Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN ENAM

Suasana di SMA Merah Putih tidak terlalu ramai, dikarenakan ini adalah hari sabtu dimana hanya ada aktivitas ekstra kulikuler saja di sekolah. Tampak beberapa siswa – siswi mulai berdatangan kesekolah mengenakan pakaian dan beberapa ada yang menggunakan seragam ekstra kulikulernya.

Sepeda motor milik Langit terlihat masuk ke tempat parkir sepeda motor, Langit langsung memarkirkan sepeda motornya dan segera melepaskan helm yang dikenakannya. Dari atas sepeda motor, Langit melihat Rindu sedang duduk seorang diri di bangku luar kelas. Langit dan Allisya yang berjalan menuju kedalam sekolah, mendekati posisi dimana Rindu berada, langsung merangkul Allisya dengan maksud menarik perhatian Rindu. Namun, semua berbeda, Rindu tak bergemih sama sekali dia tetap duduk sambil terus menatap layar handphone ditangannya. Langit berusaha melirik ke arah Rindu dengan tangan masih merangkul bahu Allisya. Allisya yang berpikir Langit menyukai Rindu pun merasa tidak enak saat melintasi Rindu dengan Langit merangkulnya,

"Ih kakak apaan sih" Ucap Allisya sambil melepaskan tangan Langit dari bahunya.

"Kemana resenya, kemana galaknya, kenapa jadi tiba-tiba kangen sama sifat nya yang kemaren ke gua" Ucap Langit dalam hati dengan wajah penuh tanya saat melihat ke arah Rindu yang tidak berubah posisi ataupun mimik wajahnya.

"Kak aku ke ruang UKS duluan ya, udah ditungguin" Ucap pamit Allisya kepada Langit , yang sontak menghilangkan lamunan Langit dengan seketika.

"Eh.. Eh iya Sya, iya iya , duluan aja nanti kakak nyusul, eh maksudnya kakak juga mau latihan" jawab Langit dengan tidak jelasnya.

Allisya pergi menuju ruang UKS, begitu pula Langit, dia berlalu menuju kamar mandi sekolah dengan sesekali melihat ke arah Rindu yang tetap kokoh dengan posisinya. Langit pun masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Selang beberapa menit Langit pun keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian untuk bermain bola basket, dengan sambil menjinjing tas nya. Sambil berjalan menuju lapangan, Langit pun menyempatkan melihat ke arah Rindu tadi, dan tetap... ya tetap , Rindu tetap pada posinya seperti tadi sambil memegangi handphonenya dan menundukkan wajahnya.

"Ada apa sih sebenernya? Kenapa baru gue rasa banget kehilangan sebuah keceriaan dari seseorang, kehilangan rasa diomelin diajak berantem oleh orang lain, kemana Rindu , cewek super rese yang setiap hari nggak pernah gue lihat semurung ini " Ucap Langit dalam hatinya sambil terus memandang ke arah Rindu dan terus berjalan menuju lapangan.

Di lapangan, Langit mulai bergabung dengan teman-temannya untuk berlatih basket. Langit langsung bergabung ikut bermain ketengah permainan bola basket yang sedang berlangsung. Suasanya permainan basket pun semakin terlihat seru, semua seakan tidak ada yang mau kalah, semua bermain dengan serius. Hingga saat Langit ingin melempar bola kearah ring, dia masih menyempatkan melihat ke arah Rindu , Dia melihat sekarang di sana ada 3 teman Rindu yaitu Gina , Chintia , dan Jesika sedang memeluk Rindu. Melihat hal tersebut, konsentrasi Langit pun buyar, hilang seketika, bola yang dilempar nya jauh dari yang seharusnya , tidak sama sekali mengarah ke ring, malah mengenai wajah Robby , teman nya yang sama-sama bermain basket juga.

"Waduh aw, ring di mana ngelempar kemana, sengaja banget dah lu El" Ucap Robby sambil memegang wajahnya. El, ya biasa beberapa temen-temennya Langit memanggil dirinya,

"Sorry mban, nggak sengaja gue , tiba-tiba nggak fokus gue, sorry ya mban" Ucap Langit kepada Robby atau biasa dipanggil Jamban oleh temannya, dan berlalu meninggalkan permainan menuju pinggir lapangan.

Di sisi lain, di tempat Rindu berada, dia sedang ditemani oleh ketiga temannya. "Lu kenapa sih Rin, dari tadi gue liat lu diem aja di sini sambil terus ngeliatin handphone lu, ada apa? Cerita ke kita" tanya Gina kepada Rindu.

"Nyokap gue....." jawab Rindu dengan terisak isak.

"Kenapa Nyokap lu Rin?" Tanya Jesika yang semakin penasaran melihat ekprsi wajah Rindu

Rindu lalu memperlihatkan handphone nya kepada temannya, Rindu menunjukkan foto dalam handphonenya, foto di mana Ibunya Rindu sedang koma di ICU sebuah rumah sakit. Gina, Jesika , dan Chintia sangat terkejut saat melihat foto yang ditunjukkan Rindu. lu"Ya ampun Rin, nyokap lu kenapa? Kok bisa sampe begitu" Tanya Chintia dengan wajah terkejut dan sedih.

"Nyokap gue semalem kecelakaan pas pulang bawa uang buat gaji pegawai" Ucap Rindu.

"Astagfirullah al adzim, terus lu sama bokap lu tahunya darimana Rin ?" Tanya Chintia sambil terus memeluk Rindu.

"Gue ditelepon sama polisi yang nolungin nyokap gue tadi" jawab Rindu sambil terus menangis.

"Gimana ceritanya , coba lu ceritain" tanya Gina yang semakin penasaran tentang apa yang dialami oleh Setiana, ibu dari Rindu.

"Ini juga gue denger dari supir nyokap, setelah dia sadar. Nyokap gue kemaren pulang malem, soalnya mau ngurus gaji pegawainya, sepulang dari kantornya dia menuju atm" Rindu berusaha menceritakan semua yang dia ketahui.

***

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, terlihat Setiana keluar dari kantornya menunggu di depan lubby gedung. Setiana mengeluarkan handphonenya dang melakukan panggilan keluar. "Halu pak Wit, saya udah di depan ya, cepet kamu kemari" ucap Setiana

Selang beberapa menit, mobil sedan putih pun berhenti di depan lubby gedung. Keluarlah seorang lelaki setengah baya dari pintu supir mobil, membukakan pintu belakang mobil. Ibu nya Rindupun masuk kemobil tersebut. Lelaki itupun menutup pintu kembali dan masuk kedalam pintu supir mobil. Mobilpun langsung melaju.

Di sebuah ATM center di ruko-ruko, tibalah mobil ibunya Rindu yang langsung parkir. Setelah terparkir, Ibu nya Rindu pun turun dari mobil dan menuju kedalam ATM Center. Tampak dari kejauhan beberapa lelaki mengamati dari dalam mobil. Setelah beberapa menit keluarlah ibunya Rindu dari ATM Center membawa beberapa amplup coklat besar. Setiana pun langsung menuju parkiran dan masuk kedalam mobil. Tidak terlalu lama mobil itupun melaju. Lelaki yang tadi mengamati pun menutup jendela mobilnya dan langsung memacu mobilnya.

***

"Ternyata mobil itu mengikuti mobil nyokap gue, supir nyokap gue pun merasa dibuntuti sehingga bilang ke nyokap gue, nyokap gue pun langsung menghubungi kepolisian 112, bilang bahwa dia dibuntuti setelah mengambil uang dari atm" Lanjut Rindu menjelaskan.

***

Suasana semakin gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, namun mobil itu masih membuntuti, Pak Wito pun memberi tahu ke Setiana. "Ibu, sepertinya mobil yang dibelakang dari tadi ngikutin kita, saya pelan dia pelan saya ngebut dia ikutan, dari atm tadi saya liat mereka sudah mengamati ibu, lebih baik ibu telepon nomor darurat kepolisian yang baru saja bu, 112" Kata Wito supir Setiana.

Setiana langsung mengeluarkan handphone dari tas miliknya lalu menghubungi 112. "Halu pak saya mau laporan, saya ibu setiana dari perusahaan Ratu building, tadi saya dari ATM untung mengambl uang gaji karyawan, saya di buntuti, sampe sekarang ini mobil itu masih buntutin saya pak,... saya di jalan depan komplek perumahan Griya utama ,mobil saya dedan putih B 6613 KVG pak, ....... baik pak, iya pak, siap pak " ucap Setiana menelepon dan langsung mennggakhiri panggilannya.

"Pak wit, tadi kata polisi, kita disuruh mengulur waktu selama polisi datang kemari, sebisa mungkin kita berputar-putar d jalan yang ramai tapi tidak macet. Hingga akhirnya kita ke bunderan depan mall, nanti polisi di situ" Setiana menjelaskan apa yang diminta polisi kepadanya dalam telepon kepada Pak Wito.

"Siap Bu, naaf ya bu saya mau sedikit menambah kecepatan" Kata Pak wito sang supir.

Pak wito memacu lebih cepat mobilnya. Mobil yang mengikutinya itupun ikut menambah kecepatannya, hingga akhirnya terjadi kejar-kejaran antara kedua mobil itu di jalan yang lumayan ramai. Di persimpangan perempatan jalan, Pak Wito yang berencana ingin lurus tiba-tiba membanting setir mobilnya berbeluk ke arah kiri, karena lampu merah telah menyala. Sontak banyak kendaraan lain yang berhenti ataupun yang ikut membanting ke arah kiri menghindari tabrakkan.

Waktu sudah semakin malam, hujan pun sudah turun dan semakin deras, tiba-tiba handphone ibunya Rindu pun berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Ibunya Rindu pun membuka pesan tersebut. Ternyata dari kepolisian dengan isi pesan Selamat malam ibu saya Inspektur Nugroho sudah berada di tempat yang tadi di janjikan, tolung ibu ke arah kami biar nanti saya sergap disini". Setiana menaruh kembali handphonenya ke dalam tas dan memberi tahu pak wito.

"Pak wit , sekarang ke arah bunderan depan mall ya, polisi sudah di sana" Pinta Setiana.

"Baik Bu" Jawab Pak wito, Pak Wito semakin memacu mobilnya lebih cepat, jalan ke arah sana sangat lengang.

Bunderan jalan yang mereka tuju sudah terlihat , Pak Wito melihat mobil hitam di depannya yang sedang berhenti memberi tanda lampu tembak kepadanya. Setelah mobil Setiana melewati mobil hitam itu, mobil hitam itu langsung menutup jalan dari mobil yang dari tadi membuntuti mobil Setiana. Seperti yang di duga mobil hitam itu adalah polisi yang tadi menghubungi Setiana. Beberapa Polisi pun terlihat langsung meringkus para pria yang membuntuti mobil ibunya Rindu. Pak wito yang dari tadi memacu mobilnya dengan cepat, mulai memperlahan laju mobilnya.

"Alhamdulillah ya bu untung polisi sigap setelah menerima laporan ibu, kalu nggak bisa jadi pembalap beneran ini saya bu, kayak siapa tuh yang pembalap mobil, oh iya lionel messi" canda Pak Wito.

"Iya Pak Wit, Alhamdulillah, tapi ngomong-ngomong Lionel Messi bukan nya pesulap ya? Ngaco nih Pak Wit" Setiana seketika menjawab candaan Pak Wito

Setiana tertawa dan Pak wito tersenyum malu, tapi karena sempat tidak fokus melihat ke jalan, tiba-tiba ada seorang lelaki tua menyeberang di depan mobilnya. "Pak Wit Awaaassss!" Teriak Setiana

Pak wito yang melihat lelaki tua itu terkejut hingga akhirnya membanting setir mobilnya dan menabrak pembatas jalan hingga mobil itu terguling-guling. Pak wito yang mengenakan sabuk selamat tidak terlalu parah hanya shock dantak sadarkan diri. Namun Setiana yang duduk di belakang sampai terpelanting keluar mobil disaat pintu mobilnya terbuka.

Polisi yang sedang meringkus penjahat melihat kejadian itu, beberapa polisi berlari menuju mobil Setiana termasuk Inspektur Nugroho yang tidak lain adalah Ayah dari Langit. Beberapa polisi mengamankan mobil milik Setiana, ada pula yang mengumpulkan barang-barang miliknya, Inspektur Nugroho tampak membopong Setiana dan polisi lain membopong pak Wito menuju salah satu mobil polisi yang ikut datang menghampiri ke mobil Setiana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!