Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 13 - Semudah Itu?
Pagi ini suasana di mansion kediaman Jenderal Ethan Harold kembali dipenuhi kesibukan.
Sejak matahari mulai menembus jendela, para pelayan sudah menjalankan tugas masing-masing. Sarapan telah disiapkan, mobil dinas Ethan telah menunggu di halaman, sementara Sander memastikan seluruh dokumen yang diperlukan untuk pertemuan hari ini sudah tersusun rapi.
Di dalam kamar, Ethan berdiri di depan cermin besar. Seragam dinas militernya telah terpasang sempurna. Setiap lencana dan tanda pangkat berada pada tempatnya. Rambut hitam Ethan ditata rapi, sementara wajah tegas yang selama ini dikenal oleh seluruh pasukan kembali terlihat.
Jenderal Ethan Harold telah kembali menjadi sosok yang biasanya, dingin, tegas dan berwibawa. Namun begitu Ethan berbalik, sosok pertama yang dilihatnya justru Ashlyn.
Gadis itu berdiri beberapa langkah di hadapannya sambil mengenakan gaun yang Ethan berikan kemarin. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan kedua kakinya sudah mengenakan sandal.
Sejak bangun tidur, Ashlyn terus mengikuti Ethan ke mana pun sang suami pergi. Saat Ethan mengambil pakaian, Ashlyn ikut berdiri di dekat lemari.
Saat Ethan merapikan seragam, Ashlyn pun setia berdiri di belakang suaminya. Kini Ethan menatap gadis itu dengan sedikit pasrah. Karena tahu pamitnya pagi ini pasti akan sedikit sulit.
"Sampai kapan kamu terus mengikutiku seperti ini?" tanya Ethan, padahal tadi Ethan sudah memberi perintah pada Ashlyn untuk bermain dengan pelayan, tapi Ashlyn tidak mau.
Ethan tak tahu jika Ashlyn sudah merasa bahwa dia akan ditinggal sejak bangun tidur tadi. Karena itulah Ashlyn terus mengekor karena takut ditinggal.
Ashlyn berkedip saat mendengar pertanyaan suaminya. Untuk sesaat dia terdiam karena melihat ketampanan sang suami. "Ke manapun Suamiku pergi, Ashlyn ingin ikut," jawab Ashlyn apa adanya.
Ethan menghela napas pelan. "Pagi ini aku harus pergi."
Seketika wajah Ashlyn berubah. "Pergi?"
"Iya."
"Mau ke mana?"
"Aku harus menemui seseorang," jawab Ethan, menyederhanakan alasan kepergiannya. Ashlyn tak akan paham jika dia menjawab akan menghadiri rapat dengan presiden. Menjawab seperti itu justru membuat Ashlyn lebih banyak bertanya lagi.
Dan jawaban itu membuat Ashlyn langsung menghampiri Ethan. "Ashlyn ikut."
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Karena tempat yang akan aku datangi bukan tempat untukmu."
Ashlyn langsung menundukkan kepala. "Suami tidak mau Ashlyn ikut?"
"Bukan begitu." Ethan mendekat dan mengangkat dagu Ashlyn agar tatapan mereka kembali bertemu. "Aku hanya pergi untuk bekerja."
"Bekerja?"
"Iya."
Ashlyn terdiam, tapi dia tau jika suami bekerja memang harus meninggalkan rumah, sama seperti ayahnya dulu. Siang atau sore nanti suaminya akan pulang lagi.
"Kuusahakan untuk pulang lebih awal," jelas Ethan lagi karena Ashlyn hanya diam.
Tapi Ethan sudah bisa menebak bahwa jika ia pergi begitu saja, gadis ini mungkin akan kembali menangis.
Karena itu Ethan kembali mengangkat tangannya dan mengusap perlahan puncak kepala Ashlyn dengan lembut.
"Kamu tunggu di rumah."
Ashlyn menatapnya tanpa berkedip.
"Jika membutuhkan sesuatu katakan pada kepala pelayan."
"Tapi Ashlyn inginnya Suami."
"Aku tahu." Ethan menghela napas kecil. "Tapi aku benar-benar harus pergi sendiri."
Ashlyn akhirnya tidak mampu menahan kesedihannya. Ia langsung maju dan memeluk pinggang Ethan erat-erat. "Jangan pergi."
Tubuh Ethan sempat menegang sepersekian detik. Namun beberapa detik kemudian tangannya terangkat dan membalas pelukan itu. "Aku akan kembali."
Ashlyn menggeleng di dada Ethan. "Jangan lama-lama."
"Baik."
"Jangan hilang."
"Aku tidak akan hilang."
"Suami janji?"
Ethan mengusap rambut panjang Ashlyn dengan perlahan. "Aku janji."
Ashlyn masih memeluknya. Ethan kemudian berkata tanpa terlalu memikirkan ucapannya sendiri, "Sebelum malam aku sudah pulang."
Ashlyn perlahan mengangkat wajah. "Benarkah?"
"Iya."
"Suamiku pasti pulang kan?"
"Iya."
Mata Ashlyn mulai berbinar kembali.
Ethan berpikir sejenak, lalu menambahkan, "Nanti kubelikan es krim."
Sebenarnya Ethan hanya asal mengatakan itu agar Ashlyn berhenti bersedih. Namun efeknya ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Es krim?" tanya Ashlyn yang kembali antusias.
"Iya."
"Benar?"
Ethan mengangguk.
Ashlyn langsung tersenyum lebar. "Baik!"
Ethan sampai sedikit tertegun melihat perubahan ekspresi gadis itu. Beberapa detik yang lalu menangis karena takut ditinggalkan, sekarang sudah tersenyum hanya karena mendengar kata es krim.
Benar-benar seperti anak kecil.
"Kalau begitu Suamiku boleh pergi."
Ethan mengangkat sebelah alis. "Semudah itu?"
Ashlyn mengangguk cepat. "Asalkan Suami pulang membawa es krim."
Ethan hanya bisa mengembuskan napas pelan. "Baiklah."
Ashlyn kemudian melepas pelukannya. Ethan berbalik dan berjalan menuju pintu kamar. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara Ashlyn.
"Suamiku!"
Ethan menoleh.
Ashlyn berdiri di tengah kamar sambil tersenyum. "Hati-hati."
Ethan terdiam sesaat, lalu mengangguk. Tanpa mengucapkan apapun lagi Ethan keluar dari kamar.
Sander sudah menunggu di lantai bawah. "Jenderal."
Ethan mengangguk. "Ayo."
Begitu Ethan berjalan menuju pintu mobil, Ashlyn ternyata ikut keluar hingga ke teras.
Sander yang melihatnya sejenak tidak berkedip, dengan pakaian seperti itu Ashlyn benar-benar terlihat berbeda dari saat di perbatasan. Gadis itu berdiri di depan mansion, lengkap dengan senyum lebar di wajahnya.
'Lumayan cantik, apa jenderal Ethan tertarik?' batin Sander, dia tak akan punya keberanian untuk mengungkapkan pertanyaannya tersebut.
Ethan kemudian masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang, tak ingin menoleh lagi pada Ashlyn yang terdengar memanggil namanya.
Sander pun segera mengambil posisi sebagai pengemudi.
Begitu mobil mulai bergerak meninggalkan halaman, Ethan melihat ke arah kaca spion, ia melihat Ashlyn masih berdiri di depan mansion. Kedua tangannya terangkat tinggi.
"Dadah, Suamiku! Jangan lupa es krimnya!" Ashlyn terus melambaikan tangan sampai mobil semakin jauh.
Sander sempat melirik juga melalui kaca spion.
"Jenderal."
"Hm?"
"Anda benar-benar akan membelikan es krim?"
Ethan menatap lurus ke depan. "Sudah terlanjur berjanji."
Sander menahan senyum kecil, sejak kapan Jenderalnya membelikan es krim untuk seorang gadis. Tentu saja sejak hari ini dan Sander harus memasukkannya dalam buku sejarah.
"Baik," jawab Sander.
Mobil terus melaju menuju pusat Kota Servo.
Hari ini Ethan akan menghadiri pertemuan penting bersama Presiden dan para petinggi militer untuk membahas kondisi Perbatasan Utara.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, mobil akhirnya memasuki kompleks pemerintahan.
Begitu mobil Ethan berhenti, beberapa pasukan yang berjaga di depan langsung berdiri tegak.
Pintu mobil dibuka.
Ethan turun dengan langkah tegapnya seperti biasa. Dalam balutan seragam militernya, aura seorang pemimpin langsung terpancar kuat dari tubuh Ethan.
Para prajurit yang berada di sekitar tempat tersebut serentak memberikan hormat.
"Hormat, Jenderal!"
Ethan membalas dengan anggukan singkat. Sander berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan membawa dokumen.
Ethan kemudian memasuki gedung tempat pertemuan berlangsung.
Para petinggi militer yang sudah tiba lebih dulu segera berdiri begitu melihat kedatangannya.
Meskipun usia Ethan masih tergolong muda dibandingkan beberapa jenderal senior lainnya, Ethan telah menjadi salah satu jenderal paling berpengaruh di negeri ini.
Keberhasilannya menjaga wilayah perbatasan dan memimpin berbagai operasi membuat namanya sangat disegani.
Di dalam ruangan, Presiden sudah menunggu bersama sejumlah petinggi negara dan militer. Semua pembicaraan yang sebelumnya terdengar di dalam ruangan langsung berhenti.
Ethan berjalan menuju posisi yang telah disediakan. Kemudian ia berdiri tegak di hadapan sang Presiden. Dengan gerakan tegas, Ethan memberikan hormat.
"Selamat pagi, Pak Presiden."
Presiden mengangguk. "Selamat pagi, Jenderal Ethan."
"Siap mengikuti pertemuan."
Presiden mempersilakannya duduk. "Silakan, Jenderal. Kita memiliki banyak hal yang harus dibicarakan hari ini."
Ethan mengambil tempat duduknya. Seketika segala tentang Ashlyn terlupa begitu saja, seluruh pikirannya penuh dengan pekerjaan.
1 jam.
2 jam.
3 jam.
Waktu terus berlalu hingga tiba di jam untuk istirahat, tapi pertemuan ini akan kembali dilanjutkan pada jam dua karena ada beberapa pembahasan yang belum selesai.
Begitu keluar dari ruang rapat, langkah kaki Ethan terhenti begitu melihat sosok wanita di hadapannya.
"Jenderal Ethan," panggil Nadine.
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn