Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Lembah Besi Merah
Udara di dasar Lembah Besi terasa panas, pengap dan berbau karat.
Lembah ini pada dasarnya kawah galian raksasa selebar dua mil. Di dasarnya, lebih dari tiga ribu manusia fana yang hanya mengenakan cawat kotor bekerja seperti semut.
Tangan mereka melepuh memegang alat besi, memecah bebatuan keras untuk mengekstraksi bongkahan biru bercahaya yang disebut Kristal Jiwa.
Setiap kali ayunan alat besi melambat, cambuk energi melecut punggung mereka hingga berdarah.
Di atas menara pengawas berlapis perunggu yang menghadap area tambang, Komandan Su berdiri sambil menyesap anggur merah. Zirah emasnya lebih ringan dari Jenderal Bintang, tapi memancarkan aura petir biru yang terus berderak di sekitar bahunya.
Su pemegang Otoritas Petir tingkat menengah, perwira elit Surga Tiran yang bertugas menjaga suplai energi armada.
"Budak-budak ini semakin lemah," keluhnya, melihat seorang pria tua ambruk di bawah gerobak tambang. "Kirim pesan ke Basis Timur. Minta tambahan seribu budak baru besok."
Ajudannya mengangguk. Tapi sebelum sempat berbalik, getaran hebat mengguncang menara perunggu itu.
Dduumm!
Suara benturan logam raksasa terdengar dari arah gerbang depan lembah. Su menyipitkan mata. Di ujung ngarai sempit, sebuah pasukan berzirah hitam legam berbaris maju, sekitar lima ratus prajurit manusia, dalam formasi dinding perisai yang sangat rapat, memukulkan tombak ke perisai secara berirama.
"Pasukan Pembelah Langit?" Komandan Su tertawa meremehkan. "Kudengar kaisar mereka cukup hebat karena bisa membunuh Jenderal Bintang.
Tapi menyerang markas dengan lima ratus prajurit berat lewat ngarai sempit? Ini bukan perang, ini bunuh diri."
Ia memberi isyarat tangan meremehkan. "Kirim seribu lima ratus prajurit ke gerbang depan. Hancurkan dinding perisai konyol itu. Biarkan sisa lima ratus berjaga di tambang."
Ribuan prajurit klan dewa lapis emas segera berhamburan dari barak, berlari menuju gerbang depan.
Komandan Su kembali menyesap anggurnya, bersiap menikmati pembantaian dari atas menara.
Tapi ia melupakan satu pelajaran paling mendasar dalam taktik perang: ketika musuh membuat terlalu banyak suara di pintu depan, mereka pasti sedang mencongkel jendela belakang.
Tiba-tiba, bayangan raksasa menutupi sinar matahari di area tambang.
Para pengawas klan dewa yang sedang mencambuk budak menoleh ke atas. Di tebing vertikal bagian belakang lembah, tebing setinggi seratus meter, terlihat seribu prajurit zirah hitam meluncur turun.
Tanpa tali. Mereka memakai Qi fisik untuk menancapkan jari dan senjata ke batu padat, turun seperti longsoran baja hitam.
Memimpin longsoran itu, sesosok raksasa yang langsung melompat dari ketinggian tiga puluh meter tanpa memegang apa pun.
Bllarr!
Long Zhan mendarat tepat di tengah area tambang. Hantamannya begitu brutal hingga tanah berbatu itu meledak, menciptakan kawah sedalam dua meter, mementalkan lima pengawas klan dewa hingga tulang rusuk mereka hancur.
Debu belum turun ketika seribu prajurit Divisi Kedua mendarat di belakangnya dengan raungan perang yang menggetarkan jiwa.
"Bunuh klan dewa yang berseragam. Jangan sentuh para budak!" raung Long Zhan, suaranya mengalahkan hiruk-pikuk pertambangan.
Taktik umpan ini berjalan sangat sempurna. Pasukan utama musuh sudah tertarik ke gerbang depan yang sempit, meninggalkan area tambang yang luas hanya dijaga segelintir pengawas.
Prajurit Divisi Kedua melesat seperti serigala kelaparan.
Di atas menara, cangkir anggur Komandan Su terjatuh dari tangannya. Wajah arogannya berubah pucat pasi, sebelum digantikan amarah yang meledak-ledak.
"Serangga sialan!" teriaknya.
Ia melompat dari menara setinggi dua puluh meter. Di udara, petir biru meledak dari kedua tangannya, memanjang, bermanifestasi jadi cambuk kilat sepanjang sepuluh meter.
Komandan Su mendarat dengan dentuman keras, tak jauh dari posisi Long Zhan.
