Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di butik milik Araem
"Kenapa tidak dihapus saja rekaman videonya?" Ananta tiba tiba merasa sebal karena Arsen masih menyimpan video itu di ipadnya.
Kalo begini Arsen akan bisa selalu memandang cewe itu kapan saja, kan.
Arsen yang awalnya senang melihat senyum di wajah Ananta, kini jadi mengeluarkan tawanya ketika melihat senyum Ananta yang sudah berganti dengan kekesalan.
"Ini buat bukti kalo nanti dia fitnah aku macan macam," sanggah Arsen membela.diri agar Ananta ngga salah paham. Emma bisa melakukan apa saja. Tapi dengam bukti rekaman ini, semua fitnahnya akan memtal.
Ya, ya. Ananta mengerti. Karena dengan adanya bukti ini juga hingga kemarahan dan kecemburuan Ananta tadinya terhadap Arsen lenyap tanpa sisa.
Tapi Ananta ngga yakin nanti Arsen ngga akan memandang rekaman itu sesekali kalo dia kangen. Memikirkan hal ini membuat hati Ananta panas lagi.
"Kamu ngga akan menjadikan ini koleksi kamu, kan?" pancingnya.
Arsen tercengang.
"Ya, ampun, Ananta. Kamu ngomong apa, sih? Lihat langsung aja aku udah jijik, apalagi lewat layar begini," bantah Arsen kesal. Kemudian dia mengambil ipadnya mengutak atiknya sebentar.
"Aku sudah menghapusnya," ujarnya sambil menunjukkan folder yang kosong.
Ananta masih belum menjawab. Tapi tatapnya ngga percaya.
"Aku sudah mengirim videonya ke nomor Keto," sambungnya lagi.
Keto yang mendengar kata kata bosnya hanya.tersenyum senyum.
Lumayan, bisa buat hilangin setres, batinnya jahil.
Ananta terdiam karena Arsen langsung mengabulkan keinginannya. Aliran darahnya serta merta mendingin.
"Terimakasih," ucapnya sambil menatap Arsen dengan tatapan penuh makna.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Arsen memancing. Jantungnya berdebar keras menunggu jawaban Ananta.
Ananta menghela nafas panjang. Jantungnya berdebar cepat. Arsen sudah sangat terbuka dengannya. Dia juga harus begitu, pikir Ananta.
"Karena sudah menolaknya," sahut Ananta drngan pipi merona.
Ooo. Arsen tersenyum tipis. Dia.suka mendengar perkataan Arsen. Juga warna merah di pipinya.
"Tadi dia datang ke sekolah. Ke ruanganku."
"Dia?" Kening Arsen mengernyit. Emma maksudnya?
"Cewe yang pernah nolak kamu," sinis Ananta. Aneh, hatinya gampang sekali berubah. Tadi sudah merasa senang dan tenang, tapi sekarang kesal lagi.
Bukannya marah, Arsen malah tergelak. Keto juga tersenyum miring, sekilas, tapi Ananta sempat melihatnya membuatnya tambah kesal.
"Oke, oke. Lanjutkan ceritanya," perintah Arsen di sela sela tawanya. Tapi di dalam hatinya terselip.perasaan kesal.
Beraninya dia menemui Ananta.
"Dia datang ke ruanganku untuk menjemput keponakannya."
"Oooh ...." Arsen mengangguk mengerti.
"Katanya dia pergi ke perusahaan kamu. Nyari kamu."
Arsen tersenyum dan memberikan tatapan teduhnya. Pengawalnya yang diminta mengawasi sekolah Ananta sudah memberitau kalo Emma datang ke kindergarten setelah gagal menggodanya. Karena itu dia membawa file rekaman cctv kedatangan Emma untuk diperlihatkan pada Ananta.
Ternyata keputusannya tidak sia sia.
Arsen yakin Emma pasti akan mengarang cerita pada Ananta. Tadi saja terbukti dengan sikap Ananta yang hanya diam saja sebelum diperlihatkan video cctvnya. Pasti Ananta sudah kemakan racun yang ditebarkan Emma. Arsen berspekulasi dalam hati.
"Dia memprovokasiku, hampir saja aku ...." Ananta ngga menjawab. Wajahnya tampak merah padam menahan malu. Dia telanjur sudah berprasangka buruk pada Arsen.
"Karena itu aku menyimpan rekaman cctv ini dan menunjukkannya padamu. Kalo hanya ngomong tanpa bukti, kamu pasti ngga akan percaya, kan?" todong Arsen langsung
Ananta langsung tertohok mendengarnya. Tadi dia memang sempat tidak mau mempercayai Arsen.
Arsen mengusap puncak kepala Ananta lagi.
