Indonesia
NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 25

Suara kokok ayam hutan memekik nyaring di kejauhan, burung-burung bernyanyi merdu pada pucuk ranting yang bergoyang tertiup angin penghujan. Gerimis baru saja reda menyisakan aroma basah yang segar berbaur dengan hangatnya kilau mentari pagi. 

Pada gubuk reyot, seorang pria masih meringkuk dalam sarungnya, tak menyadari pagi telah tiba. Mendengkur bak mesin gergaji kayu telah termakan usia. Dengan ujung kaki berbalut sepatu boot karet, Broto menggoyang kan badan lelaki itu yang seketika langsung terperanjat dari tidurnya. 

“Tangi. Anne karo sinyo Hans wes ngopi karo udud neng omah, koe ijek mlungker neng kene,” seru Broto. (Bangun. Anne dan sinyo Hans sudah ngopi sama rokokan di rumah, kamu masih meringkuk di sini)

“Hah!” Rusli terbelalak, tatapannya menyapu sekitar, tangan terdapat bekas iler menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Kok wes isuk?”

“Njalukmu opo? Selawase wengi?” balas Broto masih berdiri bercakung di depan pria berkulit mengkilap itu. (Minta kamu apa? Selamanya malam?)

Rusli terpaku, masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, sudut matanya sedikit menyipit saat mulut memblenya menguap lebar. 

“Bocah goblok. Musim penghujan bukannya tidur dengan istri di rumah, malah milih di pinggiran sawah,” imbuh Broto, tangannya merogoh kretek tersimpan di saku celana. “Dibayar piro kowe karo wong londo kae, hah!” (Dibayar berapa kamu sama orang londo itu, hah!)

Rusli tersentak kecil, menunduk sambil membenarkan sarung yang membungkus badannya. 

“Dibayar berapa kamu selama ini sama wong londo itu?!” ulang Broto, tatapannya terlempar jauh pada hamparan padi yang masih dipenuhi tetesan embun. 

“N-ndak di bayar Pakde, ha-anya ….” terbata-bata Rusli menjawab.

“Hanya dijanjikan jadi ulu-ulu banyu kalau rencana kejahatannya pada genduk Anne berhasil?” potong Broto tepat sasaran. (ulu-ulu banyu \= juru pengairan)

Suami Rodiyah itu tak berani menjawab, hanya tertunduk seraya beranjak dari gubuk reyot. 

“Balik kono. Kurang kerjaan tidur di sawah, istri dirumah dibiarkan jadi penghangat orang,” lanjut Broto. 

Ia kemudian loncat ke area persawahan, berjalan santai pada galengan yang ditumbuhi gulma dan rumput liar, meninggalkan Rusli yang masih kebingungan mencerna ucapan si Jagabaya.

Di tempat yang berbeda, cangkir kopi telah kosong dari isinya, beberapa potong pala pendhem tersisa kulit juga toples bening yang tinggal berisi lima keping biskuit kayu manis, tersusun berantakan di meja kayu beralas taplak renda. 

Anne duduk sambil bertopang kaki, tangannya menggenggam koran baru selesai di baca, di hadapannya Dasim memberikan laporan sambil mengunyah pala pendhem tersisa satu potong talas ungu. 

“Dua mingguan lagi lah, Nduk, sebagian padi itu siap di panen, itu yang tak terlalu terdampak, kalau yang terdampak saat ini mulai menghijau, bulirnya juga mulai terisi. Panen kali ini bisa dipastikan ndak serentak sepertinya,” kata pria telah mendampingi Anne sejak bayi merah. 

“Jelaslah, Kang. Padi-padi itu mau kembali tumbuh dan berisi saja sudah keberuntungan buat kita,” sahut Anne seraya melipat koran di tangan. 

“Tetap waspada, Kang, masa seperti ini rentan serangan wereng dan tikus. Kemarin, juragan dari desa Sri Basuki mengabarkan, pertanian mereka mulai mendapat serangan walang sangit. Suruh petani melapor jika ada perubahan sedikit saja pada batang padi dan mulai kurangi intensitas pengairan, perhatikan juga rombongan keong sawah,”  imbuhnya sekaligus memberi titah. 

“Baik, Nduk.” Dasim menyahut sambil mengambil cangkir kopi sisa sepertiga, meneguknya hingga tandas sebelum kembali melanjutkan pembicaraan. “Tapi, Nduk. Kang Dasim sedikit khawatir dengan hasil panen tahun ini. Bagaimana jika tak mencapai target dan—” 

“Dan aku kehilangan semua tanah warisan ini?” potong Anne, bibir merah alami nya melengkung samar, tangan lentik dengan cekatan menggelung rambut sedari tadi dibiarkan tergerai. “Kang Dasim, ‘kan sudah membersamai ku sedari bayi, mosok ndak paham dengan cara kerjaku. Aku tak kan mungkin berani sesumbar jika tak punya tameng, terlebih kekacauan ini bukan sepenuhnya keinginan tanah kita, tapi ulah orang-orang yang belum selesai dengan ambisi masa lalunya.”

“Jadi benar, Nduk, Argono itu anak Kartijo dengan Marni?” tanya Dasim dengan raut penasaran. 

Anne mengedikkan bahu, satu tangan meraih kretek tergeletak di atas meja. “Entahlah, nenek tua juga tak yakin itu anak Kartijo atau si kusir tua. Keduanya sama-sama menjadi penikmat, persis saat dengan Amina, beruntung saja bocah ingusan itu tak sakit seperti Damar.” 

“Tapi opo mungkin, to Nduk? Kasman itu sudah tak punya batang waktu Marni menjadi gundiknya Kartijo, wes dipotong habis sama tuan dokter,” ujar Dasim, ia turut mengambil satu batang kretek, lalu menyulutnya. 

“Mungkin ae, Kang. Aku sudah menghubungi paman, katanya dia hanya memotong batangnya, sedang saluran benih nya masih dibiarkan berfungsi,” balas Anne, selama di kota ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, mencari informasi lengkap termasuk keabsahan pernikahan sang ibu dan Petter Van Beek.  

Dasim menggeleng samar, tangan menjepit batang rokok di ketukkan pada meja kaca. “Pantes ae kelakuane jek koyo wedus berok, jebul jek iso kaceren.” (Pantas saja kelakuannya masih kaya kambing, ternyata masih bisa kegatelan. Kaceren→merajuk pada nafsu birahi🙏)

Anne terbahak kecil, menghisap dalam kretek tinggal  setengah, lalu mengepulkan asapnya ke udara. “Namanya juga laki-laki, Kang, mana bisa menahan hal satu itu.” 

“Alah, kakang mu iki yo lanang, Nduk. Tapi—” 

“Tapi podo ae, masih demen grayah-grayah, ra angon wayah,” sergah Wulan seraya ikut duduk di teras depan. (Tapi sama saja, masih demen meraba-raba, tanpa tau waktu) 

“Ya beda to, Cah Ayu. Aku ndak asal wedokan, hanya kamu seorang, la lek Kasman … wedus diwedaki patut’o, yo di tumpaki,” sanggah Dasim sambil menjawil dagu sigar jambe sang istri. (merajuk pada asal menuruti hawa nafsu)

Wulan mencebik kecil, mata sendunya berpindah pada Anne. “Genduk ayu, siang nanti mau dimasakkan apa? Mbak Wulan selesai kakang mu sarapan mau ke pasar, beli beberapa keperluan dapur. Biar sekalian belanjanya kalau ada yang pengen, Nduk ayu makan?” 

“Opo ae, Mbak, tapi kalau tidak merepotkan, malam nanti aku pengen makan soto lamongan seperti yang Mbak Wulan bikin kapan hari itu,” sahut Anne, tak mau membuat Wulan kebingungan, sebab istri Dasim kalau sudah bertanya perihal menu masakan artinya sudah kehabisan ide untuk menu harian mereka. 

“Kok kita sehati, kang Dasim dari kemarin, yo puengennnn makan soto, tapi mbak mu males katanya suruh bikinkan,” timpal Dasim, senyum cerah merekah di wajah sedari muda terkenal hitam manis, penuh pesona. 

“Halah, milu-milu ae,” sungut Wulan, dengan ringan mengeplak lengan sang suami, lalu beranjak dari duduk, membereskan bekas cangkir kopi serta piring kosong. “Ayo bantu nangkep ayam nya, gek dipotong sekalian biar dibersihin bocah-bocah, ben langsung diolah, jadi pas  sore wes empuk.” 

“Beresono bekakas kotor ini dulu, Cah Ayu, aku tak melanjutkan obrolanku dengan genduk Anne,” sahut Dasim. 

Wulan mendengus, tak menjawab ucapan sang suami, langsung berjalan menuju dapur setelah meletakkan cangkir dan piring kotor ke atas nampan

Melihat kemesraan yang ditunjukkan dua orang sudah mengurusnya sedar kecil, sudut bibir Anne terangkat tipis, dalam hati mengucap syukur masih dikelilingi orang-orang  berhati baik, bekerja secara tulus, tak pernah memperhitungkan perihal upahan sebab tanpa mereka meminta ia sudah menyiapkan dalam bentuk investasi masa tua yang bisa diambil tiap bulannya, juga jaminan pendidikan untuk putri semata wayang mereka—Rani.

“Jadi benar, Nduk, noni Ma—”

“Kita bicarakan nanti lagi, Kang. Itu orangnya datang,” potong Anne, menatap lurus mobil kodok tua memasuki pelataran rumahnya. “Tolong siapkan kuda, aku ingin mengajaknya berkuda hari ini.”  

Tak lagi menjawab, Dasim memilih langsung beranjak dari tempatnya, enggan menyapa Maria yang baru turun dari mobil, buru-buru ia berjalan menuju kandang kuda di halaman belakang. 

“Anne, kau kemana saja? Aku merindukanmu ….” 

Bersambung

1
rama Rasyidin
waduh... pantes cerita ndoro begitu mencekam para Raiders... ternyata hantu.... 🤭
Anna: Kebetulan saya ketua mereka. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
bulan hantu ..?
apakah vampire nya bakallan bangkitt
Anna: Dia sedang mengetik naskah bab berikutnya.
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
tuluss ngga sihh hans kamuu
Anna: "Buktikan diakhir cerita," kata Hans.
total 1 replies
Cen
oh,,, otor chines kah??
Anna: Bukan. Cuma kebetulan lagi kerja sama orang Cina.
total 1 replies
rama Rasyidin
waduh.... Anne.... d panggul sopo koe ndo
Anna: tebak.
total 1 replies
Muhammad Arifin
menghayallah kak...semakin kakak menghayal,semakin semangat AQ bacanya 😆😆😆
Anna: Kakkk kamu kenak virus sintingku kayaknya 😭😭
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
Alhamdulillah hari ini baik thor,
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
eeeh, sopoo kuii wani wani nee nyulik anne ,
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
woaaalaahhh , rusli anake kasman
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀 : kan tua tua keladii 🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
heeeehh,
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
durung sadare kuwe ,
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
Ratih Tupperware Denpasar
masih betah banget kak sama ceritanya... saya suka. semangat ya kak
Anna: Terima kasih sudah selalu memberi dukungan, Kak. 🫶
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
anne pamer kekayaan kartijo
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
argono memang tak pandai menyimak keadaan ...
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
Ratih Tupperware Denpasar
1 vote unt anne
Muhammad Arifin
kena Kowe Anggono 😏😏
Anna: Arep kok kapakne, Kak? 😭
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kondho muu kuii sak njeplakee , Jane mangane opo kuii Rodiyah ora Ono asupan gizi untuk kewarasan otak nyaa lhoooo
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pastii piktorr ini argono , bisa keluarr itu pipiss nyaa 🤣
Anna: Rembesss 🫢
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
keren bgt lhoo papa , bukan bapak , Romo ae wis keren kogg
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: itu mahh , doktrin buk nee
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
aaahhh
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!