RAHASIA DI BALIK PERNIKAHAN
Bulan bergelayut di langit malam, bintang-bintang pun ikut menemani, suara hewan malam terdengar merdu. Hari makin larut. Beberapa rumah di ibukota sudah memadamkan lampu, toko-toko pun mulai menarik pintu, hanya satu rumah mewah sederhana yang terlihat masih terang benderang.
Anjani menatap jam dinding, sudah hampir pukul dua belas malam, tetapi suaminya belum juga pulang. Ia menunggu kedatangannya sambil mengerjakan beberapa data perusahaan.
Di ruang makan ini Anjani tidak sendiri, ada Dyah pelayannya yang sibuk di sisi lain.
Ruang makan ini dibuat menyatu dengan dapur, Anjani mendesainnya supaya tidak terlalu memakan ruang. Cat dinding pun dominan hitam dan putih. Sementara itu bagian plafon dibuat bertingkat, berwarna putih gading, dan ada beberapa lampu yang ditanam di dalamnya sehingga warna putih kekuningan berpencar menerangi ruangan besar ini.
Di atas meja sudah ada dua piring makanan, ada steak dan sup jamur, serta ada secangkir teh tanpa gula.
Anjani menyempatkan diri untuk memasaknya setelah pulang dari kantor, berharap suaminya pulang lebih awal, nyatanya itu semua harapan semu. Suaminya belum pulang hingga masakannya mendingin.
Walau Anjani sudah makan dahulu, tapi rasa sedih di lubuk hatinya belum bisa disembuhkan.
"Sudah satu bulan dia pulang selalu terlambat," gumam Anjani. Matanya menatap laptop yang menyala di depannya, menunjukkan beberapa transaksi besar yang ia awasi lewat online.
Anjani menghela napas. Memencet tombol lain sehingga data laporan keuangan itu berubah menjadi laporan akusisi sebuah perusahaan properti yang nilainya cukup fantastis.
Tiga ratus delapan miliar. Nominal yang begitu besar. Anjani tersenyum tipis setelah menghitung jumlah angkanya.
Anjani menggeser beberapa dokumen di atas meja, lalu membaca laporan arus kas dan melakukan tanda tangan melalui sebuah aplikasi online. Transaksi selesai.
Pandangan Anjani kembali jatuh pada makanan di atas meja. Sekali lagi ia menghela napas berat. Sangat disayangkan bila masakan itu tidak ada yang memakan. Sejauh ini belum ada tanda-tanda Syahrul pulang.
Melirik ponselnya, Anjani segera menekan tombol power dan memperhatikan beberapa notifikasi yang belum terbaca. Dari sejumlah tumpukan pesan dan telepon, tidak ada nama Syahrul, padahal dulu suaminya selalu memberi kabar.
"Apa dia sibuk?" Anjani menggeser layar ponselnya, membuka salah satu aplikasi khusus untuk bertukar pesan, lalu memandang nama suaminya yang telah disematkan.
Mungkin Anjani harus menelpon Syahrul dulu, meminta kabar sedikit, tetapi akhirnya ia memilih menaruh kembali ponselnya. Anjani selalu tidak berani bertindak dahulu, walau hanya tanya kabar.
Ting!
Notifikasi terdengar nyaring. Anjani lantas tersenyum. Membuka ponselnya segera, tetapi bukan nama Syahrul yang ia temukan, melainkan pesan dari sekretarisnya.
Pengirim: Abbas.
Nyonya, besok jam delapan pagi ada pertemuan dengan tim akusisi. Jam sebelas ada rapat dengan para investor Singapura. Dan jam tiga sore ada rapat gabungan di perusahaan cabang.
Senyum Anjani memudar. Kepalanya tiba-tiba dijejali dengan beberapa jadwal penting. Tidak terlalu padat sebenarnya, hanya ada tiga pertemuan, tetapi yang membuat Anjani merasa lelah adalah harus terbang ke Singapura dan kembali ke Indonesia setelah urusan selesai.
Anjani mengetik pesan ke Abbas.
Pesankan dulu tiketnya, ya.
Tidak ada istirahat. Anjani harus tidur lebih awal hari ini, meski tanpa bertemu Syahrul terlebih dahulu.
Anjani menutup laptop, meringkasi beberapa berkas yang ia bawa, dan ia taruh di dalam tas kerjanya. Memastikan semua tidak ada yang tertinggal, lalu menatap nanar pada masakannya lagi.
"Bi, makanan ini tolong jangan dibuang," perintah Anjani pada Dyah. Tangannya menunjuk makana di atas meja.
Dyah yang kebetulan berada di area dapur segera menengok, melihat makanan yang sudah dingin itu, lalu memperhatikan Anjani dengan tatapan sedih.
Dyah tadi membantu nyonyanya untuk mempersiapkan makan malam. Anjani tadi bahkan tidak sempat untuk berganti pakaian ataupun mandi demi memasak hidangan kesukaan suaminya, tetapi hasilnya malah seperti ini, membuat hatinya ikut teriris.
"Tuan akan makan, Nyonya?" Dyah bertanya dengan suara yang nyaris hampir tidak terdengar.
Anjani terdiam untuk beberapa saat. Jemarinya meremas pegangan tas. Matanya memperhatikan jam dinding yang terus berputar mendekati angka dua belas malam.
"Mungkin dia akan pulang sebelum pagi, jadi hangatkan saja, Bi," harap Anjani sambil tersenyum tipis.
"Baik, Nyonya." Dyah hanya mampu menundukkan kepala singkat, lalu segera membawa makanan di atas meja ke dalam pemanas makanan.
Anjani berjalan menuju ruangan depan, tetapi baru beberapa langkah, ponselnya berhenti. Atensinya berubah dan kakinya berhenti berjalan.
Menarik ponsel dari dalam tas, membaca notifikasi dengan tulisan yang menyalak mata, seketika jantungnya berdebar.
Transfer Rp. 50.000.000 berhasil.
Penerima Yeshika Larasati.
Mata Anjani terpaku pada tulisan di ponselnya. Napasnya mulai terasa berat. Syahrul jarang memakai rekening pribadi untuk melakukan transaksi, dia selalu memakai rekening perusahaan.
Suaminya mempunyai tiga rekening pribadi, dan salah satu rekeningnya memakai nomor ponselnya, sehingga saat ini Anjani bisa mendapatkan notifikasi itu.
Dalam diam Anjani terus berpikir mengenai alasan apa yang membuat Syahrul memakai rekening pribadi, mentransfer dengan jumlah besar kepada perempuan, dan melakukan transaksi di jam dua belas malam?
Anjani berusaha berpikir semua dengan pikiran positif. Mungkin urusan pekerjaan, mungkin sesuatu yang mendesak, atau hal lain yang membuatnya mentransfer seorang perempuan?
Mata Anjani meniti pada nama Yeshika Larasati, nama yang sempat ia baca di salah satu name tag pakaian seseorang ketika ia masuk ke perusahaan suaminya. Seorang perempuan yang baru saja menjadi sekretaris pribadi suaminya, memperkenalkan diri di depannya degan sopan dan menyebutnya Nyonya.
Sekarang perempuan itu menerima lima puluh juta dari suaminya, di tengah malam, bisakah ini dipikirkan secara rasional?
Dyah yang tidak sengaja berjalan di belakang Anjani melihat layar ponsel itu dengan tatapan terkejut, lalu ia memanggilnya pelan, "Nyonya."
Mendengar suara Dyah, Anjani langsung menoleh. Memperhatikan pelayannya yang tampak ingin mengungkapkan sesuatu.
"Bi, kamu tahu sesuatu?" Anjani menatap Dyah lama, berusaha mencari jawaban dari sosok itu, balasan yang jujur.
"Sebenarnya." Ucapan Dyah terhenti, dia tampak ragu, bahkan mulai memalingkan wajah dari Anjani. Namun, tidak lama dari itu, mulutnya kembali terbuka, "Saya melihat Tuan Syahrul keluar dari hotel bersama perempuan beberapa hari yang lalu. Saya waktu itu pulang berbelanja untuk sarapan, Nyonya."
Ucapan Dyah berhasil menampar pipi Anjani secara tidak kasat mata. Seketika ruang makan menjadi hening. Tubuh Anjani seolah berputar-putar dan ditarik ke lubang besar tak berdasar, jantungnya seperti diremas hingga pecah.
Tubuh Anjani menjadi lembek seperti bubur, seketika sebagian tubuhnya ambruk ke dinding, dan kaki kirinya tertekuk ke belakang, ia sudah kehilangan keseimbangan.
Dyah segera menolong Anjani. Membantunya berdiri tegak.
Namun, Anjani menolak bantuan Dyah, ia kembali bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tanpa berpamitan dengan Dyah, ia pergi menuju kamarnya di lantai dua, dengan berbekal tangannya yang meraba-raba dinding untuk terus menopang berat tubuhnya.
Hatinya sakit. Kepercayaannya dikhianati oleh orang yang ia pikir tidak pernah melakukan itu. Pertahanan hatinya runtuh. Seketika kepalanya terasa berat dan pandangannya kabur.
Air mata Anjani berhasil lolos. Ia menangis sejadi-jadinya sambil menaiki anak tangga satu persatu dengan kaki yang bergetar hebat. Setiap kakinya melangkah, dunia seakan runtuh, bahkan sekarang tubuhnya seperti tercabik-cabik.
Anjani seperti anak kecil yang menangis karena tidak diberi lolipop. Lima tahun usia pernikahan mereka, lima tahun mereka satu atap, mereka baik-baik saja... mengapa sekarang dia memilih berselingkuh?
Apa selama ini Syahrul merasa kekurangan? Apa Anjani memang tidak memuaskan? Apa yang membuat hubungan mereka jadi seperti ini? Sejak kapan semua itu dimulai?
Anjani ingin berteriak sekuat tenaga, tetapi suaranya telah lenyap walau belum bersuara.
Dyah menonton Anjani dari lantai bawah, atasannya berjalan dengan susah payah naik ke atas. Ia mengikuti Anjani dari belakang, memastikan dia tidak kenapa-napa dalam kondisi paling rentannya.
"Nyonya... " bisik Dyah sedih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments