Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Larasati
Lembaran papan misi di Balai Desa tampak kosong dari keramaian yang biasa memenuhinya sore ini, menyisakan Larasati yang berdiri termenung menatap pintu keluar, matanya kosong seolah pikirannya sedang berkelana jauh dari tempat ia berdiri. Papan kayu berisi lembaran-lembaran misi bergoyang pelan tertiup angin sore yang masuk lewat jendela terbuka.
Sejak insiden pendaftaran kelompok Galih dan Sekar kemarin, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika sederhana. Di tengah kerumunan Kelompok Naga Selatan yang masih sibuk membahas kemenangan misi terakhir mereka, Larasati duduk di sudut ruangan, sama sekali tidak tertarik ikut dalam obrolan riang rekan-rekannya.
Ia teringat lagi momen singkat di pasar beberapa hari lalu, saat matanya bertemu pandang dengan pemuda asing bernama Galih. Ada sesuatu yang aneh dari energi yang terpancar dari tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari manusia biasa mana pun sepanjang hidupnya sebagai penyihir cahaya. Perasaan itu terus mengganggu pikirannya sejak saat itu, meski ia tidak bisa menjelaskan mengapa hal sekecil itu begitu membekas. Ia bahkan sempat memimpikannya semalam, bayangan energi ganjil itu berputar dalam mimpinya seperti kabut yang tidak mau pergi.
"Kau kenapa, Laras?" tanya Bayu, salah satu rekan setimnya, melirik dari meja tempat mereka biasa berkumpul. "Dari tadi diam saja."
"Tidak apa-apa," jawab Larasati singkat, meski suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
Rasa gelisah itu semakin menjadi ketika ia menyadari sesuatu. Laskar Cakra berangkat misi pagi tadi, sekadar mencari daun sambiloto di pinggir hutan, misi yang seharusnya selesai dalam hitungan jam. Namun matahari sudah mulai condong ke barat, dan mereka belum juga kembali. Larasati menghitung dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa keterlambatan itu wajar, mungkin mereka sekadar mampir dulu ke pasar atau berhenti istirahat di jalan, namun setiap alasan yang ia buat sendiri terasa semakin rapuh seiring waktu yang terus berjalan.
Larasati bangkit dari duduknya, melangkah mendekati meja petugas registrasi yang sama yang kemarin mencatat pendaftaran Laskar Cakra.
"Permisi," katanya, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdebar aneh. "Apakah kelompok Sekar sudah kembali dari misi?"
Petugas itu mendongak, menggeser beberapa kertas di mejanya sebelum menjawab. "Sekar? Belum, setahuku. Tapi misi mereka cuma pencarian tanaman obat, tidak perlu waktu lama. Mungkin mereka masih di jalan."
Jawaban itu terdengar wajar, seharusnya cukup untuk menenangkan pikirannya. Namun entah kenapa, nada suara petugas itu yang sedikit ragu, tatapannya yang sekilas mengalihkan pandangan, membuat kegelisahan Larasati justru semakin membesar tanpa alasan yang bisa ia jelaskan dengan pasti.
"Mereka berangkat ke arah mana?" tanya Larasati lagi, suaranya mulai terdengar lebih mendesak dari yang ia inginkan.
"Pinggir Hutan Wanasari, sisi timur," jawab petugas itu, mengerutkan kening bingung melihat kegelisahan Larasati yang tiba-tiba muncul. "Kenapa? Ada masalah?"
Larasati tidak menjawab. Firasat buruk yang sedari tadi mengendap di dadanya kini meledak menjadi kepastian yang tidak bisa ia abaikan lagi. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik badan dan mulai berjalan cepat menuju pintu keluar Balai Desa.
"Laras, mau ke mana kau?" panggil Damar dari meja Naga Selatan, suaranya heran melihat rekan setimnya bergerak tergesa keluar tanpa penjelasan apa pun.
Larasati tidak menoleh, tidak menjawab. Langkahnya berubah menjadi lari kecil begitu ia melewati ambang pintu, semakin cepat seiring detak jantungnya yang berpacu liar. Ia tidak tahu persis mengapa dirinya begitu yakin ada yang salah, namun nalurinya sebagai penyihir cahaya, kepekaannya terhadap gejolak energi di sekitarnya, berteriak keras bahwa waktu tidak berpihak padanya.
"Larasati!" teriak Bayu dari kejauhan, namun suaranya semakin memudar seiring jarak yang cepat terbentang di antara mereka.
Ia berlari menyusuri jalan setapak menuju batas desa, tidak mempedulikan tatapan bingung beberapa warga yang ia lewati begitu saja. Seorang pedagang yang sedang menggendong keranjang sayur bahkan sampai melompat mundur menghindari tabrakan, berteriak protes yang tidak sempat ia dengar sama sekali. Rambutnya berkibar liar diterpa angin, napasnya mulai memburu namun ia tidak mengurangi kecepatan sedikit pun.
Begitu memasuki area pinggir Hutan Wanasari, Larasati berhenti sejenak, memejamkan mata untuk memusatkan konsentrasi. Sebagai penyihir cahaya, ia terlatih merasakan gejolak energi magis di sekitarnya, kemampuan yang selama ini sering ia gunakan untuk melacak keberadaan monster dari jarak jauh. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan indra keenamnya menjalar keluar seperti jaring tak kasat mata menyapu seluruh penjuru hutan di hadapannya.
Yang ia rasakan membuat darahnya seketika membeku.
Jauh di kedalaman hutan, tepat di teritori yang selama ini dikenal sebagai wilayah kekuasaan Bayangkara, terpancar gejolak aura magis pekat yang jauh dari wajar, jauh lebih besar dari yang seharusnya dihasilkan sekelompok Bayangkara level menengah biasa. Energi itu terasa gelap, mengerikan, dan yang paling membuat dadanya semakin sesak, terasa sangat dekat dengan titik lokasi di mana seharusnya Laskar Cakra sedang mencari daun obat. Ia pernah merasakan gejolak serupa sekali, bertahun-tahun lalu saat berlatih bersama gurunya, namun kekuatannya kala itu jauh lebih kecil dibanding apa yang ia rasakan sekarang.
"Tidak," gumam Larasati, matanya membelalak ngeri. "Ini terlalu banyak untuk kawanan biasa."
Ia kembali berlari, kali ini menerobos masuk lebih dalam ke hutan, mengabaikan jalur aman yang biasa dilalui pemburu pemula. Dahan-dahan berduri mencakar lengannya, ranting rendah menampar wajahnya berkali-kali, namun ia tidak peduli, terus memaksakan kakinya bergerak lebih cepat menembus rimbunnya pepohonan. Sesekali kakinya tersandung akar yang menyembul dari tanah, namun ia hanya terhuyung sesaat sebelum kembali berlari tanpa sempat memeriksa lukanya sendiri.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa terbakar oleh usaha berlari sejauh ini tanpa henti, namun bayangan wajah Galih yang samar ia kenal, dan Sekar yang selama ini ia kagumi diam-diam karena keteguhannya, terus memacu kakinya untuk tidak berhenti barang sedetik pun. Keringat membasahi punggungnya, napasnya tercekik oleh embusan udara lembap hutan yang semakin pekat oleh kabut.
"Kumohon, jangan sampai terlambat," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang semakin memburu.
Kabut putih tebal mulai menyelimuti pandangannya begitu ia semakin mendekati sumber gejolak energi yang ia rasakan sejak tadi. Suhu udara di sekelilingnya terasa jauh lebih dingin dari bagian hutan yang baru saja ia lewati, seolah kegelapan itu sendiri memiliki napasnya yang membekukan. Dan tepat ketika ia berpikir tidak mungkin lagi berlari lebih cepat dari ini, suara raungan monster yang menggema keras dari kejauhan menembus kesunyian hutan, membuat jantungnya mencelos dan langkahnya semakin dipercepat, menerjang lebatnya kabut yang menghalangi jalur menuju sumber suara itu.