Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Penghemat Keping

Dua keping emas dan sepuluh keping perak terdengar besar, tetapi bukan berarti uang sebanyak itu boleh dihamburkan begitu saja.

Nuri, yang barusan disambar tatapan tegas oleh Sena, seketika kehilangan kata-kata. Semua kalimat yang telah ia susun semalaman buyar dalam sekali hela napas.

Ia berdeham dua kali, mengusap pelipis, lalu mencoba bicara sambil berpikir cepat.

"Sena, ini tidak bisa disebut pemborosan. Di kemudian hari, rekan-rekan kerjaku, juga rekan kerja Wonho, mungkin akan berkunjung. Apakah kita akan menjamu mereka di tempat seperti ini? Lagi pula, kalau Wonho dan aku sudah menikah dan membawa istri, apakah kita masih mau tidur di ranjang susun?"

"Bukankah kalian belum seorang pun punya tunangan? Kita bisa menunggu lebih dulu serta menabung lebih banyak dalam waktu yang bersamaan," jawab Sena dengan logika yang ringkas dan jernih.

"Bukan begitu, Sena. Ini aturan pergaulan di masyarakat." Nuri, yang buntu, hanya bisa bersandar pada dalil-dalil luhur. "Sejak aku memperoleh gaji dua keping emas dan sepuluh keping perak sepekan, aku seharusnya terlihat seperti orang yang berpenghasilan segitu."

Terus terang, sebagai jiwa yang pernah tinggal berbagi atap dengan rombongan konvoi di Negeri Cahaya, Nuri tidak asing sama sekali dengan kondisi tempat tinggalnya sekarang ini. Ia sangat terbiasa. Namun, justru karena pengalaman itulah ia mengerti betapa tidak nyamannya lingkungan semacam ini bagi seorang gadis. Di samping itu, tujuannya kelak adalah menjadi Praktisi dan mendalami mistisisme demi menemukan jalan pulang. Pada waktunya, ia pasti akan melakukan berbagai ritual gaib di dalam rumah; terlalu banyak penghuni dalam satu rumah sewa membuat segala macam insiden mudah terjadi.

Melihat Sena hendak melanjutkan perdebatan, Nuri buru-buru menimpali, "Jangan khawatir. Aku tidak berniat menyewa rumah panggung. Paling tinggi rumah berlantai dua dengan dua kamar, tetapi yang terpenting ada kamar mandi yang benar-benar menjadi milik kita. Lagi pula, aku juga menyukai roti Nenek Som, biskuit khas Eunha, dan kue lemon buatannya. Kita bisa mempertimbangkan tempat di sekitar Jalan Bunga Teratai dan Jalan Bakung dulu."

Sena mengerucutkan bibirnya sedikit, terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.

"Lagi pula, aku tidak tergesa-gesa untuk pindah. Kita harus menunggu Wonho pulang dulu." Nuri tertawa kecil. "Kita tidak bisa membiarkan ia terkejut begitu membuka pintu dan mendapati rumahnya sudah kosong, bukan? Bayangkan ia berseru dengan heran: Di mana barang-barangku? Di mana adik-adikku? Di mana rumahku? Apakah ini rumahku? Salah alamat, ya? Ratu Selubung Senja, bangunkan aku jika ini mimpi. Kenapa rumahku lenyap hanya dalam beberapa hari aku pergi?!"

Tiruan nadanya yang persis seperti Wonho membuat Sena tersenyum tanpa disadari. Matanya menyipit dan lekuk lesung pipitnya yang dangkal tampak jelas di pipinya.

"Tidak. Tuan Go pasti sudah berjaga di depan pintu untuk meminta Wonho menyerahkan kunci rumah. Wonho bahkan tidak akan sempat menaiki tangga ke lantai dua!" Gadis itu merendahkan pemilik rumah yang kikir itu.

Dalam keluarga Kang, semua orang senang menjadikan Tuan Go sasaran lelucon, entah untuk urusan remeh maupun urusan besar. Kebiasaan itu murni dipelopori oleh Wonho.

Wonho adalah orang yang paling banyak menyimpan cerita tentang ulah Tuan Go: dari tangga yang makin reyot sampai atap yang bocor ketika hujan; dari sewa yang dinaikkan tanpa pemberitahuan sampai tungku yang makin monggor. Boleh jadi semua itu cuma dilebih-lebihkan, tetapi setiap kali diceritakan kembali, keluarga itu selalu tertawa terbahak-bahak.

"Benar. Mustahil ia mau mengganti gembok untuk para penyewa setelah kita." Nuri tersenyum menimpali, lalu menunjuk pintu. "Nona Sena, bagaimana kalau kita berangkat ke Restoran Kembang Perak untuk merayakan?"

Sena menghela napas pelan lalu berkata, "Minho, kau mengenal Hyeran, bukan? Teman sekelasku sekaligus sahabat karibku?"

Hyeran? Bayangan seorang gadis berambut merah anggur dengan mata cokelat tua muncul di benak Nuri. Orang tuanya adalah penganut setia Ratu Selubung Senja, dan mereka menamainya demi Santa Hyeon sebagai sebuah berkat. Ia belum genap enam belas tahun, setengah tahun lebih muda daripada Sena, dan dikenal sebagai gadis yang riang, ceria, serta ramah.

"Ya, aku mengenalnya." Nuri mengangguk membenarkan.

"Kakak laki-lakinya, Tuan Gyeongho, adalah seorang pengacara. Saat ini gajinya nyaris dua keping emas sepekan. Tunangannya bekerja paruh waktu sebagai juru ketik," tutur Sena. "Mereka telah bertunangan lebih dari empat tahun. Demi menjamin kehidupan yang layak dan stabil setelah menikah, mereka masih menabung hingga hari ini, belum berani melangsungkan pernikahan, dan baru berencana menikah setidaknya setahun lagi. Menurut Hyeran, banyak orang yang bernasib seperti kakaknya. Umumnya mereka baru menikah setelah melewati usia dua puluh delapan tahun. Kau harus membuat persiapan lebih dini dan rajin menabung. Jangan menghambur-hamburkan uangmu."

Hanya sekadar makan di restoran sekali, perlukah sampai berkhotbah panjang lebar kepadaku... Nuri dibuat bingung antara tertawa dan menangis. Setelah berpikir beberapa detik, ia berkata, "Sena, aku telah memperoleh gaji dua keping emas dan sepuluh keping perak sepekan, dan gajiku akan naik setiap tahun. Kau tidak perlu cemas."

"Tetapi kita tetap perlu menabung untuk menghadapi berbagai keadaan darurat. Misalnya, bagaimana seandainya biro penjaga bayaran itu tiba-tiba tutup? Aku punya teman sekelas yang perusahaan ayahnya bangkrut. Ia terpaksa mencari pekerjaan rendah di pelabuhan, dan kondisi keluarganya merosot dalam sekejap. Gadis itu tak punya pilihan lain selain meninggalkan bangku sekolah," nasihat Sena dengan wajah serius.

"..." Nuri mengangkat tangan menutupi wajahnya. "I-Itu... biro penjaga bayaran itu, dan pemerintah... ya, ada sangkut-pautnya dengan pemerintah. Biro semacam itu tidak akan mudah tutup."

"Tetapi pemerintah pun tidak selamanya stabil. Setiap kali kekuasaan berganti, banyak orang kehilangan jabatan mereka. Semuanya menjadi kacau balau." Sena membalas tanpa sedikit pun mau mengalah.

"...Sena, kau benar-benar tahu banyak hal..." Nuri merasa geli bercampur putus asa, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Baiklah kalau begitu..."

"Kalau begitu, rebus saja sup dari sisa makanan kemarin. Belikan sedikit ikan goreng, sepotong daging sapi berlada hitam, sebotol kecil mentega, dan segelas arak malt untukku. Setidaknya masih ada yang bisa dirayakan."

Semua barang itu lazim dijajakan oleh para pedagang kaki lima di Jalan Bunga Teratai. Sepotong ikan goreng harganya enam sampai delapan keping tembaga, sepotong daging sapi berlada hitam yang tidak terlalu besar lima keping, segelas arak malt satu keping, dan sebotol mentega seberat seperempat kati empat keping. Namun, bila membeli mentega sekati penuh, harganya hanya satu keping perak tiga keping tembaga.

Kang Minho yang asli biasa bertugas membeli bahan-bahan makanan pada hari-hari libur, sehingga ia tidak asing dengan harga-harga semacam itu. Nuri memperkirakan adiknya hanya perlu menghabiskan sekitar satu keping perak empat hingga enam keping tembaga. Karena itu, ia mengeluarkan dua lembar uang bernilai satu keping perak.

"Baiklah." Sena tidak menolak usul kakaknya. Ia meletakkan tas kain tempat buku dan alat tulisnya lalu mengambil lembaran-lembaran uang itu.

Melihat adiknya mengeluarkan botol kecil untuk mentega serta panci-panci untuk tempat makanan yang lain, lalu bergegas menuju pintu, Nuri berpikir sejenak dan berseru, "Sena, gunakan sisa uang untuk membeli buah-buahan."

Di Jalan Bunga Teratai, banyak pedagang yang membeli buah dengan mutu rendah atau hampir kedaluwarsa dari berbagai tempat lain. Para warga tidak pernah keberatan karena harganya sangat murah. Setelah membuang bagian yang busuk, mereka tetap bisa menikmati rasa yang istimewa; itulah kenikmatan yang murah. Buah-buahan semacam itu lazim dijual dengan harga paling rendah menjelang petang, ketika para pedagang ingin segera menghabiskan dagangannya sebelum pasar ditutup.

Belanja harian dalam jumlah kecil adalah kebiasaan umum bagi keluarga yang berpenghasilan sedang. Ikan, sayur, dan kue dibeli secukupnya untuk satu-dua hari, sehingga makanan selalu segar dan uang belanja tidak mudah terbuang sia-sia.

Menjelang petang, derap para pedagang membubung menjadi riuh, dan harga dagangan diturunkan agar cepat habis. Para pembeli berduyun-duyun keluar memborong ikan serta sayur yang masih segar sementara lampu-lampu mulai menyala.

Sesudah berkata begitu, Nuri melangkah cepat maju beberapa langkah, mengeluarkan sisa keping tembaga dari sakunya, lalu menyelipkannya ke telapak tangan adiknya.

"Ah?" Mata cokelat Sena menatap kakaknya dengan bingung.

Nuri mundur dua langkah dan tersenyum. "Jangan lupa mampir ke tempat Nenek Som. Manjakan dirimu dengan kue lemon kecil."

"..." Sena membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengerdipkan mata beberapa kali. Akhirnya ia hanya mengeluarkan satu kata. "Baik."

Ia cepat berbalik, membuka pintu, dan berlari kecil menuju anak tangga.

---

Sungai Seorin membelah tanah dengan jernih, dan di sepanjang kedua tepinya berdiri jajaran pohon aras serta mapel yang rindang.

Udara di dekatnya terasa begitu segar, segar sampai memabukkan.

Nuri, yang datang hari ini untuk menuntaskan urusan wawancaranya, membawa belati yang ia sembunyikan di balik ikat pinggang. Ia juga menggenggam tongkatnya.

Ia membayar enam keping tembaga untuk kereta kuda umum, lalu menyusuri jalan semen menuju sebuah gedung batu tiga lantai yang dinaungi rimbunan hijau. Itulah kantor administrasi Akademi Seorin.

"Pantaskah ia disebut salah satu dari dua balai pengajaran terbesar di Kerajaan Hwaryeong..." Karena inilah kali pertama ia menginjakkan kaki di tempat ini, Nuri menghela napas sambil berjalan.

Dibandingkan Akademi Seorin, Balai Sejarah Eunha di seberang sungai hanya pantas disebut gubuk reyot.

"Ayo, terus! Ayo, terus!" Terdengar suara yang mendekat pelan, diiringi dua perahu dayung yang bergerak melawan arus Sungai Seorin. Dayung-dayung digerakkan dengan irama yang tertib dan selaras.

Mendayung adalah olahraga yang digemari di kalangan para pelajar balai pengajaran di Kerajaan Hwaryeong. Dahulu, ketika Minho masih berharap dapat melanjutkan pelajaran dengan bantuan beasiswa, ia bersama teman-temannya pernah bergabung dengan klub dayung Balai Sejarah Eunha dan tergolong mahir.

"Inilah masa muda..."

Nuri berhenti, menatap ke kejauhan, lalu menghela napas pilu.

Pemandangan semacam ini tak akan terlihat lagi sepekan dari sekarang, karena sekolah-sekolah akan memasuki masa libur panjang.

Bagi pelajar yang akan menempuh ujian akhir, libur panjang berarti waktu berlatih yang sesak. Bagi yang lain, libur itu adalah pesta permainan dan dayung di tepi Sungai Seorin.

Saat menyusuri jalan yang berlindung di bawah deretan pepohonan, Nuri berhenti di depan gedung batu tiga lantai itu. Ia berhasil masuk setelah mencatatkan namanya, lalu dengan mudah menemukan ruang kerja pejabat yang pernah melayaninya dahulu.

Tok! Tok! Tok! Ia mengetuk pintu yang setengah terbuka dengan pelan.

"Masuk." Suara seorang lelaki terdengar dari dalam.

Seorang pengajar paruh baya berkemeja putih dan berdasi hitam mengerutkan dahinya begitu melihat Nuri masuk. "Masih ada satu jam sebelum wawancara."

"Tuan Seokmun, apakah kau masih ingat aku? Aku murid Guru Seojun, Kang Minho. Dulu kau pernah membaca surat rekomendasiku." Nuri tersenyum sambil melepas topinya.

Tuan Seokmun mengusap janggut hitamnya sambil bertanya dengan heran, "Ada keperluan apa? Aku tidak mengurus wawancara."

"Beginilah keadaannya. Aku sudah memperoleh pekerjaan, jadi hari ini aku tidak akan mengikuti wawancara itu." Nuri menyampaikan alasan kedatangannya.

"Begitu rupanya..." Setelah mengetahui alasannya, Tuan Seokmun berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Selamat. Kau pemuda yang sangat santun. Aku akan menyampaikannya kepada guru besar dan para pengajar."

Nuri menjabat tangan Tuan Seokmun dan berencana berbasa-basi sebentar sebelum berpamitan, ketika ia mendengar suara yang tak asing dari belakangnya.

"Minho, konon kau mendapat pekerjaan lain?"

Nuri menoleh dan melihat seorang sepuh berambut perak yang meninggalkan kesan mendalam pada siluetnya. Mata biru tuanya tampak cekung di balik wajah yang nyaris tanpa kerut. Lelaki itu tampak tegap dalam jas hitamnya.

"Selamat siang, Guru. Tuan Guru Mudang." Ia buru-buru memberi salam. "Keperluan apa yang membawa kalian berdua ke sini?"

Sepuh itu tidak lain adalah pengajar senior bagian sejarah Balai Sejarah Eunha sekaligus pembimbing Minho, Guru Seojun. Di sampingnya berdiri seorang lelaki paruh baya berkulit tembaga dengan perawakan sedang. Ia tak berjanggut, menggenggam koran di tangan, berambut hitam, berpupil cokelat, dan berwajah halus. Namun, mata lelaki itu menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan, seperti mata orang yang telah melihat pasang-surut kehidupan. Di bawah telinga kanannya terdapat tahi lalat hitam yang hanya tampak bila ditatap saksama.

Balai Sejarah Eunha mengenal lelaki itu sebagai pengajar sejarah yang kerap membantu Kang Minho muda: Guru Mudang. Ia senang berdebat dengan Guru Seojun; pendapat mereka sering berbenturan, tetapi justru karena itu mereka bersahabat baik. Kalau tidak, tak mungkin mereka repot-repot bertemu hanya untuk mengobrol.

Guru Seojun mengangguk dan berkata dengan nada santai, "Mudang dan aku datang untuk menghadiri pertemuan ilmiah. Pekerjaan macam apakah yang kau dapat?"

"biro penjaga bayaran yang mencari, mengumpulkan, dan melindungi barang-barang peninggalan kuno. Mereka membutuhkan seorang penasihat, dan membayarku dua keping emas sepuluh keping perak sepekan." Nuri mengulang perkataannya kepada adiknya kemarin. Ia lalu menambahkan, "Seperti yang kalian ketahui, aku lebih suka menjelajah sejarah ketimbang meringkasnya."

Guru Seojun mengangguk pelan. "Setiap orang punya pilihan masing-masing. Aku sangat senang kau bersusah payah datang ke Akademi Seorin ini untuk memberitahukannya, alih-alih sekadar tidak muncul."

Saat itu Guru Mudang menyela, "Minho, kau tahu apa yang terjadi pada Tuan Hyun dan Nyonya Seol? Aku membaca di koran bahwa mereka tewas dibunuh perampok."

Perkara itu berubah menjadi perampokan bersenjata? Dan mengapa beritanya sudah sampai ke koran? Nuri terkejut sambil menimbang-nimbang kata-katanya.

"Aku pun tak begitu paham perinciannya. Tuan Hyun sempat memperoleh buku harian keluarga Miru, warisan Dinasti Seora dari Zaman Silam. Ia meminta bantuanku mengartikannya. Aku menolongnya beberapa hari pertama, tetapi kemudian aku sibuk mencari pekerjaan. Penyidik sempat menemuiku dua hari lalu."

Nuri sengaja menyingkap soal keluarga Miru dan Zaman Silam, berharap dapat memperoleh secuil informasi apa pun dari kedua pengajar sejarah itu. Senyumnya tetap rapi, tetapi jantungnya berdebar; ia belum tahu berapa banyak jejak yang tersisa di balik kematian itu.

"Zaman Silam..." Guru Seojun bergumam sambil mengerutkan dahi.

Kulit tembaga dan mata lelah Guru Mudang sempat menjadi kosong, lalu ia menarik napas. Dengan tangan kiri yang memegang koran, ia mengusap pelipisnya seraya berkata, "Keluarga Miru... seperti pernah kudengar... tetapi mengapa aku tidak bisa mengingatnya..."

Hening menyelimuti ketiganya. Di tengah kesunyian itu, sebuah gagasan kecil menyalakan api harapan di hati Nuri: bahwa ia mungkin tidak sedang menempuh jalan ini seorang diri.

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!