Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: tamat
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:44.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Brak!

​Pintu kaca ruangan itu ditutup rapat dari luar.

​Aditya Pratama hanya bisa berdiri kaku di depan meja kayu besar berpoles gilap itu.

​"Maaf, Dit, keputusan dari manajerial pusat sudah tidak bisa diganggu gugat."

​Laki-laki paruh baya berkacamata tebal di hadapannya menghela nafas pelan.

​"Perusahaan sedang melakukan efisiensi besar-besaran, dan nama kamu ada di daftar teratas."

​"Tapi, Pak Frans, saya sudah bekerja lembur setiap hari selama tiga tahun terakhir ini," sahut Adit dengan suara yang sedikit bergetar.

​"Saya tahu, Dit, saya sangat paham kerja keras kamu."

​Pak Frans mengusap wajahnya yang tampak lelah.

​"Tapi ini bukan keputusan saya pribadi, ini perintah jajaran direksi."

​"Tolong berikan saya waktu satu bulan lagi, Pak, saya butuh uang ini untuk membayar sewa kontrakan."

​"Tidak bisa, Dit, surat PHK kamu sudah ditandatangani hari ini."

​Pak Frans menyodorkan selembar kertas putih ke atas meja.

​"Kamu bisa mengambil sisa pesangon kamu di bagian keuangan sore ini."

​Adit menatap kertas di hadapannya dengan pandangan kabur.

​Dunia seolah runtuh tepat di atas kepalanya saat itu juga.

​Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak dia masih duduk di bangku SMA.

​Pekerjaan ini adalah satu-satunya pegangan hidup yang dia miliki di kota metropolitan yang kejam ini.

​Dengan jemari gemetar, Adit mengambil kertas itu dan melangkah keluar dari ruangan.

​Langkah kakinya terasa amat berat menyusuri lorong kantor yang dingin.

​Beberapa rekan kerjanya hanya menatapnya dengan tatapan kasihan tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.

​Adit membereskan barang-barang di atas mejanya ke dalam sebuah kardus bekas.

​Kring! Kring!

​Ponsel di saku celananya berdering nyaring.

​Nama Siska tertera di layar ponsel pintarnya.

​Adit mengusap dadanya yang terasa sesak, mencoba mengulas senyum tipis.

​"Halo, Siska, kamu sudah jalan ke cafe?" tanya Adit mencoba menahan getaran suaranya.

​"Adit, kita perlu bicara sekarang, aku sudah tunggu di cafe depan kantor kamu," jawab suara wanita di ujung telepon.

​"Iya, ini aku baru saja mau turun ke bawah."

​"Cepat ya, aku tidak punya banyak waktu."

​Tut... tut... tut...

​Panggilan ditutup secara sepihak sebelum Adit sempat membalas ucapan kekasihnya.

​Adit menghela nafas panjang lalu berjalan menuju lift membawa kardus barangnya.

​Lima menit kemudian, Adit sudah berada di dalam cafe ber AC yang cukup ramai.

​Seorang gadis berparas cantik dengan pakaian modis duduk di sudut ruangan sambil menatap layar ponselnya.

​"Siska," panggil Adit pelan sambil mendudukkan diri di kursi kayu di hadapan gadis itu.

​Siska melirik kardus bekas yang ditaruh Adit di samping kursi.

​"Kamu beneran di PHK hari ini, Dit?" tanya Siska tanpa basa-basi.

​Adit menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Iya, Sis, hari ini hari terakhir aku kerja di kantor."

​"Astaga, Dit, kenapa bisa sih?" suara Siska terdengar sangat kecewa.

​"Perusahaan lagi pengurangan karyawan, aku salah satu yang terkena dampaknya."

​"Lalu bagaimana dengan rencana kita?"

​"Rencana yang mana?" Adit menatap mata Siska dengan penuh kebingungan.

​"Rencana kita buat menikah tahun depan, Dit!" Siska menaikkan nada bicaranya.

​"Aku akan cari kerjaan baru secepatnya, Sis, kamu tenang saja."

​"Cari kerjaan baru kamu bilang?" Siska tertawa sinis.

​"Di zaman sekarang cari kerjaan itu susah, Dit, kamu mau kasih aku makan apa?"

​"Aku punya sedikit simpanan dari pesangon, kita masih bisa bertahan sebentar."

​"Aku tidak mau hidup susah sama kamu, Dit!"

​Siska menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan dingin.

​"Kita putus saja."

​Kalimat singkat itu meluncur begitu saja dari bibir merah Siska.

​Jantung Adit rasanya berhenti berdetak seketika.

​"Kamu bercanda kan, Sis? Kita sudah jalan tiga tahun."

​"Aku tidak bercanda, Dit, aku butuh kepastian dan masa depan yang jelas."

​"Tapi aku pasti bakal bangkit lagi, Sis, tolong kasih aku kesempatan."

​"Kesempatan apa lagi?" Siska berdiri dari kursinya sambil merapikan tas mewahnya.

​"Lagipula kamu itu sudah yatim piatu, tidak punya tabungan banyak, sekarang malah jadi pengangguran."

​"Siska, tolong jangan bicara seperti itu..."

​"Realistis saja, Dit, jangan temui aku lagi mulai hari ini."

​Siska membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

​Adit duduk terpaku di kursinya, memandangi sosok wanita yang sangat dicintainya itu menjauh dan menghilang di balik pintu kaca cafe.

​Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, dia telah kehilangan pekerjaan dan wanita yang ingin dinikahinya.

​Tes... tes...

​Setetes air mata jatuh menembus permukaan meja kayu cafe yang dingin.

​Adit mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

​"Kenapa hidupku harus serendah ini?" bisiknya pada diri sendiri.

​"Kenapa takdir selalu tidak adil padaku?"

​Malam harinya, Adit duduk sendirian di dalam kamar kontrakan sempitnya yang berantakan.

​Semua barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam dua buah tas pakaian besar.

​Uang pesangon di rekeningnya hanya tersisa beberapa juta rupiah setelah dipotong tunggakan sewa dan utang harian.

​Dia tidak mungkin bisa bertahan hidup di Jakarta dengan sisa uang sekecil ini tanpa pekerjaan tetap.

​Adit memandangi sebuah foto lama yang terpajang di dinding kamar.

​Di dalam foto itu, kedua orang tuanya tersenyum lebar sambil merangkul Adit kecil di depan sebuah rumah panggung kayu.

​Di belakang rumah itu terhampar tanah perkebunan dan area kosong yang sangat luas di kampung halamannya.

​"Ibu... Bapak..." suara Adit terdengar serak.

​"Adit gagal di kota."

​Tanah warisan di Desa Sukamaju adalah satu-satunya harta peninggalan orang tuanya yang belum pernah dijual.

​Tanah itu sangat luas, mencakup beberapa hektar ladang dan bekas area peternakan tua yang sudah lama terbengkalai.

​"Mungkin sudah waktunya aku pulang," gumam Adit pelan.

​"Aku akan mengolah tanah warisan Bapak dan Ibu di desa."

​"Daripada aku mati kelaparan di kota orang tanpa tujuan."

​Adit mengusap air matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

​Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan segala kenangan buruk di kota ini besok pagi.

​Dia tidak tahu apa yang akan menunggunya di kampung halaman nanti.

​Apakah tanah tua itu bisa menyelamatkan hidupnya, atau justru membawa kegagalan baru yang lebih menyakitkan.

​Adit mematikan lampu kamar dan memejamkan matanya di atas kasur tipis.

​Kegelapan malam itu menyelimuti tubuh pemuda yang telah kehilangan segalanya tersebut.

1
echa purin
👍👍
I am Cat
up
kiyoe: terimakasih kak sudah mau mampir membaca karya saya 🙏
total 1 replies
craft
ini 1 jam lagi dulu aku panen tomat sampai jam 7/8 /Sweat/
admin 1 ini kayaknya gak pernah ke landang nya 😑/Proud/
kiyoe: hehehe kan pakai benih ajaib kaka 🤭
total 1 replies
craft
gawe gak yakin panen cabe 2 jam 😐😑
kiyoe: heheh
total 1 replies
craft
asalamualaikum thor saya mampir 😄😄😄
jangan lupakan saya thor🤣
kiyoe: hehehe terimakasih kaka
total 4 replies
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣
Was pray
sistem pertanian dan peternakan berubah fungsi jadi sistem kultivasi. udah berubah jauh banget
Was pray
Adit lupakah? bahwa tanpa sistem gak bisa apa2? sekarang jadi arogan sama sistem. kesulitanmu karena dirimu terlalu serakah pingin cepat kaya sehingga menempuh jalan ilegal
Was pray
Adit kan ke jakarta numpang truk ekspedisi ! kok sekarang bawa mobil SUV nya? mobilnya jalan sendiri kah? 🤣🤣
kiyoe: hehehe terimakasih atas support nya kak ☺️
total 7 replies
Was pray
kapan jadiannya?
kiyoe: setelah itu
total 1 replies
Was pray
sopo dan Jarwo kan di perkebunan? othornya bingung kah?
Was pray: waktu berangkat Adit pamitan sama sopo dan Jarwo , kemudian Adit meminta agar sopo dan Jarwo menjaga kebun selama Adit di jakarta. coba dicek bab sebelumnya Thor.
total 2 replies
Was pray
kapan Adit beli mobil? kok tau2 udah punya mobil SUV? di sulap sim salabim hau mobil munculah. 🤣🤣🤣
Was pray
adi paham bisnis gak sih sebenarnya?
kiyoe: heheh iyaa kak biar cepat laku 🤣
total 5 replies
Was pray
berita dari Riana gak direspon dit?
Was pray
pagarnya setinggi Dada gak kependekan dit? paling gak setinggi 2 meter baru atasnya ditambah kawat berduri kayaknya lebih aman
Astiana 💕
menegangkan sekali Thor, ngeri banget.
kiyoe: hehehe biar tegang kak
total 1 replies
Astiana 💕
Abang wanglin kita muncul di karakter adit😁.
Astiana 💕
aku kasih kopi, semangat ya💪🏻, biar gak ngantuk☺️
kiyoe: wah terimakasih kak Astiana semangat terus pokoknya 🙏🙏
total 1 replies
Astiana 💕
sat set bener si Adit, dah dapat cewek aja dia, kapan jadian nya juga tak tau🤭
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Astiana 💕
lah giok jadi steak🤣🤣.
gak apa-apa lanjut aja, anggap aja lagi berpetualang di dunia lain.🤣🤭
kiyoe: hahaha
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!