Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 25

Taksi membelah sunyinya jalanan ibu kota yang kian larut. Di kursi belakang, Zivana menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Pandangannya menerawang menembus deretan lampu jalan yang kabur oleh sisa-sisa air mata.

Setibanya di sebuah hotel berbintang tiga di pinggir kota, Zivana melangkah menuju meja resepsionis dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Setelah menyelesaikan proses administrasi yang singkat, ia melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 304.

Begitu pintu kamar terkunci rapat, pertahanan diri yang sejak tadi ia bangun teguh seketika roboh tanpa sisa.

Zivana meluruh di balik pintu, terduduk di lantai berkarpet seraya memeluk kedua lututnya. Suara tangisnya yang selama ini ia tahan di depan semua orang akhirnya pecah melintasi keheningan malam, sebuah raungan pilu yang terdengar begitu menyayat hati.

"Kenapa... kenapa harus seperti ini, Ya Allah..." bisik Zivana parau di sela isak tangisnya yang sesak.

Ia memukuli dadanya pelan, mencoba mengurai rasa kram yang begitu menyiksa akibat pengkhianatan Aidil. Di mata keluarga besar Aidil dan masyarakat, ia hanyalah wanita biasa tanpa latar belakang kaya atau posisi mentereng. Ia hanyalah orang tak berpunya yang kebetulan beruntung dipersunting pria berkecukupan. Namun malam ini, harga dirinya dicabik-cabik tanpa sisa.

"Hanya karena aku bukan siapa-siapa... hanya karena aku tidak punya harta seperti Stela..." rintihnya seraya memejamkan mata erat-erat.

"Begitu mudahnya aku dibuang dan diinjak-injak."

Di tengah tangisnya yang belum reda, ponsel di dalam tasnya berdering nyaring. Zivana merogoh tasnya dengan jemari yang gemetar hebat. Nama Naya, sahabat karibnya sejak masa sekolah terpampang di layar.

Dengan suara bergetar, Zivana menguser tombol hijau. "Naya..."

"Ziva?! Aa apa? Ya Tuhan, kenapa suaramu seperti itu?!" suara Naya di ujung telepon terdengar penuh kepanikan.

"Aku bercerai dengan Mas Aidil, Nay. Mbak Stela sudah kembali, dan...."Zivana mengusap air matanya dengan punggung tangan, mencoba menata napasnya yang putus-putus.

"Aku... aku di hotel dekat stasiun, Nay. Aku tidak apa-apa..."

"Tidak apa-apa bagaimana?!" potong Naya dengan suara melengking marah.

"Pria biadab itu benar-benar sudah gila! Kamu sudah merawat anak-anaknya, menjaga rumah tangganya selama tiga tahun, lalu dia membalasmu seperti ini?! Ziva, dengarkan aku. Kamu harus pulang ke Jogja, ke tempatku!"

Zivana tersenyum tipis di tengah tangisnya, merasa sedikit hangat oleh kepedulian sahabatnya.

"Itu alasan aku menelponmu, Nay... Aku mau pergi dari kota ini. Aku tidak mau tinggal di tempat yang sama dengan Mas Aidil lagi. Karena rasanya hatiku sangat sesak, Nay!"

"Bagus! Pindah ke Jogja besok juga!" seru Naya tegas.

"Di sini kita bisa buka usaha bersama atau kamu bisa mencari kerja di tempat aku sekarang. Jangan pernah merasa kerdil hanya karena kamu tidak punya latar belakang keluarga kaya seperti si iblis Stela itu!"

"Tapi bagaimana dengan perceraianmu..." tanya Naya. Apa mungkin Zivana harus bolak balik.

"Papa Bagas sudah bilang padaku," sela Zivana pelan, nadanya melembut.

"Beliau bilang aku tidak perlu memikirkan proses sidang. Papa Bagas dan tim pengacaranya yang akan mengurus semua gugatan, bukti rekamanmu, sampai ketukan palu hakim. Beliau tidak mau aku makin terluka kalau harus bertemu Aidil lagi di pengadilan."

"Baguslah! Setidaknya mereka juga memang harus membantumu! Apalagi selama tiga tahu kamu sudah menjaga dan merawat kedua cucunya dengan baik!"

Zivana tertegun, air matanya kembali menetes deras, kali ini karena rasa haru atas kebaikan mantan mertuanya.

"Papa dan Mama sungguh luar biasa, Nay... Aku merasa sangat bersalah pada mereka..."

"Bukan kamu yang bersalah, Ziva. Anak mereka yang tidak tahu diri," tegas Naya dari balik telepon.

"Sekarang, fokus pada dirimu sendiri. Kemasi barang-barangmu, ambil tiket kereta api besok pagi. Aku tunggu kamu di stasiun Jogja. Kita mulai hidup baru dari nol, ya?"

Zivana mengangguk pelan, seolah Naya berada tepat di hadapannya. "Terima kasih banyak, Nay... Terima kasih banyak."

"Istirahatlah, Ziva. Kamu wanita kuat. Tuhan tidak tidur."

Setelah panggilan berakhir, Zivana menggenggam ponselnya erat-erat di atas dada. Ia bangkit berdiri dengan kaki yang masih agak lemas, melangkah menuju jendela kamar yang menampilkan pemandangan gemerlap kota malam hari.

