Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.Ancaman
Pagi yang tegang akibat kedatangan Dania perlahan berganti siang. Setelah mengantar Elano ke sekolah dan menjenguk ibunya di rumah sakit—yang kini dijaga ketat oleh dua pengawal tegap dari Danuartha Security—Aira kembali ke rumah.
Meskipun masalah ancaman pemerasan dari Hendra dan Lina sudah tidak terdengar lagi akibat tindakan tegas Arka di belakang layar, benih konflik baru justru mulai mengepung hidup Aira.
Kehadiran Dania pagi tadi menyisakan kejanggalan di benak Aira. Kata-kata wanita itu begitu tajam, penuh dendam dan rasa kepemilikan atas Arka serta Danuartha Group. Aira tahu betul, wanita sekelas Dania yang memiliki latar belakang keluarga terpandang dan saham di perusahaan tidak akan tinggal diam begitu saja setelah dipermalukan dan diusir dari rumah ini.
Aira duduk di meja rias kamarnya, memandangi pantulan dirinya di cermin. Gadis sembilan belas tahun itu menghela napas panjang, mengikat rambut cokelatnya yang bergelombang menjadi kuncir kuda yang rapi.
Aku harus tetap sadar diri, batin Aira mengingatkan dadanya yang terus berdesir setiap kali mengingat perlindungan dan sentuhan hangat Arka. Mas Arka membelaku karena dia pria yang bertanggung jawab dan memegang teguh komitmen. Jangan sampai aku salah mengartikan kebaikannya.
Pukul dua siang, Aira bersiap untuk menjemput Elano dari sekolah. Namun, saat ia hendak menunruni tangga menuju lantai dasar, Bi Inah berlari kecil mendekatinya dengan raut wajah panik seraya memegang telepon genggam rumah.
"Nyonya Aira! Nyonya!" panggil Bi Inah dengan suara tertahan.
Aira menghentikan langkahnya di anak tangga. "Ada apa, Bi Inah? Kenapa panik begitu?"
"Ini... ada telepon dari pihak sekolah Mas Elano, Nyonya!" ujar Bi Inah cemas, menyerahkan gagang telepon pada Aira.
"Katanya ada wanita yang mengaku sebagai wali keluarga Danuartha mencoba menjemput Mas Elano lebih awal!"
Deg.
Darah Aira mendadak terasa berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang diliputi rasa panik yang membakar. Dania! nama wanita itu langsung melintas di kepalanya.
Tanpa membuang waktu, Aira merebut gagang telepon itu dan menempelkannya ke telinga. "Halo! Selamat siang, saya Aira, ibunya Elano. Jangan izinkan siapa pun membawa Elano keluar dari lingkungan sekolah!"
Dari seberang telepon, suara wali kelas Elano terdengar ragu. "Selamat siang, Bu Aira. Baik, Bu. Tadi ada seorang wanita bernama Nyonya Dania yang datang membawa dokumen keluarga dan bermaksud menjemput Elano. Namun karena nama Nyonya Dania tidak ada di daftar penjemput resmi yang didaftarkan Pak Arka, kami menahannya di ruang tamu sekolah."
"Terima kasih banyak, Bu Guru! Tolong tahan Elano di dalam ruangan. Saya langsung berangkat ke sana sekarang!" seru Aira tegas.
Setelah mematikan telepon, Aira berbalik menatap Bi Inah. "Bi, tolong hubungi Mas Raymond atau Mas Arka sekarang juga.Beritahu mereka kalau Nyonya Dania mencoba mengambil Elano di sekolah!"
"Baik, Nyonya! Segera Bibi telepon!" sahut Bi Inah sigap.
Aira berlari kecil menuju pintu depan, meminta supir rumah untuk segera melajukan mobil menuju sekolah TK Elano.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu lima belas menit itu, tangan Aira gemetar hebat. Rasa cemas dan naluri perlindungannya sebagai seorang ibu—meski hanya ibu sambung—membakar keberaniannya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Dania, menyakiti atau memanfaatkan Elano yang polos demi ambisi pribadi.
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis Jakarta Pusat, suasana di dalam ruang rapat utama Danuartha Group berlangsung sangat tegang.
Arka Danuartha duduk di kursi pimpinan di ujung meja kaca yang panjang. Di sekelilingnya, sepuluh anggota Dewan Komisaris dan pemegang saham utama duduk tegap. Suasana ruangan yang sejuk oleh pendingin udara tidak mampu meredam aura panas di antara para petinggi perusahaan tersebut.
Di sebelah kiri Arka, Dania duduk dengan anggun, mengenakan gaun formal berwarna biru gelap. Wajah wanita itu tampak tenang dan percaya diri, memegang beberapa lembar berkas analisis keuangan.
"Berdasarkan laporan ekspansi pasar kuartal ketiga," ujar Dania dengan suara lantang dan penuh wibawa, menatap para komisaris,
"saya menyarankan agar Danuartha Group menunda pengalokasian dana investasi di proyek perumahan baru. Risiko finansialnya terlalu besar, dan kebijakan direksi utama tampaknya terlalu terburu-buru."
Beberapa komisaris tampak mengangguk-angguk berbisik, menyetujui poin yang disampaikan Dania. Wanita itu mengumbar senyum kemenangan tipis, lalu melirik Arka dengan pandangan menantang.
Arka tidak bergeming. Pria 39 tahun itu merapikan lengan kemejanya, menopang jemarinya di atas meja, lalu menatap Dania dengan pandangan dingin yang tajam dan tak tergerak sedikit pun.
"Proyek perumahan tersebut sudah melewati studi kelayakan selama enam bulan oleh tim independen, Dania," balas Arka, suaranya yang berat dan datar langsung membungkam bisik-bisik di dalam ruangan.
"Penundaan yang kamu usulkan hanya akan merugikan perusahaan sebesar empat belas miliar rupiah akibat pinalti kontrak dengan kontraktor utama."
Arka memajukan tubuhnya sedikit, memancarkan dominasi mutlak seorang Pemimpin Utama. "Dan mengenai analisis risikomu... itu didasarkan pada data dua tahun lalu sebelum restrukturisasi anak perusahaan. Sebagai komisaris, kamu seharusnya lebih teliti membaca laporan terbaru sebelum membuang waktu rapat ini."
Skakmat.
Wajah Dania seketika berubah agak pucat. Senyum kemenangannya menguap tanpa bekas saat menyadari para komisaris lain kembali mengangguk menyetujui argumen Arka yang jauh lebih kuat dan berbasis data konkret. Dania meremas dokumen di tangannya, menahan malu dan amarah yang bergejolak di dadanya.
Tepat saat Arka hendak menutup rapat, pintu ruang rapat terbuka pelan. Raymond melangkah masuk dengan cepat, mengabaikan tata tertib rapat, lalu berjalan lurus menuju kursi Arka.
Raymond menunduk dan berbisik di dekat telinga Arka. "Pak Arka, ada kondisi darurat dari rumah. Bi Inah baru saja telepon. Nyonya Dania... maksud saya, ada pihak yang mencoba menjemput Elano di sekolah."
Raymond melirik Dania sejenak sebelum melanjutkan bisikannya. "Nyonya Aira saat ini sedang meluncur ke sekolah untuk mengamankan Elano."
Mendengar laporan itu, iris mata hitam Arka seketika menyempit tajam. Aura kemarahan yang begitu pekat memancar dari tubuh Arka, membuat seluruh peserta rapat di ruangan itu mendadak menegang ketakutan.
Arka berdiri seketika dari kursinya, merapikan jasnya tanpa memedulikan tatapan heran dari para komisaris.
"Rapat hari ini selesai. Keputusan proyek tetap berjalan sesuai rencana awal," tegas Arka singkat.
Pria itu kemudian melangkah lebar meninggalkan ruang rapat. Saat melewati kursi Dania, Arka menghentikan langkahnya sejenak, menatap wanita itu dengan pandangan yang sanggup membekukan darah siapa saja yang melihatnya.
"Jika kamu bermain-main di luar batas profesionalisme, Dania..." bisik Arka sangat pelan, namun sarat akan ancaman mematikan,
"...saya akan memastikan nama keluargamu dicabut sepenuhnya dari jajaran pemilik saham minggu ini."
Tanpa menunggu balasan Dania yang terpaku ketakutan, Arka melangkah keluar dari ruang rapat disusul oleh Raymond yang berjalan cepat di belakangnya.
Di area halaman sekolah TK Elano, suasana cukup ramai oleh orang tua murid yang mulai berdatangan.
Aira melangkah cepat menyeberangi lorong sekolah menuju ruang tunggu kantor guru. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok wanita bertubuh jangkung dengan gaun blazer merah yang berdiri di dekat pintu taman bermain—bukan Dania yang ada di ruang rapat, melainkan asisten pribadi kepercayaan Dania yang diutus untuk membawa Elano!
Di dekat wanita itu, seorang guru TK tampak mendekap Elano yang terlihat bingung dan ketakutan.
"Nyonya Dania adalah bibi kandung Elano dari pihak almarhumah ibunya! Beliau berhak mengajak Elano makan siang!" seru wanita utusan Dania itu dengan nada ketus pada guru TK tersebut.
"Tapi Pak Arka tidak mendaftarkan nama Nyonya Dania sebagai wali jeput—"
"Saya katakan lepaskan budak itu!" potong wanita itu kasar sambil mengulurkan tangan hendak menarik lengan Elano.
"Jangan sentuh dia!"
Suara lantang Aira menggema di lorong sekolah. Aira berlari mendekat, menggeser tubuh wanita itu dengan tegas, lalu berdiri pasang badan tepat di depan Elano dan sang guru. Aira menarik Elano ke belakang tubuhnya, memeluk bocah itu erat-erat.
"Mama Aira!" jerit Elano riang bercampur lega, memeluk pinggang Aira erat-erat.
"Tante itu jahat, mau tarik-tarik tangan Elano!"
Aira menenangkan Elano dengan mengusap punggungnya, lalu berbalik menatap utusan Dania dengan tatapan mata yang tajam dan berani. Tidak ada lagi rasa takut atau keraguan pada diri gadis sembilan belas tahun itu ketika menyangkut keselamatan anak yang dipercayakan padanya.
"Siapa Anda berani-beraninya datang ke sekolah dan memaksa membawa anak orang lain tanpa izin?!" tegur Aira tegas, suaranya jernih dan berwibawa.
Wanita utusan Dania itu tertawa meremehkan, menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Oh, jadi kamu gadis cilik yang dinikahi Pak Arka? Dengarkan ya, Nyonya Dania punya hak atas Elano karena beliau adalah adik dari ibu kandung Elano! Kamu cuma istri pajangan yang dibayar untuk mengurus rumah!"
"Saya adalah istri sah Arka Danuartha secara hukum!" balas Aira dengan nada yang begitu mantap dan tidak bisa dibantah.
"Dan di mata hukum serta sekolah ini, saya adalah wali resmi Elano Danuartha! Jika Anda atau atasan Anda mencoba menyentuh atau membawa Elano tanpa izin suami saya lagi, saya sendiri yang akan melaporkan tindakan ini sebagai upaya penculikan anak!"
Wanita utusan Dania itu tersentak kaget. Ia tidak menyangka gadis muda yang terlihat polos dan lembut ini bisa memancarkan ketegasan yang begitu kuat dan bermartabat saat diprovokasi.
"Kamu... kamu berani mengancam saya?!" cibir wanita itu dengan wajah memerah malu.
"Saya tidak mengancam, saya menegakkan aturan!" tegas Aira tanpa mundur satu tindak pun.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang berhenti mendadak di depan gerbang sekolah mengalihkan perhatian semua orang. Pintu mobil SUV hitam terbuka, dan Arka Danuartha melangkah keluar dengan langkah lebar yang memancarkan ketegangan yang amat pekat.
Raymond mengikuti tepat di belakangnya dengan dua pengawal berbadan tegap.
Melihat kehadiran Arka, wajah utusan Dania seketika berubah pucat pasasi. Wanita itu mundur dua langkah dengan ketakutan yang nyata.
Arka melangkah mendekati Aira dan Elano. Pria itu menyapu pandangannya pada Aira yang berdiri tegap menutupi Elano, lalu beralih menatap utusan Dania dengan mata hitamnya yang membakar amarah.
"Raymond," panggil Arka dengan nada suara yang sangat dingin dan berbahaya.
"Iya, Pak Arka?" sahut Raymond cepat.
"Amankan wanita ini. Bawa ke kantor polisi terdekat dan proses atas tuduhan percobaan penculikan anak serta pengancaman di area sekolah," perintah Arka tanpa kompromi.
"Tidak! Pak Arka, tolong! Saya cuma menjalankan perintah Nyonya Dania!" jerit wanita itu histeris saat dua pengawal tegap Arka memegang kedua tangannya dan meyeretnya keluar dari area sekolah.
Suasana di halaman sekolah kembali tenang. Beberapa wali murid dan guru menatap Arka dan Aira dengan takjub dan hormat.
Arka berlutut di depan Elano, memeriksa tubuh anak laki-lakinya.
"Elano tidak apa-apa? Ada yang sakit?"
"Elano nggak apa-apa, Papa! Mama Aira hebat banget tadi melindungin Elano!" jawab bocah itu antusias.
Arka perlahan berdiri tegak kembali. Pria berusia 39 tahun itu membalikkan badannya dan menatap Aira lurus-lurus.
Aira masih memegang napasnya yang agak memburu, dadanya naik turun akibat emosi dan kelelahan mental yang baru saja lewat. Namun matanya menatap Arka dengan keteguhan yang tulus.
Arka mengamati raut wajah Aira. Ada rasa kagum yang mendalam menyelusup ke dalam dada pria itu. Gadis sembilan belas tahun yang dulu tampak begitu pasrah dan rapuh di hadapannya, kini berdiri kokoh bagaikan benteng pertahanan demi melindungi putranya dari bahaya.
Tanpa memedulikan keberadaan Raymond atau orang-orang di sekitar mereka, Arka melangkah maju satu tindak mendekati Aira. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, mengusap pelan pipi Aira yang agak hangat, lalu menyelipkan helai rambut gadis itu ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Aira," bisik Arka dengan suara serak yang begitu dalam dan hangat.
"Terima kasih sudah menjaga anak kita."
Kata-kata 'anak kita' dan sentuhan lembut jemari Arka di wajahnya seketika meruntuhkan seluruh pertahanan emosi Aira. Air mata haru yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes di pipinya. Aira mengangguk pelan, bersandar sangat tipis pada sentuhan tangan Arka yang kokoh.
Di tengah ancaman dan konflik kekuasaan yang mulai menebal di sekitar mereka, sore itu sebuah ikatan emosional yang tak terputuskan telah terpatri di antara Arka dan Aira. Mereka bukan lagi sekadar dua orang asing yang terikat perjanjian kertas dua miliar rupiah... melainkan dua jiwa yang perlahan-lahan mulai saling melengkapi dan melindungi satu sama lain.
_Bersambung