Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Lagi

Keheningan di ruang tamu rumahku perlahan melunak. Suasana canggung yang sempat membentang akibat benteng dingin yang kubangun sejak pagi perlahan mencair oleh sikap Adrian yang selalu tenang dan penuh perhatian. Meskipun penjelasan tentang alasannya sibuk kemarin menyisakan sedikit kelegaan, bayang-bayang nama Sabrina yang kutemukan di media sosial masih saja menggantung bagai kabut tipis di sudut hatiku.

Adrian menyandarkan punggungnya di sofa, menatapku lurus dengan sepasang mata cokelatnya yang teduh. Senyum tipis yang tak pernah gagal menggetarkan dadaku kembali terukir di bibirnya.

"Sera," panggilnya lembut, memecah keheningan di antara kami.

"Iya, Mas?"

"Gitar kamu di mana?" tanya Adrian seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu yang sepi. "Tugas musikalisasi puisi buat esok hari Rabu, kan? Berarti hari ini harusnya kamu persiapan terakhir."

Aku mengangguk pelan, menyadari bahwa hari Selasa ini adalah kesempatan terakhirku untuk memastikan semuanya sempurna sebelum tampil di depan Bu Rani esok pagi. "Gitar Sera ada di kamar."

"Ambilin gih," pinta Adrian dengan nada membujuk yang teramat halus. "Mas mau liat setelannya."

"Ya udah, Sera ambil gitarnya dulu di kamar ya."

Aku melangkah meninggalkan ruang tamu menuju kamarku di bagian dalam rumah. Menginjakkan kaki di atas lantai kamar yang dingin, mataku tertuju pada tas gitar yang bersandar rapi di samping meja belajar. Saat merogoh resleting dan mengeluarkan gitar akustik kesayanganku itu, jemariku sempat bergetar pelan. Ada perpaduan antara rasa senang karena Adrian perhatian pada tugas sekolahku, namun juga ada rasa sesak yang kembali menyeruak ketika teringat sosok wanita lain yang mungkin sedang menunggu kabar darinya saat ini.

Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup dada yang tak beraturan, lalu membawa gitar itu kembali ke ruang tamu.

"Ini, Mas," ucapku seraya menyodorkan gitar tersebut kepadanya.

Adrian menerima gitar itu dengan kedua tangannya. Ia kembali duduk tegak, memosisikan badan gitar di atas pangkuannya dengan kebiasaan yang sangat murni dari seorang pemusik. Jemarinya yang panjang dan luwes mulai memetik senar satu per satu secara bergantian.

Tring... tring...

Suara nada murni bergema jernih di dalam ruang tamu. Adrian memiringkan kepalanya sedikit, mendengarkan tiap getaran frekuensi senar dengan cermat. Jemari tangannya yang lain bergerak lihai memutar pemutar stem di bagian kepala gitar.

"Kemarin latihan sama anak-anak lancar, kan?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari senar gitar.

Aku mendudukkan diri kembali di sofa bersisian, memandangi jemari Adrian yang begitu lihai bergerak. "Lancar kok, Mas. Dea dan Sera yang baca puisinya, terus Kania, Celine, Dini, sama Irma yang isi bagian vokal. Kemarin kita udah mantapin aransemennya."

"Bagus dong kalau gitu," gumam Adrian seraya tersenyum puas. Ia menaikkan pandangannya, menatapku tepat di manik mata saat jemarinya mulai memetik sebuah intro lagu yang sangat aku kenali.

Lagu milik Peterpan itu meluncur indah dari petikan gitarnya. Cara Adrian memetik senar terasa begitu lembut, seolah setiap nada yang tercipta mengandung emosi mendalam yang sengaja ia kirimkan khusus untukku. Suara gitar yang bergema terasa hangat, memenuhi seluruh penjuru ruangan dan merambat masuk ke dalam pori-pori dadaku.

Tatapan mata Adrian begitu hangat, jujur, dan tidak menyembunyikan kebohongan apa pun saat ia menatapku. Tatapan itu adalah tatapan yang sama persis seperti saat ia berbisik di dapur rumahku beberapa hari lalu, menyatakan rasa sayangnya tanpa menuntut ikatan.

Untuk beberapa detik, aku tenggelam dalam pesona lelaki di hadapanku ini. Bagaimana bisa suara petikan gitarnya terdengar begitu merdu dan menenangkan? Bagaimana bisa senyum tipis di bibirnya sanggup mengikis seluruh benteng pertahanan yang kubangun susah payah sejak pagi?

"Nah, ini senar tiganya tadi agak terlalu kendur dikit, makanya suaranya agak sumbang kalau dipetik di fret kelima," kata Adrian menghentikan petikannya. Ia menyodorkan kembali gitar itu kepadaku. "Coba kamu pegang, rasain bedanya."

