaboor karna geli samamu Son 🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw bando andalan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkw 🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw bang Jarot 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Ayo buktikan sama si Kenjiro, Son 💪
🍓ADIRA🍓
etdah bang Jarot 🤣🤣 ambil kesempatan dalam kesempitan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
dengerin noh Son 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
etdah ni bocahh. 🤣🤣
🍓ADIRA🍓
🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!