Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Ketukan yang Sumbang

Suara denting cangkir kopi dan gelak tawa menyeruak di sebuah kafe bernuansa kayu di pusat kota.

Sore itu, Kiara duduk di sudut ruangan, dikelilingi oleh tiga sahabatnya: Widya, Aina, dan Tamara.

Di atas meja, beberapa potong kue dan minuman dingin menemani suasana perbincangan mereka.

Bagi Kiara, hadirnya ketiga sahabat ini bagaikan oase di tengah gurun, yang mampu menyejukkan hati d kala hati dan pikirannya sedang tak menentu...

"Jadi... kamu beneran udah bilang begitu ke Arga di teras Masjid Besar kemarin?" tanya Tamara. Matanya yang tajam memandang Kiara penuh rasa tak percaya, namun bibirnya mengukir senyum bangga. Wanita berbadan berisi yang selalu tampil tegas itu menyesap jus alpukatnya.

"Akhirnya, Ra! Akhirnya otak sehat kamu berfungsi juga setelah berabad-abad terhipnosis sama manusia paling dingin se-Kecamatan." ujar Tamara berapi-api

"Tamara, pelan-pelan omongnya," tegur Aina halus. Gadis berkulit bersih dengan penampilan selalu rapi itu mengelus jemari Kiara.

"Tapi aku setuju sama Tamara. Kamu berhak bahagia, Ra. Kamu udah kasih waktu dan rasa yang terlalu banyak buat seseorang yang bahkan nggak berani melangkah satu tapak buat kamu." ucap Aina

Kiara tersenyum tipis, lalu menunduk memandangi es teh tariknya. "Aku nggak marah sama Arga, kok. Dia orang baik. Cuma... aku sadar aja, aku nggak bisa terus-terusan memeluk bayangan."

Widya, yang sejak tadi menyimak diam-diam, menghela napas panjang. Sebagai sahabat Kiara sejak kecil sekaligus teman sekelas Arga semasa SMK Telekomunikasi dulu, Widya tahu betul bagaimana tabiat kedua orang itu.

"Ra..." suara Widya mengalun lembut dan teratur.

"Kamu tahu sendiri, kan? jaman SMK dulu, Arga itu memang orangnya tertutup banget. Satu sekolah tahu dia jago, tapi dia selalu milih duduk di pojokan. Dia tuh tipe cowok yang makin punya perasaan besar, makin rapat dia sembunyiin. Tapi ya... sikap dia ke kamu selama ini memang keterlaluan sengaja dijaga jaraknya. Jadi kalau kamu milih mundur sekarang, aku dukung 100%. Kamu udah cukup berjuang." papar Widya

Kiara menatap Widya, lalu mengangguk mantap. Ada kehangatan yang menjalar di dadanya. Keputusannya tidak salah. Berdiri di antara orang-orang yang menghargainya membuat Kiara yakin bahwa dunia tidak berhenti hanya karena satu laki-laki.

Di sudut lain di kota, di dalam sebuah studio musik kecil berlapiskan peredam suara yang mulai mengelupas, atmosfernya jauh lebih bising—namun berantakan.

CUP! TAK! DUM! DUM!

Tempo drum yang dimainkan Arga terdengar sangat cepat, liar, dan tidak beraturan. Simbal dipukul begitu keras hingga menggema bising di dalam ruangan berukuran 4x5 meter tersebut.

Bagas, yang berdiri menempelkan mikrofon ke bibirnya, mendadak berhenti bernyanyi. Ia menoleh ke belakang dengan dahi berkerut.

Daffa menahan petikan gitar utamanya, sementara Galang dan Dave saling melempar pandang kebingungan. Bintang menghentikan jemarinya di atas tuts keyboard.

"Bentar, bentar! Stop dulu!" teriak Bagas sambil melambaikan tangan.

Arga tidak langsung berhenti. Ia menggebuk drum satu kali lagi dengan sangat keras sebelum akhirnya menjatuhkan kedua stik drumnya ke lantai parket. Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi dahi dan kemeja hitam yang ia kenakan.

"Ga, kamu kenapa sih?" tanya Bagas sambil menghampiri Arga. Vokalis berwajah ekspresif itu menatap sahabatnya heran.

"Kita lagi mainin lagu pop santai lhoooo...tapi kenapa ketukan kamu kaya mau ngajak perang suku gitu? Tempo kamu lari kemana-mana dari tadi."

"Maaf," sahut Arga pendek. Suaranya serak. Ia meraih handuk kecil di samping rehal drum dan mengusap wajahnya.

