Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Dingin sisa malam yang kelam itu berpadu dengan tetesan sisa hujan yang masih gerimis, seolah hujan ini tak mampu menghilangkan sentuhan dari pria asing tadi.
Jarum jam baru saja melewati angka lima subuh, suara adzan di masjid sekitar kompleks perlahan menghilang.
Di dalam rumah minimalis peninggalan kedua orangtua Asri, Putri-----sepupunya baru saja melipat sajadah setelah menyelesaikan solat subuhnya.
Putri masih mengenakan mukenanya warna hitam, dengan motif abstrak warna hijau lumut.
Wanita ini merapikan anak rambutnya yang keluar dari balik dahi mukenanya, setelah selesai solat subuh ia bersiap merebus air di dapur, untuk mengusir rasa kantuk dan hawa dingin sehabis hujan.
Namun, suara bel pintu menghentikan niatnya.
Ting tong... Ting tong...
Suaranya sangat nyaring memecah keheningan rumah, bunyinya seolah di tekan secara tak sabar.
"Siapa ya? apa itu Asri?" pikirnya dalam hati.
Putri mengerutkan dahi, matanya menatap jam dinding kayu di ruang tengah.
Di tengah badai hujan deras ini, pikirannya langsung mengarah----apa mungkin tetangga sebelah rumah membutuhkan bantuan darurat.
Langkahnya lalu mendekat ke arah jendela ruang tamu yang tertutup gorden tipis, menyingkapnya agar bisa mengintip ke luar dimana lampu taman masih menyala warna kuning hangat.
Lampu itu masih menyala samar berpendar di antara air hujan yang masih turun membasahi jalanan kota.
Lalu pandangan putri langsung tertuju pada gerbang besi minimalis rumahnya, berwarna hitam yang estetik.
Di balik gerbang hitam yang berbatasan dengan jalanan luar itu, berdiri sosok yang dikenalnya---tubuhnya di tutup menggunakan kedua tangan dan menggigil kedinginan.
Putri yang menyadari jika itu sang sepupu langsung berteriak secara refleks.
"Astagfirullah... Asri?!" seru Putri tertahan.
Putri langsung tergesa-gesa menyambar sebuah payung yang ada di dapur---payung plastik transparan, dirinya juga tak sempat melepas mukena yang di kenakannya itu.
Dirinya sudah sangat panik karena melihat sepupunya, segera membuka kunci pintu kayu ganda berlari menerobos pelataran rumah yang basah.
Putri yang mengenakan sandal rumahnya, seketika basah kuyup terkena cipratan air---tangannya segera membuka pintu gerbang besi warna hitam tersebut.
Gerbang terbuka lebar, pemandangan di hadapannya membuat dada Putri terasa sesak bagai di hantam pukulan batu.
Sang sepupu---Asri berdiri mematung dengan menangis, tubuhnya juga basah dan menggigil kedinginan.
Kemeja putih yang di kenakannya sudah basah kuyup, hingga memperlihatkan pakaian dalamnya yang basah akibat guyuran air hujan semalam.
Bagian bawah kemejanya juga tak di masukan ke dalam celana formalnya, penampilannya sangat kacau---semalaman juga Putri menunggu telepon dari Asri.
Namun, semalaman Asri tak meneleponnya.
Kalau pun mau menginap, pasti Asri mengabarinya---meski itu pun hanya lewat pesan.
"Putri...," kata Asri dengan lirih seraya berjalan ke arah Putri yang berdiri di luar gerbang.
Tapi ini agak mencurigakan, dari cara Asri berjalan pun ada sesuatu----setiap berjalan Asri selalu mengeluarkan rintihan kesakitan.
Putri melihat bagaimana kacaunya penampilan Asri, selain kemejanya yang berantakan---basah sampai memperlihatkan siluet pakaian dalamnya.
Celana hitam formalnya juga tampak gelap, dan rambutnya yang legam basah kuyup---bibirnya juga pucat, di tambah tubuhnya menggigil kedinginan.