"Sekarang sudah tidak marah lagi, kan?" Senyum Arsen mengembang lembut.
Ananta mengangguk malu malu.
Ya, dia sudah ngga marah lagi. Sekarang dia sudah bisa mempercayai Arsen.
Arsen tiba tiba saja mendekatkan bibirnya ke kening Ananta dan mengecupnya lembut. Ananta terpaku.
Arsen, Keto bisa melihatnya.
*
*
*
Mobil Keto sanpai juga di tempat yang mereka tuju. Sebuah butik mewah yang Ananta akui, lebih besar dan megah dari pada butik yang dimiliki Tante Dita.
Saat mereka melangkah ke dalam butik, ternyata Nenek Widari dan Mama Arsen-Annette sudah ada di sana, juga mamanya. Papi Arsen dan papanya juga datang.
"Kalian terlambat lima menit," sambut Nenek Widari agak kurang ramah.
"Jalanan macet, nek." Arsen yang menjawabnya dengan santai.
"Hemm ...., ayo, ganti pakaian," ajak Nenek Widari yang walaupun merasa kesal tapi tetap berusaha menerima alasan Arsen. Dia juga tau kerjaan Arsen banyak sekali.
Ternyata gaun yang harus dicoba Ananta banyak sekali. Begitu juga dengan jas jas Arsen. Sebenarnya Ananta merasa ngga enak dengan Arsen yang sangat sibuk tapi tetap mau menunggunya yang membutuhkan waktu hampir setengah jam lebih tiap mengenakan sebuah gaun.
Dan jantungnya makin kencang detakannya, tiap dia selesai mengenakan gaunnya dan disandingkan dengan Arsen, laki laki ini selalu menatapnya lama dengan binar kaget di matanya.
"Cantiknya menantu, mama," puji Annete terkagum kagum. Padahal Ananta belum didandani. Tapi aura cantiknya saat mengenakan gaun pengantinnya selalu keluar maksimal.
"Calon menantu mama juga tampan banget." Prameswari ikut memuji saat melihat Arsen. Tampan dan memiliki uang yang sangat banyak, batinnya senang.
Widari Bintani mengakui cucu dan menantunya sangat tampan dan cantik. Mereka tampak serasi.
Rambut dan wajahnya belum diapa apakan. Tapi dia sudah terlihat mewah dengan gaunnya, batin Widari memuji kagum
Cucunya juga sangat tampan, padahal rambutnya berantakan begitu, batinnya lagi dengan perasaan kagum sekaligus gemas.
Tatapan Ananta dan Arsen pun saling bertaut.
"Arsen, kalo kamu sibuk, pulang aja setelah semua pakaian sudah kamu kenakan. Ananta akan lama sekali," tukas neneknya.
"Aku sudah ngga terlalu sibuk, nek," tolak Arsen. Dia masih ingin melihat Ananta dengan gaun gaunnya.
Gaun yang tadi agak terbuka bahunya membuat Arsen agak sesak nafasnya.
Arsen penasaran dengan gaun gaun Ananta yang lain. Biarpun lama akan tetap dia nantikan.
Tadi saja saat Arsen mengenakan jas ketiganya, Ananta baru mengenakan gaun pertamanya.
Sekarang setelah jas keenam, baru Ananta keluar dari dalam ruang ganti dan menunjukkannya gaun kedunya pada keluarganya.
Arsen lagi lagi harus merasakan sesak di dalam.dadanya. Gaun kali ini dengan lengannya yang agak terbuka karena hanya dihiasi brokat tipis.
Arsen ingin mengajukan protes. Siapa yang mengusulkan gaun gaun ini, batinnya frustasi.
Lebih baik Ananta mengenakannya saat mereka berdua saja berada di dalam kamar, omelnya lagi membatin.
Arsen mendekati papinya ketika Ananta berganti gaun yang ketiga.
"Ada apa?" tanya Latif Jaffar ketika melihat wajah ngga nyaman Arsen.
"Kenapa gaun gaun Ananta agak terbuka, pi. Siapa yang milih, sih?" Protesnya.
Gala Aghia tersenyum lebar. Dalam hati dia senang karena perhatian Arsen pada putrinya.
"Pilihan mama kamu, juga mama Ananta dan nenek," jawab Latif Jaffar lugas.
Arsen hanya bisa menghembuskan nafasnya. Kalo begini dia sulit untuk protes agar gaun gaun itu diganti semuanya.
Gaun ketiga, keempat, kelima, dan terakhir gaun keenam, akhirnya selesai juga sesi melelahkan ini Baik bagi Arsen maupun Ananta. Mereka ingin semuanya cepat berakhir.
semangat😉