"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Rumah Tanpa Listrik dan Pelayan
Suara derum mesin mobil milik Rian memasuki pekarangan rumah tepat pukul delapan malam. Lampu depan mobil memancarkan cahaya terang, membelah kegelapan yang mengejutkan Rian. Seluruh area depan rumahnya gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu teras yang menyala, membuat bangunan berlantai dua itu tampak sepi bagaikan rumah tua tak berpenghuni.
Rian mematikan mesin mobilnya dengan dahi berkerut tajam. Napasnya masih terasa berat akibat sisa-sisa stres seharian di kantor. Setelah terpaksa menanggung biaya makan siang mewah bersama Eriska dan tim pemasaran menggunakan sisa limit kartu kredit daruratnya, kepala Rian rasanya mau pecah.
Ia keluar dari mobil, membawa tas kerjanya, lalu melangkah menuju pintu depan. Saat tangannya menekan gagang pintu, pintu kayu jati itu terkunci rapat.
Klek! Klek!
"Ibu! Nisa! Buka pintunya!" teriak Rian seraya menggedor pintu cukup keras.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari dalam, disusul suara anak kunci yang diputar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Bu Rini yang tampak pucat pasi di balik kegelapan, hanya diterangi oleh cahaya lilin kecil yang dipegangnya di tangan kanan.
"Rian! Akhirnya kamu pulang juga, Nak!" seru Bu Rini dengan suara gemetaran. "Liat ini, Rumah kita mendadak mati lampu dari jam tiga sore tadi! Panasnya bukan main, Rian!"
Rian melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam terasa sangat pengap dan gelap gulita. Hanya ada dua batang lilin yang menyala redup di meja tamu.
"Mati lampu, Bu? Bukannya rumah sebelah lampunya menyala terang?" tanya Rian heran sambil menunjuk ke arah jendela luar. Rumah tetangga kanan-kiri mereka tampak terang benderang.
"Bukan mati lampu kompleks, Mas Rian!" timpal Sisil yang mendadak muncul dari arah tangga. Rambutnya terurai berantakan, wajahnya penuh keringat, dan bajunya basah kuyup. "Tadi ada petugas PLN datang ke rumah! Katanya listrik rumah kita diputus sementara karena menunggak pembayaran tagihan bulan ini!"
"Apa?! Menunggak?!" Rian melotot kaget. "Gak mungkin! Kan tiap bulan tagihan listrik selalu dipotong otomatis dari rekening—"
Rian mendadak membisu. Mulutnya terkunci rapat.
Lagi-lagi kata-katanya terhenti di tenggorokan. Tagihan listrik, air, internet wifi, hingga iuran kebersihan kompleks ... selama tiga tahun ini seluruhnya didaftarkan menggunakan fitur *autodebit* dari rekening milik Annisa! Rian sama sekali tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya operasional rumah ini!
"Mana si Nisa?!" bentak Rian dengan napas memburu, matanya menyapu kegelapan ruang tamu. "Di mana dia sekarang?!"
"Di kamar atas!" adu Bu Rini dengan nada penuh kebencian. "Ibu gedor-gedor pintunya dari tadi sore, dia gak mau keluar! Bener-bener menantu durhaka dia itu, Rian! Ibu sama Sisil kepanasan dari sore, kelaparan setengah mati karena gak ada makanan di dapur, eh ... dia malah enak-enakan ngurung diri di kamar!"
"Terus Mbak Sri ke mana, Bu? Kok piring-piring kotor dari pagi masih berantakan di meja makan?" tanya Rian makin murka melihat kondisi rumahnya yang kacau-balau. Mbak Sri adalah Asisten Rumah Tangga harian yang biasa datang setiap pagi untuk mencuci, menyapu, dan memasak.
"Mbak Sri tadi pagi datang sebentar, terus pamit pulang jam sepuluh!" seru Sisil sengit. "Katanya Mbak Sri udah diputus kontraknya sama Mbak Nisa! Gajinya udah dibayar lunas sampai hari ini dan dibilang gak usah datang lagi mulai besok!"
Brak!
