Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 Kehadiran Elara & Bayangan yang Mengusik

Kamis siang di Lantai empat puluh dua Evander Corp. Suasana kantor terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Aktivitas para staff eksekutif meningkat sejak pagi, seolah seluruh lantai itu sedang bersiap menyambut sesuatu yang penting. Terlihat beberapa sekretaris hilir-mudik membawa dokumen, sementara aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi bunga segar yang menghiasi meja-meja di area eksekutif.

Sementa itu, di ruang rapat utama, Helena tampak sibuk bolak-balik merapikan meja rapat utama, menyusun dokumen, gelas kristal, hingga sajian penyambut tak luput dari perhatiannya. Memastikan setiap detail berada dalam kondisi sempurna tanpa cela.

Liora yang sejak tadi sibuk menyusun arsip laporan keuangan bulanan mendongak saat melihat Helena menghampiri mejanya dengan raut wajah yang serius.

"Liora, siapkan ruang rapat eksekutif sekarang," instruksi Helena cepat. "Direktur Pemasaran dari Arabell Group akan tiba lima belas menit lagi untuk penandatanganan memorandum kerja sama proyek konsorsium. Pak Evander akan memimpin rapatnya langsung."

Liora segera bangkit dari duduknya dan merapikan kacamatanya. "Baik, Bu Helena. Semua berkas pendukung sudah saya siapkan."

“Bagus. Pastikan salinan untuk kedua belah pihak tidak tertukar. Dan tolong siapkan tablet untuk notulensi.”

“Baik.”

***

Tepat pukul dua siang, pintu lift khusus terdengar berdenting dari ujung koridor. Suara ketukan stiletto menggema di atas lantai marmer, berirama tegas dan teratur mengikuti langkah seorang wanita memasuki area eksekutif dengan kepercayaan diri dan nyaris tanpa cela.

Wanita itu bertubuh tinggi semampai. Ia mengenakan blazer-dress berwarna merah burgundy yang membalut tubuhnya dengan sangat pas. Rambut hitamnya dibiarkan terurai bergelombang yang tampak ditata dengan sangat hati-hati. Setiap gerakannya memancaran aura keanggunan yang mahal.

Dialah Elara Arabelle.

Putri tunggal pemilik Arabell Group sekaligus Direktur Pemasaran yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Inggris.

Elara bukan sekadar mitra bisnis, melainkan sosok wanita yang secara intensif dijodohkan oleh keluarga besar Ravian dengan tujuan mempererat sekaligus memperkuat posisi politik dan korporasi kedua belah pihak.

Hubungan mereka adalah sebuah aliansi yang dirancang begitu matang untuk menyatukan nama besar, kekuasaan, jaringan, serta kepentingan kedua keluarga.

"Selamat siang, Helena," sapanya dengan senyum menawan.

“Selamat siang, Bu Elara. Selamat datang di Evander Corp.”

Tatapan Elara bergerak menyapu sekeliling lantai eksekutif hingga pandangannya terhenti sejenak pada Liora yang berdiri di samping meja kerja dengan beberapa dokumen di tangannya.

Elara menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanya beberapa detik, tetapi cukup membuat Liora merasa sedang dinilai dari sesuatu yang bahkan tidak diketahuinya.

Elara mengalihkan pandangan begitu saja seolah Liora hanyalah bagian kecil dari dekorasi kantor yang tidak cukup penting untuk diperhatikan.

"Pak Evander sudah menunggu di dalam," ujar Helena sopan sambil membukakan pintu ruang rapat utama.

Elara tersenyum. “Terima kasih.”

Ia kemudian melangkah masuk dengan tenang. Di dalam ruangan, Ravian berdiri dari kursi utamanya. Pria itu mengenalan setelan jas hitam elegan yang membalut sempurna tubuh tegapnya. Sorot matanya terlihat lebih tajam dan sulit dibaca.

“Selamat siang, Elara.”

“Selamat siang, Ravian.”

Panggilan itu terdengar begitu akrab.

Liora yang duduk di sudut ruangan untuk mencatat notulensi hanya menundukkan kepala dan mulai bekerja. Ia berusaha memusatkan perhatian pada layar tablet di hadapannya.

Rapat berlangsung profesional.

Namun, di sela-sela pembahasan bisnis, Liora menangkap sesuatu yang berbeda.

Elara tidak sekadar membahas bisnis. Di selang-seling diskusi, wanita itu secara halus menyelipkan perhatian pribadi dan kedekatan keluarga mereka.

Ketika seluruh poin utama kerja sama telah disepakati dan suasana mulai sedikit mencair, Elara menyandarkan tubuhnya dengan santai pada kursi.

"Ravian, Mami kemarin sempat menanyakan kabarmu," nada suara Elara berubah lebih lembut. Ia tidak lagi menggunakan sapaan formal seperti saat diskusi tadi. "Beliau bilang kita harus makan malam bersama akhir pekan ini untuk membicarakan rencana kerja sama dua keluarga kita."

Tangan Ravian bergerak tenang merapikan jam tangan kulitnya dengan perlahan. Wajahnya tetap datar, tak ada perubahan berarti pada ekspresinya. "Sampaikan salam saya pada Tante Arabelle. Jadwal saya untuk akhir pekan ini sudah penuh dengan agenda korporasi, Elara."

Elara tersenyum tipis, tak tersinggung oleh penolakan halus itu. "Kamu selalu saja sibuk bekerja. Tapi tidak apa-apa. Aku bisa menyesuaikan dengan jadwalmu."

