Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Tangan Dari Kakak
Zevanna akhirnya sampai di rumah setelah menempuh perjalanan dari arena balap liar. Ia melepaskan helmnya, turun dari atas motor sport, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Zevanna! Dari mana kamu? Jam segini baru pulang?!"
Baru saja melintasi pintu, suara berat Yovandra Oliver—papanya—langsung menyambut. Zevanna menghentikan langkah lalu menoleh santai.
"Habis main, Pa," jawab Zevanna enteng.
"Main apa kamu jam segini?! Pasti kamu balapan liar lagi, kan?!" tembak Yovandra dengan nada meninggi.
Zevanna cuma diam, tak berniat membantah.
"Zevanna! Kamu itu sebentar lagi mau lulus sekolah! Mau jadi apa kamu kalau kerjaannya cuma balapan terus, hah?!" sentak Yovandra menatap tajam.
"Ya jadi orang lah, Pa. Masa jadi pemulung," sahut Zevanna santai tanpa beban.
Liona Oliver—mamanya—yang duduk di sofa ikut menatap Zevanna dengan raut cemas.
"Zevanna, kamu nggak bisa begini terus. Kakak kamu aja kerja di perusahaan orang lain, nggak mau kerja di perusahaan Papa."
"Makanya, nanti setelah kamu lulus, kamu yang harus kerja di perusahaan Papa!" tegas Yovandra.
Zevanna menghela napas malas. "Aduh, Pa... aku ini masih muda. Aku mau seneng-seneng dan habisin masa muda aku dulu. Lagian kerja tuh capek, apalagi di perusahaan. Males banget!”
"Zevanna! Kamu ini dibilangin malah ngelawan mulu!" bentak Yovandra gemas.
Zevanna menatap papanya datar. "Udah marah-marahnya? Aku capek, mau ke kamar."
Tanpa menunggu balasan, Zevanna melangkah naik menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Zevanna! Papa belum selesai bicara sama kamu!" teriak Yovandra dari bawah.
BRAK!
Zevanna menutup pintu kamarnya rapat-rapt, mengabaikan teriakan sang papa.
Di lantai bawah, Yovandra mengusap dadanya sambil menghela napas kasar. "Bener-bener tuh anak, ya! Bikin darah tinggi saya kumat aja!"
Liona memegang lembut lengan suaminya. "Sabar, Mas. Jangan dimarahin terus."
"Tapi dia keras kepala banget, Na! Susah banget nyuruh dia buat nurut!" omel Yovandra lagi.
"Udah, biarin aja dulu. Kalau kita paksa terus, yang ada dia makin memberontak," puji Liona menenangkan.
Yovandra akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, kamu benar, Na.”
Sementara itu di kamar, Zevanna langsung merebahkan tubuhnya secara telentang di atas kasur sambil merogoh ponsel dari saku.
Ceklek.
Pintu kamar mendadak terbuka. Zoyya Fiorellia Oliver—kakak kandungnya—melangkah masuk. Zoyya berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan adiknya.
"Zevanna," panggil Zoyya lembut.
Zevanna menoleh sekilas tanpa melepas pandangan dari ponsel. "Apa, Kak? Mau marahin aku juga?”
Zoyya menggeleng cepat sambil tersenyum tipis. "Enggak kok. Kakak nggak marahin kamu. Kakak cuma mau nanya, kamu baik-baik aja?"
Zevanna mengernyitkan dahi lalu mendudukkan dirinya. "Kakak nggak lihat apa? Aku baik-baik aja kok. Emangnya kenapa Kakak nanya kayak gitu?"
"Cuma nanya aja. Siapa tahu kamu lagi stres atau sedih habis dimarahin Papa sama Mama tadi," ujar Zoyya halus.
"Elah, aku udah biasa dimarahin Papa, Kak. Jadi santai aja, chill!" jawab Zevanna terkekeh.
"Iya deh, Kakak tahu kamu cewek strong," puji Zoyya.
"Kenapa Kakak nggak kerja di perusahaan Papa sih?" tanya Zevanna.
Zoyya terdiam sejenak sebelum menjawab. "Kakak mau coba belajar mandiri. Kan kakak dulu pernah kerja di perusahaan Papa, tapi sekarang Kakak mau coba gimana rasanya kerja di tempat lain.”
Zevanna menghela napas. "Kalau Kakak kerja di perusahaan Papa, kan aku juga nggak dimarahin dan disuruh kerja sama Papa. Aku tuh mau hidup bebas, Kak!"
Zoyya menunduk sebentar. "Maafin Kakak ya kalau gara-gara Kakak, kamu jadi dimarahin sama Papa tadi.” katanya merasa bersalah.
"Oh ya, Kakak punya sesuatu buat kamu."
Zevanna mengedipkan matanya penasaran. "Sesuatu apa, Kak?"
Zoyya merogoh tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak persegi berwarna hitam elegan dan menyerahkannya pada Zevanna.
