**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Cemburu Tapi Jaga-Jaga
Hampir dua jam berlalu sebelum Haselyn dan Kevin akhirnya keluar dari kamar mandi dalam kondisi yang jauh lebih segar dari sebelumnya.
Waktu seolah berjalan begitu lambat bagi keduanya. Tiga tahun perpisahan telah menyisakan kerinduan yang terlalu lama dipendam, dan malam itu menjadi kesempatan pertama bagi mereka untuk kembali saling menguatkan dalam keheningan yang hanya dimengerti oleh dua hati yang pernah dipisahkan keadaan.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Haselyn tampak sedikit tersipu, sementara Kevin menatapnya dengan senyum yang tidak mampu ia sembunyikan. Ada ketenangan yang selama ini hilang, kini perlahan kembali mengisi ruang di antara mereka.
Bagi Kevin, kehadiran Haselyn di rumah itu bukan sekadar kepulangan. Melainkan pulangnya seluruh alasan mengapa ia memilih bertahan selama tiga tahun penuh. Dan bagi Haselyn, malam itu menjadi awal dari kesempatan kedua yang akhirnya berani ia perjuangkan.
Kini Haselyn dan Kevin berbaring berdampingan di atas ranjang, diselimuti keheningan yang terasa hangat setelah sekian lama terpisah.
Haselyn sempat berniat mengenakan pakaian tidur, tetapi Kevin menahan tangannya.
“Nanti saja,” ucap Kevin pelan sambil tersenyum. “Kakak cuma ingin menikmati momen ini sebentar.”
Haselyn menggeleng kecil melihat tingkah suaminya, tetapi pada akhirnya ia memilih tetap berada di sisinya. Beberapa saat mereka hanya saling diam. Kevin menatap langit-langit kamar, sementara jemarinya menggenggam lembut tangan Haselyn.
“Bukannya Kakakmu sedang ada masalah?” tanya Kevin pelan. “Kamu benar-benar nggak apa-apa tinggal di sini?”
Haselyn menoleh, lalu menatap Kevin dengan sorot mata yang sedikit sebal. “Kakak nggak suka kalau aku tinggal di sini?”
Kevin langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu, Sayang.”
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Haselyn dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kakak cuma… masih takut semua ini cuma mimpi.” Suaranya terdengar begitu jujur.
“Kakak tahu seberapa besar rasa sayangmu kepada keluargamu. Dulu kamu saja sampai rela menjauh dariku karena permintaan Ayahmu. Kamu bahkan memutus komunikasi dengan Kakak selama tiga tahun.” Kevin menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Tiga tahun, Hasel. Tiga tahun kamu benar-benar mengabaikan Kakak.”
Haselyn perlahan mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di dada Kevin. Ia memeluk pria itu erat-erat, seolah ingin menebus seluruh waktu yang telah hilang. “Maafkan Hasel, ya, Kak.” Suaranya bergetar.
“Dan terima kasih… karena sudah begitu sabar menunggu Hasel.”
Kevin memeluknya lebih erat.
Haselyn memejamkan mata.
“Hasel cuma lelah, Kak.” Ia menarik napas panjang.
“Hasel sudah melakukan semua yang Hasel mampu. Hasel berusaha menebus rasa bersalah karena tidak bisa menemani Mama sampai akhir hayatnya. Hasel pikir kalau Hasel terus membantu keluarga, semuanya akan membaik.” Air matanya kembali mengalir.
“Tapi ternyata, apa pun yang Hasel lakukan tidak pernah cukup. Mereka tetap menyalahkan Hasel. Mereka bilang Hasel terlalu keras pada Kak Nisrina, seolah semua kesalahan selalu berakhir di pundak Hasel.”
Kevin mengusap lembut rambut istrinya. “Kamu sudah berjuang terlalu lama sendirian.”
Haselyn menggeleng pelan. “Yang paling membuat Hasel lelah bukan bekerja keras…” Suaranya hampir tak terdengar. “…tapi terus-menerus menjadi orang yang harus mengalah.”
Kevin mengecup pelan puncak kepala Haselyn. “Sekarang kamu nggak sendirian lagi.”
Pelukan mereka menghangatkan malam yang panjang, seolah sedang menyatukan kembali dua hati yang sempat dipisahkan oleh penyesalan, keluarga, dan waktu.
Kevin mengusap pelan punggung Haselyn, lalu menatap wajah istrinya dengan lembut. “Memangnya kamu ngapain sampai mereka marah begitu?” tanyanya pelan.
Haselyn mengembuskan napas panjang. “Hasel… tampar Kak Nisrina.”
Kevin terdiam sesaat, lalu tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri, seolah mengingat sesuatu. “Pasti sakit itu,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Dulu waktu Kakak kena tampar kamu, bengkaknya baru hilang tiga hari kemudian. Sakitnya malah hampir seminggu.”
Haselyn mendongak menatapnya. “Ya habis Hasel kesel banget, Kak.” Nada suaranya kembali dipenuhi emosi.
“Dia menikahi suami orang loh. Dia tahu pria itu sudah punya istri, tapi tetap memilih menikah dengannya. Menurut Kakak itu nggak gila?”
Kevin mengusap lembut lengan Haselyn, berusaha menenangkan amarah yang kembali muncul. “Tapi bagaimanapun dia tetap kakakmu.”
Haselyn langsung menggeleng. “Bukan begitu, Kak.” Suaranya terdengar tegas.
“Hasel nggak marah karena dia kakak Hasel. Hasel marah karena dia tahu apa yang dia lakukan itu salah.” Ia menarik napas panjang.
“Dia hamil dengan pria yang sudah beristri, lalu memilih menikah dengannya. Hasel nggak bisa menganggap itu sebagai sesuatu yang biasa.” Haselyn memeluk Kevin sedikit lebih erat. “Ih, amit-amit sampai hal seperti itu terjadi sama kita.”
Ia menatap Kevin dengan wajah serius. “Hasel nggak sanggup membayangkan kalau ada perempuan lain yang mencoba merebut Kakak.”
Kevin tersenyum kecil melihat wajah istrinya yang begitu cemburu. Ia mengangkat dagu Haselyn perlahan. “Tidak akan ada perempuan lain.” Tatapannya begitu tenang.
“Karena dari dulu, pilihan Kakak cuma satu.” Kevin mengecup pelan kening Haselyn. “Dan pilihan itu adalah kamu.”
Haselyn tersenyum tipis, sementara rasa sesak di dadanya perlahan mulai mereda dalam pelukan pria yang tidak pernah berhenti memilihnya.
“Tapi ya…” Kevin mengusap pelan punggung tangan Haselyn. “Setahu Kakak, Jeni pasti sudah mulai curiga. Kamu sudah menyiapkan orang untuk mengawasi rumah sana?”
Haselyn mengangguk pelan. “Sudah, Kak. Begitu tahu siapa pria yang dinikahi Kak Nisrina, Hasel langsung menyuruh beberapa orang mengawasi keluarga Hasel dari jauh.”
Ia mengembuskan napas panjang. “Hasel tahu betul tabiat Kak Jeni. Kalau sampai dia menemukan semuanya, Kak Nisrina bisa benar-benar hancur di tangannya. Kak Jeni itu bukan tipe perempuan yang akan diam ketika dikhianati.”
Kevin mengangguk pelan, lalu tiba-tiba mengingat sesuatu. “Eh, bukannya kamu pernah ribut besar sama Jeni gara-gara seorang desainer?”
Haselyn menoleh. Kevin tersenyum tipis. “Kalau Kakak nggak salah ingat, desainer itu cuma mau membuatkan gaun untukmu, sementara Jeni ditolak mentah-mentah.”
Haselyn terkekeh pelan. “Oh, yang itu?”
“Iya,” lanjut Kevin. “Kamu cerita kalau Jeni marah besar karena merasa lebih pantas mendapatkan gaun dari desainer itu, tapi justru kamu yang dipilih.”
Haselyn menggeleng kecil sambil mengingat kejadian beberapa tahun lalu. “Bukan cuma marah, Kak. Dia sampai datang langsung ke butik dan mempermalukan Hasel di depan banyak orang.”
