Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tarian Kematian di Bawah Hujan

Hujan menderas tanpa ampun, membasahi jalanan aspal yang retak di kawasan industri kumuh di pinggiran kota. Lampu jalan yang berkedip redup hanya memberikan sedikit penerangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di atas genangan air.

Arthur Summers berjalan dengan langkah konstan dan tenang. Mantel panjangnya sudah basah kuyup, menempel pada tubuh tegapnya yang bagaikan pahatan baja. Pikirannya masih berpusat pada pemandangan di ruang dekan beberapa jam yang lalu. Perasaan pria itu sangat hancur; ia tidak menyangka wanita yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun ini benar-benar telah mementingkan dirinya sendiri. Arthur mengorbankan darah dan nyawanya di medan perang, hanya untuk mendapati bahwa ia telah dikhianati. Mungkinkah selama ini dia telah salah menilai wanita itu?

Namun, kesedihannya tidak berlangsung lama. Bagi seorang Jenderal tertinggi dari Phantom Vanguard, kesedihan adalah kelemahan, dan amarah adalah bahan bakar. Wajah Arthur berubah menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam.

Langkahnya terhenti ketika ujung telinganya yang sangat terlatih menangkap suara decitan ban yang melaju kencang menerobos genangan air. Dari arah depan, dua buah mobil van berwarna hitam pekat tanpa plat nomor meluncur dan mengerem mendadak, menghalangi jalannya. Beberapa detik kemudian, dari arah belakang, dua mobil SUV yang identik melakukan manuver yang sama, mengunci Arthur di tengah-tengah jalanan sempit yang sepi itu.

Udara malam yang dingin terasa semakin membeku. Pintu-pintu mobil terbuka secara serentak. Dua belas pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup topeng taktis melangkah keluar. Di tangan mereka tergenggam berbagai senjata jarak dekat: tongkat bisbol berbahan titanium, rantai besi, pisau berburu bergerigi, dan pemukul kuningan.

Dari balik kerumunan pembunuh bayaran itu, melangkah maju seorang pria berambut cepak dengan bekas luka sayatan melintang di lehernya. Ia adalah Slade, algojo utama dari sindikat Viper yang disewa oleh Julian Thorne. Slade menatap Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tertawa meremehkan.

"Jadi ini yang namanya Arthur Summers?" ejek Slade, suaranya serak beradu dengan suara hujan. "Seorang dosen sejarah rendahan? Tuan Thorne benar-benar membuang lima juta dolar hanya untuk serangga sepertimu."

Arthur tidak bergeming. Matanya yang sedingin es menyapu kedua belas pria di sekelilingnya. "Julian Thorne mengirim kalian kemari?" tanyanya dengan nada datar, seolah ia sedang menanyakan arah jalan.

"Tentu saja," seringai Slade sambil memutar pisau berburu di tangannya dengan terampil. "Dan dia punya pesan khusus untukmu, Pak Dosen. Kami harus mematahkan kedua tangan dan kakimu, lalu menyeret tubuh cacatmu ke hadapannya malam ini juga. Jangan khawatir, kami profesional. Kami akan memastikan kau tetap hidup agar kau bisa memohon ampun padanya nanti."

Arthur perlahan mengangkat wajahnya. Kilatan petir menyambar di langit malam, menerangi separuh wajah sang Jenderal yang memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Kekuatan dan tekanan tak kasat mata mendadak menguar dari tubuh Arthur, membuat udara di sekitar mereka terasa hampa. Tekanan yang mengerikan ini persis seperti penindasan yang sangat mengerikan yang bahkan bisa membuat seseorang seolah-olah merasa semua tulang belulang di tubuhnya hampir saja patah.

Beberapa anggota Viper tanpa sadar melangkah mundur setapak. Mereka adalah pembunuh berdarah dingin yang sudah terbiasa dengan kematian, namun entah mengapa, menatap mata pria di hadapan mereka membuat lutut mereka terasa lemas dan tubuh mereka tampak gemetar.

"Bagus," ucap Arthur pelan, suaranya terdengar seperti bisikan malaikat maut. "Aku sedang butuh pelampiasan."

"Habisi dia!" raung Slade, mencoba menepis rasa takut tak beralasan yang tiba-tiba merayapi tengkuknya.

Tiga orang pembunuh bertubuh kekar menerjang maju secara bersamaan. Pria pertama mengayunkan tongkat bisbol titaniumnya langsung ke arah kepala Arthur dengan kekuatan penuh, berniat menghancurkan tengkoraknya.

Namun, Arthur tidak mundur menghindar. Dalam hitungan sepersekian detik, ia melangkah maju, memangkas jarak. Tangan kanannya melesat ke atas, menangkap pergelangan tangan pria itu tepat sebelum tongkat bisbol mengenai kepalanya. Dengan satu putaran keras yang brutal, terdengar suara tulang patah yang sangat keras beradu dengan derai hujan.

KRAK!

Pria pertama menjerit histeris saat tulang pergelangan tangannya menembus kulit. Tanpa membuang waktu, Arthur menggunakan tubuh pria itu sebagai perisai dari serangan pisau pria kedua. Bilah pisau bergerigi itu menancap dalam di dada rekan mereka sendiri. Saat pria kedua membelalakkan mata karena terkejut, tangan kiri Arthur melesat lurus ke depan, menghantam tenggorokan pria itu dengan pukulan pisau tangan yang sangat mematikan. Pria kedua tersedak darahnya sendiri dan ambruk ke aspal.

Pria ketiga, yang membawa rantai besi tebal, mengayunkan senjatanya ke arah kaki Arthur. Dengan kelincahan yang di luar nalar manusia, Arthur melompat ringan, menghindari ayunan rantai itu. Saat ia mendarat, tumit sepatu botnya menghantam keras lutut pria tersebut hingga berbunyi gemeretak yang memuakkan. Kaki pria itu membengkok ke arah yang berlawanan. Saat pria itu melolong kesakitan, Arthur mendaratkan tendangan memutar ke rahangnya, mengirimnya terbang sejauh tiga meter hingga menabrak kap mobil van dengan bunyi dentuman keras.

Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, tiga algojo elit Viper telah dilumpuhkan dengan cara yang sangat brutal.

Sisa anggota kelompok itu terpaku di tempat. Jantung mereka berdebar kencang. Ini bukan seorang dosen sejarah. Ini adalah monster. Mereka merasa bahwa kematian telah mendatangi mereka dan tidak satupun dari mereka yang dapat melarikan diri.

"Apa yang kalian tunggu, idiot?! Serang dia bersama-sama!" teriak Slade panik, wajahnya pucat pasi.

Delapan pria tersisa langsung mengerumuni Arthur dari segala arah. Namun, di mata Arthur, gerakan mereka terasa terlalu lambat. Ia telah bertarung melawan ratusan pasukan khusus bersenjata lengkap di padang gurun Karakum; menghadapi preman jalanan seperti ini hanyalah sebuah pemanasan ringan.

Arthur mulai menari di tengah badai serangan. Gerakannya tidak memiliki keindahan seni bela diri tradisional yang penuh bunga-bunga; setiap gerakannya murni dirancang untuk membunuh, mematahkan, dan melumpuhkan secepat mungkin.

Satu pukulan siku mendarat telak di tulang rusuk seorang pria, mematahkannya hingga menusuk paru-parunya.

Sebuah tendangan lurus melesat, menghancurkan tulang rusuk pria lainnya dan melemparnya ke dalam genangan air berlumpur.

Arthur menangkap sebuah tangan yang mengenakan pemukul kuningan, memelintirnya hingga bahu si penyerang terlepas dari soketnya, lalu menggunakan senjata kuningan di tangan pria itu untuk menghancurkan rahang pria lain di sebelahnya.

