Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manhattan

Marcus membawa mereka meninggalkan bangunan kecil itu ketika matahari baru naik melewati atap-atap yang runtuh. Ia berjalan paling depan dengan senapan tergantung pada sisi tubuh, sedangkan Robin berada di tengah dan Aiden mengikuti beberapa langkah di belakang sambil membawa kantong makanan.

Udara pagi masih dingin, tetapi hawa sejuk tersebut tidak bertahan lama. Cahaya mulai menyusup di antara bangunan dan memanaskan aspal pecah yang tertutup tanah, rumput, serta akar pohon.

Mereka terus bergerak ke arah timur. Marcus memilih jalan-jalan sempit yang memberinya cukup tempat untuk bersembunyi dan menghindari bagian terbuka selama masih ada jalur lain yang dapat dilewati.

Aiden tidak pernah tahu bagaimana ayahnya menentukan arah. Sebagian besar penanda jalan telah roboh atau kehilangan tulisan, sedangkan jalan yang dahulu lurus sering terputus oleh bangunan ambruk, kendaraan berkarat, dan pohon yang tumbuh di tengah persimpangan.

Marcus terkadang berhenti untuk melihat posisi matahari. Pada waktu lain, ia mengeluarkan selembar kertas lusuh dari saku dalam jaket, membuka lipatannya sebentar, lalu menyimpannya kembali sebelum Aiden sempat melihat gambar yang ada di sana.

Ketika matahari semakin tinggi, keringat menggelapkan rambut cokelat pendek Marcus dan membuat beberapa helainya menempel pada pelipis. Rambut Aiden mempunyai warna yang sama, meskipun saat itu dipenuhi debu dan berdiri tidak teratur karena beberapa hari tidak disisir.

Mereka berjalan sampai telapak kaki Aiden kembali terasa panas di dalam sepatu. Luka pada tumitnya bergesekan dengan kulit yang kaku, membuat setiap langkah terakhir sebelum beristirahat terasa seperti menginjak permukaan kasar menggunakan luka terbuka.

Robin tidak pernah meminta mereka berhenti. Wajahnya masih pucat dan kedua matanya membengkak, tetapi ia terus mengikuti Marcus dengan langkah pendek sambil memegangi bagian depan kemeja besar yang dipakainya.

Sepatu yang didapatkannya dari karavan telah berubah kusam oleh debu. Talinya masih terikat rapi dan solnya tidak lagi menganga, tetapi Aiden tidak merasakan kegembiraan apa pun saat melihat barang yang dahulu begitu ingin mereka dapatkan itu.

Menjelang tengah hari, bangunan di sekeliling mereka mulai bertambah tinggi. Rumah-rumah kecil dan gudang rendah perlahan digantikan oleh deretan bangunan bertingkat dengan jendela-jendela gelap yang menghadap jalan.

Sebagian dindingnya tertutup tanaman merambat. Akar menjulur dari celah beton, menahan bongkahan batu yang sewaktu-waktu tampak dapat jatuh hanya karena angin.

Mereka menemukan orang lain untuk pertama kalinya dekat sebuah jalan yang dipenuhi kendaraan tua. Marcus sedang melangkahi pagar kawat yang rebah ketika tubuhnya mendadak berhenti dan satu tangannya terangkat.

Aiden langsung diam. Robin nyaris menabrak punggung Marcus, tetapi pria itu menangkap lengannya dan membawa kedua anak merunduk di belakang bangkai kendaraan besar yang seluruh rodanya telah hilang.

Suara orang berbicara terdengar dari seberang jalan. Kata-katanya tidak jelas, tertutup bunyi roda kayu yang berdecit dan logam yang sesekali berdenting.

Marcus menurunkan tas dari punggung tanpa mengeluarkan bunyi. Ia menggeser senapan ke depan dada, lalu mengintip melalui lubang tempat salah satu lampu kendaraan pernah terpasang.