"Ini apa, Kak?" tanya Zevanna sambil menerima kotak itu.
"Buka aja."
"Bom ya ini?" tebak Zevanna asal.
Zoyya tertawa kecil. "Bukan bom! Udah, buka aja."
"Beneran? Nanti kalau aku buka tiba-tiba meledak gimana?" canda Zevanna lagi.
"Bukan bom, Zevanna. Masa Kakak beliin kamu bom sih? Udah buka, nggak bakal meledak kok," kekeh Zoyya menggelengkan kepala.
Zevanna perlahan membuka tutup kotak hitam tersebut. Begitu melihat isinya, matanya langsung melebar.
"Jam tangan?"
Zoyya mengangguk manis. "Iya, Kakak beliin kamu jam tangan.”
Zevanna meraih jam tangan yang terlihat sangat mewah itu dan menatapnya tak percaya. "Ini beneran buat aku, Kak?"
"Iya, beneran buat kamu, Zev."
"Tapi kenapa tiba-tiba Kakak beliin aku jam tangan?" tanya Zevanna heran.
Zoyya menatap Zevanna dengan lembut. "Karena... Kakak mau kasih kamu barang yang bisa selalu kamu pakai, biar kamu nggak pernah ngelupain Kakak."
Zevanna langsung terharu mendengarnya. Tanpa pikir panjang, Zevanna langsung menghambur memeluk erat tubuh kakaknya.
"Makasih ya, Kak! Aku suka banget sama jam tangannya!"
Zoyya membalas pelukan hangat adiknya sambil mengelus lembut kepala Zevanna. "Sama-sama. Dipakai terus ya jam tangannya?"
Zevanna melepaskan pelukan lalu mengangguk mantap. "Iya, Kak! Aku janji bakal pakai terus jam tangan dari Kakak yang baik hati ini!"
"Sini, Kakak pakaiin." Zoyya mengambil jam tangan tersebut lalu melingkarkan-nya dengan rapi di pergelangan tangan kiri Zevanna.
"Bagus banget, Kak... Pasti mahal ya?" tanya Zevanna membolak-balik tangannya mengagumi jam itu.
"Nggak terlalu mahal kok," jawab Zoyya tersenyum.
"Sekali lagi makasih ya, Kak."
"Iya, Zev."
Mereka berdua kemudian mengobrol santai tentang banyak hal, mulai dari urusan sekolah sampai kejadian-kejadian kocak.
"Tadi pas aku mau pulang sekolah, si Jayden dateng terus maksa-maksa ngajakin pulang bareng. Ya aku nggak mau lah! Tapi dia tetep batu banget. Kayak nggak ada cewek lain aja di sekolah, kenapa harus ngerepotin aku coba?" oceh Zevanna curhat.
"Mungkin dia beneran suka sama kamu, makanya ngejar-ngejar terus," sahut Zoyya menanggapi.
Zevanna mendengus kencang. "Capek, Kak! Ketemu dia terus rasanya mau pindah sekolah aja deh!"
"Kamu kan bentar lagi lulus, masa mau pindah sekolah sih?" tawa Zoyya.
"Iya sih... Tapi aku kesel banget sama si curut itu!" gerutu Zevanna mengerucutkan bibirnya.
Zoyya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Namun tiba-tiba, raut wajah Zoyya berubah. Ia mendadak menunduk melamun, seolah ada beban berat yang sedang menghimpit pikirannya.
Zevanna yang sadar kakaknya mendadak diam langsung menghentikan ocehannya. Ia menatap Zoyya penuh curiga.
"Kak? Kamu kenapa? Ada masalah di tempat kerja?" tanya Zevanna serius.
Zoyya terkejut, cepat-cepat mendongak dan menggeleng. "E-enggak ada masalah kok. Kakak cuma rada kecapekan aja."
"Beneran nggak ada apa-apa nih, Kak?" selidik Zevanna tak percaya begitu saja.
"Nggak ada apa-apa, Zevanna. Semua baik-baik aja. Tadi di kantor cuma pusing karena banyak pekerjaan aja kok," elak Zoyya berusaha tersenyum.
"Oh gitu... Kirain aku Kakak lagi mikirin sesuatu."
"Sesuatu apa sih? Kakak nggak mikirin apa-apa," tutur Zoyya menggeleng.
Zevanna langsung menyunggingkan senyum jahilnya. "Ya kan bisa aja Kakak lagi mikirin cowok yang ada di perusahaan tempat Kakak kerja."
Deg!
Zoyya tersentak kaget mendengar ucapan Zevanna. "C-cowok apaan sih? Kakak nggak punya cowok!"
"Ah, masa sih nggak punya cowok, Kak? Beneran nih?" goda Zevanna menaik-turunkan alisnya.
"Iya, beneran nggak punya!"
"Bohong! Kalau bohong nanti lambungnya kelap-kelip!" celetuk Zevanna mengejek.
Zoyya terkekeh pelan. "Beneran, Kakak nggak bohong! Lagian emang ada cowok yang mau sama Kakak apa?"
"Ya pasti ada dong, Kak! Kakak itu udah cantik, tinggi, putih, mandiri, pekerja keras, pinter, terus sabar banget lagi. Masa nggak ada cowok yang mau?" cerocos Zevanna membela kakaknya.
Zoyya menunduk kecil, menyunggingkan senyum tipis yang agak muram. "Tapi Kakak nggak kayak kamu yang berani, banyak ngomong, dan percaya diri. Kakak kadang suka insecure…”
"Kak! Jangan insecure dong sama aku! Justru aku yang harusnya insecure sama Kakak. Kakak itu bisa sabar banget ngadepin omongan orang. Kalau aku sih udah aku tendang mulutnya biar tahu rasa! HAHAHA!" tawa Zevanna pecah membahana di kamar.
Zoyya akhirnya tak tahan untuk tidak tertawa lepas melihat kelakuan adiknya.
"Nah, gitu dong, Kak! Ketawa! Hidup itu jangan kebanyakan insecure. Kita itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi Kakak jangan sedih-sedih lagi, oke?" tutur Zevanna sok bijak sambil menepuk dadanya.
Zoyya mengangguk haru. "Iya, makasih ya udah ingetin Kakak. Sekarang kamu kok jadi pinter gini sih?"
"Dih! Aku kan emang udah pinter dari lahir!" sahut Zevanna percaya diri.
Mereka pun tertawa bersama.
***
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi menembus celah tirai kamar Zevanna.
Zevanna keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala, lalu meraih seragam sekolahnya.
"Kenapa sih harus ada sekolah? Kenapa nggak libur aja sekalian? Males banget sekolah, apalagi kalau harus ketemu si curut itu lagi," gumam Zevanna menggerutu sendiri sambil menguncir rambutnya kuncir kuda.
Setelah selesai bersiap, ia keluar kamar dan melangkah turun menuju ruang makan.
"GOOD MORNING!" teriak Zevanna nyaring begitu sampai di bawah.
Yovandra yang sedang membaca koran langsung menurunkan kertasnya dan mengurut dahi. "Kamu ini masih pagi udah teriak-teriak!”
"Kan menyapa, Pa! Masa nyapa aja nggak boleh sih!" protes Zevanna melipat tangan.
"Boleh menyapa, tapi jangan teriak-teriak! Malu didengar sama tetangga!" tegur Yovandra.
"Ngapain malu? Kan aku pakai baju, nggak telanjang!" jawab Zevanna asal.
Yovandra menarik napas panjang, menahan emosinya yang hampir meledak lagi. "Terserah kamu lah!"
"Udah-udah, jangan pada ribut masih pagi. Zevanna, duduk. Sarapan dulu," pangkas Liona menengahi.
"Iya, Ma." Zevanna mengambil tempat duduk di samping Zoyya.
Zoyya menoleh ke arah adiknya dengan tatapan lembut. "Zevanna, kamu jangan sering-sering balapan liar dan pulang malam lagi, ya?"
"Kenapa? Aku kan udah gede, Kak," sahut Zevanna sambil mengunyah roti tawar dengan selai.
"Iya, Kakak tau kamu udah gede. Tapi kamu harus tetep bisa jaga diri," tutur Zoyya menasehati.
"Tenang aja, Kak! Aku bisa jaga diri aku sendiri kok. Kalau ada orang jahat, langsung aku hajar, kan aku pernah ikut taekwondo!" seru Zevanna memperagakan gerakan memukul ke udara.
Zoyya tersenyum tenang. "Iya, Kakak percaya sama kamu."
Zoyya kemudian menyelesaikan sarapannya, lalu berdiri membetulkan Blazer kerjanya. Ia menatap kedua orang tuanya. "Mama, Papa... Aku berangkat kerja dulu ya."
Liona dan Yovandra mengangguk hangat.
"Kamu hati-hati di jalan ya, Sayang," ujar Liona.
"Iya, Ma." Zoyya maju lalu mencium punggung tangan Liona dan Yovandra bergantian. "Aku pergi dulu."
Zevanna melihat kakaknya melangkah menuju pintu keluar. Ia melambaikan tangannya heboh. "Daaaaah Kakak! Hati-hati di jalan! Kalau ada cowok atau orang yang macem-macem, tinggal telepon aku ya! Nanti aku ratakan!"
Zoyya menoleh, tersenyum manis dan membalas lambaian tangan adiknya sebelum masuk ke dalam mobil, lalu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Beberapa waktu kemudian, mobil Zoyya memelankan kecepatannya dan berhenti di area parkiran sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah.
Papan nama raksasa di depan gedung itu terpampang jelas—Verion Group.
Bersambung…