Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25 Permintaan Emily
Pasca pulihnya Leon dari sakit, atmosfer mansion makin membaik. Mereka bertiga menghabiskan malam minggu dengan bersantai di ruang keluarga membaca buku cerita, minum cokelat hangat, dan menikmati momen santai yang makin menyerupai keluarga.
Emily kecil sedang sibuk dengan mainan puzzle nya dan kebingungan saat menata puzzle itu sampai akhirnya dia minta bantuan pada Luna " mami Luna bantuin aku," ucap Emily pada Luna yang duduk di sofa di hadapan Leon itu. "Kenapa sayang?" Luna turun ke lantai dan ikut duduk di lantai seperti Emily.
"Ini mami Luna susah banget menyusunnya, aku jadi pusing," ucap Emily sambil cemberut menyodorkan kepingan puzzle yang di pegangnya pada Luna. Luna tersenyum melihat wajah Emily yang cemberut itu "Kenapa puzzle nya susah untuk di susun...itu karena Emily kurang sabar sayang...jadi kalau Emily mau puzzlenya jadi dengan sempurna Emily harus bersabar biar hasilnya juga maksimal dan sesuai harapan kita," ucap Luna pada Emily yang masih cemberut itu. "Tapi itu susah, mami Luna...aku gak bisa menyusunnya...," ucap Emily dengan kesal. Luna tersenyum melihat Emily, Luna mengusap rambut keriting Emily dan berkata padanya " sini sayang mami Luna yang ajari," Luna merengkuh pundak Emily dan menggesernya duduk di dekat dirinya dan Emily menurut saja "Kepalanya di taruh di sini sayang...terus tangannya di sebelah sini..." ucap Luna sambil menyusun puzzle itu. "Nah kan...sudah jadi," Luna menoleh pada Emily yang kemudian tersenyum melihat susunan puzzle nya sudah sempurna " Makasih mami Luna ..." ucap Emily senang sambil memegang puzzle itu.
Leon yang sedang duduk sambil menyeruput coklat hangat nya itu terlihat tersenyum tipis melihat Emily yang sudah ceria lagi setelah masalah yang dia hadapi sudah terselesaikan oleh kelembutan hati Luna, di sini Leon sadar kalau Luna memang menjadi malaikat yang baik untuk keluarga kecilnya, setelah rentetan kejadian yang terjadi kemaren dari penculikan Emily dan penyusup yang masuk ke dalam mansion dan juga dirinya yang sempat jatuh sakit akibat luka tembakan musuh semua kejadian itu cukup membuktikan kalau Luna memang layak dan pantas mendapatkan tempat yang paling istimewa dan berharga di hati Emily dan Leon karena Luna sangat tulus melakukan itu semua bukan karena semata jaminan harta yang Leon punya tapi karena memang Luna memiliki hati yang baik dan tulus.
Di tengah suasana damai tersebut, Emily yang sedang dipangku Luna mendadak menatap wajah ayahnya lalu beralih pada Luna. Dengan tatapan polos khas anak kecil, Emily melontarkan pertanyaan mendalam yang tak disangka-sangka "Apakah Tante Luna tidak bisa jadi Mama selamanya?"
Pertanyaan itu seketika membekukan suasana. Leon yang sedang memegang cangkirnya mematung, sementara Luna tertegun dengan napas tertahan. Keduanya bungkam, diliputi rasa canggung yang teramat sangat karena tersadar pada kenyataan batas masa berlaku kontrak satu tahun mereka.
Luna berusaha tersenyum tipis untuk menutupi gejolak emosinya, merapikan rambut Emily tanpa sanggup menjawab secara langsung. Leon yang menangkap kecanggungan Luna segera mengambil alih dengan membimbing Emily untuk tidur, mengalihkan topik agar sang putri tidak terus mendesak.
"Emily sudah malam, waktunya tidur," ucap Leon tanpa menjawab pertanyaan Emily yang di lontarkan padanya tadi.
"Tapi Emily masih mau main sama mami Luna, papa..." ucap Emily bergelayut manja pada Luna yang sedang duduk itu.