Aiden mencoba melihat dari bawah lengannya. Tiga orang dewasa berjalan di antara kendaraan sambil menarik gerobak kecil yang dipenuhi karung dan potongan logam.

Salah satu dari mereka membawa senapan panjang pada punggung. Orang lain memegang tombak dengan mata yang terbuat dari potongan rambu, sedangkan orang terakhir terus menarik gerobak tanpa menoleh ke arah tempat Aiden bersembunyi.

Pakaian mereka kusam dan tidak mempunyai tanda yang dikenali Aiden. Mereka dapat saja menjadi pencari barang yang hanya ingin pulang membawa temuan, tetapi Marcus tidak memanggil ataupun menunjukkan diri.

Tangan ayahnya bergerak ke belakang dan menemukan dada Aiden. Telapak itu menahan tubuhnya tetap rendah sampai ketiga orang tersebut melewati ujung jalan dan suara gerobak mereka tidak terdengar lagi.

Marcus masih menunggu. Ia menghitung perlahan menggunakan gerakan jari, kemudian mengintip sekali lagi sebelum mengizinkan Aiden dan Robin berdiri.

Tidak ada penjelasan setelah itu. Marcus memasang tas pada punggung, memeriksa arah yang baru dilalui orang-orang tadi, lalu membawa mereka menyeberangi jalan dengan langkah cepat.

Aiden memahami alasan ayahnya berhati-hati. Marcus pernah mengatakan bahwa pakaian biasa tidak dapat membedakan scavenger dari raider, dan orang yang tampak sendirian mungkin mempunyai teman yang menunggu di dalam bangunan.

Slaver bahkan tidak selalu mendatangi orang dengan senjata terangkat. Mereka dapat memanggil dengan ramah, menawarkan air, atau berpura-pura mempunyai tempat aman sebelum memasang rantai pada tangan orang yang cukup bodoh untuk mendekat.

Setelah yang terjadi di Haven, Aiden tidak lagi menganggap cerita itu sebagai cara Marcus menakut-nakutinya. Ia memandang setiap jendela gelap dan bertanya-tanya apakah ada mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik kusen.

Pertemuan berikutnya terjadi beberapa jam kemudian. Marcus melihat kilatan cahaya pada jendela lantai dua dan langsung menarik Robin ke dalam pintu sebuah toko yang bagian depannya telah runtuh.

Aiden menyusul sebelum sempat melihat siapa yang berada di luar. Mereka berjongkok di belakang meja kasir yang lapuk, dikelilingi rak-rak kosong dan pecahan botol yang mengeluarkan bau masam dari debu lama.

Langkah kaki melewati trotoar tidak jauh dari mereka. Seseorang batuk berat, kemudian suara laki-laki lain menyuruhnya mempercepat langkah sebelum hari menjadi gelap.

Satu bayangan melintas pada celah dinding. Aiden melihat ujung laras, tas besar, dan sepasang sepatu yang dibungkus kain, tetapi wajah pemiliknya tidak pernah muncul.

Robin menahan napas sampai bahunya bergetar. Tangannya menemukan lengan Aiden dalam gelap dan mencengkeramnya tanpa menoleh, sedangkan Aiden tetap diam meskipun kuku gadis itu menekan kulitnya.

Marcus menunggu lebih lama daripada sebelumnya. Baru setelah suara langkah menghilang dan seekor burung kembali hinggap pada kusen, ia membawa mereka keluar melalui lubang di dinding belakang.

Mereka tidak kembali ke jalan yang sama. Marcus memutar melalui halaman penuh rumput dan membuat jarak yang lebih jauh ke selatan sebelum kembali mengarahkan perjalanan ke timur.

Aiden mulai kehilangan hitungan mengenai berapa banyak persimpangan yang telah mereka lewati. Setiap jalan tampak serupa, dipenuhi kendaraan mati, tiang miring, kaca, dan bangunan dengan bagian dalam yang terbuka seperti tulang rusuk.

Matahari turun perlahan di belakang mereka. Bayangan bangunan memanjang menyeberangi jalan, membawa dingin yang membuat keringat pada punggung Aiden berubah lembap dan lengket.

Marcus baru mencari tempat beristirahat ketika cahaya mulai berwarna merah. Beberapa bangunan kecil dilewatinya begitu saja, dan sebuah bangunan besar dengan pintu lebar bahkan tidak membuat langkahnya melambat.

Aiden sempat melihat bagian dalam bangunan besar tersebut. Ruangannya panjang dan gelap, penuh pilar beton serta tumpukan benda yang tidak dapat dikenali dari jalan.

Tidak ada suara yang keluar dari sana. Kesunyian itu justru membuat Aiden mempercepat langkah sampai dirinya kembali berada dekat Robin.

Marcus akhirnya memilih bekas tempat perbaikan sepatu yang terjepit di antara dua bangunan bertingkat. Tempat itu hanya mempunyai satu ruangan depan, satu ruang penyimpanan, dan pintu belakang sempit yang masih dapat dibuka.

Ia menyuruh kedua anak menunggu di luar sambil merunduk di balik tumpukan bata. Setelah menyalakan lampu saku, Marcus masuk seorang diri dengan senapan terangkat dan memeriksa setiap bagian selama beberapa menit.

Cahaya bergerak di balik jendela yang dilapisi debu. Sorotnya menelusuri lantai, rak, langit-langit, lalu menghilang ke ruangan belakang sebelum Marcus akhirnya muncul dan memanggil mereka menggunakan satu gerakan tangan.

Tempat itu berbau kulit busuk, lem kering, dan kotoran tikus. Namun, Aiden dapat melihat semua sudutnya hanya dengan berdiri di tengah ruangan, dan tidak ada tangga ataupun lubang besar yang memungkinkan sesuatu bersembunyi di luar pandangan.

Marcus menutup pintu depan menggunakan rak. Pintu belakang dibiarkannya bebas dari penghalang, tetapi sebuah kaleng kosong diletakkan di depan ambang agar berbunyi jika ada yang mencoba masuk.

Makan malam mereka terdiri dari jagung kering, daging asap, dan beberapa teguk air. Marcus membagi semuanya di atas kain, memastikan kedua anak menerima bagian lebih dahulu sebelum mengambil sisa untuk dirinya sendiri.

Robin mengunyah tanpa mengangkat wajah. Ia duduk dengan bahu menempel pada bahu Aiden, dan panas tubuhnya dapat dirasakan melalui kedua kemeja yang mereka pakai.

Aiden ingin bertanya apakah kakinya sakit atau apakah ia masih memikirkan Ewan. Pertanyaan tersebut tidak pernah keluar karena tidak ada jawaban yang akan membuat malam itu menjadi lebih mudah.

Setelah makan, Marcus memeriksa luka pada tumit mereka. Ia membersihkannya menggunakan sedikit air, membalut tumit Aiden dengan sobekan kain, lalu memperbaiki ikatan sepatu Robin yang mulai longgar.

Robin memperhatikan tangan besar Marcus bergerak pada talinya. Ketika pria itu selesai, bibirnya sempat terbuka seakan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ia hanya menarik kedua lutut ke dada dan memeluknya.

Malam memenuhi jalan di luar tanpa cahaya bulan. Dari tempat mereka berbaring, Aiden mendengar angin menembus jendela bangunan tinggi, menghasilkan siulan panjang yang berpindah dari satu sisi jalan ke sisi lain.

Ada suara lain di antara siulan tersebut. Sesuatu menggesek logam beberapa kali, berhenti, kemudian terdengar lagi lebih jauh bersama bunyi benda jatuh yang menggema di antara bangunan.

Aiden tidak tahu apakah suara itu berasal dari hewan, Remnant, atau hanya bagian gedung yang digerakkan angin. Marcus duduk dekat pintu depan dengan senapan pada paha dan tidak menunjukkan niat untuk memeriksanya.

Ketika Aiden terbangun beberapa saat kemudian, ayahnya masih berada di tempat yang sama. Kepala Marcus bersandar pada dinding, tetapi kedua matanya terbuka dan wajahnya mengarah ke pintu.

Pagi kedua datang dengan kabut tipis yang bertahan di antara bangunan. Marcus membangunkan mereka sebelum matahari muncul sepenuhnya, membagikan sisa makanan, kemudian memeriksa jalan dari pintu belakang.

Tubuh Aiden terasa lebih buruk daripada hari sebelumnya. Paha dan betisnya kaku, luka di tumit berdenyut, dan kulit di bawah tali kantong menjadi merah akibat gesekan.

Ia berdiri tanpa meminta bantuan. Marcus melihat cara kakinya menahan beban, lalu memindahkan kantong makanan dari bahunya ke dalam tas perjalanan tanpa mengatakan apa pun.

Robin juga kesulitan pada beberapa langkah pertama. Setelah tubuhnya mulai hangat, ia dapat bergerak lebih cepat dan kembali berjalan di antara Marcus serta Aiden.

Belum satu jam berjalan, bunyi logam dipukul membuat Marcus membawa mereka memutar melalui gang. Dari celah antara dua dinding, Aiden melihat empat pria sedang membongkar pipa dari bagian belakang bangunan, tetapi jarak mereka terlalu jauh untuk mengetahui siapa orang-orang tersebut.

Marcus tetap memilih jalan lain. Beberapa saat kemudian, sesosok manusia tampak berdiri pada atap rendah di seberang persimpangan, sehingga mereka menunggu di balik tembok sampai orang itu turun dan menghilang.

Pada hari kedua itu, Aiden tidak lagi perlu diperintah setiap kali tangan Marcus terangkat. Ia segera merunduk, menarik Robin bersamanya, dan menahan napas sampai ayahnya kembali bergerak.

Bangunan bertambah tinggi sepanjang pagi. Atap yang dahulu dapat dilihat Aiden kini menghilang jauh di atas, sedangkan jalan berubah menjadi lorong panjang di antara dinding batu, baja, dan kaca yang menghitam.

Beberapa gedung masih berdiri hampir utuh. Jendelanya berjumlah lebih banyak daripada seluruh warga Haven yang pernah Aiden kenal, tersusun berbaris sampai lehernya sakit ketika mencoba melihat bagian teratas.

Gedung lain kehilangan sebagian puncak. Baja terpuntir mencuat dari beton yang pecah, sementara lantai-lantai paling atas bertumpuk satu sama lain dan meninggalkan rongga bergerigi menghadap langit.

Marcus pernah mengatakan kerusakan semacam itu berasal dari roket yang menghantam kota saat perang besar lima puluh tahun sebelumnya. Aiden tidak dapat membayangkan senjata yang mampu merobek bangunan sebesar itu, dan ia semakin sulit membayangkan orang-orang yang tetap menembakkannya setelah melihat kehancuran pertama.

Di beberapa tempat, puing telah mengubur jalan sampai setinggi rumah. Marcus membawa mereka memanjat lereng beton dengan memilih bagian yang tidak bergerak ketika diinjak.

Aiden menggunakan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan. Debu menempel pada telapak, masuk ke bawah kuku, dan memenuhi mulutnya setiap kali sepatu Marcus melepaskan serpihan dari atas.

Robin tergelincir saat melewati sebatang baja yang licin oleh embun. Aiden menangkap pergelangan tangannya, sedangkan Marcus berbalik dan menahan punggung mereka sampai keduanya berhasil berdiri pada permukaan rata.

Mereka berhenti sebentar di puncak timbunan. Dari sana, Aiden dapat melihat gedung-gedung menjulang ke segala arah, rapat dan kelabu, dengan pepohonan tumbuh di antara jalan seperti hutan yang mencoba mengambil kembali tanahnya.

Tidak ada asap dapur ataupun suara anak-anak. Burung bersarang pada lubang-lubang jendela, dan kawanan kecil berputar mengelilingi salah satu puncak gedung sebelum menghilang di balik dinding kaca.

Marcus membawa mereka turun pada sisi lain. Ia memperlambat langkah ketika jalan kembali rata, tetapi senapannya tetap berada di tangan dan pandangannya tidak pernah lama menetap pada satu tempat.

Menjelang siang, Aiden melihat sebuah papan logam terbaring miring dekat trotoar. Separuh permukaannya tertutup lumut, sedangkan tiang yang dahulu menahannya telah patah dan ditelan akar pohon.

Ia berhenti untuk membersihkan debu menggunakan telapak tangan. Huruf-huruf putih masih terlihat pada latar hijau yang catnya mengelupas, walaupun bagian tengahnya telah digores oleh sesuatu yang tajam.

Aiden mengenali sebagian huruf tersebut. Marcus mengajarinya membaca menggunakan kertas pengumuman dan buku-buku tua di Haven, tetapi kata yang panjang masih harus dipecahnya menjadi bagian kecil sebelum dapat diucapkan.

“Man... ah... an....”

Suara Aiden terdengar ragu di tengah jalan yang kosong. Ia menunjuk setiap kelompok huruf menggunakan jari kotor dan mencoba menyatukannya kembali di dalam kepala.

“Manhattan.”

Marcus berhenti beberapa langkah di depan. Ia menunggu Robin mendekat sebelum kembali melihat papan yang sedang dibaca Aiden.

“Dulu kota ini bernama Manhattan.”

Aiden mengangkat wajah dan memandang bangunan di sekelilingnya. Nama itu pernah didengarnya dari Joseph atau salah satu cerita Ernest, tetapi baru saat itu ia menyadari bahwa Manhattan adalah tempat yang dapat diinjak, bukan sekadar kota dalam kisah orang tua.

“Manhattan,” bisiknya.

Kata itu terasa asing di mulutnya. Aiden mengucapkannya sekali lagi tanpa suara sambil memandang jendela-jendela yang berkilau kusam jauh di atas.

Ia mencoba membayangkan kota tersebut sebelum Red Winter. Jalan yang kini tertutup tanah mungkin pernah dipenuhi kendaraan, sedangkan jendela-jendela gelap itu mungkin memancarkan cahaya setelah matahari tenggelam.

Orang-orang pasti berjalan di trotoar tanpa senapan pada tangan atau ketakutan terhadap setiap suara. Mereka mungkin memasuki gedung tinggi hanya untuk bekerja, lalu kembali ke rumah ketika malam tiba seakan dunia tidak pernah dapat berakhir.

Aiden membayangkan air mengalir di setiap bangunan dan lampu menyala sampai ke lantai tertinggi. Gambaran itu terlalu besar untuk dipertahankan, karena pikirannya selalu kembali mengisi jalan dengan warga Haven dan membuat mereka tampak seperti semut di antara dinding-dinding raksasa.

Marcus menyentuh belakang kepalanya dan mendorongnya pelan agar kembali berjalan. Telapak tangannya menetap sesaat pada rambut cokelat Aiden sebelum dilepaskan.

“Ayo. Permukiman itu sudah dekat.”

Mereka meninggalkan papan tersebut di belakang. Aiden beberapa kali menoleh sampai kata Manhattan tertutup oleh kendaraan dan tidak lagi terlihat.

Jalan yang dipilih Marcus semakin lebar. Pepohonan tumbuh pada jalur tengahnya, tetapi bagian di dekat trotoar menunjukkan bekas roda yang masih baru dan rumput yang sering terinjak.

Jejak tersebut membuat Marcus lebih berhati-hati. Ia membawa senapan merapat ke dada dan meminta kedua anak berjalan lebih dekat tanpa perlu mengucapkan apa pun.

Aiden mulai menemukan tanda bahwa orang tinggal tidak jauh dari sana. Cabang-cabang yang menghalangi jalan telah dipotong, beberapa bangkai kendaraan didorong ke sisi, dan tanda panah putih dicat pada dinding di persimpangan.

Pada sebuah sudut terdapat tumpukan tulang hewan yang sudah dibersihkan. Tidak ada bau busuk di sana, tetapi bekas arang dan batu yang disusun melingkar menunjukkan seseorang pernah menyalakan api belum lama sebelumnya.

Suara logam dipukul terdengar dari kejauhan. Bunyi itu muncul tiga kali dengan jarak teratur, kemudian berhenti dan digantikan oleh teriakan yang tidak dapat dipahami Aiden.

Robin mengangkat kepala untuk pertama kalinya sejak pagi. Matanya mencari sumber suara, dan langkahnya bergerak lebih dekat kepada Aiden sampai lengan mereka sesekali bersentuhan.

Mereka melewati dua persimpangan lagi. Pada persimpangan ketiga, Marcus berbelok dan deretan bangunan di sisi kanan tiba-tiba terbuka.

Aiden mengangkat wajah. Langkahnya berhenti sebelum ia sempat menyadari bahwa Marcus dan Robin masih bergerak.

Sebuah bangunan berdiri di ujung jalan, jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah dilihatnya. Tubuhnya menjulang dari antara gedung-gedung lain dalam lapisan-lapisan batu yang semakin menyempit menuju puncak.

Aiden harus mendongakkan kepala sampai tengkuknya sakit. Meskipun begitu, puncak bangunan tersebut masih terasa terlalu tinggi untuk benar-benar dilihat, menembus cahaya siang dan membuat awan tipis tampak bergerak tepat di belakangnya.

Sebagian jendelanya gelap atau pecah. Namun, lantai-lantai bawah telah ditutup menggunakan kayu dan pelat logam, sedangkan beberapa jendela yang masih utuh memantulkan kilatan cahaya dari dalam.

Dinding tambahan mengelilingi pintu masuk utama. Bangkai kendaraan, pagar baja, dan lembaran logam disusun menjadi penghalang yang cukup tinggi untuk menghentikan orang maupun Remnant mendekat tanpa terlihat.

Beberapa pria berdiri di depan penghalang tersebut. Mereka mengenakan seragam berwarna gelap dan membawa senapan pada dada, sementara dua penjaga lain terlihat pada tempat tinggi yang dibangun di atas kendaraan.

Semua wajah mengarah kepada jalan. Bahkan dari kejauhan, Aiden dapat merasakan bahwa ketiganya telah terlihat dan sedang diperhatikan.

Marcus tidak bersembunyi kali ini. Ia menurunkan ujung senapan ke tanah, mengangkat satu tangan agar para penjaga dapat melihatnya, lalu menunggu sampai Aiden kembali berdiri dekat Robin.

“Ini dia.”

Nada suara Marcus tetap rendah. Ia memandang bangunan tersebut dengan kelelahan yang belum hilang dari wajahnya, tetapi kedua bahunya turun sedikit seperti sebagian beban akhirnya dapat dilepaskan.

“Mereka menyebut permukiman ini Empire State.”

Aiden mengulang nama itu di dalam kepala. Ia menatap dinding, penjaga, dan barisan jendela yang terus naik sampai matanya tidak dapat mengikuti lagi.

Robin berdiri di sampingnya dengan bibir sedikit terbuka. Gadis itu mendongak tanpa berkedip, membuat rambut pirangnya jatuh dari bahu dan menggantung di punggung.

Untuk sesaat, keduanya melupakan kaki yang sakit, perut yang belum kenyang, dan kota mati yang harus mereka lewati untuk sampai ke sana. Di hadapan bangunan setinggi langit tersebut, Aiden dan Robin hanya mampu berdiri terbelalak seperti dua anak berusia sepuluh tahun yang baru pertama kali mengetahui bahwa manusia pernah membangun sesuatu sebesar itu.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!