Darah segar mulai bercampur dengan genangan air hujan di jalanan. Suara rintihan, jeritan, dan gemeretak tulang patah menjadi simfoni mengerikan yang mengisi malam. Arthur bergerak bagaikan bayangan iblis yang tak tersentuh. Matanya kosong, tanpa secercah pun rasa ampun. Amarahnya atas pengkhianatan Elena dan Julian Thorne sepenuhnya ia proyeksikan melalui setiap hantaman kepalan tangannya.

Dalam hitungan menit, sebelas dari dua belas pembunuh bayaran Viper telah tergeletak di tanah, mengerang kesakitan dengan tulang-tulang yang hancur. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa berdiri. Syarat dari Julian Thorne untuk mematahkan anggota tubuh sang target kini telah berbalik menghantam pasukannya sendiri.

Kini, hanya tersisa Slade.

Pria berbekas luka itu gemetar hebat. Pisau berburu di tangannya bergetar hingga nyaris terjatuh. Ia menatap sosok Arthur yang berdiri perlahan dari kerumunan tubuh yang mengerang di bawah kakinya. Napas Arthur bahkan tidak terengah-engah. Setelan mantelnya memang kotor oleh darah musuh, namun ia tampak sepenuhnya tidak terluka.

"K-kau... kau ini monster apa?!" jerit Slade dengan suara pecah. Ia berbalik, berniat berlari menuju mobil SUV untuk melarikan diri.

Namun, Arthur tidak memberinya kesempatan. Dengan kecepatan yang setara dengan predator puncak, Arthur melesat dan mencengkeram kerah belakang jaket Slade. Ia menarik pria itu dengan tenaga yang luar biasa, lalu membantingnya telentang ke atas aspal basah hingga napas Slade terputus.

Sebelum Slade bisa merangkak mundur, sepatu bot militer Arthur sudah menginjak dada pria itu dengan kuat, menguncinya di tanah.

"Kau punya syarat tambahan dari Tuanmu, bukan?" desis Arthur, menatap lurus ke dalam mata Slade yang memancarkan teror absolut. "Kedua tangan dan kaki?"

"T-tidak! Tolong... ampuni aku!" Slade memohon, air matanya bercampur dengan air hujan. Seluruh arogansinya menguap tanpa sisa.

Dengan ekspresi sedingin es, Arthur mengangkat kaki kanannya dan menginjak lutut kanan Slade dengan tekanan penuh.

KRAK!

"ARGGGGHHHH!" Jeritan melengking Slade merobek kesunyian malam.

"Itu untuk kaki," ucap Arthur dingin. Tanpa jeda, Arthur membungkuk, meraih lengan kanan Slade, dan memelintirnya ke belakang punggung hingga berbunyi patahan yang memuakkan.

Slade nyaris pingsan karena rasa sakit yang luar biasa yang merayapi sistem sarafnya. Mulutnya mengeluarkan busa bercampur darah.

"Dan itu untuk tangan," sambung sang Jenderal. Ia kemudian berjongkok di samping tubuh Slade yang kejang-kejang, meraih rambut cepak pria itu dan menarik wajahnya mendekat. "Dengar baik-baik, serangga. Aku akan membiarkanmu hidup agar kau bisa mengantarkan pesan ini untuk Julian Thorne."

Mata Slade yang mulai kehilangan fokus mencoba menatap Arthur.

"Katakan pada pewaris manja itu," bisik Arthur dengan tekanan suara yang membekukan darah, "Bahwa lima juta dolarnya tidak cukup untuk membeli nyawaku. Katakan padanya untuk membersihkan lehernya, karena besok pagi, aku sendiri yang akan datang menagih nyawanya di kampusnya sendiri."

Arthur melepaskan cengkeramannya, membiarkan kepala Slade terhempas kembali ke aspal. Sang Jenderal berdiri tegak, merapikan mantel panjangnya yang basah oleh hujan, lalu melangkah pergi, membelah kegelapan malam, meninggalkan pembantaian brutal di belakangnya seolah itu bukanlah apa-apa.

Kota ini mungkin tidak mengenalnya sebagai siapa-siapa, namun malam ini, dunia bawah tanah baru saja disadarkan bahwa raja mereka telah kembali.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!