“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: kejadian tak terlupakan
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar dengan wajah lega.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Sekarang tinggal masa pemulihan saja," ucap dokter singkat lalu segera kembali bertugas.
Alya menatap takjub, air mata haru mengalir di pipinya. "Ya Tuhan, terima kasih banyak... Engkau sudah menolongnya," bisiknya penuh syukur. Menatap pintu ruang operasi, ia merasa lega luar biasa—Kevin selamat.
Dion pun ikut tersenyum bahagia. "Tuan sudah selamat, Nyonya."
"Iya... syukurlah," jawab Alya. Semangatnya yang tadi sempat padam kini kembali menyala, seolah diberi kekuatan baru untuk bangkit.
Melihat kondisi Alya yang tampak lelah luar biasa dan penampilannya yang berantakan, Dion berinisiatif. "Mari saya antar Nyonya istirahat sebentar. Ibu terlihat sangat kelelahan dan butuh menenangkan diri."
Alya akhirnya menuju ke apartemen milik Kevin. Di sana, suasana hening dan tenang menyambutnya—berbeda jauh dengan hiruk-pikuk serta ketegangan di rumah sakit. Ia mencoba melepas segala rasa lelah, trauma, dan kekhawatiran yang menumpuk. Di ruang yang penuh kenangan kebersamaan mereka ini, ia memejamkan mata sejenak, beristirahat sambil menantikan saat nanti bisa kembali menemui Kevin yang sudah pulih.
Keesokan paginya, cahaya matahari mulai menyelinap masuk. Kevin perlahan membuka matanya, rasa nyeri masih terasa di tubuhnya namun kesadarannya sudah pulih.
"Aku... di mana ini?" gumamnya lemah. Pandangannya kabar lalu perlahan fokus menyadari dirinya berada di ruang rawat rumah sakit.
Tiba-tiba di sisi tempat tidurnya terlihat sosok yang tak asing baginya. Jessica.
Kevin mengerutkan kening, suaranya serak namun tegas. "Ngapain kamu ada di sini?"
Jessica tersenyum lembut berusaha terlihat perhatian. "Aku yang merawatmu, Kevin."
Kevin langsung menolak pelan namun dingin. "Tidak usah. Sudah ada perawat yang bertugas di sini."
Wajah Jessica berubah sedikit kecewa, ia menatapnya penuh keprihatinan. "Kevin, aku khawatir sekali sama kamu. Kamu terluka parah begini..."
"Aku tidak apa-apa. Pergilah," usir Kevin singkat.
Namun Jessica tak bergeming, ia tetap duduk di sana seolah tak mendengar penolakan. "Aku tetap akan merawatmu, Kevin." Ia terus berusaha mencari perhatian pria itu dengan segala cara.
Pikiran Kevin langsung terbang kepada Alya. Ia menghela napas lega dalam hati, "Syukurlah... Alya tidak apa-apa."
Matanya kemudian beralih ke ponsel yang ada di dekatnya. Sebuah pesan masuk dari Dion terbaca jelas di layar:
"Tuan, Nyonya sedang beristirahat dengan tenang. Dia sudah kembali ke sini."
Jessica tetap berusaha mendekat, suaranya terdengar penuh kepura-puraan khawatir.
"Kevin, bagaimana keadaanmu? Masih sakit ya? Kondisimu gimana? Apa butuh bantuan?"
Namun Kevin tetap menjaga jarak, jawabannya singkat dan tegas tanpa menatapnya terlalu lama.
"Enggak usah, Jes. Aku nggak apa-apa."
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar lembut. Di sana berdiri Alya dengan senyum canggung sambil membawa rantang berisi bubur hangat buatan tangannya sendiri.
"Permisi..." ucapnya pelan. "Maaf sepertinya aku mengganggu waktu kalian," tambahnya dengan ragu.
Pandangan Kevin langsung berbinar begitu melihat sosok yang ia rindukan berdiri di ambang pintu. "Masuklah, Alya," ucapnya lembut dan hangat.
Sementara itu, Jessica yang melihat kehadiran Alya langsung menatap tajam penuh kebencian. Di dalam hatinya ia memaki kasar: "Dasar wanita jalang... kenapa dia harus ada di sini lagi? Semua gara-gara dia, Kevin bisa terluka parah
Alya berdiri mematung sejenak, pandangannya jatuh menatap Kevin, lalu beralih melihat Jessica yang terlihat begitu akrab dan penuh perhatian di samping tempat tidur itu. Rasa cemburu dan rendah diri menyusup pelan di dadanya, namun ia berusaha keras menahan emosi, tetap memasang wajah tenang.
Batinnya kembali berbisik pilu: "Mungkin... Kevin memang lebih pantas bersamanya. Gadis yang sempurna, setara dengan dia. Bukan bersamaku yang penuh masalah dan selalu membawa kesulitan."
Begitu memandang sosok Alya, wajah Kevin langsung bersinar bahagia. Segala rasa sakit yang menjalar di tubuhnya seolah lenyap seketika, tergantikan oleh kehangatan di dada. Kehadiran Alya adalah obat paling mujarab baginya.
Melihat tatapan penuh kasih sayang itu, Jessica merasa teriris cemburu dan kesal yang tak tertahankan. Ia sadar kehadirannya tak lagi berarti. Tanpa bersuara, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dengan gontai, meninggalkan ruang rawat itu dalam diam.
Di balik pintu yang tertutup, Jessica masih berdiri terpaku menatap Alya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Giginya gemeretak menahan amarah yang meluap-luap.
"Seharusnya dia yang terluka parah... Bukan Kevin!" umpatnya dalam hati dengan penuh kepahitan. "Sungguh sial dan menyebalkan... Betapa sulitnya sekali menyingkirkan wanita itu dari hidup Kevin."
Baginya, Alya adalah penghalang besar yang tak bisa hancur, dan rasa kesal itu justru makin memicu tekad jahatnya.
Tiba-tiba ponsel di tangan Jessica berdering. Suara dari seberang terdengar menuntut.
"Bos, gimana nih... kok uangnya belum masuk?"
Wajah Jessica memerah menahan amarah, jawabannya tajam penuh caci maki.
"Kalian kerjaannya nggak bener! Mau dapat uang? Jangan mimpi dulu!"
"Maaf, Bos... Kemarin kondisinya tidak berjalan mulus. Kami tidak kuat melawan dia karena ada orang yang membantunya," pembelaan lemah terdengar dari sana.
"Dasar kalian kerja nggak becus!" bentak Jessica, lalu langsung mematikan sambungan telepon dengan kasar.
Jessica masuk ke dalam mobil, emosinya meluap-luap tak terbendung. Ia menggerutu penuh kekesalan sambil menyalakan mesin kendaraan dan melaju meninggalkan area parkir rumah sakit.
"Susah banget sih menyingkirkan wanita jalang itu!" umpatnya kasar, tangannya memukul setir dengan kuat. "Berapa nyawa sih dia?! Sialan... semua orang gak berguna!"
Rasa kecewa dan marah bercampur aduk, membuatnya makin geram melihat betapa sulitnya meruntuhkan Alya dari sisi Kevin.
Alya menatap lekat wajah Kevin yang masih pucat. Matanya berkaca-kaca penuh penyesalan.
"Kamu sakit sekali ya... Maafkan aku ya, aku sudah bikin kamu susah sampai begini," ucapnya lirih bergetar.
Kevin tersenyum lembut, berusaha menenangkan. "Enggak kok sayang, aku nggak apa-apa. Lihat aku kan? Sudah baik-baik saja. Ini cuma luka kecil saja, Alya."
"Luka kecil apa... Aku semalam ketakutan sekali, takut kehilangan kamu," isak Alya. "Aku takut kamu pergi meninggalkanku."
Kevin mengusap punggung tangannya lembut. "Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, Alya. Aku janji."
Alya pun memeluk tubuhnya dengan penuh rasa lega.
"Aduh... pelan-pelan ya sayang, masih terasa sakit sedikit," keluh Kevin pelan.
"Maaf... aku cuma takut..." Alya melepaskan pelukannya sedikit.
Kevin tersenyum manis, lalu mengusap lembut hidung gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Yang penting sekarang kamu ada di sini dan baik-baik saja."
Alya tersenyum malu sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur yang baru ia buat dengan penuh kasih sayang.
"Kamu memasakkan bubur?" tanya Kevin terkejut namun terharu.
"Iya, coba rasakan ya," jawab Alya lembut penuh harap.
Kevin menyicip perlahan, lalu matanya berbinar senang. "Iya, aku coba... Wah, rasanya enak sekali."
Alya tersenyum lebar, lega hatinya. Ternyata masakannya kali ini berhasil dan rasanya benar-benar enak, pas sekali untuk menemani masa pemulihan Kevin.