Aku beranjak mendekat, mengambil gitar itu dari tangannya. Saat jemariku bersentuhan dengan jemarinya secara tak sengaja, sensasi tersetrum aliran listrik halus kembali menjalar di sepanjang lenganku. Aku buru-buru memosisikan gitar di pangkuanku dan mencoba memetik kord awal lagu.

Suara yang dihasilkan memang jauh lebih jernih dan pas.

"Gimana? Enak kan?" tanya Adrian seraya tersenyum manis.

"Iya, Mas. Jauh lebih jernih," jawabku pelan, mencoba menyembunyikan kecanggungan yang membakar kedua pipiku.

Adrian mendadak mengulurkan tangannya. Jemari hangatnya menyentuh puncak kepalaku, mengacak rambutku pelan dengan gerakan yang teramat protektif dan lembut. Tatapannya terkunci pada mataku, memancarkan rasa percaya yang begitu kuat.

"Besok maju tampilnya jangan tegang ya, Sera," bisiknya pelan dengan suara yang teramat empuk. "Mas tahu kamu pintar main gitar. Pembawaan kamu selalu tenang kalau udah pegang gitar. Fokus aja sama nada dan puisi kalian. Mas yakin nilai kelompok kamu pasti bakal paling bagus."

Perlakuan manis itu membuat dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa hangat yang membuncah, membuatku ingin mempercayai bahwa akulah satu-satunya wanita yang ada di dalam pikirannya saat ini. Namun di saat yang bersamaan, nuraniku berbisik tajam, mengingatkanku pada foto Sabrina, gadis cantik berambut lurus dengan gaya modis yang berdiri di samping Adrian di halaman Facebook itu.

Aku memaksakan diri menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada. "Iya, Mas. Makasih banyak ya udah dibantu stem-in."

"Sama-sama, Sera," jawab Adrian lembut. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari memang sudah mulai beranjak senja, warna jingga keemasan perlahan menembus kaca jendela ruang tamu kami. "Ya udah, Mas pulang dulu ya. Udah mau maghrib. Jangan lupa gitarnya dimasukin lagi ke tasnya, jangan ketiduran."

Aku mengantarnya sampai ke depan teras. Adrian menaiki motor besarnya, memakai helm, lalu melambaikan tangan padaku sebelum melaju membelah keremangan sore. Aku berdiri memandangi punggungnya yang menghilang di ujung jalan, memegang dadaku yang masih berdebar kencang oleh sisa-sisa kehangatan yang ia tinggalkan.

***

Malam harinya di dalam kamar, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Gitar akustik yang sudah distem oleh Adrian bersandar di sudut ruangan. Beberapa kali aku memetiknya kembali di atas kasur, mengulang kord lagu "Semua Tentang Kita" sambil membayangkan detik-detik saat jemari Adrian mengusap kepalaku sore tadi.

Sentuhannya terasa sangat nyata. Kata-kata penyemangatnya terus berputar di kepalaku bagai melodinya yang tak kunjung usai. Rasa sayang itu terasa begitu hidup di dalam dadaku. Tetapi tiap kali aku menyerap kehangatan itu, bayangan status facebook Sabrina "I miss U A" seolah menjadi duri yang terus menusuk kenyataan.

Aku terlelap menjelang tengah malam dengan hati yang menggantung di antara harapan dan ketakutan akan patah hati.

***

Keesokan harinya, hari Rabu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Suasana kelasku sejak jam pertama sudah riuh bukan main. Bangku-bangku digeser ke pinggir ruangan untuk memberikan ruang lapang di depan papan tulis. Beberapa kelompok terlihat sibuk melakukan latihan vokal menit-menit terakhir, sementara yang lain sibuk menghafalkan bait-bait puisi.

Bu Rani, guru Seni Budaya kami yang terkenal tegas namun apresiatif, sudah duduk anggun di meja guru dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Di tangannya, sebuah papan jalan berisikan lembar penilaian sudah siap menorehkan angka.

"Baik, anak-anak. Hari ini kita mulai pengambilan nilai praktek musikalisasi puisi," suara Bu Rani bergema menenangkan keriuhan kelas. "Kita panggil kelompok pertama: Sera, Dea, Kania, Celine, Dini, dan Irma. Silakan mengambil posisi di depan."

Jantungku mendadak berdegup kencang. Celine menepuk bahuku pelan seraya tersenyum meyakinkan. "Yuk, Ser! Bikin Bu Rani terpukau!"

Aku mengangguk, mengalungkan tali gitar ke bahuku, lalu melangkah ke depan kelas bersama teman-temanku. Kami mengambil posisi yang sudah dilatih sejak awal di rumah Kania. Aku berdiri di sisi kiri memegang gitar, Dea berdiri di depan membawa teks puisi, sementara Kania, Celine, Dini, dan Irma berjejer rapi di sisi kanan sebagai tim vokal pendukung.

Aku menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan gemuruh di dada. Mengingat pesan Adrian kemarin sore: "Fokus aja sama nada dan puisi kalian. Pembawaan kamu selalu tenang kalau udah pegang alat musik."

