Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Yang Berubah Hati Yang Kembali

Pagi itu, suasana koridor kelas 7-B terasa sangat bising dengan khasnya anak-anak yang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Sinar matahari menembus jendela kaca dengan cerah, seolah ikut merayakan suasana hati Evan yang jauh lebih ringan dibanding kemarin. Langkah kakinya terdengar mantap saat menyusuri loridor. Di kepalanya, ia terus mengingat pesan singkat dari Buk Linda—wali kelas 7-B—tadi malam yang menyetujui permintaannya untuk mengatur ulang posisi duduk. Begitu tiba di ambang pintu kelas, hal pertama yang Evan cari adalah sosok gadis berpita rambut yang duduk di baris kedua.

Auren sudah di sana. Gadis itu sedang menata buku-buku pelajaran susunan hari itu ke atas meja. Saat menyadari kehadiran Evan, Auren mendongak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis namun sangat tulus. Evan membalas senyuman itu dengan binar mata yang lega. Rasa hangat dari mangkuk ramen dan susu stroberi semalam ternyata masih membekas dengan sangat baik di antara mereka.

Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik saat Buk Linda masuk ke kelas 7-B tepat bersamaan dengan bel berbunyi. Di belakang Buk Linda, berjalan Fathur dengan gaya cueknya dan Anaya yang sibuk merapikan seragam putih-birunya.

Buk Linda meletakkan buku absen di atas meja guru, lalu mengetukkan penggaris beberapa kali ke papan tulis untuk menarik perhatian anak-anak yang masih sibuk mengobrol.

"Selamat pagi, anak-anak kelas 7-B. Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, Ibu ingin mengumumkan sedikit perubahan," ujar Buk Linda dengan suara tegas namun keibuan. "Untuk menyegarkan suasana belajar dan biar kalian tidak bosan, Ibu memutuskan untuk menata ulang beberapa posisi bangku kalian mulai hari ini."

Bisikan-bisikan langsung terdengar riuh di penjuru kelas. Beberapa murid mulai mengeluh karena harus berpisah dari teman dekatnya, sementara Evan hanya diam menatap lurus ke depan, sekuat tenaga menahan senyum kemenangannya.

Buk Linda mulai membacakan daftar nama dari catatannya. "Evan, kamu kembali duduk di bangku lama kamu di baris kedua, berdampingan dengan Auren."

Mendengar itu, Auren menoleh ke arah Evan dengan mata sedikit membulat, tidak menyangka bahwa Evan benar-benar secepat itu meyakinkan wali kelas mereka. Evan segera melangkah maju, membawa tas ranselnya yang terasa ringan dan langsung mengambil tempat di sebelah Auren. Ia memberikan kedipan mata jail yang membuat pipi Auren seketika bersemu merah.

Namun, pengumuman belum selesai. Buk Linda kembali melihat catatannya. "Lalu untuk Fathur, kamu bergeser ke baris ketiga di sebelah kanan. Kamu akan duduk berdampingan dengan Anaya."

Sret.

Langkah kaki Fathur yang hendak menuju bangku lamanya mendadak terhenti di tengah jalan. Anak laki-laki itu menatap Buk Linda dengan dahi berkerut dalam. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah baris kedua, menatap tajam ke arah Evan yang kini sudah duduk nyaman di samping Auren. Fathur bukanlah anak yang bodoh. Ia tahu persis ini bukan sekadar 'penyegaran' biasa dari Buk Linda. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Evan.

"Lho, Buk? Kok mendadak banget sih?" protes Anaya langsung dengan suara melengking khas anak SMP. Gadis itu melipat tangannya di dada dengan wajah cemberut. Ia melirik Fathur dengan tatapan tidak suka. "Saya kan biasanya duduk sama Evan, Buk. Kenapa harus dipindah sama Fathur?"

