Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Ardi tertawa sinis mendengar kebodohan mantan pacar dan mantan sahabatnya itu.
Dia menopangkan sikunya di tepi jendela mobil dan menatap Bagas dengan tatapan kasihan.
"Sewa katamu?" ejek Ardi sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Hanya orang dengan gaji manajer rendahan sepertimu yang berpikir untuk menyewa mobil."
"Jangan sombong kamu Ardi!" bentak Bagas dengan wajah memerah menahan malu.
"Aku tahu betul isi dompetmu, kamu tidak mungkin bisa membeli mobil ini!"
"Kamu hanya mengenalku saat aku sedang menguji kesetiaan wanita murahan di sebelahmu itu," jawab Ardi tajam langsung menusuk mental Siska.
Siska merasa wajahnya ditampar berkali-kali mendengar hinaan Ardi.
Dia ingin marah, namun pesona Ardi dengan jas mahal dan mobil mewah itu entah kenapa membuatnya menyesal setengah mati.
"Ardi, kamu bohong kan selama ini?" tanya Siska dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu sebenarnya orang kaya yang sedang menyamar kan?"
"Itu bukan urusanmu lagi Siska," jawab Ardi dingin memalingkan wajahnya ke depan.
"Kamu sudah membuat pilihan yang sangat tepat dengan memilih pria berjas murahan di sebelahmu itu."
"Kurang ajar, beraninya kamu menghinaku!" teriak Bagas yang harga dirinya benar-benar hancur lebur di depan pacar barunya.
Bagas menginjak pedal gas sedannya dalam-dalam membuat putaran mesinnya meraung keras.
Dia berniat memancing Ardi untuk adu kecepatan saat lampu hijau menyala nanti.
"Ayo kita buktikan siapa yang menyewa mobil di sini," tantang Bagas dengan wajah memerah karena marah.
"Kita balapan sampai ke ujung jalan raya di depan sana!"
Ardi kembali menoleh ke arah Bagas dan tersenyum miring.
Dia sangat menyukai tantangan konyol dari serangga kecil yang tidak tahu diri ini.
"Balapan dengan sedan rongsokanmu itu?" tanya Ardi meremehkan.
"Itu akan menjadi penghinaan terbesar bagi mesin V8 mobilku."
"Banyak alasan! Bilang saja kamu takut merusak mobil sewaanmu itu kan!" ejek Bagas tertawa keras mencoba mengembalikan rasa percaya dirinya.
"Ardi, sudahlah jangan meladeni Bagas," potong Siska dengan suara lembut yang dibuat-buat.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik berdua nanti."
"Simpan rayuan murahanmu itu Siska, aku sudah muak melihat wajahmu," potong Ardi tanpa belas kasihan.
Lampu lalu lintas di depan mereka berubah dari merah menjadi kuning, lalu seketika berubah hijau.
"Makan asap knalpotku pecundang!" teriak Bagas sambil menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
Cittt!
Ban sedan hitam milik Bagas berdecit keras bergesekan dengan aspal.
Mobil sedan itu melesat maju dengan suara mesin yang dipaksakan hingga batas maksimalnya.
Ardi sama sekali tidak panik melihat lawannya curi start lebih dulu.
Dia dengan tenang mengubah mode berkendara di layar kemudinya dari mode biasa menjadi mode balap.
Dia menahan pedal rem dengan kaki kirinya dan menginjak pedal gas penuh dengan kaki kanannya.
"Selamat tinggal, sampah," ucap Ardi santai.
Dia melepaskan injakan kaki kirinya dari pedal rem.
Wush!
Ferrari hitam itu melesat maju seperti peluru kendali yang ditembakkan dari meriam peluncur.
Daya dorong yang luar biasa membuat punggung Ardi menekan kuat ke sandaran kursi kulitnya.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga detik, kecepatan mobil Ardi sudah menyentuh angka seratus kilometer per jam.
Suara raungan mesin V8 yang buas memecah kebisingan jalanan ibu kota dan menyedot perhatian semua orang.
Dalam sekejap mata, Ferrari Ardi sudah menyalip sedan hitam milik Bagas dengan sangat mudah.
Jarak di antara kedua mobil itu melebar dengan sangat cepat hingga mustahil untuk dikejar lagi.
Di dalam sedan hitamnya, Bagas terus menginjak pedal gasnya dalam-dalam hingga urat di lehernya menonjol.
Namun mobilnya seakan berjalan merangkak dibandingkan dengan kecepatan monster hitam di depannya.
"Sialan! Mobil macam apa itu cepat sekali!" umpat Bagas sambil memukul setir kemudinya dengan penuh rasa frustrasi.
Asap tebal dari knalpot Ferrari Ardi sempat mengenai kaca depan mobil Bagas, seolah menjadi ejekan terakhir dari sang miliarder.
Bagas terbatuk-batuk menahan amarah yang menyumbat tenggorokannya.
Siska yang duduk di kursi penumpang hanya bisa diam membisu dengan wajah sangat pucat.
Matanya terus menatap siluet Ferrari hitam yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di belokan jalan tol.
Rasa penyesalan yang teramat dalam kini mulai menggerogoti hati Siska tanpa ampun.
Dia baru saja mencampakkan seorang pria yang ternyata adalah miliarder super kaya, demi seorang manajer rendahan yang mobilnya baru saja dipermalukan di jalan raya.
"Sayang, apa kamu yakin dia cuma menyewa mobil itu?" tanya Siska pelan dengan suara bergetar ketakutan.
"Diam kamu Siska! Jangan banyak tanya lagi!" bentak Bagas dengan kasar melampiaskan rasa malunya pada sang pacar.
Siska terkejut dan meneteskan air mata di kursi penumpang.
Bagas yang selama ini selalu berbicara lembut padanya kini membentaknya dengan sangat kasar hanya karena kalah gengsi.
Sementara itu, di dalam Ferrari hitamnya, Ardi tertawa lepas membayangkan ekspresi putus asa Bagas dan Siska di belakang sana.
Dia memelankan laju mobilnya saat memasuki kawasan jalanan yang sedikit lengang.
Pembalasan dendam tahap pertamanya hari ini berjalan sangat mulus dan sangat memuaskan hatinya.
Namun dia tahu ini baru permulaan dari kehancuran total yang akan dia berikan pada mantan sahabatnya itu.
Tiba-tiba, antarmuka Sistem kembali muncul di layar ponsel Ardi yang diletakkan di dasbor mobil.
Bunyi notifikasi khas Sistem memecah kesunyian alunan musik klasik di dalam kabin mobil.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Tuan rumah telah berhasil menunjukkan dominasi awal terhadap musuh.]
[Hadiah Pencapaian Tersembunyi Terbuka: Informasi Rahasia Perusahaan PT. Teknologi Nusantara.]
Ardi mengernyitkan dahi membaca deretan tulisan di layar ponselnya.
Dia menepi di pinggir jalan yang sepi dan mengambil ponselnya untuk membaca lebih jelas.
[Sistem mendeteksi bahwa PT. Teknologi Nusantara adalah perusahaan tempat target Bagas bekerja.]
[Apakah tuan rumah ingin mengaktifkan Flash Sale khusus untuk mengakuisisi perusahaan tersebut?]
Senyum sinis kembali terukir di wajah tampan Ardi melihat penawaran tersebut.
Sepertinya Sistem ini benar-benar tahu cara terbaik untuk menghancurkan mental musuhnya sampai ke akar-akarnya.
"Jadi Bagas benar-benar bekerja di PT. Teknologi Nusantara ya?" gumam Ardi sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas setir kemudi.
"Aku tidak sabar melihat wajah sombongnya saat tahu siapa bos besar barunya nanti," batin Ardi dengan mata memancarkan kilatan penuh rencana licik.