Suasana kelas perlahan meredup. Suasana menjadi hening seketika.

Begitu membukanya kembali, jemariku langsung memetik string gitar. Petikan intro lagu "Semua Tentang Kita" meluncur dengan teramat mulus dan presisi. Nada-nada yang dihasilkan dari senar yang distem oleh Adrian kemarin terdengar teramat jernih dan kaya, memenuhi setiap sudut ruang kelas.

Suara Dea mulai masuk dengan suaranya yang berat dan penuh penghayatan, disusul suaraku membaca bait demi bait puisi tentang perpisahan dan kenangan masa sekolah. Di setiap transisi bait, petikan gitarku menyela lembut, disusul oleh paduan suara Kania dan yang lainnya yang menyanyikan refrain lagu dengan harmonisasi vokal yang begitu indah.

'Waktu terasa semakin berlalu...

Tinggalkan cerita tentang kita..."

Suasana kelas serasa tersedot ke dalam aura penampilan kami. Teman-teman sekelas menatap kami tanpa berkedip, terhanyut oleh perpaduan melodi gitar, puisi yang dalam, dan vokal yang mendayu-dayu. Aku menikmati setiap detik petikan jemariku di atas fret papan gitar. Rasa cemas dan beban pikiran yang menyiksaku selama beberapa hari terakhir mendadak lebur menjadi energi musik yang teramat emosional.

Hingga akhirnya, petikan senar terakhirku bergema pelan dan perlahan menghilang dalam keheningan.

Suasana hening sejenak... sebelum akhirnya Bu Rani bertepuk tangan paling keras, disusul oleh tepukan meriah dari seluruh siswa di dalam kelas.

"Luar biasa! Sangat menyentuh!" puji Bu Rani dengan senyum lebar. "Petikan gitar Sera sangat stabil dan menjiwai, pembacaan puisi Dea dan Sera dapat banget feelnya, dan harmonisasi vokal Kania dan kawan-kawan sangat rapi. Ini penampilan yang hampir sempurna untuk standar SMA!"

"Makasih, Bu!" sahut kami berenam serempak dengan raut wajah berbinar lega.

Kami saling berpelukan kecil di depan kelas sebelum kembali melangkah menuju bangku masing-masing. Rasa bangga dan leluasa membuncah di dalam dadaku. Beban tugas besar yang menyita waktu beberapa hari ini akhirnya tuntas dengan hasil yang amat memuaskan. Petikan gitar yang diajarkan dan disiapkan oleh Adrian berhasil membawaku melewati ujian ini dengan sukses besar.

Aku menduduki kursiku dengan senyum lebar yang tak bisa kututupi. Kebahagiaan kecil melingkupi perasaanku.

Namun, rasa manis itu tak bertahan lama.

Saat Bu Rani sibuk memanggil kelompok berikutnya untuk maju, Kania yang duduk di barisan terdepan mendadak memutar tubuhnya ke belakang menghadap meja tempatku dan Celine duduk. Melewati meja Dea. Wajah Kania dipenuhi cengiran antusias seraya menyodorkan layar ponselnya yang masih menyala.

"Ser, Cel! Liat deh!" bisik Kania dengan mata berbinar-binar. "Kak Sabrina baru aja posting foto baru di Facebook-nya beberapa menit yang lalu sama mas Iyan!"

Celine langsung memajukan badannya ke depan meja. "Mana coba liat?"

Di layar ponsel Kania, tampak sebuah unggahan foto terbaru yang diunggah "baru saja" pada hari ini. Di dalam foto itu, Adrian berdiri mengenakan kemeja kasual disandingkan dengan wanita cantik berambut lurus panjang, Sabrina. Mereka berdua berdiri mesra di depan sebuah kafe, dengan senyum manis Sabrina yang menatap kamera sementara jemarinya menggenggam erat jemari Adrian.

Sebuah "caption" singkat bertuliskan: "Finally back with my favorite person today @Adrian."

"Lucu banget ya mereka," bisik Kania polos tanpa menyadari keterkejutanku. "Kak Sabrina kan baru balik dari Lombok"

Duniaku serasa mendadak runtuh di tempat.

Suara keriuhan kelompok lain yang sedang tampil di depan kelas terasa menghilang dari pendengaranku. Jemari tanganku yang baru saja menerima pujian karena petikan gitarnya kini terasa kaku dan dingin bagai es.

Foto itu diunggah "hari ini", hanya berselang sehari setelah Adrian mendatangi rumahku kemarin sore, mengusap kepalaku, dan menyetelkan gitarku dengan tatapan selembut senja. Kebaikannya, kehangatannya, dan ucapan sayangnya kemarin sore mendadak berubah menjadi tamparan keras yang menyadarkanku pada kenyataan: bagi Adrian, aku hanyalah adik kecil dari temannya, sementara tempat utamanya dari dulu hingga hari ini selalu milik wanita itu.

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!