Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Hidup Penuh Tekanan
Mendengar kabar tentang keberadaan Sarmila, lantas Diyah langsung mengajak suaminya untuk pergi ke ibu kota—menjemput sang adik. Karena terburu-buru mereka bahkan tak sempat berpikir untuk ganti pakaian.
"Kalian mau ke mana?" tanya Juragan Marta yang melihat anak dan menantunya menuruni anak tangga dengan tergesa.
"Aku dan Diyah mau ke Jakarta, Pak. Jemput Sarmila," jawab Biyakta apa adanya sambil terus menggandeng tangan sang istri.
"Jemput Sarmila? Memangnya dia tidak bisa pulang sendiri?" tanyanya lagi, sebab dia tahu Sarmila bukanlah seorang anak kecil yang ke mana-mana harus didampingi. Masa pulang ke kampung saja harus dijemput, pikirnya.
"Situasinya beda, Pak, nanti aku yang jelaskan. Kami berangkat dulu ya, aku pakai mobil yang di garasi," papar Biyakta mempersingkat waktu. Karena dia sadar Diyah sudah sangat cemas dan gusar sejak tadi.
"Assalamualaikum, Pak," pamit Diyah sambil mensejajari langkah Biyakta.
Begitu masuk ke dalam mobil, Biyakta langsung menancap gas, dia sendiri yang mengemudikan kendaraan roda empat tersebut.
Dalam perjalanan Diyah tak pernah benar-benar bisa tenang. Sampai dia tak bisa beristirahat barang sebentar pun, apalagi makan dan minum, setiap ditawari Biyakta wanita itu hanya menggelengkan kepala.
"Tapi kalau kamu lelah atau mengantuk, kita berhenti dulu saja, Mas, aku tidak mau memaksakanmu," ujar Diyah yang tak ingin egois. Sebab dia pun sadar menyetir adalah hal yang melelahkan dan butuh fokus yang tinggi.
"Kita mampir sebentar di mini market ya," balas Biyakta, akhirnya memiliki sela untuk memaksa istrinya mengisi perut terlebih dahulu.
Diyah mengangguk patuh. Setelah mobil berhenti Biyakta langsung turun untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Tak lama dia kembali, lalu menyerahkan tentengan kepada Diyah.
"Lapar atau tidak, kamu harus makan, ini demi kesehatanmu," ujar Biyakta, yang kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. "Satu jam-an lagi kita sampai di lokasi tujuan. Aku pastikan lebih cepat asal kamu makan!"
Mendengar itu hati siapa yang tidak menghangat. Tanpa harus memaksa lebih lama Diyah akhirnya luluh juga, dia mengeluarkan sosis panggang dan beberapa lembar roti tawar, melahapnya dengan cepat hingga membuat Biyakta tersenyum lebar.
"Ini baru istriku," pujinya sambil mengelus kepala Diyah.
Sementara di rumah kontrakan beberapa petak yang dihuni Arumi, Diva dan Sarmila dikurung di dalam kamar. Setelah dibohongi akhirnya Arumi mengetahui niat sang anak yang ingin membebaskan Sarmila begitu saja. Padahal sudah banyak rencana yang tersusun di kepalanya.
"Jangan harap kalian bisa makan dan minum. Tetap di kamar sampai pagi. Ingat ya, Diva, kamu jangan punya niat sedikit pun untuk kabur, karena ibu bakal tahu di mana pun kamu berada!" teriak Arumi di depan pintu. Hingga kedua wanita berbeda generasi itu bisa mendengar jelas.
Sebenarnya bukan kali ini saja Diva mendapat hukuman. Saat dia tak bisa menyenangkan hati sang ibu—misalnya dengan nilai jelek, maka jangan harap ada wajah manis yang menyambutnya. Ya, di sisi lain Diva memang beruntung bisa bersanding dengan ibu kandungnya, tetapi tekanan demi tekanan yang didapat pun tak kalah besar, hingga dia tak betah di dalam rumah.
"Div, maafin Kakak ya, gara-gara keberadaan Kakak kamu jadi kena imbasnya," ujar Sarmila merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku justru seneng bisa bantu Kak Mila. Makasih juga ya Kakak tadi udah belain aku, aku jadi nggak kena pukul sama ibu," balas Diva sambil tersenyum, supaya terlihat baik-baik saja.
Sarmila mengusap salah satu bahu Diva. Kini dia merasakan apa yang dirasakan oleh Diyah—yakni bagaimana naluri ingin melindungi sosok yang lebih kecil darinya, menjadi seorang kakak.
"Aku yakin sebentar lagi Kak Diyah akan datang jemput kita," ujar Sarmila merasa optimis, karena Diva sudah berhasil menghubungi kakaknya.
"Kita? Aku nggak mungkin ikut, Kak," balas Diva, karena tempatnya adalah di sini. Apalagi ada sosok ibunya yang tak mungkin melepaskannya begitu saja.
"Tapi kalau Kak Diyah ngajak kamu, kamu mau ikut?" tanya Sarmila sambil menatap mata Diva dengan lekat. Dia cukup tahu bahwa gadis kecil yang di depannya ini hidup penuh tekanan.
Diva tak bisa langsung menjawab. Dia bimbang.
****
Menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan anak dan menantunya. Akhirnya ibu Rani memutuskan untuk mendobrak pintu kamar, dia benar-benar dibuat shock karena saat pintu terbuka suasana senyap langsung menerpa.
Tanpa pikir panjang wanita itu langsung memeriksa seisi lemari milik putrinya. Firasatnya tak meleset, Rani pergi bersama dengan Cakra. Tanpa pamit, tanpa kabar.
"Ke mana mereka? Bisa-bisanya pergi tanpa pamit padaku. Apakah kalian pikir bisa hidup di luar sana tanpa bantuanku?" pekik ibu Rani dengan penuh amarah. Lantas dia pun keluar dari kamar, pintu dibanting dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.
Dia raih ponsel dan langsung mencari nomor putrinya. Namun, sayang nomornya telah diblok sehingga dia gagal menghubungi sang anak.
"Benar-benar sialaan! Pasti Cakra yang meracuni pikiran Rani sehingga dia mau melakukan ini semua. Lagi pula si Rani ini bodoh sekali, rela mengejar pria yang bahkan tidak bisa menghidupi dirinya. Apakah dia tidak bisa berkaca padaku?" cerocos ibu Rani dengan dada yang meletup-letup.
Di saat yang bersamaan seorang anak kost tiba-tiba datang, mengetuk pintu dan meminta izin untuk bicara dengannya.
"Ada apa ya?" tanya ibu Rani dengan sisa kewarasan. Dia tidak boleh menjadikan gadis di depannya sebagai pelampiasan amarah.
"Maaf, Bu, saya bukannya mau ikut campur sama masalah keluarga ibu, tapi kemarin saya sempet lihat Mbak Rani sama suaminya ngeluarin barang-barang di kostan yang kosong. Habis itu saya lihat mereka pergi sebelum ibu pulang," jelas gadis yang menghuni kamar atas. Dia sempat mengintip dari jendela, karena letak kamarnya hanya berjarak beberapa meter.
Dan pagi tadi dia mendengar kabar kalau Rani dan suaminya tidak kelihatan sejak semalam. Dia sempat ragu untuk bilang, tapi batinnya terus mendorong untuk mengatakan apa yang dia lihat.
"Apa? Barang-barang di kostan kosong diambil?"
Gadis itu mengangguk. Sementara ibu Rani langsung mengepalkan tangannya, Cakra sungguh main-main dengannya.
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi