Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : Bantal Lembap dan Kebohongan Yang Manis

   Hari minggu bagi Kiara bukan berarti libur yang menyenangkan. Kepalanya terasa berat, seolah ditimpa buku paket sekolah yang paling tebal. Efek menerobos gerimis jum'at sore kemarin mulai menagih bayarannya. Tenggorokannya gatal dan suhu tubuhnya perlahan merambat naik.

​Di ruang tengah, Kiara duduk di sofa menunggu sang Mama yang baru saja keluar dari ruang kerjanya setelah meeting online yang cukup panjang.

​"Ma, katanya mau nonton film?" tanya Kiara sambil berdehem pelan. Suaranya agak serak, tapi ia berusaha menyembunyikannya.

​Mama menoleh, sekilas menatap layar ponselnya yang terus berkedip notifikasi. "Oh, iya! Wait, ya, sayang. Mama cari filmnya dulu di Netflix."

​Awalnya, Mama memang duduk di sampingnya. Mereka sempat memilih film, bahkan Mama sempat menanyakan soal tugas sekolah. Kiara merasa sedikit lebih baik, setidaknya sampai ponsel Mama bergetar lagi. Sebuah pesan masuk, lalu disusul panggilan telepon

​Wajah Mama berubah cerah—berbeda jauh dengan raut lelah saat menatap Kiara tadi. "Sayang, sorry banget... temen Mama, Tante Rina, ngajak pilates sekarang, terus lanjut arisan sore. Udah lama juga kan Mama belum kumpul lagi, terakhir sebelum ke Surabaya sebulan lalu. Nggak apa-apa kan di rumah sendirian? masih ada Bi Yanti kok." penjelasan sang Mama seolah menghabiskan waktu dengannya setelah sekian lama terasa membosankan sampai memilih untuk pergi keluar.

​Kiara menelan ludahnya yang terasa pahit. "Tapi, Ma... kita kan baru mulai..." gumamnya berusaha menahan.

​"Nanti ya, weekend depan kita nonton sepuasnya. Mama berangkat ya, sayang. Love you!"

​Kiara hanya bisa mengangguk kaku saat punggung Mamanya menghilang di balik pintu utama.

"Neng, makan dulu, belum makan dari pagi tadi." Bi Yanti menahan langkah Kiara yang akan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

Kiara hanya menggeleng pelan, menatap Bi Yanti yang menatapnya sendu seakan paham perasaannya saat ini. "Nggak laper, Bi," ucapnya pelan setelah itu melanjutkan naik.

Rasa sesak di dadanya jauh lebih sakit daripada rasa pusing di kepalanya. Ia melangkah gontai menuju kamar, membiarkan tubuhnya ambruk di kasur. Saat matanya mulai terasa panas dan air mata menetes tanpa sadar, ia baru sadar kalau suhu tubuhnya sudah melonjak tinggi. ​Kiara meringkuk di balik selimut, memeluk bantal erat-erat, merasa benar-benar sendiri di rumah yang sebesar ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Sementara itu, empat kilometer dari rumah Kiara, suasananya justru berbanding terbalik.

​Rumah Khafi hari ini seperti kapal pecah. Ferdi, Kevin, dan Pandu sedang asyik bermain Playstasion di ruang tengah, sementara bungkus camilan bertebaran di atas karpet.

​"Woi, Pandu! Jangan pakai combo itu, curang lo!" teriak Kevin sambil melempar bantal sofa.

​"Bodo amat! Yang penting menang!" balas Pandu tertawa puas.

Di dapur, Mama Khafi sedang sibuk menyiapkan nampan berisi es sirup dan camilan. Ia berjalan menuju ruang tengah, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Khafi yang sedang bersandar di sofa, menatap layar dengan fokus dan tangan yang sibuk menekan joystick.

​Mama Khafi tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi chat, lalu menghela napas. "Khaf, kamu nggak chat Kiara?"

​Khafi tidak menoleh. "Ngapain?" ucapnya dengan heran.

Mama berdecak sebal. "Ya chat apa kek, chat Mama nggak di bales nih dari semalem. Biasanya dia fast respon, Mama jadi punya feeling nggak enak," gumam Mama Khafi pelan, meletakkan nampan di meja. "Ara itu anaknya sopan terus asyik juga ngobrolnya nyambung banget, biasanya pasti bales chat kalau nggak sibuk banget."

​Ferdi yang mendengar percakapan itu langsung nimbrung. "Wah, Mam, Kiara mah lagi sakit kali. Soalnya terakhir kali waktu jum'at sore kan ada kejadian heboh banget di sekolah, kehujanan gara-gara nunggu jemputan."

​"Kehujanan?" Mama Khafi menatap anaknya dengan tajam. "Kok kamu nggak bilang?"

​Khafi mendengus, merasa terpojok. "Ya kan dia bukan tanggung jawab aku, Ma. Kemarin dia cuma sok-sokan nyeker, terus aku bantu bawa sepatunya ke gerbang, udah gitu doang."

​"Cieelah... 'bantu bawa sepatu'," goda Pandu dengan nada dibuat-buat.

Kevin mendekat untuk membuka bungkusan camilan yang di meja."Gue liat sendiri di koridor, lo jalan sambil jadi pawang hujan buat dia, Khaf. Muka lo pas itu kayak lagi ngelindungin harta karun paling berharga."

​"Diem lo, Vin!" Khafi melempar joystick ke arah Kevin, tapi berhasil ditangkap olehnya.

​Mama Khafi bereaksi heboh seakan meleleh, sambil tersenyum gemas dia berkata. "Sebenarnya... anak itu manis ya. Enak kalau punya anak cewek kayak Ara, pasti rumah ini nggak bakal berantakan kayak kapal pecah gini kalau dia yang ngatur."

​Pandu yang sedang membenarkan letak kacamatanya langsung menyenggol lengan Khafi dengan sikunya, matanya melirik jahil. "Nah, dengerin, Khaf. Mama aja udah setuju tuh. Pacarin aja sekalian biar Mama punya anak cewek beneran. Daripada lo jomblo terus, nanti malah berkarat itu hati."

Ferdi mengangguk setuju. "Lampu ijo jangan di sia-siakan, langsung weh gass trabass," ujarnya dengan tangan yang seolah jalan ke arah Khafi.

​Khafi langsung menegakkan duduknya, wajahnya yang santai mendadak berubah defensif. "Apaan sih? Nggak ada ya. Dia itu musuh abadi gue. Nggak bakal ada sejarahnya seorang Khafi pacaran sama Kiara. Gila lo semua."

​"anaknya denial tuh, Mam," Pandu kembali mengompori ucapan Khafi pada mamanya sambil tertawa.

​Khafi hanya mendengus kesal, tapi pandangannya tak sengaja tertuju pada ponselnya sendiri. Ia teringat tatapan Kiara di bawah guyuran hujan sore itu. Benarkah gadis itu baik-baik saja setelah kejadian kemarin?

​Khafi buru-buru menepis pikiran itu, kembali fokus pada gimnya, berusaha menutupi keresahan yang entah kenapa mulai merayap pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Suasana di rumah Khafi kembali normal setelah Pandu, Ferdi, dan Kevin pamit pulang. Sisa-sisa bungkusan camilan dan kaleng soda di atas meja menjadi saksi bisu kekacauan tadi.

Khafi merebahkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit ruang tengah yang kini mendadak terasa terlalu sepi.

​Pikirannya melayang pada kejadian di koridor kemarin. Tatapan Kiara yang kesal, rambutnya yang lepek karena hujan, dan bagaimana tangan kecil itu gemetar saat mereka tidak sengaja beradu pandang di tengah lapangan.

​“Anaknya denial tuh, Mam,” suara Pandu masih terngiang di kepalanya.

​Khafi mendengus, merogoh ponsel di saku celananya. Jemarinya ragu-ragu di atas layar sebelum akhirnya membuka room chat Kiara. Terakhir kali mereka chat adalah saat urusan tugas kelompok, itu pun isinya debat soal file presentasi.

​Ia mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi.

