Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Tamu Tak Diundang Bernama Wati
Belum juga kendaraan Bram hilang dari pandangan, seseorang mengetuk pagar di belakang Laras.
Tiga ketukan cepat, lalu dua ketukan lebih keras.
Laras tidak langsung membuka. Ia mundur sampai dapat melihat melalui jendela samping.
Seorang perempuan berseragam berdiri di luar. Rambutnya disanggul rapi. Sebuah map cokelat dijepit di dada.
"Siapa?" tanya Laras dari balik pagar terkunci.
"Serda Wati dari kompi komunikasi. Saya mencari Kapten Bram."
"Beliau sudah berangkat tugas."
Wati melihat ke arah tikungan, seolah masih berharap kendaraan itu kembali. "Saya tahu. Maksud saya, saya membawa laporan untuk beliau."
"Silakan diserahkan ke kantor kompi atau piket."
"Ini harus langsung."
"Kalau harus langsung, kenapa datang setelah beliau berangkat?"
Wati terdiam sesaat. "Saya mendapat perintah terlambat."
Laras memperhatikan map itu. Tidak ada stempel, nomor agenda, atau tanda tersegel. Nama Bram ditulis tangan di sudut kanan.
"Siapa pemberi perintahnya?"
"Itu urusan dinas. Ibu tidak perlu tahu."
"Kalau urusan dinas, saya juga tidak berhak menerima. Serahkan ke piket."
Nada Wati berubah. "Saya hanya ingin menaruhnya di dalam."
"Tidak bisa."
"Ibu takut saya masuk?"
"Saya tidak memasukkan orang yang baru pertama saya temui ke rumah saat suami tidak ada. Itu bukan takut. Itu aturan sederhana."
"Saya bukan orang asing. Semua orang di kompi mengenal saya."
"Saya belum mengenalmu. Seragam menjelaskan pekerjaanmu, bukan otomatis memberi akses ke ruang pribadi."
Wati mengembuskan napas keras. "Kapten Bram tidak pernah memperlakukan saya seperti ancaman."
"Karena kamu bertemu beliau di tempat kerja. Sekarang kamu datang ke rumahnya ketika beliau baru berangkat, lalu memaksa masuk. Situasinya berbeda."
Seorang petugas jaga yang bersepeda melambat di ujung blok. Laras mengangkat tangan memberi tanda bahwa keadaan masih terkendali. Petugas itu tetap berhenti dalam jarak pandang.
Wati memperhatikan gerakan tersebut. "Kamu memanggil penjaga hanya untuk saya?"
"Tidak. Saya memastikan ada saksi karena percakapan ini mulai tidak wajar."
Wati tersenyum tipis. "Kapten Bram biasanya tidak serumit ini."
Laras menangkap kata `biasanya` yang sengaja ditekankan.
"Mas Bram sederhana. Orang di sekitarnya yang kadang membuat alasan rumit."
Mata Wati menyipit. "Mas Bram?"
"Beliau suami saya. Ada masalah dengan panggilan itu?"
"Tidak. Saya hanya belum terbiasa."
"Mulai biasakan."
Suasana pagi yang semula dingin terasa tajam. Seorang prajurit di ujung jalan melihat mereka, kemudian cepat-cepat berbalik agar tidak kembali dihukum karena menonton.
Wati mengangkat map. "Saya sudah bekerja dengan Kapten Bram hampir dua tahun. Saya sering mengantar laporan."
"Kalau begitu, kamu pasti tahu jalur penyerahan laporan saat beliau tugas."
"Kadang ada hal yang tidak bisa lewat orang lain."
"Apa klasifikasinya?"
Wati kehilangan jawaban lagi.
Laras melanjutkan dengan tenang. "Kalau rahasia, kamu sudah salah karena membawanya ke rumah pribadi dan menyebut tujuannya di depan orang yang tidak berwenang. Kalau tidak rahasia, serahkan ke piket. Pilih salah satu."
Wajah Wati memerah.
"Ibu merasa hebat karena baru menikah dengan perwira?"
"Tidak. Saya hanya bisa membaca map kosong."
"Ini tidak kosong!"
"Saya bilang map tanpa tanda resmi. Saya belum tahu isinya."
Wati memeluk map lebih rapat, seolah baru sadar kesalahannya sendiri.
"Kalau begitu terima saja dan berikan ketika Kapten pulang."
"Saya bisa menerima sebagai barang pribadi dengan catatan nama, waktu, dan nomor kontak pengirim. Saya juga akan memotret kondisi amplop saat diterima dan mengirim konfirmasi ke piket."
"Tidak perlu melibatkan piket."
"Berarti saya tidak menerima."
Laras berbalik menuju pintu rumah.
"Tunggu!" seru Wati.
Laras berhenti, tetapi tidak mendekati pagar.
"Kapan Kapten pulang?"
"Informasi jadwal tugas tidak saya bagikan."
"Saya bagian komunikasi. Saya bisa tahu sendiri."
"Kalau memang berhak tahu, tanyakan melalui jalurmu."
Wati menggigit bibir. "Saya hanya khawatir laporan ini terlambat."
"Saya juga khawatir. Karena itu serahkan ke kantor sekarang."
"Ibu selalu bicara seperti ini?"
"Hanya ketika orang bertanya hal yang sama berkali-kali setelah mendapat jawaban."
Wati menatap rumah, meja kerja yang terlihat dari jendela, lalu pakaian rumah Laras yang masih sederhana setelah mengantar suami. Tatapannya mengandung penilaian yang terlalu pribadi.
"Kompleks ini punya aturan," katanya. "Istri perwira sebaiknya tidak merasa bisa mengubah semuanya."
"Saya tidak mengubah aturan. Saya justru meminta kamu mengikutinya."
"Ibu-ibu di sini belum tentu menerima perempuan yang datang dengan cerita seperti kamu."
Laras memiringkan kepala. "Jadi sebenarnya kamu datang membawa laporan atau membawa gosip?"
"Saya hanya memperingatkan."
"Peringatan diterima. Sekarang saya memberi peringatan balik. Jangan gunakan seragam, nama kompi, atau alasan laporan untuk urusan pribadi. Saya tidak akan memperdebatkan masa lalu denganmu di pagar."
"Takut terbongkar?"
"Tidak. Saya sudah pernah menjawab pertanyaan yang jauh lebih kasar di depan polisi dan satu jalan penuh warga. Kamu terlambat kalau ingin membuat saya malu dengan cerita lama."
Keyakinan dalam jawaban itu membuat Wati tidak segera menyahut. Laras menyadari perempuan ini mungkin hanya mendengar potongan rumor, lalu mengira istri baru Bram akan mudah ditekan.
"Kita lihat berapa lama Ibu bertahan."
"Mbak Laras."
"Apa?"
"Di luar situasi resmi, orang di sini memanggil saya Mbak Laras. Mas Bram sudah menjelaskannya kemarin."
Wati tertawa tanpa humor. "Saya prajurit. Saya tidak wajib memanggil istri atasan dengan Mbak."
"Benar. Kamu boleh memanggil Laras. Tapi jangan memakai `Ibu` untuk membuat saya terdengar jauh lebih tua sambil memanggil suami saya seolah kalian akrab."
Ucapan itu mengenai sasaran. Wati membuka mulut, lalu menutupnya.
Laras masuk ke teras dan memegang gagang pintu.
"Silakan pergi ke piket, Serda Wati. Saya akan memberi tahu Mas Bram bahwa ada seseorang datang membawa map tanpa identitas resmi."
"Jangan berani memutar ceritanya!"
"Saya akan menyampaikan persis apa yang terjadi. Kamera rumah juga merekam."
Mata Wati beralih cepat ke sudut teras. Kamera kecil yang dipasang penghuni sebelumnya masih aktif dan terhubung ke ponsel Bram serta Laras.
"Kamu sengaja menjebak saya?"
"Kamu datang sendiri."
Laras masuk dan menutup pintu depan.
Ia tidak langsung menjauh. Dari balik tirai, ia melihat Wati masih berdiri di pagar. Perempuan itu mengetik cepat di ponsel, lalu mencoba menelepon seseorang.
Laras menyimpan rekaman kamera ke folder khusus dan menulis waktu kedatangan. Setelah pengalaman dengan Tania, ia tidak akan membiarkan ancaman kecil tumbuh tanpa jejak.
Ia juga mengirim pesan singkat kepada pos jaga.
`Serda Wati datang membawa map mengaku laporan langsung untuk Kapten Bram. Tidak ada identitas dokumen dan menolak menyerahkan lewat piket. Mohon dicatat, belum perlu tindakan.`
Balasan masuk satu menit kemudian.
`Diterima, Mbak Laras. Tidak ada pengantaran laporan terjadwal ke rumah 27B pagi ini. Petugas ada di ujung blok.`
Laras menyimpan tangkapan layar. Ia tidak mengirim pesan kepada Bram. Suaminya baru berangkat dan perlu fokus. Kabar ini bisa menunggu sampai waktu komunikasi aman, kecuali Wati meningkatkan ancaman.
Di luar, Wati menerima telepon.
"Saya sudah sampai, tapi istrinya membuat masalah," katanya cukup keras agar terdengar. "Iya, saya tunggu."
Kalimat itu memastikan ada pihak lain yang mengetahui kedatangannya. Laras mencatatnya juga.
Wati mengetuk pagar lagi, kali ini lebih keras.
Sebelum Laras menjawab, suara Bu Ratna meledak dari luar.
"WATI! Kamu menggedor rumah orang pagi-pagi untuk apa?"