Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Dia Membela Selingkuhannya?
Anjani segera keluar dari ruangan setelah usai dengan urusannya. Heels yang ia pakai selalu bersuara 'tuk-tuk-tuk' ketika berhasil menyentuh lantai. Entah sudah kali ke berapa Abbas ia tinggalkan jauh di belakangnya.
Anjani berhenti, menunggu lift terbuka untuk beberapa saat, acap kali ia menoleh ke Abbas berharap dia segera datang. Namun, yang ia dapatkan bawahannya itu justru bercakap-cakap dengan Syahrul, ingin rasanya ia pergi tanpa peduli Abbas, tetapi rasanya kurang masuk akal bila ia melakukan itu dan akan terlihat mencurigakan di mata suaminya. Ia harus terlihat biasa saja, hingga surat perceraian ada di meja suaminya kelak.
Akhirnya, Anjani masuk lift bersama Abbas, Syahrul dan Yeshika. Hal yang tidak ia inginkan terjadi, terjebak di situasi yang sangat tidak mengenakkan.
Anjani berdiri di paling depan, mojok di samping tombol-tombol lift dan termenung di sana. Di sampingnya ada Abbas yang penuh dengan barang bawaan. Sementara Syahrul dan Yeshika berdiri di belakang mereka.
Ruangan sempit itu mendadak sunyi, Anjani memperhatikan angka yang terus berubah, dan merasa jengkel karena membutuhkan waktu yang teramat lama hanya untuk berpindah lantai---menurutnya.
Syahrul menatap punggung Anjani, lalu memanggilnya, "Anjani?"
"Ya?" sahut Anjani sekenanya. Ia tidak menoleh, tetap berdiri tegak di posisinya.
"Kenapa tadi kamu bersikeras menolak tambahan investor? Menurutku sendiri memakai mitra untuk membangun sebuah proyek besar seperti ini sangat tidak efektif," beritahu Syahrul.
Yeshika yang berdiri di samping Syahrul langsung menoleh, melihat wajah tegas kekasihnya dengan penuh sukacita, akhirnya ia dibela di sini. Ia pikir Syahrul tak peduli, ternyata dia memilih waktu yang pas.
Yeshika diam-diam menyeringai. Menatap sisi tubuh Anjani dengan tatapan dingin. "Untuk apa jabatan tinggimu, untuk apa menjadi istri sah, kalau suamimu bahkan tak memedulikan dirimu."
Anjani membuka mulutnya tanpa bersuara, lalu menutupnya lagi. Kepalanya tiba-tiba pusing, alhasil ia menyenderkan tubuhnya segera ke dinding lift, dan matanya mengawasi angkat lift dengan penuh harap. Ia ingin segera masuk mobil dan mengistirahatkan diri, kakinya terasa seperti dipaku berkali-kali hingga tidak tahan berdiri.
Abbas mengerutkan bibir, tidak tahu harus berkata apa di situasi ini, bahkan ketika atasannya menyenderkan tubuh ke di dinding lift ia tak tahu yang harus ia lakukan. Apakah karen sakit atau sekedar mengurangi penat?
"Nyonya?" panggil Abbas pelan, tetapi Anjani tidak merespon, dia terlihat fokus ke pintu lift. Ingin tahu apa yang dilihat Anjani, Abbas pun menjatuhkan pandangan ke depan, seketika ia terdiam seribu bahasa.
"Dua manusia bodoh itu!!!" Abbas mengumpat di dalam hati, matanya mendelik pada pantulan pintu lift; di sana Syahrul dan Yeshika saling bergandengan dan Yeshika berdiri semakin dekat dengan suami atasannya.
Abbas melirik ke Anjani, perempuan itu tidak berekspresi sama sekali, dia hanya diam memperhatikan tanpa mengeluh sama sekali.
"Apa dia membela Yeshika?" Batin Anjani.
"Investor datang karena uang dan menginginkan keuntungan, selama proyek berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan, hubungan kita hanya sampai kontrak kerja sama selesai. Aku tidak menginginkan itu." Anjani menahan napasnya selama matanya melihat bagaimana Syahrul membelai punggung tangan Yeshika di belakangnya.
Bila ia istri yang hatinya minim kesabaran, sudah ia pukul kepala Syahrul memakai ujung sepatunya, sayangnya ia adalah Anjani Pitaloka Notokoesoemo yang takkan sudi mengotori tangannya seperti itu.
Syahrul mengangguk pelan, lalu tersenyum lebar pada Yeshika yang memainkan dasinya, lalu berucap, "Apa bedanya dengan mitra? Keduanya sama saja menurutku."
Anjani menghela napas panjang. Menatap pantulan dirinya yang begitu berantakan. Mungkin karena wajahnya yang kusut ini sudah tidak memikat, oleh sebab itu Syahrul memilih berselingkuh dengan perempuan jelalatan di belakang itu.
"Lihat saja nanti, kau dapat apa," sungut Anjani dengan meremas tangannya sendiri hingga terkopek.
"Mitra tidak hanya membawa uang, mereka membawa pengalaman kerja, jalur bisnis, pemasaran dan hal-hal yang aku butuhkan. Sebagai pebisnis kita juga harus belajar dari pebisnis lain, dan mitra sangat cocok untuk bagian ini," tutur Anjani. Ia dengan sengaja menoleh ke belakang, seketika dua insan itu bergerak tidak beraturan untuk saling menjauh, lantas Anjani terkekeh pelan sambil menatap ke depan.
Abbas sudah hampir mati menahan tawa melihat aksi lucu barusan. Ia bisa melihat wajah ingin mati Syahrul atau wajah kecewa Yeshika, keduanya pasti tidak menyangka Anjani akan menoleh ketika mereka akan berciuman. "Mampus aja kalian!!!"
Syahrul terdiam, ia bingung harus berbicara apa, tetapi jika ia diam itu membuat Anjani mungkin menyadari hubungannya dengan Yeshika. Segera ia berucap, "Jadi kamu tidak ingin menanggung resiko sendiri?"
Anjani salut dengan keberanian Syahrul, dia langsung bisa menguasai keadaan, wajahnya pun terpampang jelas tidak merasa bersalah. Anjani bertepuk tangan pelan tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Proyek sebesar ini tidak cukup hanya punya uang, aku membutuhkan orang yang mampu membuat uang itu bekerja dengan benar." Anjani kembali menatap nomor pada lift, lalu memijat bahunya pelan, rasa capek merambat ke seluruh tubuh.
Syahrul terdiam. Ia tahu bahwa pandangan istrinya memang tajam, tetapi ia selalu terkejut dengan apa yang dia ucapkan.
Yeshika berusaha memahami ucapan Anjani.
"Kamu memang selalu berpikir beberapa langkah lebih jauh,” puji Syahrul.
Anjani hanya mengangkat bahu dan tidak membalas. Ia mengerlingkan mata. Getar ponsel di dalam saku mengalihkan fokusnya, aegera ia membuka ponsel.
Pengirim: Eve
Bisa kita bertemu di restoran biasanya? Aku traktir deh ^^
Anjani tersenyum tipis. Membalas pesan itu segera dengan emoticon jempol dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku. Tiba-tiba saja ia lapar. Itu adalah pesan dari teman masa kecilnya, oleh sebab itu semangatnya langsung tumbuh.
Memikirkan bagaimana cara membalas kedua insan yang bergelendotan di belakangnya membuat perutnya cepat lapar.
Di samping Syahrul, senyum Yeshika perlahan memudar. Tangannya mengepal kecil. Namun, tangannya yang lain masih sibuk memeluk tangan kekar Syahrul.
Yeshika sudah memberikan pendapat di ruang rapat. Ia bahkan merasa beberapa orang mulai memperhatikannya. Namun, hanya dalam beberapa menit, Anjani membuat seluruh penjelasannya menjadi sangat tidak berguna.
Yang paling membuat Yeshika tidak nyaman adalah tatapan Syahrul. Tatapan itu adalah tatapan kekaguman. Tatapan yang selama ini ingin Yeshika dapatkan.
Ting!