Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pegang Atau Tegang
Bab 17
Mobil yang dikemudikan Ruby memasuki kawasan sekolah Adly. Sekolah swasta yang ia tahu biaya pendidikannya tidak murah. Begitupun dengan sekolah Jelita. Rupanya Bara memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
“Nanti kami dijemput juga, bun?”
“Iya dong. Weekend kita main ya, nanti aku bilang sama papi kalian.”
“Main ke mana?” tanya Adly.
“Bebas, kalian mau ke mana. Mall, taman bermain, tempat wisata.”
“Mall boleh Bun, aku mau nonton sama ke time zone. Papi nggak pernah kasih kita main.”
“Tenang, ada bunda. Papi kalian pasti kasih izin,” sahut Ruby. Ngga di izinin, tinggal gue gigit aja hidungnya.
Berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah Adly, Ruby mengingatkan agar tidak ada yang terlupa. Membuka tas mengeluarkan dompet untuk memberikan uang jajan, nyatanya ditolak Adly.
“Papi sudah kasih uang mingguan.”
“Tapi sedikit,” Jelita cemberut.
“Biar kita nggak banyak jajan, lagian udah ada bekal juga,” cetus Adly lebih bijaksana. Mencium tangan Ruby lalu keluar dari mobil.
Ruby menurunkan kaca jendela. “Bang, kalau ada yang naksir seleksi aja. Kabari kalau butuh bantuan,” ujarnya agak berteriak. Adly sempat tercengang lalu bergegas masuk meski dengan langkah tertatih karena menjadi perhatian.
“Bunda, ada teman abang yang suka telpon dan kirim pesan. Tapi dicuekin sama abang.”
“Namanya juga turunan Barata.”
“Loh, emang papi gitu juga?”
“Hm.” Ruby mengangguk sambil fokus dengan kemudi menuju sekolah Jelita, berjarak hanya beda 5 menit perjalanan. “Justru yang dingin dan cuek begitu, bikin perempuan penasaran. Wajar kalau abang kamu digandrungi cewek-cewek. Lihat aja nanti pas SMA atau kuliah. Bisa jadi playboy.” Ruby terkekeh sendiri.
“Bikin abang lebih pede ya Bun. Kata Opa abang minder karena kondisi fisiknya.”
“Opa bilang begitu sama kalian?”
“Nggak. Aku nguping, obrolan mereka.”
Ruby menoleh dan kembali fokus dengan kemudi. “Jelita, mencuri dengar obrolan orang tua itu tidak baik. Sengaja atau tidak, sebaiknya jangan dilanjutkan. Kalau mereka tidak melibatkan kamu, berarti belum waktunya.”
“Awalnya nggak sengaja, tapi keterusan.”
“Lain kali jangan ya, mana tahu mereka bicarakan masalah hantu. Yang ada kamu malah takut.”
“Hantu, bun?”
“Iya.” Ruby mengangguk yakin.
“Papi bilang di dunia ini tidak ada hantu.”
Dalam hati Ruby merutuk, Bara kaku sekali mendidik anak-anak.
“Ya memang tidak ada hantu, tapi setan ada. Setiap orang di hatinya ada setan, yang suka bisik-bisik mengajak berbuat nakal. Lebih serem lagi setan perempuan selevel jin dasim, cantik di luar busuk di dalam,” jelas Ruby lalu menghentikan mobil karena sudah sampai, merubah posisi duduk menyerong menghadap Jelita yang ada di sampingnya. “Setan ini sangat berbahaya, kamu tidak boleh terhasut apalagi jadi seperti dia. Namanya … valakor,” lirih Ruby setengah berbisik seolah tidak ingin didengar orang lain, padahal hanya ada mereka berdua di dalam mobil.
“Valakor?”
“Hm. Ini rahasia kita berdua, jangan sampai papi kamu tahu. Laki-laki mana peka masalah begini. Sudah sampai, belajar nggak usah serius. Kamu udah pinter kok.”
“Hah, tapi ….”
Ruby mengulurkan tangannya pada Jelita yang langsung dicium dengan takzim.
