Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Cici Manis Saat Malu
Mariana memandang tiga kotak hadiah di meja makan lalu menatap Nathan.
"Kau hanya diminta datang makan, bukan melamar Keira lagi."
"Teh untuk Papa, bros untuk Mama, dan kue untuk rumah," jawab Nathan. "Ko Marcus yang memilih."
Herman menyentuh kotak teh dengan hati-hati. "Ini pasti mahal."
Keira menyikut Nathan sebelum ia menyebut harga. "Papa minum saja. Kalau tidak enak, berikan ke tamu."
Nathan mengangguk sungguh-sungguh. "Kalau tidak enak, saya ganti."
"Sudah, duduk," kata Mariana, tetapi senyumnya hangat.
Makan malam di rumah Menteng itu seharusnya menjadi pertemuan sederhana sebelum dua keluarga bertemu resmi pada Sabtu. Fabian datang paling akhir. Ia berhenti di ambang ruang makan ketika melihat Nathan duduk di samping Keira.
"Ko Fabian," sapa Keira.
"Kei." Fabian menyerahkan sebotol anggur kepada Mariana, lalu menjabat tangan Nathan. "Selamat datang di rumah kami."
"Terima kasih, Ko Fabian."
Kedua laki-laki tersenyum. Udara di antara mereka tidak.
Mariana mengumumkan bahwa Sabtu itu keluarga Halim akan datang untuk membicarakan pemberkatan dan resepsi. Fabian segera menawarkan bantuan.
"Aku bisa meminta chef Restoran Renjana memasak di sini. Kei menyukai menu mereka."
"Tidak perlu," kata Keira. "Bi Surti dan staf rumah cukup."
"Kau selalu memesan sup jamur mereka saat ulang tahun."
"Dulu. Sekarang aku ingin yang sederhana."
Nathan mengambilkan air tanpa ikut menyela. Ia tahu kemenangan terbesar malam itu adalah membiarkan Keira membuat batas sendiri.
Fabian tetap tenang. "Kalau berubah pikiran, bilang kepadaku."
Sepanjang makan, Herman lebih banyak diam. Setiap kali Fabian membicarakan perusahaan atau keputusan keluarga, bahu Papa sedikit merendah. Keira menanyakan renovasi warung untuk menariknya kembali ke percakapan. Nathan ikut bertanya tentang resep kuah yang paling laris, dan wajah Herman akhirnya hidup.
"Saya tidak pandai bisnis besar," kata Herman, "tapi pelanggan kembali kalau rasa tidak berubah."
"Prinsipnya sama dengan teknologi," jawab Nathan. "Orang kembali kalau produk memenuhi janji."
Fabian memutar gelas anggurnya. "Teknologi juga cepat digantikan kalau janji itu gagal."
"Karena itu kami menguji sebelum meluncurkan."
"Pernikahan kilat tidak sempat diuji."
Sendok Mariana menyentuh piring sedikit lebih keras. Keira meletakkan tangannya di atas meja.
"Aku yang memilih waktunya, Ko."
Fabian menatapnya, lalu tersenyum. "Aku hanya khawatir."
"Aku akan bilang kalau butuh bantuan."
Percakapan beralih, tetapi Nathan menyimpan setiap kata.
Mariana kemudian bertanya soal tanggal. Keira menyebut tiga bulan lagi, setelah NARA selesai membentuk tim inti. Herman langsung menghitung hari dan bertanya apakah keluarga kecil dari kota lama perlu diundang. Keira menuliskan nama mereka di ponsel agar Papa tidak merasa suaranya kalah oleh daftar konglomerat.
"Pemberkatan di gereja, lalu resepsi di The Halimun Resort," kata Nathan. "Tapi jumlah tamu dan acaranya kami putuskan bersama."
Fabian menyeka bibir dengan serbet. "Tiga bulan cukup lama. Banyak hal bisa berubah."
"Kalau berubah, Keira dan aku yang mengubahnya," jawab Nathan.
Nada suaranya sopan, tetapi meja mendadak senyap. Mariana menatap Nathan dengan penilaian baru. Keira menyentuh lutut suaminya di bawah meja, bukan untuk menghentikan, melainkan memberi tahu bahwa ia mendengar.
Fabian menuangkan air untuk Keira seperti kebiasaan lama. Nathan tidak merebut gelas. Ia menunggu Keira memindahkannya sendiri, lalu menawarkan kendi lain. Keira memilih menuang airnya sendiri. Dua laki-laki itu mendapat jawaban yang sama tanpa perlu pertengkaran.
Setelah hidangan penutup, Herman mengajak Nathan melihat foto warung yang direnovasi. Fabian mencoba membicarakan laporan Grup Kencana dengan Mariana, tetapi Mariana memotong.
"Malam ini bukan rapat. Kalau ada dokumen, bawa besok."
Untuk pertama kali malam itu, Fabian terlihat seperti orang luar di rumah yang selalu ia kendalikan.
Fabian mulai menyukai Keira ketika ia sendiri berusia dua puluh dan Keira baru masuk rumah Sutanto. Ia berperan sebagai kakak sempurna: mengantar sekolah, membela dari ejekan, menyaring teman, dan memberi hadiah. Dua tahun kemudian ia mengaku. Setelah ditolak, ia berjanji tetap menjadi kakak, namun diam-diam menyingkirkan setiap laki-laki yang mendekat.
Keira tidak tahu berapa banyak keputusan di sekelilingnya telah disentuh Fabian. Nathan kini memegang bukti satu di antaranya.
Seusai makan, Fabian menawarkan mengantar mereka. Keira menolak dan masuk ke mobil Nathan. Sepanjang jalan pulang, ia diam.
"Papa takut kepadanya," kata Nathan.
"Papa merasa menumpang di keluarga Mama. Ko Fabian tidak pernah menghina langsung, tapi dia membuat Papa merasa semua keputusan harus melewatinya."
"Dan kau?"
"Dulu aku juga begitu. Sekarang tidak lagi."
Nathan meraih tangannya di konsol, menunggu. Keira membalik telapak dan menggenggam.
Di Apartemen Verde, ketegangan makan malam perlahan berubah menjadi kehangatan. Nathan berdiri di belakang Keira saat ia melepas anting. Bibirnya menyentuh sisi leher setelah Keira mengangguk.
"Jangan tinggalkan bekas," kata Keira.
"Kenapa?"
"Besok aku bekerja."
"Aku juga."
"Kau CEO. Tidak ada yang berani bertanya."
Nathan mencium lebih pelan, tepat di bawah telinga. Keira menahan meja rias ketika napasnya tersangkut.
"Cici manis sekali kalau malu," bisiknya.
"Aku tidak malu."
"Telingamu membantah."
Keira berbalik, lalu melihat tanda merah samar di leher Nathan akibat ciumannya sendiri. "Kau juga punya bekas."
"Aku akan memakainya dengan bangga."
"Kancingkan kerah."
Nathan tertawa dan mencium keningnya. Tidak ada tuntutan lebih. Ia membantu Keira membersihkan meja, mengisi air, lalu menanyakan jadwal esok hari.
Di ranjang, Keira menatap garis wajah Nathan yang tertidur. Laki-laki itu benar-benar menyukainya. Bukan karena ia membutuhkan adik, bukan karena pernah menyelamatkan atau merasa berjasa. Nathan menyukainya dengan cara yang kadang berlebihan, tetapi ia juga belajar mundur saat diminta.
Kesadaran itu membuat dada Keira hangat sekaligus takut.
Nathan membuka mata, seolah merasakan tatapannya. "Kenapa belum tidur?"
"Aku sedang memastikan kau tidak mendengkur."
"Hasilnya?"
"Belum cukup data."
Nathan mengulurkan tangan. Keira mendekat dengan kemauan sendiri dan meletakkan kepala di bahunya. Ia masih takut pada kecepatan perasaan itu, tetapi kali ini tidak menjadikan takut sebagai alasan untuk mundur.
Di sisi lain kota, Bentley hitam berhenti di depan Core Club. Fabian turun dengan kemeja gelap dan wajah tenang. Kevin menyambutnya di bawah lampu pintu masuk.
"Ko Fabian datang untuk minum atau bisnis?"
"Bisnis."
"Dengan siapa?"
Fabian memandang jendela lantai dua. "Mereka masih di atas?"
Kevin mengikuti arah pandangnya. "Kalau maksudmu orang Gunawan, masih. Pak Erwin datang satu jam lalu."
Fabian menyerahkan kunci mobil kepada petugas. "Bagus. Ada rahasia bisnis yang harus kubicarakan."
Ia menaiki tangga menuju ruang privat tanpa sekali pun menoleh.
Di lantai dua, sebuah kesepakatan kotor sudah menunggu, dibungkus wiski mahal dan pintu kedap suara yang rapat.
Diam-diam.