​"Ck, ngapain gue peduli?" gumamnya pada diri sendiri. ​Tapi, ingatan soal ucapan Mamanya dan Ferdi soal Kiara yang kehujanan sore itu membuatnya tak tenang. Dengan napas kasar, ia mengetik dengan cepat tanpa mau berpikir panjang.

...​WhatsApp...

^^^Khafi Mahendra ^^^

^^^Woy. Masih hidup lo?^^^

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Di kamarnya yang temaram, Kiara sedang meringkuk di balik selimut tebal. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Ia hampir memejamkan mata untuk tidur saat ponsel di atas nakas bergetar panjang.

​Ia meraih ponselnya dengan tangan yang lemas, matanya menyipit membaca notifikasi dari nama yang tak asing lagi.

​Kha(f)ir.

Kiara mendengus pelan, "Tumben-tumbenan," gumamnya dengan suara parau.

​Ia membuka chat itu. Melihat kata-kata singkat yang terkesan menyebalkan, Grizelle malah merasa matanya memanas—bukan karena kesal, tapi karena ada orang lain yang mencarinya di saat ia merasa benar-benar dibuang oleh dunianya sendiri hari ini.

​Ia tidak membalas dengan kata-kata panjang. Ia terlalu lemas untuk mengetik.

^^^~​**KiaraaZefanya**^^^

^^^Apaan?^^^

​Tak sampai lima detik, balasan muncul.

​Kha(f)ir

Sombong amat. Tumben nggak ngomel.

Kiara mematikan ponselnya tanpa membalas lagi. Ia membenamkan wajahnya ke bantal, air mata yang tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Entah kenapa, pesan singkat dari musuh bebuyutannya itu justru membuatnya merasa lebih sakit dan lebih rapuh dari sebelumnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Di rumahnya, masih di ruang tengah, Khafi menatap layar ponsel yang tak kunjung menunjukkan balasan typing dari Kiara. Ia mengerutkan kening. Biasanya, Kiara akan membalas dengan rentetan kalimat pedas atau setidaknya satu emoji marah kalau diganggu.

​"Nggak biasanya," gumam Khafi kebingungan. Ia berdiri, mulai berjalan mondar-mandir. Firasatnya mulai tidak enak.

Khafi tidak bisa diam. Sebelum akhirnya memutuskan melangkah ke dapur dengan langkah yang dibuat-buat santai.

Mamanya sedang membelakangi dirinya, asyik membasuh piring-piring kotor bekas teman-temannya tadi. ​Khafi mendekat, tangannya mengambil kain lap kering. Ia mulai mengeringkan piring-piring yang baru saja dibilas Mamanya dengan gerakan yang sedikit kaku.

​Mamanya menoleh sekilas, keningnya berkerut heran melihat anak bujangnya yang biasanya anti-dapur malah jadi rajin tiba-tiba. "Tumben? Ada angin apa?"

​Khafi berdehem. "Nggak. Lagi pengen aja."

​Hening sejenak. Hanya suara gemericik air keran. Khafi melirik Mamanya yang masih sibuk, ia merasa ragu, tapi rasa penasarannya menang.

​"Ma..." panggil Khafi pelan. "Itu... chat Mama ke Kiara... udah dibales belum?"

​Mamanya yang sedang membilas gelas seketika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh perlahan ke arah Khafi dengan tatapan menyelidik, lalu perlahan sebuah senyum jahil muncul di sudut bibirnya.​ "Khawatir juga kan kamu?" goda Mamanya dengan nada menyebalkan.

​Khafi mendengus, langsung membuang muka dan fokus mengelap piring dengan gerakan cepat yang berlebihan. "Dih, nggak gitu. Cuma... kan Mama bilang feeling Mama nggak enak. Ya udah, Khafi nanya biar Mama nggak nanya-nanya lagi."

​Mamanya tertawa kecil, membiarkan pembelaan diri anaknya itu berlalu. "Iya, udah dibales kok barusan,"

​Khafi seketika menghentikan gerakannya. Ia berusaha sebisa mungkin agar suaranya terdengar datar. "Oh ya? Bilang apa?"

​"Dia minta maaf baru bales. Katanya... dia lagi ngabisin waktu bareng Mamanya yang baru pulang dari Surabaya," jawab Mamanya sambil kembali mencuci piring. "Dia bilang dia seneng banget bisa quality time sama Mamanya."

​Mendengar jawaban itu, Khafi terdiam. Ia mematung sejenak, ingatannya langsung tertuju pada Kiara yang jum'at sore saat dia mengganggunya sempat bilang kalau dia harus di rumah karena Mamanya baru pulang.

​Khafi sedikit merasa lega, tapi di sisi lain, entah kenapa ada bagian dari dirinya yang merasa ada yang janggal.

Hening mulai menyelimuti dapur itu, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Khafi hanya berharap, kalau benar Kiara sedang menghabiskan waktu bersama Mamanya, maka seharusnya gadis itu baik-baik saja sekarang.

​Padahal, ia tidak tahu, di rumah yang sangat jauh dari sana, gadis yang ia pikirkan justru sedang menangis sendirian dalam demam tinggi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    Setelah menyeka pipinya yang lengket, Kiara terdiam sejenak menatap layar ponselnya yang redup. Selain chat dari Khafi, matanya tertuju pada sebuah roomchat WhatsApp lain yang baru sempat ia buka sejak semalam dan baru dibalasnya dengan sandiwara penuh kebohongan. Nama pengirimnya: Tante Siska.

​Ia membukanya dengan tangan gemetar.

...WhatsApp...

​Tante Siska

Sayang, Tante bikin donat banyak banget hari ini. Kalau kamu sempat, mampir ke rumah ya? Tante pengen banget ngobrol sama kamu. Kapan-kapan ajak Mama kamu juga kalau nggak sibuk.

​Kiara membaca pesan itu berulang kali. Kalimat yang sederhana, hangat, dan sangat tulus. Sesuatu yang sangat kontras dengan apa yang ia rasakan di rumah ini. Air mata yang sedari tadi sudah keluar akhirnya tumpah kembali, membasahi bantal yang sudah lembap dan meninggalkan jejak basah.

Ia merasa sesak; hatinya mencelos melihat betapa lembutnya orang lain memperlakukannya, sementara ia justru merasa kehilangan sosok yang seharusnya paling ia cintai di rumahnya sendiri.

​"Kenapa Mama nggak kayak Tante Siska..." isak Kiara pelan di tengah rasa pening akibat demamnya.

Kiara mematikan layar ponselnya. Kegelapan kamar langsung menyergap, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Hanya ada suara deru pendingin ruangan dan helaan napasnya sendiri yang terasa panas membakar tenggorokan.

​Isakannya perlahan mereda, menyisakan dada yang kian sesak dan kepala yang kian berat.

Kain bantal di bawah pipinya terasa lembap oleh benjolan air mata yang tak berhenti menetes sejak tadi.

Bantal itu menjadi saksi bisu betapa kontrasnya kehidupan yang ia jalani: sebuah kebohongan manis yang baru saja ia ketikkan untuk Tante Siska demi menjaga harga diri dan rasa bahagianya yang semu, berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa ia ditinggal sendirian dalam keadaan demam tinggi.

Suhu tubuh Kiara semakin melonjak naik. Rasa menggigil mulai menyerang, membuat jemarinya gemetar hebat di bawah balutan selimut tebal.

​Ia meraba-raba nakas, mencari botol air minum yang selalu tersedia di sana. Namun, saat jemarinya menyenggol botol itu, pegangannya terlepas karena fisiknya yang terlalu lemas.

​Puk.

​Botol plastik itu jatuh ke atas karpet. Kiara berusaha memiringkan badan untuk mengambilnya, tetapi pandangannya mendadak berbayang. Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya bagai dihantam benda tumpul.

​Dengan napas memburu dan mata yang kian berat, Kiara menarik selimutnya sampai ke dagu. Dalam kesendirian yang menyiksa dan kepalanya yang makin tidak sinkron, hanya ada satu harapan kecil yang tersisa di hatinya—harapan agar esok hari, rasa sakit di dadanya tidak lagi sehebat hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!