Ia sudah membulatkan tekad. Kota ini, kenangan manis bersama Aidil yang berujung kebohongan, serta statusnya sebagai wanita yang diremehkan akan ia tinggalkan di belakang. Besok, saat matahari terbit, Zivana akan melangkah menuju babak baru hidupnya di luar kota, sebagai wanita mandiri yang siap berdiri di atas kakinya sendiri.

Dua minggu berlalu sejak Zivana menjejakkan kaki di Yogyakarta. Kota ini memberi ketenangan yang ia butuhkan, namun tak lantas membuat kenyataan hidup melembut. Di sebuah kamar kos sederhana berukuran tiga kali empat meter, Zivana berdiri di depan cermin kecil, merapikan kemeja polos dan celana kain hitamnya.

Di atas kasur busanya, berderet puluhan lembar formulir lamaran kerja yang ditolak. Uang tabungan dan juga ada uang pemberian dari kedua mertuanya, memanglah masih cukup untuk kehidupannya beberapa bulan ke depan. Namun Zivana tidak mau hanya berdiam diri saja. Hal itu hanay akan membuatnya terus mengingat Aidil, rasa sakit dan juga kedua anaknya. Kehidupan harus terus berjalan.

"Ziva, kamu serius mau melamar jadi Office Girl?" suara Naya memecah keheningan dari arah pintu kos yang terbuka. Sahabatnya itu masuk membawa dua cangkir teh hangat dengan wajah tak tega.

"Latar belakang pendidikanmu itu sarjana, Ziva! Kamu susah payah mendapatkan beasiswa, hingga akhirnya bekerja di salah satu usaha mantan ibu mertuamu dan akhirnya jadi ibu rumah tangga. Sayang sekali,!"

Zivana memutar badan, mengulas senyum tipis seraya mengambil cangkir teh dari tangan Naya.

"Serius, Nay. Baru dua minggu aku di sini dan aku sudah tidak boleh gengsi lagi. Aku hanya ingin bekerja dengan santai dan tak perlu memikirkan banyak hal. Yang terpenting bagiku adalah bisa mendapatkan pekerjaan dan membuat aku sejenak melupakan mereka. Karena sejujurnya rasa sakitnya masih sangat terasa, nay. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, walau rumah tangga kami sangat dingin, tapi Mas Aidil tak pernah melupakan tanggungjawabnya dulu,"

Naya menatap sahabatnya dengan tatapan iba. "Tapi pekerjaan fisik seperti itu capek sekali, Ziva. Mereka belum tentu menghargai kamu."

"Aku tak peduli, Nay," desah Zivana pelan, jemarinya menggenggam cangkir erat-erat.

"Aku memulai lagi dari nol sebagai wanita tak berpunya. Biar semua masa laluku mati bersama perceraian itu. Hari ini, aku bertahan hidup murni sebagai Zivana. Tanpa gengsi, tanpa nama siapa pun di belakangku."

Gedung PT Mahardika Group menjulang tinggi di kawasan jalan utama Yogyakarta. Udara pendingin ruangan yang dingin menyapa Zivana saat ia berdiri di koridor belakang lantai dasar. Di sana, sudah berkumpul beberapa pelamar kerja kasar lainnya yang menanti giliran wawancara bagian operasional.

Zivana duduk tenang di bangku kayu, meremas map kertas tipis berisi ijazah dan surat lamaran kerjanya.

"Kandidat nomor 05, Mbak Zivana!" panggil seorang pria paruh baya berseragam kepala operasional dari pintu kantor HRD.

Zivana menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, lalu melangkah masuk.

Di dalam ruangan sederhana itu, duduk Pak Heru, Kepala Operasional dan Fasilitas Gedung yang menatap berkas Zivana dengan dahi berkerut tebal.

"Silakan duduk, Mbak Zivana," ujar Pak Heru seraya mengamati lembaran ijazah di tangannya.

"Terima kasih, Pak," jawab Zivana tenang.

1
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
Talnis Marsy
waduh ..masak sarjana mau jadi OB???
sunaryati jarum
Semoga jalanmu meniti karir terbuka dan sukses Ziva
sunaryati jarum
Selamat sudah bebas Ziva,semoga mendapatkan jodoh yang baik dan setia.Aidil segera menerima akibat dari perselingkuhannya dengan Stela.
nely_48
dr OG ganti tempat lgsg jd aspri cio 😝😝
nely_48
status baru,, nyi randa zivana nih
Oma Gavin
Alhamdulillah siva kamu bisa diangkat jadi assistent melvin biar mantan makin meradang
Muft Smoker
akhirny ziva bebas dr laki2 Medusa bin plin plan macam aidil ,,
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
Oma Gavin
akhirnya resmi bercerai aku masih nunggu aidil terima karna buah perbuatan lucknut nya selingkuh di kamar nya dgn stela, pasti stela sudah jadi nyonya aidil seutuhnya dan jadi ratu tinggal prentah pembantu maupun aidil
Muft Smoker
Ma, tos lami teu lieur ningali kalakuan aranjeunna... Iraha aranjeunna hirup susah pisan nepi ka aranjeunna terang rarasaan stela nona oray... Kuring masih ngarasa kawas kuring nu unggul, Ma...
Rieya Yanie
aidil kok ceo lemah trs bodoh
Juvie Ja: angkara nafsu dan cinta buta
total 1 replies
nely_48
kk outhor tlg lah jgn sampai aidil menikahi s pewangi ruangan stela ya ,, kasian anak² kena mental
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
nely_48
sungguh parah kau aidil,, anak² jd korban
kasian khaisar n Amora jd broken home
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!