"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG JEBAKAN DAN MALAM YANG GELAP
Dunia Elara runtuh bukan dengan suara ledakan yang memekakkan telinga, melainkan dengan dentang sendok teh yang menabrak cangkir porselen di meja makan keluarganya. Pagi itu, tawa yang biasanya menghiasi rumah megah berarsitektur Eropa klasik itu lenyap tanpa bekas, digantikan oleh hening yang mencekam dan aroma keputusasaan yang begitu pekat. Ayahnya, seorang pengusaha properti yang selama puluhan tahun dipuja sebagai salah satu pilar industri negara, duduk dengan bahu terkulai dan mata yang kehilangan binar kehidupan. Saham perusahaan hancur dalam semalam akibat pengkhianatan mitra bisnis, meninggalkan utang bernilai ratusan miliar yang siap menelan seluruh aset, kehormatan, dan masa depan keluarga mereka.
Di tengah kehancuran itu, Elara dipaksa berdiri sebagai tameng terakhir. Tanpa ruang untuk bernegosiasi atau menawar, sebuah keputusan sepihak dijatuhkan ke atas pundaknya: ia harus menikah dengan seorang pria tua kaya raya yang sama sekali tidak pernah ia temui. Pria itu menuntut kepemilikan atas Elara sebagai jaminan pelunasan utang keluarga. Bagi ayahnya, ini adalah jalan keluar; bagi ibunya, ini adalah pengorbanan yang wajar demi mempertahankan martabat; namun bagi Elara, ini adalah vonis mati bagi jiwa dan impiannya.
Dua hari sebelum hari pernikahan yang ditakuti itu tiba, dinding-dinding rumahnya terasa makin menyempit dan mencekik. Setiap kali memandang gaun pengantin putih yang menggantung di sudut kamarnya, dadanya terasa dihantam godam berat. Tak sanggup lagi menahan napas di dalam penjara yang dinamakan rumah, Elara memutuskan untuk melarikan diri sejenak malam itu. Ia membutuhkan udara segar, kebisingan yang mampu menulikan bisikan ketakutannya, dan tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai putri pengusaha bangkrut yang dijual.
Ia melangkah masuk ke sebuah klab malam eksklusif yang terletak di pinggiran kota, tempat dentuman musik bass menyengat lantai dan lampu sorot warna-warni memotong kegelapan. Elara duduk sendirian di sudut bar yang agak remang, memesan segelas minuman, dan membiarkan pikirannya tenggelam dalam riak cairan amber di hadapannya. Namun, dalam kepolosannya yang diselimuti kesedihan, Elara tidak menyadari bahwa kecantikan dan gestur tubuhnya yang ringkih telah menarik perhatian predator malam.
Dua orang pria asing berpenampilan kumal dan bermata liar telah mengawasinya sejak ia melangkah masuk. Tanpa disadari Elara, saat ia memalingkan wajah untuk menatap panggung sebentar, salah satu dari pria itu dengan cekatan menjatuhkan butiran obat perangsang dosis tinggi ke dalam gelas minumannya. Saat Elara meneguk habis sisanya, jaring perangkap telah terpasang sempurna.
Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga efek racun kimia itu mulai menggerogoti kesadarannya. Rasa panas yang aneh tiba-tiba menjalar dari perut hingga ke lehernya, membuat napasnya memburu dan pandangannya mengabur. Menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya, insting Elara berteriak agar ia segera pergi. Namun, saat ia berdiri dan melangkah keluar melalui pintu belakang klab untuk mencari udara dingin, kedua pria itu sudah membuntutinya dari belakang dengan seringai culas.
Ketakutan mengalahkan rasa lemasnya. Elara berlari sekuat tenaga menembus kegelapan, meninggalkan area klab dan masuk makin dalam ke area hutan kota yang sepi dan lembap di belakang bangunan tersebut. Pepohonan tinggi menutupi cahaya bulan, meranting-ranting tajam menggores kulit tangannya, sementara suara langkah kaki kedua mengejarnya terdengar makin dekat. Rasanya paru-parunya ingin meledak, dan rasa panas di dalam tubuhnya membuat seluruh persendiannya gemetar hebat.
Tiba-tiba, di balik rimbunnya semak-semak tebal, Elara melihat pancaran sinar lampu mobil yang samar dan beberapa bayangan hitam berdiri di sebuah area lapang. Tanpa berpikir panjang, Elara menembus semak-semak itu dan berlari menuju sumber cahaya, berteriak meminta pertolongan dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Namun, pemandangan di hadapannya bukannya memberikan rasa aman, melainkan menyajikan kegetiran yang jauh lebih mengerikan. Di tengah area lapang itu, berdiri seorang pria berpostur tinggi tegap dengan mantel hitam panjang. Pria itu tengah menggenggam sebuah pistol bermoncong panjang, mengarahkannya tepat ke kepala seorang pria lain yang berlutut bersimbah darah di tanah—sebuah eksekusi dingin di tengah malam.
Dalam kondisi panik luar biasa, terengah-engah, dan dipengaruhi obat yang makin merusak logikanya, Elara tidak memedulikan pistol atau bahaya maut di hadapannya. Ia hanya melihat seorang manusia yang bisa melindunginya dari dua pria di belakangnya. Elara menerobos maju, langsung merangkul dan memeluk pinggang pria pemegang pistol itu dari samping, menyandarkan tubuhnya yang gemetar hebat sambil terisak pelan.
"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa pria berdarah dingin di hadapan mereka itu.
Saat bau mesiu menyengat hidungnya dan ia menyadari sepenuhnya bahwa pria yang ia peluk adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang memegang senjata api asli, ketakutan baru menyergap Elara. Ia mencoba melepaskan pelukannya dan melangkah mundur untuk kabur. Namun, reaksi obat di dalam tubuhnya mencapai puncaknya bersamaan dengan lonjakan adrenalin yang tiba-tiba anjlok. Kepalanya mendadak berputar hebat, pandangannya menjadi hitam pekat, dan tubuhnya ambruk kehilangan kesadaran.
Sebelum tubuh Elara menyentuh tanah yang basah, lengan berotot milik Haidar bergerak cepat menahan pinggangnya. Haidar menatap wajah pucat gadis muda di pelukannya yang kini bernapas tidak teratur akibat efek obat. Tanpa mengacuhkan tawanan yang terluka atau anak buahnya yang bersiap menerima perintah lanjutan, Haidar mengangkat tubuh Elara dengan mudah ke dalam dekapan tangannya. Dengan langkah tenang namun penuh dominasi, ia memapah dan membawa gadis asing itu masuk ke dalam kursi belakang mobil SUV hitamnya, meluncur membelah kegelapan malam menuju mansion mewahnya.