"Keputusan Ibu sudah bulat, Anaya. Fathur bisa membantu kamu dalam pelajaran Matematika, dan kamu bisa membantu Fathur dalam tugas Bahasa Indonesia. Tidak ada bantahan, silakan langsung berpindah tempat," potong Buk Linda tegas, tidak ingin didebat oleh muridnya.

Anaya menghentakkan kakinya kesal. Dengan ogah-ogahan, ia menyeret tasnya menuju bangku baris ketiga. Saat berpapasan dengan meja Auren, Anaya sempat berbisik pelan dengan nada sebal, "Ren, cowok kamu posesifnya kebangetan deh, sampai lapor Buk Linda segala." Auren hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit tidak enak sekaligus ingin tertawa melihat ekspresi cemberut Anaya.

Sementara itu, Fathur berjalan perlahan menuju bangkunya yang baru. Tepat saat ia melewati meja Evan, Fathur menghentikan langkahnya sejenak. Suasana di sekitar meja baris kedua itu mendadak terasa mencekam dan dingin. Fathur menatap Evan dengan senyum sinis yang terkesan meremehkan.

"Segitunya ya, Van? Sampai harus bawa-bawa wali kelas biar bisa ngejauhkan Auren dari gue?" bisik Fathur, suaranya sangat rendah hingga hanya bisa didengar oleh Evan dan Auren. "Lo se-enggak pede itu ya saingan sama gue di kelas?"

Auren yang mendengar hal itu langsung menegang di kursinya. Ia ketakutan kalau Evan akan terpancing emosi dan membuat keributan di kelas seperti kemarin siang. Di bawah meja, pergelangan tangan Evan langsung dipegang erat oleh Auren, memberi isyarat kuat agar cowok itu tetap tenang dan tidak meladeni Fathur.

Evan merasakan sentuhan hangat tangan Auren yang menahannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Berbeda dengan kemarin di mana ia meledak-ledak karena terbakar api cemburu, kali ini Evan jauh lebih tenang karena Auren sudah kembali di sisinya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Fathur dengan senyuman percaya diri.

"Ini bukan soal pede atau enggak pede, Thur," jawab Evan tenang namun penuh penekanan di setiap katanya. "Ini cuma soal mengembalikan apa yang emang udah jadi milik gue dari awal. Silakan duduk di belakang, jangan ganggu Auren gue lagi."

Fathur mengepalkan tangannya di dalam saku celana birunya. Rahangnya mengeras mendengar jawaban telak dari Evan. Namun, karena Buk Linda sudah menatap tajam ke arah mereka dari depan kelas, Fathur tidak punya pilihan lain. Ia melanjutkan langkahnya dan duduk di samping Anaya dengan perasaan dongkol yang tertahan. Sepanjang sisa jam pelajaran pagi itu, Fathur hanya diam memandangi punggung Auren dari baris ketiga dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di baris kedua, kelegaan luar biasa menyelimuti Evan dan Auren. Saat Buk Linda mulai menulis materi di papan tulis, Evan menggeser selembar kertas kecil ke arah meja Auren secara sembunyi-sembunyi.

Di atas kertas itu tertulis: "Makasih ya udah pegang tangan aku tadi. Sekarang gak akan ada yang bisa ganggu kita lagi di kelas 7-B. Fokus belajar ya, Aurennya Evan."

Auren membaca tulisan tangan yang sangat ia kenali itu—tulisan yang sama seperti yang ada di buku birunya dulu saat mereka baru pertama kali dekat. Sambil menutupi wajahnya yang memerah menggunakan buku paket pelajaran, Auren menulis balasannya di bawah kertas itu, lalu menggesernya kembali ke arah Evan.

"Iya, Evan. Kamu juga fokus belajar ya, jangan cemburuan lagi."

Evan tersenyum lebar membaca balasan itu. Jarak satu jengkal yang kemarin terasa seperti bentangan samudra luas, kini telah menguap sepenuhnya. Mereka kembali dekat, berada di tempat yang seharusnya, saling menjaga dalam kehangatan persahabatan dan perasaan yang baru saja mereka temukan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!