Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Saling Bekerjasama

Candra menatap putrinya tajam. "Apa katamu?"

Raven langsung berdiri tegak. "Laura."

"Aku membayar beberapa orang untuk memburu perempuan itu dan … membunuhnya." Ungkap Laura, “Kematian adalah hukuman yang pantas karena dia telah berani menyentuh milikku. Sion milikku, baik hati maupun tubuhnya adalah milikku.”

Ruangan menjadi semakin sunyi… sangat sunyi. Mereka masih tidak menyangka bahwa Laura berani melakukan hal sekejam itu. Bahkan kini Laura dengan mudahnya mengungkapkan kejahatannya delapan tahun yang lalu.

"Aku hanya ingin dia selamanya menghilang dari dalam hidup Sion." Laura menelan ludah. "Seharusnya saat itu semuanya selesai."

Candra berdiri. "Laura, apa yang kau lakukan sudah terlalu jauh?"

Namun, Laura mengabaikan begitu saja perkataan Ayahnya dan malah bergumam, "Aku tidak tahu kenapa mereka gagal. Sehingga wanita itu bisa kembali lagi dan bahkan… membawa dua bocah itu sebagai anak Sion."

Raven menatap adiknya dengan tidak percaya. "Jadi selama ini..."

"Ya."

Laura mengangkat wajahnya. Ada kemarahan, penyesalan, sekaligus kebencian di sana. Kemarahan karena Raina berhasil kembali dan bahkan memiliki anak dengan Sion. Penyesalan karena setelah mendapat kabar bahwa Raina menghilang, ia tidak menambah orang untuk mencari dan membunuhnya. Kebencian, karena Sion kembali memilih wanita itu.

"Kalau saja mereka berhasil delapan tahun lalu..." Tangannya mengepal. "...aku tidak akan menghadapi semua ini sekarang. Sion akan menjadi milikku sepenuhnya… menjadi Nyonya muda Maximillian."

Sarah menutup mulutnya. "Ya Tuhan... apakah kembalinya Raina kali ini untuk membalas dendam?"

Candra terlihat pucat. "Laura, kau tidak mengerti apa yang telah kau lakukan. Jika Sion sampai mengetahuinya, maka keluarga kita akan terancam."

"Aku menyesal."

Raven menatapnya tajam. "Menyesal karena melakukannya?"

Laura menggeleng. "Menyesal karena telah gagal menyingkirkannya saat itu."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali membeku. Laura berjalan perlahan menuju jendela. Di luar, lampu-lampu kota terlihat berkilauan. "Kalau saat itu Raina tidak selamat..."

Laura tersenyum dingin. "Sion tidak akan pernah tahu bahwa dia memiliki anak."

Raven menatap adiknya dengan sorot mata yang berubah. "Jangan lagi, Laura."

Laura menoleh. "Apa?"

"Jangan lanjutkan."

"Aku hanya ingin Raina mati dan Sion menjadi milikku."

"Laura, dengarkan aku." Raven melangkah mendekat. "Raina sudah kembali. Sion sudah mengetahui semuanya. Sekarang dia memiliki dua anak. Sebaiknya kau menyerah saja terhadapnya."

Tatapan Raven menjadi serius. "Kalau kau menyentuh mereka..." Dia berhenti. "...Sion tidak akan memberimu kesempatan kedua."

Laura tidak menjawab. Namun di dalam kepalanya, sebuah nama terus berputar. Raina dan dua anak kembarnya. Delapan tahun lalu, Raina berhasil lolos. Kesalahan yang tidak pernah Laura maafkan kepada dirinya sendiri.

Kini, ketika perempuan itu kembali bersama dua anak yang ternyata merupakan darah daging Sion, Laura merasa seolah takdir sedang memberinya kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki kegagalan masa lalu.

“Dulu memang aku gagal membunuhnya,” gumam Laura dengan ekspresi yang menyiratkan sesuatu, “Namun, belum terlambat untuk membunuhnya dan dua bocah itu sekarang.”

Tanpa Laura sadari, di saat yang sama, sebuah pesan telah tiba di ponsel Candra. Satu nama muncul di layar. Calista Kayfrany. Candra menatap layar cukup lama. Lalu mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menyadari bahwa masalah keluarga Fernandez dengan keluarga Maximillian mungkin jauh lebih besar daripada sekadar pembatalan pernikahan.

Candra masih berdiri di depan jendela ketika ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Calista Maximillian masih terpampang jelas di layar. Sebuah tawaran kerja sama. Sebuah persekutuan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, setelah mendengar pengakuan Laura, Candra tahu bahwa putrinya tidak akan berhenti begitu saja. Dan jika Laura bertindak sendiri, kehancuran keluarga Fernandez hanya tinggal menunggu waktu.

“Nyonya Calista menghubungiku! Dia mengajak kita bekerjasama untuk menyingkirkan Raina dan kedua anak itu,” ujar Candra memberitahu Istri dan anaknya.

Mendengar hal itu, Laura seketika langsung bersemangat, “Tunggu apalagi, Pah! Terima saja tawaran itu.”

Candra beralih menatap Istri dan putra sulungnya untuk meminta pendapat. Sampai akhirnya Raven berkata, “Laura sudah terlanjut berbuat sejauh itu. Jika kita tidak menyingkirkan Raina dan kedua anak itu, maka tinggal menunggu waktu kita yang akan disingkirkan oleh Sion.”

“Benar, Suamiku! Saat ini Sion pasti sudah mengerahkan apara anak buah terbaiknya untuk menyelidiki masalah delapan tahun yang lalu. Jika Raina lenyap, maka kejadian delapan tahun yang lalu akan ikut lenyap bersamanya.”

“Baiklah, aku mengerti maksud kalian.” Candra tahu jawabannya sekarang dan apa yang harus ia lakukan.

Candra akhirnya mengetik balasan singkat. Saya menerima. Atur pertemuan.

Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, balasan masuk. Besok malam. Restoran Bellagio. Ruang privat lantai tiga.

"Papah sudah menerima tawaran itu?" Suara Raven terdengar dari belakang.

Candra mengangguk. "Ya."

Raven menghela napas. "Papah tahu siapa yang akan kita lawan, bukan?"

"Keluarga Maximillian."

"Lebih tepatnya?" Candra menatap putrinya yang masih berdiri di dekat jendela. "Sion."

Raven terdiam, begitu juga Sarah. Sementara Laura justru tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, amarah di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. “Karena itulah kita harus segera mencari cara untuk menyingkirkan wanita sialan itu dan kedua anaknya.”

...****************...

Mobil hitam berhenti tepat di depan tangga utama mansion. Begitu pintu terbuka, Sean dan Shia turun lebih dahulu. Keduanya langsung terdiam, mata mereka seketika membesar. Saat dihadapan mereka berdiri sebuah mansion megah dengan pilar-pilar tinggi, taman luas, air mancur, dan lampu-lampu yang membuat seluruh halaman terlihat seperti istana.

Sean mendongak. "Wah..."

Shia membuka mulutnya. "Ini rumah Kakek Buyut?"

Sion yang baru turun dari mobil hanya mengangguk. "Mm, rumah Papah juga."

Kedua bocah itu saling pandang. Sepertinya Sean dan Shia masih tidak percaya bahwa Papah mereka kaya raya. Namun, mengingat blackcard yang sudah sudah Sion keluarkan sebelumnya, pikiran itu pun segera mereka tepis jauh-jauh.

Kemudian mereka berlari ke arah Sion seraya berseru, "Papah!"

Sion refleks mengulurkan tangan ketika Sean hampir tersandung. "Pelan."

Shia menunjuk ke arah bangunan utama. "Papah! Besar sekali!"

"Ini semua punya Papah?"

"Mm."

Sean menatap Sion dengan kagum. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan curiga. Tidak ada anggapan bahwa pria di hadapan mereka adalah gelandangan. Tidak ada tuduhan bahwa Papah mereka mungkin seorang pencuri. Yang ada hanya rasa kagum dan bangga karena memiliki ayah yang sangat kaya.

Kakek Edwin turun dari mobil sambil tersenyum. "Bagaimana? Suka?"

"SU-KA!" Jawaban mereka hampir bersamaan.

Raina berdiri beberapa langkah di belakang. Tatapannya menyapu mansion itu. Tempat ini masih begitu besar dan mewah seperti terakhir kali ia mengingatnya. Biasanya setiapkali Raina mengingat tentang Mansion itu, ia akan merasa takut dan tertekan. Namun anehnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun meninggalkan mansion itu, Raina tidak merasa takut.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!