Tatapannya perlahan berubah serius. “Sejak hari itu, Hasel tahu satu hal…”
“Apa?”
“Jeni bukan perempuan yang mudah melupakan penghinaan. Kalau dia merasa harga dirinya diinjak, dia akan membalas dengan cara apa pun.”
Kevin menatap Haselyn dengan wajah penuh pertimbangan. “Kalau begitu, kita harus benar-benar berhati-hati.”
Haselyn mengangguk pelan. “Karena kali ini yang dipertaruhkan bukan cuma rumah tangga Kak Nisrina, tapi juga keselamatan keluarga Hasel.”
Haselyn memukul pelan dada Kevin dengan bibir yang mengerucut. “Tapi kok Kakak tahu semuanya, sih?” gerutunya. “Jangan-jangan Kakak mata-matain Hasel, ya?”
Kevin meringis sambil mengusap dadanya yang terkena pukulan istrinya. “Sakit, Sayang.” Ia tertawa pelan, lalu menatap Haselyn dengan senyum jahil. “Memangnya cuma Kakak yang mata-matain? Kamu juga sama, kan?”
Haselyn langsung mengalihkan pandangan. “Apa maksud Kakak?”
Kevin mengangkat sebelah alisnya. “Jangan pura-pura nggak tahu. Kakak sadar kok, selama ini ada orang yang diam-diam mengikuti Kakak ke mana pun.”
Pipi Haselyn langsung memerah. “Itu kan…”
“Jadi benar?”
Haselyn mendengus pelan. “Ya kan buat jaga-jaga.” Ia mengangkat dagunya dengan wajah sok galak.
“Kalau Kakak berani deket sama perempuan genit, Hasel langsung lempar surat cerai ke depan muka Kakak.” Ia bahkan memperagakan gerakan melempar sebuah amplop tepat ke arah wajah Kevin.
Kevin tertawa kecil. Ia menangkap tangan Haselyn yang masih terangkat, lalu menggenggamnya erat sebelum mengecup punggung tangannya dengan penuh kelembutan.
“Mana mungkin Kakak selingkuh.” Tatapannya berubah begitu dalam.
“Buat bisa menikah sama kamu saja, Kakak butuh tujuh tahun untuk terus meyakinkan kamu.” Jemarinya mengusap pelan tangan Haselyn. “Setelah kita menikah, Kakak masih harus menunggu tiga tahun lagi untuk bisa tinggal serumah dengan istri Kakak sendiri.” Suaranya terdengar lirih.
“Sepuluh tahun, Hasel.” Ia menatap Haselyn tanpa berkedip.
“Sepuluh tahun Kakak menunggu supaya bisa hidup bersama kamu. Jadi mana mungkin Kakak berpaling dari wanita yang sudah Kakak perjuangkan selama itu?” Wajah Kevin tampak begitu tulus hingga Haselyn merasa dadanya menghangat.
Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk Kevin erat-erat. “Hasel tahu kok, Kak.” Senyumnya mengembang di balik pelukan itu.
“Hasel cuma butuh sedikit jaminan.”
Ia terkekeh pelan. “Makanya Hasel tetap menyuruh orang mengawasi Kakak.”
Kevin menggeleng sambil tertawa kecil. “Kamu ini benar-benar…”
“Apa?”
“Cemburuan.”
Haselyn mendongak dengan wajah pura-pura tidak terima. “Bukan cemburu.”
“Lalu?”
“Menjaga aset berharga.”
Kevin tertawa lebih keras, lalu kembali memeluk istrinya.
“Kalau begitu, asetmu ini janji akan tetap jadi milikmu seumur hidup.”
Haselyn tersenyum puas. “Nah, gitu dong. Baru bikin tenang.”
Malam itu, tawa kecil mereka memenuhi kamar yang selama bertahun-tahun hanya dihuni oleh rindu dan penantian. Kini, semua penantian itu akhirnya terbayar dengan kebersamaan yang sederhana, tetapi terasa begitu berharga.