Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KATA-KATA PENYEMANGAT
Malam semakin larut, kegelapan menyelimuti seluruh penjuru hutan yang hening, hanya diterangi cahaya rembulan yang menembus celah dedaunan serta pendar lembut dari api unggun yang masih menyala. Di dalam tenda tempatnya beristirahat, Kristin masih terjaga sepenuhnya. Matanya terbelalak menatap kegelapan di atasnya, napasnya terasa berat dan dadanya terus terasa sesak oleh kegelisahan yang tak kunjung mereda. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, namun bayangan sosok yang selalu ia panggil Kak Doni terus melintas di benaknya tanpa henti. Ia tak henti-hentinya membayangkan bagaimana keadaan Kak Doni saat ini, apakah lukanya masih terasa perih hebat, apakah ia sudah bisa beristirahat dengan tenang, atau justru masih menahan rasa sakit sendirian di rumahnya yang sepi. Semua pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, membuat hatinya semakin gelisah dan tidur pun tak kunjung datang.
Akhirnya, Kristin perlahan bangkit dari posisinya. Tangannya meraba benda yang berada di sampingnya—sebuah kantong tidur yang masih terasa menyisakan kehangatan dan aroma yang begitu ia kenal. Itu adalah kantong tidur milik Kak Doni, yang dulu sempat dipinjamkan kepadanya dan sengaja disimpannya atas permintaan Kak Doni sendiri. Seakan memeluk benda itu berarti memeluk sosok pemiliknya, Kristin pun memeluk erat-erat benda itu di dadanya, seakan mendapatkan sedikit kekuatan dan ketenangan darinya. Dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Cintya yang sudah terlelap di sampingnya, Kristin pun beranjak keluar dari dalam tenda, berniat mencari udara segar sejenak dan menenangkan pikiran yang sedang kacau balau.
Begitu melangkah keluar, pandangan Kristin langsung tertuju pada kumpulan orang yang sedang duduk melingkar di depan api unggun yang masih menyala. Ternyata Nisa, Kevin, dan Billy belum beristirahat. Ketiganya tampak duduk santai sambil menatap nyala api yang tidak terlalu besar, sesekali menyeruput minuman hangat dari cangkir di tangan mereka. Aroma kopi yang mengepul hangat tercium samar di udara malam yang sejuk itu.
Melihat kedatangan Kristin, ketiganya segera menoleh. Kristin pun melangkah mendekat lalu menyapa dengan suara lembut agar tidak menggema di tengah keheningan hutan. "Selamat malam, Kak Nisa, Kak Kevin, Kak Billy..."
Nisa segera tersenyum ramah menyambut gadis itu, lalu memberi isyarat agar duduk di ruang kosong di dekatnya. "Selamat malam, Kristin. Mari duduklah."
Kristin pun melangkah mendekat, lalu duduk di atas tanah yang dialasi dedaunan kering tak jauh dari mereka. Ia kembali memeluk erat kantong tidur milik Kak Doni yang digendongnya, seakan benda itu adalah satu-satunya sandaran yang ia miliki saat ini.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Kakak bertiga..." ucap Kristin pelan sambil menatap sekeliling, lalu bertanya dengan nada lembut, "Ngomong-ngomong, Kak Rangga belum keluar? Atau sudah beristirahat?"
Billy yang duduk sedikit menyamping menyahut dengan nada tenang, "Rangga sudah beristirahat di dalam tenda. Besok pagi dialah yang akan memberikan materi sekaligus memimpin ujian bagi kalian para peserta baru, jadi ia harus cukup istirahat malam ini agar besok pagi dalam keadaan bugar."
Kristin mengangguk pelan memahami penjelasan itu.
Nisa kemudian menatap wajah Kristin lekat-lekat, menyadari bahwa mata gadis itu tampak sayu dan belum terpejam sama sekali. Dengan nada lembut penuh perhatian, Nisa pun bertanya, "Lalu bagaimana denganmu, Kristin? Kenapa belum tidur? Udara malam di dalam hutan ini cukup dingin dan tidak menentu. Selama beberapa hari ke depan, kau harus tetap menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar dan jangan sampai jatuh sakit. Besok pagi kita masih memiliki banyak kegiatan yang harus diselesaikan."
Kristin tersenyum tipis, senyum yang terlihat begitu lemah dan dipaksakan. Ia menunduk sejenak memandang ujung jarinya yang terasa dingin, lalu menjawab dengan suara pelan, "Terima kasih perhatiannya, Kak Nisa. Aku... aku memang belum bisa beristirahat malam ini. Entah kenapa mataku terasa berat untuk terpejam."
Melihat keadaan Kristin yang tampak begitu gelisah, Billy pun menyisakan sedikit ruang di dekatnya lalu berkata dengan nada bersahabat, "Kalau begitu, mari duduklah lebih dekat ke sini. Biar kau ikut bersama kami menikmati hangatnya api unggun dan secangkir kopi."
Kevin yang duduk di sisi lain pun segera menyodorkan sebuah cangkir berisi kopi yang masih mengepul hangat ke arah Kristin. "Minumlah dulu, Kristin. Ini akan menghangatkan tubuhmu yang kedinginan."
Kristin menerima cangkir itu dengan kedua tangannya yang terasa dingin. Kehangatan yang menjalar dari dinding cangkir perlahan menyentuh kulitnya, lalu merambat masuk hingga ke seluruh tubuh. Ia menatap Kevin dengan pandangan penuh rasa terima kasih, lalu berkata tulus, "Terima kasih banyak, Kak Kevin."
Nisa memperhatikan gerak-gerik Kristin yang tampak begitu pendiam dan penuh kegelisahan malam itu. Hening sejenak berlalu, sebelum akhirnya Nisa kembali bersuara lembut namun begitu tajam menembus ke hati gadis itu.
"Kristin..." panggil Nisa pelan. "Sebenarnya, kenapa kau belum bisa tidur malam ini? Apakah... hatimu sedang tidak tenang karena sedang memikirkan keadaan Doni?"
Seketika itu juga, jantung Kristin berdegup kencang bagaikan tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap Nisa dengan wajah yang seketika memerah karena terkejut. Ia tak menyangka bahwa hal yang paling dalam ia pendam ternyata dapat dibaca begitu saja oleh Nisa. Dalam keheningan yang singkat namun terasa panjang itu, Kristin perlahan menunduk, lalu mengangguk pelan sebagai tanda pengakuan. Bibirnya terkatup rapat, namun matanya yang mulai berkaca-kaca telah menjawab semuanya.
Melihat pengakuan tanpa kata itu, Nisa tersenyum lembut dan menatapnya dengan pandangan yang menenangkan. "Janganlah kau terlalu khawatir, Kristin. Doni akan baik-baik saja. Ia adalah pemuda yang kuat, jauh lebih kuat dari yang kau kira."
Kristin mengangkat wajahnya perlahan, menatap Nisa dengan pandangan penuh keraguan sekaligus harapan. "Benarkah begitu, Kak Nisa? Apakah... apakah Kak Doni akan datang ke hutan ini menyusul kita?"
Belum sempat Nisa menjawab, Kevin yang sedari tadi menyimak pembicaraan itu perlahan bersuara. Dengan nada rendah namun tegas, ia berkata, "Melihat kondisinya saat ini... sangat sulit bagi Doni untuk bisa datang ke sini. Sepertinya untuk sementara waktu, ia harus tetap beristirahat di rumahnya."
Kristin tampak bingung mendengar penjelasan itu. Hatinya terasa semakin cemas. "Seberapa parah sebenarnya luka yang dideritanya, Kak? Dari tadi aku hanya mendengar kabar samar..."
Nisa menghela napas panjang pelan, lalu menatap Kristin dengan pandangan yang penuh pengertian. "Karena kau memang menyayanginya dan berhak mengetahui kebenarannya, biar kuceritakan semuanya. Doni mengalami kecelakaan saat mengendarai motornya dalam keadaan mabuk. Kepalanya terbentur aspal dengan keras hingga terluka parah. Raka, temannya, yang melihat kejadian itu menceritakan bahwa setelah tabrakan hebat itu, Doni tetap berdiri dan berjalan sendiri seakan tidak merasa sakit sedikit pun. Darah mengalir deras dari kepalanya membasahi wajah dan tubuhnya, namun ia tetap berjalan tegak seakan tidak ada yang terjadi."
Mendengar penjelasan itu, seketika tubuh Kristin terasa lemas dan matanya memanas. Ia tak menyangka bahwa pertengkaran yang terjadi di antara mereka beberapa hari yang lalu ternyata berdampak begitu buruk hingga membuat Kak Doni mabuk dan mengalami kecelakaan mengerikan itu. Rasa bersalah yang begitu besar seketika menyergap hatinya, membuat dadanya terasa sesak dan perih.
Kevin kembali bersuara memecah keheningan yang menyelimuti mereka. "Itulah sebabnya Adit berkata bahwa Doni bukan manusia biasa, melainkan mayat hidup atau zombie. Karena tidak ada manusia yang bisa tetap berdiri dan berjalan dengan kondisi kepala terbentur keras dan berdarah-darah begitu."
Billy yang sedari tadi diam pun ikut bersuara dengan nada tenang namun penuh keyakinan. "Aku sudah mengenal Doni sejak ia masih menjadi peserta baru, persis seperti kalian sekarang. Sejak saat itu pula, Doni sudah menunjukkan kelebihannya yang luar biasa kepada kami semua, baik sesama satu angkatan maupun para seniornya. Ia memang memiliki ketegaran dan kekuatan yang tak dimiliki orang biasa."
Nisa pun kembali menatap Kristin lekat-lekat, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang begitu lembut namun penuh makna. "Dari sisi yang satu, Doni memang terlihat seperti berandalan, bahkan banyak yang menyebutnya preman. Penampilannya yang kasar, sifatnya yang keras dan tertutup, serta cara bicaranya yang tidak banyak menyenangkan hati orang memang membuatnya tampak seperti itu. Namun dari sisi yang lain, di balik penampilannya yang seperti berandalan dan sifatnya yang keras itu, Doni adalah lelaki yang tulus, teguh pendiriannya, dan justru karena hatinya yang teguh itulah ia pantas diperjuangkan serta dipertahankan."
Nisa tersenyum lembut kepada Kristin, lalu berkata dengan suara yang begitu menenangkan, "Jika menurut hatimu Doni, si berandalan itu, adalah lelaki yang pantas untuk kau miliki, maka bantulah ia menjadi lelaki yang lebih baik. Ubahlah sifat-sifat buruknya dengan kesabaran dan ketulusan hatimu. Percayalah, keajaiban-keajaiban indah akan selalu hadir bagi mereka yang memang ditakdirkan untuk bersatu."
Kristin mendengarkan setiap kata yang diucapkan Nisa dengan saksama, meresap jauh hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam. Perlahan rasa gelisah dan takut yang sedari tadi menyelimuti hatinya mulai tergantikan oleh ketenangan dan kekuatan baru. Matanya yang semula berkaca-kaca kini mulai kembali bersinar, dan senyum tipis pun perlahan terukir di bibirnya.
"Terima kasih banyak, Kak Nisa, Kak Kevin, Kak Billy..." ucap Kristin dengan tulus, suaranya terdengar jauh lebih tenang dan penuh rasa syukur. "Terima kasih sudah terbuka dan jujur kepadaku. Terima kasih sudah menenangkan hatiku yang sedari tadi merasa begitu gelisah dan takut."
Kristin pun mulai menyesap sisa kopi di tangannya yang masih terasa hangat dan nikmat. Segelas kopi itu terasa begitu nikmat hingga ke ulu hati, seakan membawa kehangatan yang menyusup ke seluruh jiwanya. Setelah cangkir itu kosong, Kristin berdiri perlahan sambil memeluk erat kantong tidur milik Kak Doni di pelukannya.
"Kalau begitu, izinkan aku kembali beristirahat sekarang," pamit Kristin sambil tersenyum tulus kepada ketiga seniornya itu. "Selamat beristirahat, Kakak bertiga."
Nisa, Kevin, dan Billy pun tersenyum ramah menganggukkan kepala, mengizinkan Kristin kembali menuju tendanya. "Selamat beristirahat juga, Kristin. Jangan lupa tidur yang cukup."
Kristin pun berbalik perlahan melangkah kembali menuju tendanya. Langkah kakinya yang semula terasa berat dan tak tentu arah kini terasa jauh lebih ringan dan tenang. Di dalam hatinya yang semula penuh kegelisahan kini telah terisi oleh ketenangan dan harapan yang baru. Malam itu, di tengah heningnya hutan dan hangatnya api unggun yang tidak terlalu besar, hati Kristin pun perlahan tenang, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia pun siap untuk memejamkan matanya dan beristirahat dengan tenang.