Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERLIAN SEBUAH PERNYATAAN
Mobil sport merah Maikel akhirnya berhenti di area parkir sebuah hotel bintang lima yang terletak tepat di jantung kota.
Aku sempat mengernyitkan dahi bingung ketika Maikel menuntun langkahku memasuki lift kaca eksklusif dan memencet tombol menuju lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka di area rooftop, napasku mendadak tertahan di tenggorokan. Pemandangan di depan mataku luar biasa menakjubkan.
Restoran mewah bertema terbuka ini menyuguhkan view yang teramat romantis. Sejauh mata memandang, hamparan lampu-lampu kota dari gedung pencakar langit berpendar bagai berlian yang berserakan, berpadu indah dengan taburan bintang-bintang nyata di langit malam yang bersih.
"Maikel... ini kelewat mewah," bisikku kaku saat pelayan mengarahkan kami ke meja bundar privat di sudut balkon luar.
"Pakaianku cuma kemeja kasual dan jeans denim, Kel. Rasanya salah kostum banget di tempat kelas atas kayak gini."
Maikel menarikkan kursi untukku, lalu tersenyum tipis sembari menatapku lekat-lekat di bawah pendar lilin meja yang temaram.
"Gue udah bilang, Jem. Di mata gue, lu yang pakai kemeja putih malam ini kelihatan jauh lebih bersinar dibanding semua cewek bergaun mahal di restoran ini. Udah, duduk manis aja."
Aku menelan ludah, berusaha meredakan detak jantungku yang mulai labil. Hidupku yang semula hanya berisi aroma pelumas sintetik di ruang epoksi abu-abu, kini mendadak ditarik masuk ke dalam dunia gemerlap milik keluarga Bach.
Sesi makan malam berjalan dengan sangat hangat. Di sela-sela dentingan sendok pada menu makanan barat yang lezat, Maikel tidak henti-hentinya melontarkan candaan jenaka yang mencairkan kekakuanku.
Kami mengobrol santai tentang kegilaannya saat berhadapan dengan rumus impedansi RLC, hingga bagaimana taktisnya aku membungkam fitnah Senti di workshop tempo hari.
"Tapi serius, Jem," ujar Maikel, meletakkan gelas minumannya perlahan. Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat dalam, berat, dan kehilangan gurat jailnya yang biasa.
"Makasih ya buat dua minggu ini. Lu beneran udah merubah hidup gue."
Aku tersenyum tipis, menyesap es teh manisku.
"Kan kamu sendiri yang mau berusaha, Kel. Kamu aslinya memang pinter, cuma malasnya aja yang keterlaluan."
Maikel terkekeh pelan, namun sepasang mata jernihnya tetap mengunci manik mataku dengan intensitas yang teramat serius.
Perlahan, dia meraba kantong jaket bomber hitamnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah dan meletakkannya tepat di tengah meja. Dia menggesernya perlahan ke arahku.
Aku mengernyitkan dahi, jantungku seketika berdegup kencang karena firasat aneh yang mendadak menyerang.
"Maikel... ini apa lagi? Kado ulang tahun, tapi kan ulang tahun ku sudah kelewat"
"Buka, Jema," perintah Maikel lembut namun terdengar mutlak, menolak bantahan.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku meraih kotak beludru itu dan membukanya perlahan.
Detik itu juga, mataku membelalak lebar dan seluruh sistem logikaku mendadak nge-blank total. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah cincin emas putih dengan mata berlian tunggal yang berkilau sangat indah di bawah siraman cahaya bintang.
"Maikel! Ini... ini cincin berlian?!" seruku panik setengah mati dengan suara bergetar, refleks mencoba menutup kembali kotak tersebut.
"Ini kelewat mahal, Kel. Aku enggak bisa terima!"
Grep.
Sebelum aku sempat menjauhkan kotak itu, tangan hangat Maikel bergerak cepat menggenggam punggung tanganku di atas meja, menahan pergerakanku.
Jarak wajah kami mengikis saat dia mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menatap tepat ke dalam manik mataku dengan sorot mata posesif yang teramat bersungguh-sungguh.
"Jangan ditutup, Jema Juvita," desis Maikel dengan ketegasan seorang pria dewasa yang sanggup meruntuhkan seluruh dinding pertahananku.
"Malam ini, di bawah saksi semua lampu gedung dan bintang di atas sana... gue mau bilang kalau gue beneran sayang sama lu. Gue cinta sama lu, Jema. Bukan sebagai murid ke gurunya, tapi sebagai seorang pria dewasa yang pengen memiliki lu sepenuhnya."
Deg.
Duniaku serasa berhenti berputar sesaat. Kalimat pernyataan cintanya yang lugas dan berani bergema keras di dalam kepalaku bagaikan suara ledakan bom atom. Wajahku seketika membara panas, memerah padam sampai ke ujung telinga akibat rasa terkejut dan salah tingkah yang luar biasa hebat.
"Maikel... tapi kita... umur kita beda jauh, kamu baru lulus dan aku"
"Gue enggak peduli soal umur, dan gue enggak terima penolakan pakai alasan kuno itu lagi, Jema!" potong Maikel cepat, mencengkeram jemariku semakin erat, menyalurkan getaran ketulusan yang membakar seluruh keraguanku.
"Gue udah buktiin kalau gue bisa serius demi lu. Cincin ini bukan sekadar hadiah mewah, tapi janji gue kalau gue bakal ngeruntuhin semua batasan yang lu bikin di hati lu. Jadi, lu mau kan jadi pacar gue?"
Aku terbungkam seribu bahasa, menatap cincin berlian yang berkilau di depanku lalu beralih menatap sepasang mata Maikel yang penuh harap yang teramat pekat.
Di bawah langit malam yang romantis ini, seluruh wejangan logis Ibuku tentang
"jangan sama anak SMA" dan peringatan dingin dari Samuel di lantai dua belas mendadak kalah telak dan runtuh tanpa sisa, membuatku sadar bahwa hatiku resmi tak karuan karena telah jatuh seutuhnya ke dalam pesona sang pewaris Bach.
Aku menatap cincin berlian yang berkilau di depanku, lalu beralih menatap sepasang mata Maikel. Kepalaku mendadak terasa berputar hebat.
Seluruh kata-kata manis dan tatapan intensnya malam ini benar-benar menjadi kejutan raksasa yang tidak pernah kuduga seumur hidupku.
Jujur, ini adalah kali pertama aku ditembak oleh seorang cowok. Sepanjang dua puluh empat tahun hidupku yang gersang, aku hanya tahu cara memegang kunci pas, menghitung rumus kelistrikan, dan merawat Ibu.
Jangankan pacaran, digoda secara serius pun aku belum pernah, dan sekarang, sekalinya ada yang menyatakan cinta, sosok itu adalah seorang berondong kaya raya yang usianya jauh di bawahku.
"Maikel..." suaraku terdengar parau, tertahan di tenggorokan. Aku menarik tanganku perlahan dari genggamannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa logika di otakku.
"Aku... aku bingung, Kel. Ini beneran terlalu mengejutkan buat aku."
Maikel menatapku lekat-lekat, gurat kecewa sempat melintas samar di wajah tampannya, namun dia tetap bertahan dengan kedewasaannya sembari menurunkan tangannya perlahan.
"Kenapa bingung, Jem? Lu... enggak ada rasa sedikit pun ya sama gue? Apa di mata lu gue tetep cuma bocah SMA yang enggak layak buat lu?"
"Bukan begitu!" potongku cepat, refleks tidak ingin dia salah paham. Aku menunduk, menatap jemariku yang bertaut kaku di atas pangkuan.
Walau egoku sempat menolak, jujur... jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sudah ada rasa yang tumbuh untuk Maikel.
Desiran hangat yang selalu muncul tiap kali dia bertingkah usil, rasa aman saat dia pasang badan melindungiku di pesta, hingga binar banggaku melihat nilai birunya semalam, adalah bukti nyata bahwa pertahananku sudah runtuh.
Tapi, untuk langsung melangkah menjadi sepasang kekasih... ini masih terlalu cepat dan mendadak bagiku.
Aku mendongak, menatap matanya dengan sorot memohon penuh keseriusan.
"Kel, tolong... kasih aku waktu buat mempertimbangkan jawabannya. Aku enggak mau gegabah mengambil keputusan. Tolong mengerti, ya?"
Maikel terdiam sejenak, memandangi kotak beludru merah di tengah meja, lalu kembali menatapku. Perlahan, seringai jailnya yang jenaka kembali terukir di sudut bibirnya, mencairkan seluruh ketegangan kaku di antara kami.
Dia meraih kotak beludru itu, menutupnya dengan bunyi klik pelan, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jaket bomber hitamnya.
"Oke, siapa takut," ujar Maikel dengan nada bernegosiasi yang sok dewasa, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari mengetuk pelan jam tangan hitam dariku.
"Gue tahu wanita dewasa emang butuh waktu buat mikir taktis. Gue bakal kasih lu waktu sampai hari Minggu, Jema Juvita."
Aku mengerjapkan mata. "Hari Minggu?"
"Iya, hari Minggu besok," sahut Maikel tegas dengan kedipan mata yang sangat jail, membuat pipiku kembali menghangat.
"Gue bakal dateng lagi ke rumah lu hari Minggu jam tujuh malam tepat. Dan pas gerbang rumah lu gue ketuk nanti, enggak ada lagi alasan bimbang, enggak ada lagi alasan waktu. Gue bakal minta jawaban mutlak dari lu. Lahir dan batin."
Aku hanya bisa menghembuskan napas panjang sembari memalingkan wajah ke arah hamparan lampu gedung pencakar langit, mencoba menyembunyikan senyuman tipis yang tak bisa kubendung lagi.
Keras kepala dan dominasinya malam ini beneran sukses membuat hatiku tak karuan. Di bawah pendar bintang-bintang malam Jumat ini, aku tahu bahwa waktu dua hari ke depan akan menjadi waktu yang paling mendebarkan dalam hidupku, menanti hari Minggu di mana takdir hubunganku dengan sang pewaris Bach akan resmi ditentukan.
Author’s Note
Halo semuanya! 🔧💎✨
Wah! Bab 32 resmi ditutup dengan cliffhanger yang luar biasa bikin gemas kuadrat.
Jema yang baru pertama kali ditembak cowok mana berondong pula, akhirnya minta waktu buat mikir karena gak mau gegabah.
Dan Maikel dengan jantannya ngasih batas waktu sampai hari Minggu besok😍
Aduh, dua hari ke depan bakal berasa kayak dua tahun nih buat Maikel dan Jema.
Kira-kira, keputusan apa yang bakal diambil Jema di hari Minggu nanti? Apakah dia bakal mengalah pada desiran hatinya dan menerima Maikel, atau wejangan Ibunya bakal bikin dia mundur? 😱
Yuk, buat kalian yang udah gak sabar nunggu hari penentuan di Bab 33 esok hari, jangan lupa klik tombol Follow (Ikuti) akunku dan berikan Like (Suka) yang melimpah ya!
Tulis tebakan jawaban Jema di kolom komentar bawah. Sampai jumpa di bab berikutnya! 🏎️💨