Di sudut ruangan, jemari Liora yang memegang pulpen mendadak berhenti mengetik di atas tabletnya. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa mengusik sesuatu di dalam dirinya. Ia kembali menatap layar tablet, berpura-pura memeriksa catatan. Namun pikirannya justru berkelana ke tempat lain.

Dari tempat duduknya, Liora bisa melihat betapa serasinya Ravian dan Elara yang berdiri berdampingan. Dua orang yang berasal dari lingkungan yang sama dengan latar belakang yang setara, membuat Liora mendadak merasa sangat kecil dan terasing.

Keduanya terlihat bagai kepingan yang memang seharusnya berada dalam satu bingkai.

Setelah rapat berakhir, Liora tetap tinggal merapikan sisa dokumen di meja rapat. Menyusunnya satu per satu, kemudian mengangkat tumpukan dokumen tersebut ke dalam pelukannya. Ketika hendak keluar ruangan, Elara yang masih berada di dalam ruangan sambil memeriksa ponselnya berpapasan dengannya.

"Permisi, Bu Elara," ucap Liora sopan sembari menundukkan kepala sedikit.

Elara mengangkat wajahnya. “Oh.”

Tatapannya kembali jatuh ke Liora.

"Kamu peserta magang baru ya? Siapa namamu?"

"Liora, Bu. Liora Valeska."

"Oh, Liora," Elara mengangguk pelan. "Kerjamu cukup rapi untuk ukuran anak magang. Tapi kerapian saja tidak cukup di lantai ini. Pastikan kamu tahu batasan tugasmu dan tidak mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan hal lain. Jangan sampai kamu bermimpi terlalu tinggi."

Liora membeku. Ia tidak yakin apakah kalimat itu memang ditujukan untuknya atau hanya sekedar nasihat biasa. Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan nada halus, namun memiliki ketajaman yang jelas diniatkan untuk memberi peringatan.

Sebelum Liora sempat mengatakan apapun, sebuah suara berat menginterupsi dari arah pintu ruang kerja CEO.

"Miss Arwen."

Ravian melangkah keluar dari ruang kerjanya. Kedua tangannya tersimpan santai di saku celana, tetapi pandangannya tertuju langsung pada Liora.

"Bawa analisis proyek yang baru saja disepakati ke ruangan saya sekarang. Ada beberapa poin yang harus kamu koreksi."

”Baik, Pak.”

Liora dengan cepat menunduk pada Elara. "Saya permisi dulu, Bu Elara."

Elara menatap punggung Liora dengan tatapan yang berubah tajam. Detik berikutnya tatapannya beralih pada Ravian.

Hanya interaksi singkat.

Hanya beberapa kata.

Namun naluri kewanitaannya menangkap sesuatu yang tidak biasa dari cara Ravian memanggil dan menatap gadis magang berkacamata itu. Elara telah mengenal Ravian cukup lama untuk menyadarinya. Pria itu bahkan tak pernah menggunakan nada seperti itu kepadanya.

Elara menyipitkan mata.

“Menarik,” gumamnya pelan.

***

Di dalam ruang CEO, suasananya terasa jauh lebih sunyi. Liora yang tadi dipanggil oleh Ravian, kini berdiri di depan meja kerja pria itu dengan tetap menjaga jarak.

Liora meletakkan tumpukan berkas yang dibawanya ke atas meja mahoni Ravian. "Ini analisis proyeknya, Pak."

Tidak ada jawaban.

Liora mengangkat wajah sedikit dan menemukan Ravian sedang memperhatikannya. Tatapan pria itu membuat Liora kembali menunduk.

Ucapan Elara tadi masih berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Entah mengapa, kalimat tentang batasan itu terasa jauh lebih menyakitkan setelah ia melihat sendiri kedekatan antara Ravian dan Elara.

"Ada yang mengganggumu, Miss Arwen?" Suara Ravian memecah keheningan.

Liora tersentak. "T-tidak ada, Pak Evander." Ia buru-buru membenarkan kacamatanya. "Saya hanya... fokus menyiapkan berkas."

Ravian tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi sembari memutar-mutar pena mewah dengan ukiran elegan itu di jarinya, kemudian menatap gadis itu dengan saksama.

Ada sesuatu yang berubah.

Liora yang biasanya terlihat tenang kini tampak gelisah. Bahunya sedikit kaku, dan jemarinya sesekali meremas ujung map yang dibawanya.

"Benarkah?"

Liora mengangguk. "Benar, Pak."

Ravian tetap diam. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa membaca perubahan sekecil apa pun dalam sikap seseorang. Dan kali ini, ia tahu Liora sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun ia tidak memaksanya bicara.

Untuk beberapa saat, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar di antara mereka. Ravian mengalihkan pandangan ke jendela besar di belakang meja kerjanya. Dari lantai empat puluh dua, gedung-gedung kota tampak begitu kecil di bawah sana.

Kehadiran Elara seharusnya tidak berarti apa-apa.

Ia sudah mengenal wanita itu sejak lama. Keluarga mereka telah menjalin aliansi bisnis selama bertahun-tahun. Elara hanyalah bagian dari lingkaran yang selama ini memang tidak pernah bisa ia hindari.

Namun untuk pertama kalinya, di hari itu, Ravian menyadari sesuatu yang mengganggunya. Kehadiran Elara bukan hanya membawa kenangan lama. Ia juga membawa bayangan yang perlahan jatuh di antara dirinya dan Liora.

Dan entah mengapa, Ravian tidak menyukai bayangan itu.

Sama sekali tidak.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!