Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — CERMIN PECAH
Lembah Kabut Hitam diliputi keheningan yang mencekam pada tengah malam itu. Angin mendadak berhenti berembus, dan bahkan suara jangkrik pun mati seketika. Di hadapan Lu Chen dan Shen Yue, berdiri sebuah kuil kuno yang telah runtuh sebagian. Pintu masuk bangunan itu tertutup rapat oleh Cermin Nirwana—sebuah cermin setinggi tiga meter berpermukaan hitam pekat, di mana pusaran galaksi tampak berputar-putar mengerikan di dalam kacanya.
"Ini dia," bisik Shen Yue dengan suara yang sangat pelan. Wajahnya tampak pucat pasi, sementara luka cambuk petir di punggungnya masih mengalirkan darah segar dan belum pulih. "Cermin Nirwana. Harga untuk masuk ke dalam sana adalah sepuluh tahun umur."
Lu Chen menggenggam erat tangan ibunya. "Aku yang akan membayarnya."
"Tidak," sela Shen Yue tegas. "Kau adalah anakku. Aku yang akan menanggung harganya."
Sebelum Lu Chen sempat melayangkan protes, Shen Yue sudah menusukkan telapak tangannya sendiri ke permukaan cermin.
SRET!
Darah segar menetes deras membasahi bingkai tulang. Seketika itu juga, sepuluh helai rambut hitam milik Shen Yue berubah menjadi putih bersih dalam sekejap mata. Permukaan cermin bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan di baliknya yang bukanlah sebuah ruangan, melainkan lautan api yang menyala-nyala.
Di Dalam Cermin Nirwana
Hawa panas yang luar biasa langsung menghantam sekujur tubuh begitu mereka melangkah masuk. Langit di dalam cermin berwarna merah darah, dengan tanah yang merekah pecah-pecah. Tepat di tengah lautan api, sebuah peti kristal melayang tenang, menyimpan sehelai bulu dewa dan setetes darah murni Dewa Langit.
"Ambil benda itu," kata Shen Yue dengan suara yang terdengar begitu lemah. "Itu adalah kunci untuk menetralkan kutukan segel iblis di dalam tubuhmu."
Lu Chen berlari kencang menerobos lautan api. Tiba-tiba, sebuah panel transparan melintas di depan matanya.
[Panel: Segel Tiga Alam Lv.1] Kekuatan: 120 Darah Iblis: 10%
Tanpa diduga, dari dalam kobaran api muncul tiga sosok bayangan mengerikan—mereka adalah para Penjaga Cermin yang memiliki tubuh setengah iblis dan setengah dewa.
"Siapa yang berani lancang mencuri pusaka milik Raja Iblis?!" raung mereka serempak.
Pertempuran sengit langsung pecah. Lu Chen bertarung menggunakan tangan kosong. DUAR! Satu hantaman tinjunya membuat penjaga pertama terpental jauh ke belakang.
Kekuatan naik ke 150.
Namun, dua penjaga lainnya bergerak jauh lebih cepat dan ganas. Cakar tajam mereka berhasil merobek lengan baju Lu Chen dan meninggalkan luka sayatan berdarah.
Dari luar cermin, suara Shen Yue terdengar parau memanggil, "Chen! Gunakan darahmu!"
Lu Chen menggigit ujung lidahnya hingga berdarah, lalu meludahkan cairan merah itu ke atas tanah yang panas. Reaksi langsung terjadi pada sistem internalnya; persentase Darah Iblis melonjak dari sepuluh persen menjadi lima belas persen.
Kekuatan naik ke 200.
Dengan satu pukulan telak yang dilapisi energi gelap, kedua penjaga tersisa hancur berkeping-keping dalam sekejap, berubah menjadi abu hitam. Lu Chen segera melompat dan menyambar bulu dewa serta tetesan darah yang berada di dalam peti kristal.
Namun, tepat saat ia hendak membalikkan badan untuk keluar, tanah di bawah kakinya bergetar dahsyat.
GROOOAARRR!
Dari dasar lautan api yang paling dalam, sebuah peti besi raksasa yang dikurung oleh sembilan lapis rantai terkutuk mendadak retak. Rantai-rantai itu putus satu demi satu dengan suara memekakkan telinga.
"Siapa... yang berani... membangunkan tidurku..."
Suara gemuruh itu begitu kuat hingga membuat pembuluh darah di telinga Lu Chen pecah dan mengalirkan darah segar. Di luar cermin, Shen Yue terbatuk-batuk mengeluarkan darah. "Tidak mungkin... Raja Iblis... dia masih disegel di tempat ini..."
"IBU!" teriak Lu Chen panik. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus batas cermin untuk keluar.
PECAHHH!
Cermin Nirwana itu hancur berkeping-keping. Bukan karena mereka berhasil keluar secara baik-baik, melainkan karena kekuatan maha dahsyat dari dalam sedang mendesak keluar secara paksa.
Di Luar Cermin
Bangunan kuil purba itu runtuh merata dengan tanah. Dari serpihan pecahan cermin, gumpalan kabut hitam pekat membumbung tinggi, membawa bau busuk bangkai yang telah tertimbun ribuan tahun.
Kabut itu perlahan memadat membentuk sesosok makhluk raksasa setinggi empat meter, memiliki sepasang tanduk di kepalanya, berlengan enam, dan bermata tiga. Tepat di tengah dadanya, sebuah segel emas milik Istana Langit tertanam erat.
"AKHIRNYA AKU BEBAS," raung makhluk itu mengguncang seluruh lembah.
Dialah sang Raja Iblis: Mo Tian.
[Panel Darurat] NAMA: MO TIAN - RAJA IBLIS LEVEL: ??? ANCAMAN: KIAMAT
Mo Tian menatap tajam ke arah Shen Yue. "Oh... sang Penjaga Hukum yang sombong. Kau adalah dewi yang sama yang menyegelku sepuluh ribu tahun yang lalu."
Shen Yue bangkit berdiri dengan tertatih-tatih, meskipun luka di punggungnya masih mengucurkan darah. "Lari, Chen."
"Tidak," jawab Lu Chen tegas sambil melangkah maju menempatkan diri di depan ibunya. "Aku yang memulai semua ini, aku yang akan menyelesaikannya."
"Bocah yang berani," desis Mo Tian sinis. Ia mematahkan salah satu kukunya. Dari serpihan kuku itu, ratusan iblis kecil bermunculan. "Mari kita bermain-main sebentar dengan mainan kecil."
Dalam sekejap mata, tubuh Mo Tian menghilang dari pandangan. Target utamanya adalah Shen Yue.
Lu Chen langsung melesat dan berdiri di hadapan ibunya. DUAR! Ratusan iblis kecil menghantam tubuhnya secara bersamaan, membuat darah segar muncrat dari mulutnya.
[Panel: Peringatan] DARAH IBLIS: 15% -> 30% RASA SAKIT: MAKSIMAL RISIKO: KEHILANGAN KESADARAN TOTAL
"Chen!" teriak Shen Yue histeris sambil memeluk putranya.
Mo Tian muncul kembali di udara tepat di atas mereka. "Menyedihkan." Ia mengayunkan satu tangannya ke bawah, berniat meratakan ibu dan anak itu menjadi debu.
Lu Chen menjerit sekuat tenaga, melampiaskan seluruh keputusasaannya. Segel di dadanya kembali retak parah.
[Segel Lv.1] dipaksa naik melampaui batas menjadi [Segel Lv.1.5]. DARAH IBLIS: 30% -> 50% KEKUATAN: 200 -> 800
Lu Chen melayangkan tinjunya ke arah langit. BOOOOM!
Hantaman tenaga dalam itu berbenturan hebat dengan tangan sang Raja Iblis, membuat Mo Tian terpental mundur sejauh seratus meter ke udara.
Mo Tian mendarat kembali dengan senyuman lebar di wajahnya. "Menarik sekali. Darah iblis yang mengalir di dalam tubuhmu... sangat murni." Ia menatap tajam. "Katakan, anak muda, siapa ayahmu?"
Lu Chen batuk memuntahkan darah hitam. "Aku adalah anak Shen Yue!"
Mo Tian tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memecah angkasa. "Bagus! Aku menyukainya. Ikutlah denganku, dan akan kuajari cara menghancurkan Istana Langit!"
"Tidak akan pernah," dengus Lu Chen dingin.
"Jika begitu... matilah." Mo Tian mengangkat keenam tangannya secara bersamaan.
Tepat di saat kematian seolah berada di depan mata, langit malam tiba-tiba disambar oleh petir ungu yang maha dahsyat.
DUAR! DUAR! DUAR!
Dari celah awan yang terbelah, sepuluh Penegak Hukum Langit berzirah emas turun melesat ke bumi. Di barisan terdepan, sang Dewa Eksekusi berseru lantang, "Raja Iblis Mo Tian! Belum saatnya kau menampakkan diri di dunia fana!"
Mo Tian mendengus kesal. "Cih, para pengganggu yang merepotkan."
Pertempuran tiga kubu yang brutal pun pecah seketika—pasukan Istana Langit, gerombolan Raja Iblis, serta Lu Chen dan Shen Yue yang terjepit di tengah-tengahnya.
Shen Yue segera membopong tubuh Lu Chen yang sudah setengah sadar. "Kita harus segera pergi dari sini sekarang juga!"
"Ibu... aku gagal..." bisik Lu Chen lemah. "Cermin itu hancur..."
"Tidak," sahut Shen Yue sambil menunjuk bulu dewa dan tetesan darah yang masih tergenggam erat di tangan putranya. "Benda ini sudah lebih dari cukup."
Mereka berdua berlari kencang menerobos pekatnya kabut lembah. Di belakang mereka, suara tawa Mo Tian menggema riuh saat ia bertarung melawan para Penegak Langit. "Kita akan segera bertemu lagi, anak segel!"
Dua jam kemudian, di dalam sebuah gua tersembunyi berjarak sepuluh kilometer dari lokasi reruntuhan kuil.
Lu Chen mengalami demam tinggi yang membara. Seluruh kulit di sekujur tubuhnya mulai menampakkan garis-garis retakan hitam—efek samping dari persentase Darah Iblis yang mencapai lima puluh persen.
Shen Yue dengan telaten menyuapkan bulu dewa serta tetesan darah suci itu ke mulut putranya. Begitu benda tersebut masuk ke dalam dada Lu Chen, retakan hitam di kulitnya berangsur-angsur berhenti menyebar.
[Panel: Status] SEGEL: STABIL SEMENTARA DARAH IBLIS: 50% DARAH DEWA: 1% (BARU TERAKTIVASI)
Lu Chen perlahan membuka matanya. "Ibu... aku minta maaf..."
Shen Yue memeluknya erat. "Ssst... tidak perlu meminta maaf. Kau telah berjuang dengan sangat baik."
Namun, di tengah kelegaan yang singkat itu, sebuah suara mencurigakan terdengar dari luar mulut gua.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang sangat banyak.
Shen Yue langsung bangkit berdiri dengan pedang es yang sudah tergenggam siap di tangannya.
"Penegak Langit telah menemukan tempat persembunyian kita," bisiknya tegang.
Dan dari kejauhan yang gelap, suara Mo Tian kembali menggelegar menembus dinding gua: "ANAK SEGEL... AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN KAU..."