"Aku kurang fokus."

"Bukan cuma kurang fokus, Ga. Kamu kayak lagi kesetanan," timpal Dave sambil menyandarkan gitar ritmenya di stand.

"Biasanya kamu paling rapi kalau pegang tempo. Ini drum kamu kedengeran frustrasi banget."

Daffa—gitaris utama yang paling tenang di antara mereka—berjalan mendekat. Ia menatap Arga dengan pandangan selidik.

Daffa tahu betul, sejak masa-masa mereka membentuk band seru-seruan di SMA dulu, Arga selalu menjadikan drum sebagai pelampiasan saat emosinya sedang tersumbat.

"Ada masalah sama Kiara?" tanya Daffa tanpa basa-basi.

Nama itu terlempar ke udara, membuat seluruh ruangan mendadak hening. Galang dan Bintang langsung mendekat.

Arga membeku.

Jemarinya yang memegang handuk mencengkeram kain itu lebih erat.

"Nggak ada apa-apa."

"Halah, nggak ada apa-apa matamu," cerca Bagas gemas.

"Kemarin anak-anak masjid pada cerita, Kiara mendadak pamit dan bilang nggak bakal ngejar kamu lagi. Terus tadi siang, Dave bilang dia liat kamu berdiri kayak patung di depan minimarket gara-gara Kiara nyapa kamu formal banget."

"Kamu didiamkan Kiara....kalian bertengkar?" tanya Galang, menatap Arga dengan campuran kasihan dan ingin tertawa.

"Akhirnya ya... benteng pertahanan anak Sukamaju itu roboh juga. Lagian kamu sih, Ga. Dari dulu gengsi kok dipelihara."

"Bukan gengsi," potong Arga tegas, untuk pertama kalinya menaikkan nada suaranya.

"Terus apa kalau bukan gengsi?" sembur Daffa.

"Kamu suka juga kan sama Kiara? Kita semua nih, yang dari dulu satu band sama kamu, tahu betul mata kamu tuh liatnya ke siapa tiap kali Kiara datang nonton kita latihan! Lagu instrumen yang kamu bikin dua tahun lalu itu buat siapa coba, kalau bukan buat Kiara?"

Arga mengepalkan tangannya. Dada pria itu naik turun menahan gemuruh yang mendadak meledak.

"Aku cuma merasa... aku nggak cukup baik buat dia," bisik Arga akhirnya.

Suaranya runtuh, menyisakan kepedihan mendalam yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Aku tertutup, aku membosankan, aku nggak tahu cara ngerespon perhatian dia dengan benar. Kiara itu ramah dia terlalu baik. Aku takut kalau aku masuk ke hidup dia, aku cuma bakal merusak kebahagiaannya." jelas Arga

Bagas menepuk jidatnya sendiri.

"Ya Allah, Ga... pola pikir kamu itu ribet banget kayak kabel gulung! Kiara itu nggak butuh cowok sempurna, dia cuma butuh kepastian kalau cintanya dipeluk balik, bukan malah d gantungin gini kayak jemuran!" cerca Bagas sambil nahan emosi gemeeeesh...

"Dan sekarang," kata Bintang dari samping keyboard-nya dengan nada datar namun menohok,

"burung yang selama ini menunggu, kini pintu sangkarnya terbuka... udah terbang, Ga. Dia capek nunggu kamu."

Kata-kata Bintang menghantam Arga persis di dadanya.

Arga membisu.

Ia menunduk menatap lantai studio. Pikirannya melayang, membayangkan senyuman ramah Kiara di depan minimarket tadi siang kembali berputar di kepalanya. Senyuman yang biasa hangat kini terasa begitu dingin dan jauh. Benteng yang selama ini Arga bangun untuk menjaga jarak dari Kiara, kini justru menjadi tembok penjara yang mengurungnya dalam penyesalan teramat dalam dan sendirian.

Daffa menepuk bahu Arga pelan. "Kalau kamu beneran cinta sama Kiara, kejarlah... Jangan sampai kamu cuma bisa mukul drum kayak kesetanan tiap kali kangen sama dia."

Arga tidak menjawab. Ia meraih kembali stik drum di lantai, menatap permukaan drum bertulisan nama band mereka dulu.

Di dalam hatinya, sebuah kebenaran yang terlambat akhirnya terungkap: Arga sangat mencintai Kiara.

Namun, di saat Arga baru menyadari betapa besarnya rasa itu... langkah kaki Kiara sudah terlanjur berjalan jauh menuju masa depan yang tak lagi melibatkan dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!