Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Kecepatan dan Angkasa
Malam semakin larut saat mobil sedan hitam milik Dimas perlahan berhenti di area bekas galian tambang tua yang terbengkalai di luar batas kota. Kegelapan gulita menutupi bukit-bukit batu yang tinggi, menciptakan ceruk alami yang tersembunyi rapat dari jangkauan jalan raya utama. Angin malam berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menyapu permukaan tanah berkerikil.
Dimas mematikan lampu utama mobil, lalu menoleh ke arah Bayu yang sedang mengencangkan ikatan jam tangan pintar berbalut titanium di pergelangan tangan kirinya.
"Tempat ini beneran aman kan, Bay?" tanya Dimas dengan nada berbisik, matanya menyapu sekeliling kegelapan di luar jendela. "Nggak bakal ada warga atau patroli polisi yang lewat sini tengah malam begini?"
"Sama sekali tidak, Dim," sahut Bayu tenang seraya melangkah keluar dari mobil. "Jarvis sudah memindai radius tiga kilometer dari lokasi ini. Tidak ada aktivitas manusia atau sistem pemantau apa pun."
"Sinyal pemindaian termal dan frekuensi radar mengonfirmasi lokasi seratus persen steril, Bayu," suara Jarvis terdengar jernih melalui earphone dan pengeras suara mikro jam tangan. "Kita dapat memulai fase uji coba fungsionalitas zirah nano-cell secara penuh."
Dimas menyusul keluar dari mobil, berdiri dua meter di samping Bayu dengan tangan bersedekap. Dadanya berdebar kencang oleh rasa penasaran yang memuncak. "Oke, Bay! Gue sudah siap lihat keajaiban teknologi lu! Gimana cara menyalakannya?"
Bayu menghembuskan napas panjang, membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap permukaan kristal safir hitam jam tangannya. Ia menekan kenop biometrik dua kali berturut-turut menggunakan ibu jari kanannya.
Klik-klik.
Pendar cahaya biru cerah seketika memancar dari kenop safir. Dalam hitungan detik yang amat singkat, cairan perak pekat tersembur keluar dari celah mikro jam tangan, merayap cepat menyelimuti pergelangan tangan Bayu, lalu menjalar ke seluruh lengan, dada, punggung, kaki, hingga membentuk helm tertutup yang melapisi wajahnya secara presisi. Sel-sel nano tersebut mengembang, mengunci, dan memadat menjadi sebuah zirah logam matte berwarna hitam kelabu bergaris pendar biru yang sangat megah.
Seluruh proses spektakuler tersebut berlangsung tanpa suara mekanis yang bising, hanya memakan waktu satu koma dua detik.
"Gila..." bisik Dimas terperangah dengan mata melotot, melangkah mundur setengah jalan. "Bay! Lu... lu beneran berubah jadi prajurit besi futuristik! Sumpah, ini indah dan keren banget!"
Di dalam bagian helm zirah, tampilan antarmuka digital kebiruan memproyeksikan data medan secara transparan di depan mata Bayu. Suara Jarvis terdengar menggema halus di dalam helm.
"Inisialisasi zirah nano-cell berhasil," panggil Jarvis. "Integrasi bio-saraf berada pada tingkat seratus persen. Seluruh indikator fisik dan pasokan energi berjalan stabil."
Bayu mengepalkan kedua tangannya, merasakan kekokohan zirah yang melekat sempurna di kulitnya tanpa menghambat pergerakan sendi sedikit pun. "Luar biasa, Jarvis. Zirah ini terasa sangat ringan, seolah-olah aku hanya mengenakan pakaian kain biasa."
"Bay, suara lu kedengaran berat dan bergema lewat pengeras suara zirahnya! Keren parah!" seru Dimas antusias. "Sekarang coba kemampuan kecepatannya!"
"Baik," sahut Bayu. Ia menatap jalur lurus di tanah galian sepanjang tiga ratus meter di depannya. "Jarvis, aktifkan pendorong kinetik mikro pada bagian tungkai kaki."
"Pendorong kinetik terkalibrasi," jawab Jarvis. "Siap untuk fase dorongan kecepatan kilat. Tetapkan fokus pada titik tujuan Anda."
Bayu menekuk sedikit lututnya. Dalam satu kedipan mata, sebelum Dimas sempat mencerna pergerakan tersebut, Bayu menghilang dari pandangan. Seberkas garis cahaya biru melintas membentuk kilatan kilat membelah kegelapan malam.
Wusss!
Hembusan angin kencang berhembus menampar wajah Dimas. Ketika Dimas memutar badannya dengan panik ke arah ujung galian tiga ratus meter di sana, Bayu sudah berdiri tegak di sana dengan santai.
"Bohong... Ini bohong kan?!" teriak Dimas dengan suara melengking tak percaya. "Tiga ratus meter cuma dalam hitungan kurang dari setengah detik?! Lu baru saja berpindah tempat kayak kilat, Bay!"
Bayu berjalan santai kembali mendekati Dimas dengan langkah teratur. "Kecepatannya benar-benar tidak masuk akal, Jarvis. Aku bahkan tidak merasakan beban gravitasi atau pusing saat berhenti mendadak."
"Sistem penyerap energi kinetik internal secara otomatis menetralkan gaya g-force pada tubuh Anda, Bayu," terang Jarvis mendetail. "Kecepatan puncak yang baru saja Anda capai adalah empat ratus dua puluh kilometer per jam, dan itu baru sepuluh persen dari kapasitas maksimal pendorong."
Dimas memegang kepalanya dengan kedua tangan, menggeleng-geleng heran. "Empat ratus dua puluh kilometer per jam?! Itu mah lebih cepat dari mobil F1, Bay! Lu bener-bener tidak tersentuh kalau ada ancaman bahaya."
"Sekarang kita uji coba kemampuan terakhirnya," kata Bayu dengan nada bersemangat yang jarang ia perlihatkan. Ia menatap ke atas, ke arah langit malam yang dipenuhi bintang. "Jarvis, persiapkan modul manipulasi medan gravitasi lokal dan pendorong terbang."
"Peringatan: Memulai mode penerbangan mikro," ujar Jarvis presisi. "Daya dorong gravitasi aktif. Mengatur vektor penyeimbang pada bagian telapak kaki dan punggung."
Kedua telapak kaki zirah Bayu mendadak memancarkan pendar gelombang kebiruan yang redup. Perlahan-lahan, tubuh Bayu terangkat melayang dari atas tanah. Satu meter... tiga meter... hingga melayang tenang lima meter di udara tanpa suara raungan mesin sama sekali.
Dimas mendongak menatap Bayu yang melayang bebas di udara, mulutnya menganga lebar. "Bay... Lu terbang! Lu beneran terbang di atas kepala gue!"
"Rasanya sangat luar biasa, Dim," panggil Bayu dari udara. Rasa takjub membuai jiwanya saat ia merasakan tubuhnya melayang tanpa bobot. "Tidak ada getaran sama sekali. Jarvis, bawa aku naik ke atas tebing batu itu."
"Meluncurkan vektor terbang rendah," sahut Jarvis.
Zirah Bayu melesat mulus ke atas melintasi tebing galian setinggi lima puluh meter. Bayu bermanuver memutar di udara dengan sangat lincah, meluncur menembus angin malam sebelum akhirnya mendarat dengan anggun tanpa suara di atas gundukan batu tinggi di tepi galian.
Ia menatap pemandangan pendar lampu kota dari ketinggian, merasakan kebebasan mutlak yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Jarvis, tingkat kendali penerbangan ini benar-benar sempurna," puji Bayu tulus dari balik helm zirahnya. "Respons sistem terhadap impuls otaku sangat instan."
"Terima kasih, Bayu," balas Jarvis ramah. "Seluruh modul propulsi dan manipulasi gravitasi beroperasi pada efisiensi sembilan puluh sembilan koma sembilan persen."
Dari bawah galian, Dimas melambai-lambaikan tangannya heboh. "Bay! Turun, Bay! Gue mau dengar cerita rasanya terbang seperti apa!"
Bayu tersenyum di balik helmnya. Dengan satu dorongan gelombang gravitasi halus, ia meluncur turun dan mendarat mulus tepat satu meter di depan Dimas.
"Bagaimana rasanya di atas sana, Bay?!" pancing Dimas tak sabar menanti.
"Luar biasa, Dim," jawab Bayu seraya menekan kenop biometrik jam tangannya dua kali untuk menonaktifkan zirah.
Ssst!
Dalam sekejap, seluruh lapisan zirah logam hitam tersebut terurai kembali menjadi cairan fluida perak, menyusut cepat, dan tersedot masuk seluruhnya ke dalam kompartemen jam tangan pintar di pergelangan tangan kiri Bayu. Bayu kembali berdiri mengenakan kemeja dan celana biasanya, tanpa ada satu kerusakan atau lipatan kusut pada pakaiannya.
Dimas memegang bahu Bayu, memandangi jam tangan tersebut dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. "Uji coba malam ini sukses besar, Bay! Kecepatan kilat, zirah pelindung kebal, dan kemampuan terbang... Lu sudah resmi memiliki teknologi paling mutakhir di planet ini."
Bayu merapikan letak kacamatanya, menatap jam tangan titaniumnya yang kini kembali menampilkan tampilan analog sederhana. Rasa percaya diri dan ketenangan yang mantap meresap sempurna ke dalam jiwanya.
"Uji coba rahasia kita malam ini berjalan tanpa celah, Dim," kata Bayu dengan senyum hangat dan mantap. "Teknologi ini siap melindungi apa pun yang berharga dalam hidup kita."
Keduanya melangkah kembali ke dalam mobil dengan perasaan puas dan lega. Di tengah kegelapan malam yang sunyi, uji coba pertama zirah nano-cell telah membuktikan keunggulannya yang mutlak, menandai awal dari era baru bagi Bayu Anggara yang siap menghadapi segala tantangan di masa depan.