Rian menghentakkan kaki dengan sangat keras ke lantai kayu. Rasa emosi yang membakar dadanya sudah sampai di puncak. Tanpa membuang waktu, Rian melangkah lebar-lebar menaiki tangga menuju lantai dua. Suara hentakan pantofelnya bergema nyaring di tengah kegelapan rumah.
Ia berhenti di depan pintu kamar utama, lalu menggedor pintu kayu itu dengan tinjunya hingga bersuara keras.
Brak! Brak! Brak!
"Annisa! Buka pintunya! Keluar kamu sekarang!" jerit Rian seperti orang kesurupan. "Jangan pura-pura tuli kamu ya! Buka!"
Tak sampai sepuluh detik, engsel pintu berbunyi pelan. Pintu kamar utama terbuka lebar.
Cahaya terang yang bersumber dari lampu emergency berkualitas tinggi di dalam kamar mendadak menyilaukan mata Rian. Annisa berdiri tegap di ambang pintu. Pakaian yang dikenakannya sangat rapi—gaun katun berwarna gading yang bersih tanpa noda. Wajahnya tampak segar, sama sekali tidak terkena dampak udara pengap yang melanda seluruh rumah.
"Ada apa, Mas Rian? Kenapa berteriak-teriak malam-malam begini?" tanya Annisa. Suaranya sangat halus, sangat tenang, namun terasa sangat dingin dan menusuk.
"Kamu masih tanya ada apa?!" Rian menunjuk muka Annisa dengan telunjuknya yang gemetaran karena emosi. "Kamu sengaja gak bayar tagihan listrik?! Kamu memutus kontrak Mbak Sri tanpa izin dari Mas?! Kamu tahu gak rumah ini jadi seperti kapal pecah gara-gara kelakuan bodoh kamu?!"
Bu Rini dan Sisil ikut menyusul naik ke lantai dua. Bu Rini berdiri di samping Rian dengan berkacak pinggang, mukanya memerah terkena pantulan cahaya lampu dari kamar Annisa.
"Iya! Kamu ini niat jadi istri atau mau membunuh mertua kamu perlahan-lahan, hah?!" semprot Bu Rini kejam. "Ibu ini sudah tua, punya penyakit darah tinggi! Kamu biarkan Ibu kepanasan dan kelaparan seharian di rumah ini! Bener-bener tidak punya hati nurani kamu, Nisa!"
Annisa menatap ketiga orang di hadapannya secara bergantian. Tak ada sedikit pun rasa takut, bersalah, apalagi kepanikan di matanya. Annisa justru menyunggingkan senyuman tipis—senyuman yang sangat elegan namun sarat akan rasa hinaan.
"Kenapa Mas Rian dan Ibu menyalahkan Nisa?" ucap Annisa pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukannya selama ini Mas Rian dan Ibu selalu bilang kalau Nisa ini cuma wanita bodoh yang numpang hidup? Nisa kan gak punya penghasilan, Nisa cuma di rumah, makan dan tidur. Bagaimana Nisa bisa bayar listrik dan gaji Mbak Sri kalau uang belanja Nisa dipotong terus?"
"Kamu kan punya uang simpanan!" bentak Rian tak mau kalah. "Masa bayar tagihan listrik dua juta aja kamu gak mau pakai uang kamu dulu?! Kamu kan istri Mas!"
Annisa terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat merdu namun menyayat ulu hati Rian.
"Uang simpanan Nisa sudah habis, Mas," jawab Annisa santai. "Semua tabungan Nisa sudah terpaksa Nisa pakai untuk membayar cicilan rumah ini bulan lalu, bayar listrik bulan-bulan sebelumnya, dan mencukupi gaya hidup Sisil. Sekarang uang Nisa benar-benar nol."
Annisa melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Rian, menatap suaminya itu tepat di poros matanya.
"Mas Rian kan seorang Manager berprestasi di perusahaan besar. Gajinya puluhan juta, bonusnya ratusan juta. Masa untuk bayar tagihan listrik rumah sendiri dan bayar gaji ART dua juta rupiah saja harus mengandalkan uang dari istri yang katanya tidak berguna ini?"
Rian membeku. Lidahnya serasa kelu. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini perlahan berubah pucat membiru. Kata-kata Annisa telak menghantam rasa gengsinya di depan ibu dan adiknya.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu