Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi menuntut : 35
“Ternyata benar-benar beda ya, nada notifikasinya …?” Yarash berlalu, tidak menunggu reaksi Saniya setelah mendengar pertanyaannya.
Saniya bergeming, menerka-nerka dengan perasaan mulai tak nyaman.
Ia buka lalu membaca pesan dari pria yang baru saja melewatinya.
Mas Yarash; Terima kasih Saniya, saya senang sekali melihat Ardan banyak tertawa, dan benar-benar berbahagia.
Kemudian Saniya memeriksa notifikasi dari akun sebuah bank swasta yang memberitahukan, jika rekeningnya baru saja menerima transferan uang sebanyak 10 juta rupiah.
Terburu-buru disimpannya ponsel ke dalam tas, Saniya mempercepat langkah yang dia bisa, lalu berbicara dengan pria yang menunggunya di samping pintu mobil bagian penumpang, barusan dibukanya.
“Mas Yarash transfer uang ke aku untuk apa?” tanyanya, Saniya berdiri di samping pintu mobil.
Yarash mengkode lewat dagu yang menunjuk jok. Ia menunggu Saniya duduk dengan nyaman dulu baru menjawab. “Kedepannya, Ardan akan lebih sering merayu kamu saat dia menginginkan sesuatu. Entah itu jajan, mainan, atau hewan peliharaan lainnya. Saya harap kamu tidak keberatan dengan cara saya mendekatkan kalian, Saniya.”
Netra Saniya berbinar, ia tersenyum simpul. “Terima kasih, Mas. Aku terharu kamu perhatian sampai ke hal-hal yang terkadang tidak terlintas dipikiranku.”
Dia mengangguk, sejenak menatap penuh makna. “Pakai sabuk pengamannya, Saniya.”
Pintu mobil pun ditutup, Yarash berjalan memutar agar bisa duduk di jok kemudi.
Ardan masih sibuk memilih foto mana yang paling keren menurutnya. Nanti mau dipamerkan ke lek Lele dan mang Susu, sahabatnya.
***
Menjelang Maghrib, ketika matahari sudah tenggelam menyisakan warna jingga di cakrawala, mobil Yarash tiba di pelataran halaman luas.
“Udah sampai ya?” gumam Ardan, matanya sayu, dia mengantuk tetapi tidak boleh tidur, terus menerus diajak ngobrol pengasuhnya.
“Sudah dong, itu ada lek Lawi,” ucap Suci, menurunkan Ardan dari pangkuan.
Ardan mengusap-usap mata, menguap lebar tanpa mau menutupi mulut.
“Abang Ardan langsung mandi ya, terus sesudahnya kita makan malam.” Saniya menoleh kesamping, berbicara dengan suara lemah lembut.
“Iya Ibu tili,” jawabnya kembali ke panggilan yang diajarkan, dipaksakan sang kakak.
Senyum Saniya tidak selepas tadi, dia belajar memaklumi. Dipandangi punggung Ardan yang digendong Suci, sampai mereka keluar.
Sebuah tangan menggenggam jemari di atas paha, Yarash menenangkan sang wanita yang sejenak memperlihatkan sedikit rasa kecewanya.
“Sabar ya, pelan-pelan kita membiasakan Ardan, sampai dia berinisiatif memanggil Mami tanpa kita arahkan, dipinta.” Jari jempolnya mengelus punggung tangan berkulit halus, terlihat rapuh.
“Aku gapapa, Mas. Dengan dia mau bercengkrama denganku, itu sudah cukup bagus, dan melebihi ekspektasi,” ucapnya berlapang dada.
Pasangan suami-istri itu masih duduk di mobil yang mesinnya masih menyala.
Yarash belum menarik tangannya, ia mengeratkan genggaman sambil memandang hunian dua lantai hasil dari kerja kerasnya, lalu kembali berucap. “Saniya … saya tidak menyukai kebohongan, dan sangat menghargai sebuah kejujuran meski terkadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada hidup dalam kepura-puraan.”
Reaksi tubuh Saniya diluar kendalinya. Ia menegang, mengerjapkan mata dan menoleh ke samping — netranya memandangi sisi wajah Yarash yang masih menatap rumah.
“Mas … apa Fauzia ada ngomong sesuatu?” tanyanya lirih.
“Apa ada yang kamu tutupi dariku?” Yarash bertanya balik, ia mengunci sepasang mata indah.
Saniya menimbang-nimbang apa sebaiknya jujur, atau tetap menutupi.
“Tadi aku bertemu seseorang, dia pria. Kami sudah mengenal sedari bayi, orang tua kami bersahabat dan membuka usaha bersama,” ungkapnya seraya masih saling memandang.
“Dia yang kamu maksud, apa kekasih adikmu?” Yarash menanggapi.
Dahi Saniya mengerut, sudut matanya berkedut. ‘Zia bilang apa ke mas Yarash?’
“Fauzia Serla sepertinya salah paham, saya dapat menangkap nada cemburu pada suaranya saat tadi mengadu. Dia bilang, kamu mencoba menggoda kekasihnya, pergi kencan diam-diam tanpa sepengetahuan dia —”
“Terus mas Yarash ngomong apa ke dia?” saking terkejutnya, Saniya menyela.
Jemari berkuku pendek, punggung tangan berurat timbul dibawah kulit, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya.
Tangan kiri menggenggam, jemari tangan kanan menahan ujung dagu Saniya supaya menatapnya. “Saya katakan ke dia — saya percaya kepada kakakmu. Istriku bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan. Dia sosok terhormat, dan paham batasan, bukan orang yang suka mencari perhatian apalagi merebut kebahagiaan orang lain.”
Mata Saniya mengerjap cepat, menghalau air mata yang berlomba-lomba ingin terjun bebas ke pipi. Hatinya menghangat.
“Terima kasih sudah memilih percaya, Mas,” ucapnya pelan, bersuara bergetar samar.
Yarash terpaku oleh netra yang basah, pandangannya mengikuti jatuhnya air mata turun ke pipi, melaju sampai dagu.
Setetes buliran jernih lainnya mengalir melewati cuping hidung, sebelum masuk ke sudut bibir, dihentikan oleh kecupan coba-coba yang menempel menutupi mulut Saniya.
Hehhh!
Badan Saniya seolah tertarik bersamaan dengan dia menahan napas. Bola matanya membulat sempurna.
Yarash bukan menghentikan aksi disaat air mata terserap kecupan ringan, malah melakukan lebih dari sebelumnya. Tangannya melewati pundak sang wanita, turun ke punggung terus merambat sampai pinggang. Ia tekan panggul Saniya yang otomatis menegakkan badan.
Ciuman itu masih berlangsung, pelan, lembut, lama kelamaan menuntut. Kecupan berganti lumatan mendesak, dan tangan Yarash yang tadi menggenggam jemari Saniya, kini masuk ke helaian rambut belakang kepala, menahan tengkuk sang istri agar pagutan tak lekas berhenti.
“Mas, mas Yarash,” Saniya kesulitan menghirup oksigen, ia dorong bahu sang pria yang masih merasai bibirnya sambil memejamkan mata.
Napas Yarash memberat, menderu, ia memeluk Saniya sedetik setelah melepaskan ciuman panas tadi.
“Saya tidak akan meminta maaf dengan beralasan menciummu karena terbawa suasana, Saniya,” katanya seperti suara deru angin yang menerpa kulit punggung tertutup kaos.
Saniya tidak tahu harus berbicara apa, bereaksi seperti apa. Otaknya buntu, pikiran kosong, lalu satu nama dengan bayangan sosoknya menyentak tubuhnya hingga mendorong kuat pundak pria masih memeluk erat.
Yarash mundur, pelukan itu terlepas, dan dia menatap bingung, mencoba menerka raut wajah Saniya yang mengatupkan bibir.
“Sudah mau magrib, sebaiknya kita turun, Mas.” Saniya cepat-cepat membuka pintu mobil, langsung keluar, seolah tidak mendengar permintaan suaminya yang meminta sedikit waktu.
Yarash masih di dalam mobil, memperhatikan langkah mantap istrinya. “Apa dia marah?”
.
.
Bersambung.
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash
itu nada sepesial tau mas yarash