Bibir Asri yang pucat juga terisak tanpa suara.
"As! Lu kenapa sih?!" tanya Putri dengan nada suara yang bergetar menahan tangis dan kepanikan yang luar biasa.
"Lu bikin gua panik, semalam lu kenapa nggak ngabarin gua?" tanya Putri lagi, sambil memayungi tubuh Asri yang kedinginan.
Tangannya meletakkan tangan kiri di atas pundak kanan Asri, mencoba memberikan kehangatan dan kekuatan kecil.
Putri menatap wajah Asri dengan tatapan penuh selidik sekaligus rasa khawatir yang mendalam, Putri berusaha mencari luka fisik di wajah sepupunya---ada lebam sedikit di bagian kanan pipinya.
Asri tak mampu lagi menjawab sepatah kata pun, atas pertanyaan sang sepupu.
Bibirnya sudah mulai membiru bergetar hebat, untuk berbicara rasanya sudah sangat sulit---pikirannya membayangkan kejadian semalam.
Ingatan akan kamar hotel, kebrutalan pria asing yang tak di kenalinya------Angga dan hilangnya kesucian, yang menjadi kehormatannya-----kini malah menjadi mimpi buruk yang nyata.
Sungguh Asri merasa sudah hina dan begitu kotor, terlihat nampak tak berdaya----Asri tak mampu menceritakan apapun kejadian semalam pada sepupunya.
Putri yang baru menyelesaikan ibadah subuh melihat kondisi Asri nampak syok.
"Yaudah lu masuk dulu, yuk," ajak Putri dengan suara lembut.
Putri merengkuh pundak Asri sambil memayungkannya, berusaha menuntun sang sepupu yang berjalan tertatih untuk masuk ke dalam rumah.
Sebelum melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Putri segera menutup pintu gerbang dan menguncinya.
Di ruang tamu, Putri meletakkan payung transparannya yang basah di sudut ruangan, lalu segera menatap Asri yang masih berdiri mematung di depan pintu.
Asri menatap lantai pandangannya nampak kosong, pikirannya masih tertuju pada kejadian semalam.
Bayangan wajah pria yang mengambil kehormatannya seolah masih terbayang, meski di dalam kamar hotel penerangan temaram---Asri masih melihat jelas wajah pria itu.
Pria yang menidurinya dengan paksa.
"Lu tunggu sebentar disini, gua mau ambil handuk," bisik Putri lembut.
Putri dengan cepat berlari ke kamar, dengan terburu-buru lalu mengambil selembar handuk warna putih.
Tanpa melepaskan mukenanya, karena sudah terlalu panik---pikirannya terus memikirkan akan sang sepupu yang ada di bawah.
Ketika kembali ke ruang tamu, matanya masih melihat Asri yang masih berdiri di posisi yang sama---dengan isak tangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Putri mulai khawatir, sebenarnya apa yang terjadi semalam---sehingga Asri seperti ini.
Padahal saat sore Asri pamit padanya untuk menemui perwakilan UNESCO, namun pulang di pagi hari ini---Asri terlihat sangat hancur.
"Ayo ke kamar dulu, lu bisa cerita ama gua di kamar," kata Putri menuntun Asri.
Asri melangkahkan kakinya pelan-pelan menaiki anak tangga, setiap menaiki anak tangga area sensitifnya sangat sakit.
"Akh...sakit!" teriak Asri dengan lirih.
"Yaudah pelan-pelan ya," sahut Putri dengan lembut.
Tak lama keduanya sampai di kamar.
Di kamar Asri duduk di kursi belajar---tangannya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Saat duduk, Asri tak bisa menyembunyikan tangisnya yang pecah dengan suara memilukan.
"Lu tunggu disini, gua bikinin lu teh hangat ya," kata Putri.
Isakannya terdengar perih, sebuah ratapan yang sangat kejam---merenggut kesuciannya, terbayang akan perlakuan Angga.
*
*
*
*