“Sampai nanti, cantiknya Barata, eh tapi aku juga cantiknya Mas Bara.”
Jelita keluar dari mobil dan sempat melambaikan tangan sebelum memasuki gerbang sekolah.
“Kalau papinya tahu gue doktrin begitu, bisa ceramah sehari semalam dah. Tapi, kalau dia ngoceh-ngoceh tinggal gue cip0k aja. paling langsung pingsan, merinding sebadan-badan.” Ruby tergelak membayangkan Bara panas dingin dicium olehnya. Jadi penasaran, rasa bibir mas bojo.”
Drt drt
Nama Meldy muncul di layar.
“Ya ampun, pasti ngomel ini.” Ruby meringis karena belum juga menghubungi balik Meldy, bahkan pesan-pesan pria itu hanya dibaca saja. “Selamat pagi, Meldy sayang.”
“sayang-sayang, meriang gue dengar lo bilang sayang di mulut doang, tapi kelakuan kayak orang ngutang terus menghilang.”
“Apa sih, masih pagi udah ngomel.”
“Gue menuju apartemen lo, ketemu di sana.”
“Eh, waduh.” Panggilan diakhiri sepihak. Padahal Ruby berniat menyelesaikan skripsi dan menodong acc pada Bara. Lebih cepat ia daftar sidang tentu saja lebih baik. selanjutnya ia akan fokus dengan pekerjaan dan statusnya sebagai istri dan ibu tiri.
Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya tiba di apartemen. Keluar dari lift mendapati Meldy berdiri di depan pintu unit menekan bel dan menelponnya.
“Eh, gue di sini.”
“Astaga Ruby, untung lo cewek ya. Kalau cowok udah gue ajak gelut.”
“Sabar, orang sabar sawahnya lebar tahu.” Ruby menekan angka smart lock unitnya.
“Gue tuh manager lo By, tapi susah amat ketemu. Pin apartemen aja lo ganti mulu.”
“Privacy kali, kadang gue butuh menyendiri.”
Meldy membuka pintu unit dan langsung duduk di sofa dengan menyilang kaki dan bersedekap. Jangan tanya bagaimana raut wajahnya, sudah mirip bapak kost menghadapi penghuni kost telat bayar sewa.
“lo nggak pengen minum dulu atau ….”
“Duduk!” titah Meldy.
Ruby pun duduk di sofa berseberangan dengan Meldy.
“Gimana skripsi lo, udah kelar ‘kan? Kerjaan udah nunggu, lo jangan ngilang gitu dong.”
“Hm, sayangnya … belum.”
“Hah, belum? Udah hampir seminggu, lo ngapain aja sama dosen lo?”
“Nikahlah, apalagi coba. Orang digrebek warga.”
“Oh my god, lo jangan bercanda Ruby.”
Ruby menghela nafas lalu berbaring di sofa memeluk bantal menatap langit-langit ruangan.
“Nggak bercanda Mel, gue udah nikah sama dosen pembimbing gue itu.”
“Harusnya jalan lo makin mudah dong. Btw, dia masih muda dan single ‘kan?”
Ruby berdecak. “Boro-boro. Orang udah mateng mana duda anak dua, tapi ganteng sih.”
“Astaga, terus lo cinta sama dia?”
Kali ini Ruby menggeleng. “Belum kayaknya, tapi ….”
“Tapi lo bakal cinta sama dia, terpesona sama dia? Terus kerjaan kita gimana, Ruby. Kalau lo hamil, mana ada produk yang pake lo bawa buntelan kemana-mana.”
“Hamil gimana, unboxing juga belum.” Ruby beranjak duduk dan melempar bantal ke arah Meldy.
“Lah, udah nikah tapi belum di unboxing, kalian ngapain aja?”
“Lirik-lirikan, marah, bercanda, ya … gitu aja.”
“Lo yakin dia normal? Udah lihat punya dia teg4ng?”
Pertanyaan itu membuat pikiran Ruby mendadak travelling. “Nggak tahu. Gue pegang aja kali ya, untuk tahu teg4ng apa nggak."
\=\=\=\=\=
pegang jangan ?🤭🤣
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