"Sudah malam Emily, waktunya tidur," ucap Leon tegas tapi tidak mengintimidasi. Emily langsung diam mendengar perintah sang ayah, Luna yang melihat ekspresi wajah Emily yang berubah menjadi murung langsung merangkul pundak gadis kecil itu sambil berkata padanya "Emily, sayang...yang di katakan papa itu benar ini sudah malam dan sudah waktunya Emily untuk tidur," Luna mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut. Emily mendongakkan kepalanya menatap Luna "Mami Luna temani Emily bobok ya," ucapnya manja dan Luna pun tersenyum melihat sikap manja Emily "Iya sayang, mami Luna akan temani Emily bobok, ayok kita ke kamar Emily," kemudian Luna membimbing Emily berjalan menuju ke kamarnya.
"Emily biar papa yang temani Emily tidur, mami Luna capek, biar mami Luna istirahat," ucap Leon sambil mengambil alih posisi Luna yang sedang menggandeng Emily dan Emily pun menuruti ucapan papanya meski sedikit kesal.
Luna pun membiarkan Leon yang pergi mengantar Emily ke kamarnya.
Malam itu, usai Emily tertidur lelap, Leon dan Luna berdiri berseberangan di koridor. Tanpa mengungkit pertanyaan Emily secara terbuka, tatapan mata mereka yang saling mengunci menyimpulkan satu hal ikatan perasaan di antara mereka sudah terlanjur jauh melampaui batas kontrak, dan keputusan besar mengenai masa depan status mereka tidak bisa lagi ditunda.
Langkah kaki Leon terhenti di ambang pintu kamar Emily yang baru saja tertutup rapat. Di koridor remang yang dipayungi keheningan malam, Luna masih berdiri menanti. Gaun katun sederhananya tampak kontras dengan kemewahan interior mansion, namun di mata Leon, presensi wanita itu justru menjadi satu-satunya hal yang menghidupkan rumah besar yang dingin ini.
Jarak beberapa langkah di antara mereka terasa dipenuhi ketegangan yang membakar. Pertanyaan polos Emily tadi masih bergema hebat di dalam kepala masing-masing, membuang jauh-jauh sisa kepura-puraan yang selama ini mereka pelihara.
"Dia sudah tidur," ucap Leon perlahan. Suara beratnya memecah sunyi, rendah dan penuh getaran yang tak biasa.
"Baguslah," sahut Luna lirih. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh, menunjukkan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. "Anak itu... pasti hanya mengantuk makanya bicara seperti tadi."
Leon tidak menjawab. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin khas kayu cendana dan tembakau halus menyelimuti indra penciuman Luna. Tatapan mata elangnya menancap tajam, mengunci manik mata Luna yang berkaca-kaca.
"Kamu tahu dia tidak sekadar asal bicara, Luna," bisik Leon.
Luna menelan ludah, dadanya naik-turun menahan sesak. "Leon, kontrak kita..."
"Persetan dengan kontrak itu," potong Leon tegas, tanpa ragu sedikit pun.
Tangan kekarnya terangkat, menyentuh lembut rahang Luna, mengusap kulit pipinya dengan ibu jari yang kasar namun penuh kehati-hatian. Sentuhan itu membuat Luna memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan yang merambat cepat ke seluruh tubuhnya.
"Aku yang membuat aturan konyol itu, dan aku juga yang menghancurkannya," lanjut Leon. Napas hangatnya berembus di ceruk leher Luna, membuat pertahanan wanita itu runtuh sepenuhnya. "Sejak awal aku berjanji tidak akan melibatkan perasaan. Tapi melihatmu mempertaruhkan nyawa untuk Emily, merawat lukaku, dan mengisi rumah ini dengan senyumanmu... aku sadar aku sudah kalah."
Luna membuka matanya, menatap lurus pada kelembutan luar biasa yang memancar dari mata sang pimpinan mafia. Tidak ada lagi sosok penguasa kelam yang ditakuti dunia; yang ada di hadapannya hanyalah pria yang mendambakannya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi saat masa satu tahun itu usai, Luna," tegas Leon, cengkeramannya di pinggang Luna makin mengerat, menariknya rapat tanpa celah. "Bukan cuma Emily yang membutuhkanmu. Aku... jauh lebih membutuhkanmu."
Luna tersenyum tipis di antara setetes air mata yang lolos di pipinya. Ia menyandarkan telapak tangannya di dada bidang Leon, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu sama cepatnya dengan miliknya.
"Kalau begitu, berhenti memperlakukanku seperti bagian dari perjanjian," bisik Luna penuh penekanan.
"Mulai malam ini," ucap Leon seraya menundukkan wajah, mengecup dahi Luna lama dan dalam, "kamu bukan lagi pengasuh Emily. Kamu adalah wanitaku. Selamanya."