Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Agung dari Garis Keturunan Aristokrat
Matahari baru saja naik sepenggalah di langit kota metropolitan, menghangatkan kaca jendela raksasa penthouse lantai empat puluh. Setelah drama semalam yang ditutup dengan lembur dadakan sang CEO dan tawa puas sang penulis novel, Reina Lunox dan Jino West akhirnya menikmati pagi yang tenang dalam pelukan satu sama lain di atas ranjang king-size.
Namun, ketenangan itu ternyata tidak ditakdirkan bertahan lama di dalam kehidupan keluarga konglomerat West.
Ting... tong...
Suara bel pintu utama penthouse berbunyi nyaring, memecah kesunyian pagi yang damai.
Jino, yang baru saja memejamkan mata untuk melanjutkan waktu istirahatnya setelah semalam suntuk membereskan server kantor, langsung membuka manik mata kelamnya. Alisnya mengerut tajam. Siapa orang kurang ajar yang berani bertamu ke penthouse-nya pagi-pagi buta tanpa membuat janji temu terlebih dahulu?
Di sebelah suaminya, Reina ikut terbangun. Ia mengucek matanya perlahan, lalu menatap Jino dengan rasa penasaran. "Siapa pagi-pagi begini? Paket belanjaan online?" tebak Reina polos.
Jino mendengus pelan, merapikan jubah mandinya, lalu bangkit dari tempat tidur. "Mana ada kurir paket datang pakai gaya bangsawan," gumam Jino jengkel. Ia melangkah keluar kamar menuju pintu utama dengan langkah gontai.
Begitu Jino membuka daun pintu lebar-lebar, ekspresi wajahnya yang tadinya mengantuk seketika berubah kaku. Aura dingin dan kaku khas sang Ice Prince mendadak kembali menguasai dirinya, bukan karena musuh bisnis atau hacker, melainkan karena sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita paruh baya berusia awal tujuh puluhan dengan postur tubuh tegap, mengenakan setelan jas Chanel klasik berwarna navy, kacamata berbingkai emas tersangkut di hidungnya, dan ekspresi wajah yang memancarkan dominasi aristokrat murni. Beliau adalah Madame Victoria West—nenek buyut sekaligus matriark tertua dari keluarga besar West yang terkenal kolot, super disiplin, dan sangat memegang tradisi keluarga secara turun-temurun.
Di samping sang Nenek, berdiri seorang gadis muda berwajah blasteran dengan gaun desainer papan atas, senyuman manis tersungging di bibirnya. Namanya Aurelia Vanya, putri tunggal dari konglomerat mitra bisnis senior keluarga West yang sengaja dijodohkan secara sepihak oleh sang nenek sejak tahun lalu.
"Nenek?" panggil Jino kaku, menatap kedua tamu tak diundang itu dengan sorot mata tidak percaya. "Kenapa Nenek bisa ada di sini tanpa memberitahu saya?"
Madame Victoria mengetukkan tongkat jalan bersepuh perak ke lantai marmer dengan suara nyaring, menatap cucu kesayangannya dengan sorot mata tajam. "Apa kabar, Jino? Jadi begini caramu menyambut wanita tua sepertiku di ambang pintu rumahmu? Dan di mana sopan santunmu, membiarkan kami berdiri di sini sementara kau hanya mengenakan pakaian tidur yang berantakan?"
Sebelum Jino sempat membela diri atau menutup pintu rapat-rapat untuk mengusir mereka, Madame Victoria sudah melangkah masuk begitu saja melewati tubuh Jino, diikuti oleh Aurelia yang mengekor di belakangnya dengan anggun.
"Aku dengar dari para kolega lama bahwa cucuku tercinta ini mendadak membuat keputusan gegabah dengan menikahi seorang gadis antah-berantah dari latar belakang biasa," ucap Madame Victoria tajam, menyusuri ruang tengah penthouse dengan pandangan meremehkan. "Sebagai kepala keluarga West, aku tidak akan pernah merestui pernikahan ilegal yang mencoreng silsilah keluarga terhormat kita. Karena itu, aku membawa Aurelia kemari—gadis terdidik dari keluarga bangsawan yang jauh lebih layak mendampingimu."
Jino mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras sempurna, dan amarah yang sempat padam semalam kini kembali berkobar hebat. "Nenek, batasi ucapan Nenek. Aku sudah menikah secara sah, dan istriku adalah—"
"Aku tahu siapa istrimu!" potong Madame Victoria tegas, membalikkan tubuhnya menatap Jino dengan angkuh. "Gadis desa yang tidak tahu adat, yang hanya bisa menulis cerita murahan di internet! Dia tidak selevel dengan keluarga kita, Jino. Pernikahan ini harus dibatalkan, atau aku akan membekukan seluruh hak warismu di dewan direksi!"
Suasana di ruang tengah mendadak membeku. Ancaman klasik ala sinetron kolot itu meluncur begitu mudah dari bibir sang matriark.
Namun, tepat sebelum Jino meledakkan amarahnya dan mengusir neneknya keluar dengan cara yang paling tidak sopan, sebuah suara langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga kecil dari arah lantai atas kamar tidur.
Reina Lunox berjalan mendekat dengan santai. Gadis itu mengenakan piyama katun santai berwarna biru muda, rambutnya digelung longgar, dan di tangannya ia membawa sebuah mangkuk kecil berisi keripik kentang. Sama sekali tidak terlihat ada kepanikan atau rasa terintimidasi di wajahnya; sebaliknya, sorot mata cokelat Reina memancarkan rasa ingin tahu yang besar, seolah ia sedang menonton pertunjukan sirkus gratis di pagi hari.
"Wah, rame banget ya pagi-pagi. Ada acara apa nih? Mau bagi-bagi warisan atau lagi Audisi Miss Universe edisi kolot?" sapa Reina ramah dengan nada santai tanpa dosa, berhenti tepat di samping Jino.
Madame Victoria langsung membelalakkan matanya, menatap Reina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan jijik dan tidak percaya. "Jadi... ini wanita murahan yang berhasil merusak akal sehat cucuku?! Berani sekali kau berbicara seperti itu di hadapanku!"
Aurelia Vanya di sebelah sang nenek ikut menatap Reina dengan senyuman sinis. "Kau dengar itu, Nona Reina? Nenek Victoria tidak pernah menyetujui pernikahan kalian. Sadarlah diri, tempatmu bukan di sini."
Jino langsung menarik pinggang Reina mendekat ke tubuhnya, melindungi istrinya dengan sorot mata membunuh yang mengarah lurus pada sang nenek dan Aurelia. "Keluar dari penthouse-ku sekarang juga, atau aku sendiri yang akan memanggil petugas keamanan untuk menyeret kalian berdua keluar dari gedung ini!" bentak Jino dingin.
Alih-alih takut, Reina justru menepuk pelan lengan Jino, menyuruh suaminya untuk tenang. Ia melangkah maju selangkah, memakan sebutir keripik kentang dengan santun, lalu tersenyum manis ke arah Madame Victoria.
"Nenek buyut yang terhormat," ucap Reina tenang, suaranya terdengar sangat sopan namun menusuk tajam sampai ke tulang. "Pertama, saya bukan wanita murahan. Kedua, kalau Nenek ke sini cuma mau pamer silsilah keluarga sambil bawa 'celengan hidup' buat menggantikan posisi saya, mohon maaf pintu keluar ada di sebelah sana." Reina menunjuk ke arah pintu utama dengan anggun. "Dan ketiga... suami saya ini sudah sah jadi milik saya secara hukum. Kalau Nenek mau ngotot bawa pulang cucu kesayangan Nenek ini, silakan urus dulu surat cerainya ke pengadilan, tapi siap-siap aja perusahaan keluarga Nenek saya prank pakai novel wuxia saya!"
Mendengar balasan telak dan tidak tahu takut itu, Madame Victoria terpekik kaget, tongkatnya nyaris terlepas dari tangan karena darah tingginya mendadak kambuh. Aurelia membelalak lebar, sementara Jino mati-matian menahan tawanya di belakang Reina, merasa sangat bangga pada istri tercintanya yang terlampau berani melawan sang matriark keluarga West.