Indonesia
NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf Yang Ditolak 27.

Suara derit kursi besi yang bergesekan dengan lantai marmer kantin terdengar seperti pekikan nyaring yang memutus obrolan semua orang. Rendy berdiri di sana, di tengah kepungan tatapan ratusan pasang mata murid SMA Pancasila.

Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini pias, menyisakan gurat keputusasaan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Di hadapannya, Mona masih duduk tenang bersama mangkuk baksonya yang baru disentuh setengah. Ia bahkan tidak mendongak saat Rendy melangkah mendekat dengan bahu merosot.

"Mona," suara Rendy serak, nyaris tenggelam oleh riuh rendah bisikan di sekitar mereka.

Mona menghentikan denting sendoknya. Ia mendongak, menatap Rendy dengan sepasang mata jernih yang sedingin es. "Mau apa lagi, Ren? Belum puas bikin satu sekolah menghujat saya?"

Rendy mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Ancaman papahnya tadi malam masih terngiang jelas di kepala, meremukkan seluruh harga dirinya sebagai remaja berusia tujuh belas tahun. “Kalau kamu tidak bisa membersihkan nama baik keluarga kita di mata Pak Reza dan membuat Mona mencabut tuntutan pencemaran nama baik itu, Papa coret kamu dari Kartu Keluarga! Papa akan jebloskan kamu ke rumah sakit jiwa karena gangguan perilaku kamu! Papa tidak main-main, Rendy! Bikin bangkrut keluarga saja!"

Mengingat tatapan kejam ayahnya dan ancaman dikirim ke RSJ membuat lutut Rendy gemetar. Pilihan hidupnya telah direnggut paksa jika ia tidak mendapatkan maaf dari gadis di depannya ini.

"Saya... saya mau minta maaf," kata Rendy, cukup keras hingga beberapa murid di meja sebelah langsung menegakkan telinga.

Rendy menarik napas panjang, menahan rasa malu yang membakar dadanya. "Saya ngaku salah. Saya yang menyebarkan kebencian di group chat angkatan soal... soal rahasia kamu sama Affan. Saya yang bikin spekulasi liar dan manasin semua orang buat benci sama kamu."

Keheningan mendadak menyergap kantin. Rahasia besar tentang Mona dan Affan—dua murid populer yang ternyata dipaksa menikah muda oleh keluarga mereka—memang telah meledak empat hari lalu akibat ulah Rendy.

Mona meletakkan sendoknya perlahan. Ia menyilangkan dada, bersandar pada kursi dengan tatapan dingin. "Oh, jadi kamu sadar kalau tindakan kamu itu jahat?"

"Saya sadar, Mon. Saya bener-bener minta maaf. Tolong... tolong maafin saya," ucap Rendy, suaranya kini bergetar penuh permohonan. Ia bahkan menurunkan tubuhnya, nyaris berlutut di samping meja Mona. "Saya mohon, Mon. Tolong bilang ke papah saya atau siapa pun buat stop ini. Saya terancam, Mon..."

Mona menatap Rendy tanpa rasa iba sedikit pun. Luka yang dibuat oleh ketikan Rendy di media sosial dan group chat sekolah terlanjur basah dan berdarah. Kata-kata kasar, tuduhan hamil duluan, hingga makian yang ia terima setiap berjalan di koridor adalah hasil karya Rendy.

"Ditolak!" ucap Mona singkat, padat, dan dingin.

Rendy tersentak. "Mon, please—"

"Saya bilang, saya menolak mentah-mentah maaf kamu, Rendy, saya menolak berdamai sama kamu" potong Mona, suaranya meninggi, memastikan seluruh penjuru kantin mendengarnya. "Kamu minta maaf bukan karena kamu menyesal atas rasa sakit yang saya terima. Kamu minta maaf karena kamu takut sama akibat yang harus kamu tanggung sekarang. Kamu egois. Jadi, nikmati saja kehancuran yang kamu buat sendiri."

Mona berdiri, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, lalu berjalan melewati Rendy tanpa menoleh lagi.

Meninggalkan cowok itu membeku di tengah kantin, menjadi bahan tontonan dan bisikan baru yang tidak kalah kejam.

**

Sore harinya, matahari musim kemarau memancarkan warna jingga yang pekat di atas langit Jakarta. Di sebuah kafe estetik berkonsep kaca di kawasan Jakarta Selatan, Selly duduk dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Jari-jarinya dengan lincah mengetik di atas layar ponsel, menyusun sebuah siasat baru.

Di hadapannya, sebuah undangan fisik mewah berwarna hitam dan emas tergeletak. Undangan pesta ulang tahunnya yang ke-18 yang akan diadakan akhir pekan ini.

Selly menekan tombol kirim pada pesan singkat yang ia tujukan langsung kepada Affan.

Selly: Affan, ini undangan ulang tahun saya hari Sabtu nanti. Kamu harus dateng ya, sebagai temen kecil saya. Saya udah siapin meja VIP buat kamu.

Selly meletakkan ponselnya, lalu menyesap ice americano miliknya dengan anggun. Di sudut bibirnya terukir senyum licik. Ia sengaja tidak mengirimkan undangan apa pun kepada Mona. Tidak lewat pesan, tidak juga secara fisik.

Rencana Selly sangat sederhana namun mematikan bagi hubungan Affan dan Mona yang sudah retak (menurutnya) akibat teror psikologis atas terbongkarnya pernikahan paksa mereka.

Di pesta itu nanti, ia akan memastikan Affan datang sendirian, berdiri di sisinya sebagai pangeran, sementara Mona akan terisolasi, merasa ditinggalkan dan semakin terpuruk dalam posisinya sebagai "istri" yang tidak dianggap.

"Kita lihat, Affan," gumam Selly sambil menatap pantulan dirinya di dinding kaca kafe. "Apa kamu bakal tetep milih membela cewek pembawa sial itu? Lihatlah kalau kamu ada di pesta saya, dikelilingi semua orang yang memuja kamu?"

Bagi Selly, perang baru saja dimulai, dan ia baru saja menggerakkan pion pertamanya.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!