"Kau berani mengotori tambangku, monyet besar?" geramnya, memutar cambuk petirnya.
Long Zhan, yang baru saja mencabut ujung tombaknya dari dada seorang prajurit dewa, menoleh lambat-lambat. Ia menyeka darah dari pipinya, memamerkan deretan giginya.
"Tambangmu? Maaf..." Ia mengangkat tombak raksasanya. "Mulai detik ini, ini tambang Pasukan Pembelah Langit."
Komandan Su tidak membuang waktu, melesatkan cambuk petirnya secepat mungkin.
Cambuk kilat itu melilit dada Long Zhan erat-erat. Komandan Su menyeringai kejam, tanpa ampun mengalirkan listrik murni ke tubuh sang Jenderal Pelopor manusia itu.
Asap putih mengepul dari zirah Long Zhan. Bau daging terbakar tercium di udara.
Para budak manusia yang bersembunyi di balik gerobak tambang menjerit ketakutan, mengira pahlawan raksasa mereka sudah mati.
Tapi Komandan Su menyadari ada yang salah. Tali cambuknya terasa berat. Sangat berat.
Di balik kepulan asap, mata Long Zhan yang menyala kuning kemerahan menatap lurus ke Komandan Su. Dadanya memang hangus, otot-ototnya berkedut liar akibat tegangan listrik. Tapi jantungnya tidak berhenti berdetak.
Pelatihan Qi fisiknya yang ekstrem, ditambah pengalaman menahan tekanan Otoritas Jenderal Bintang Lian, membuat otot dan meridian Long Zhan bertindak sebagai senjata. Ia tidak terbakar oleh listrik, ia memaksa sel-sel tubuhnya menyerap tegangan itu.
"Hanya... menggelitik," geram Long Zhan pelan.
Tangan kirinya yang berlapis sarung tangan baja bergerak naik, mencengkeram cambuk petir yang melilit dadanya secara langsung.
"Apa..." Komandan Su membelalak, tidak percaya melihat seorang manusia fana menggenggam petir murni dengan tangan kosong.
Long Zhan menarik cambuk itu dengan kekuatan fisiknya. Komandan Su, terlalu terkejut untuk melepaskan gagang cambuknya, tersentak maju, terbang melayang ke arah sang raksasa.
Saat tubuh Komandan Su melayang tanpa pertahanan di udara, tangan kanan Long Zhan menusukkan tombak raksasanya ke depan.
Jlebb!
Mata tombak setebal lengan orang dewasa itu menembus zirah emas Komandan Su, merobek perutnya, tembus hingga ke punggung.
Long Zhan memakai momentum itu untuk mengangkat tubuh sang komandan petir tinggi-tinggi ke udara, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke sebuah gerobak raksasa penuh Kristal Jiwa.
Bllarr!
Gerobak itu hancur berkeping-keping. Komandan Su tertusuk di tengah tumpukan kristal tajam, memuntahkan darah perak kental, sebelum tubuhnya kejang-kejang dan mati.
Melihat komandan mereka ditusuk seperti babi panggang, sisa penjaga klan dewa di tambang kehilangan seluruh moral tempur. Mereka menjatuhkan senjata, mencoba lari, hanya untuk ditombak dari belakang oleh prajurit Divisi Kedua.
Di gerbang depan, pasukan klan dewa yang menyadari markas mereka jatuh dari dalam mulai memecah formasi dengan panik.
Tembok perisai dari lima ratus prajurit manusia umpan itu akhirnya terbuka, berganti jadi formasi serang yang membantai sisa pasukan dewa yang melarikan diri tanpa arah.
Pertempuran Lembah Besi berakhir kurang dari dua jam. Kemenangan mutlak untuk Divisi Kedua.
Long Zhan berjalan pincang menghampiri kerumunan budak manusia yang masih gemetar ketakutan. Raksasa mengerikan berlumuran darah perak itu berhenti di depan seorang pria tua yang memegang alat besi.
Ia mengulurkan tangan kirinya yang hangus, meraih kerah besi di leher pria tua itu, menariknya hingga patah.
"Kalian sudah bebas," ucap Long Zhan dengan suara seraknya yang khas. "Ambil makanan dari barak mereka. Siapa pun yang masih punya tenaga, bantu prajuritku menaikkan semua batu biru menyala ini ke gerobak logistik. Kita bawa pulang semuanya ke Kota Fajar."
Sorakan tangis dan kebahagiaan meledak di seluruh dasar kawah tambang.
Basis Barat telah jatuh. Serangan pertama dari Tiga Invasi Pasukan Pembelah Langit sukses besar.
Dan sementara Long Zhan mengamankan suplai energi di barat, jauh di seberang benua, Divisi Bayangan pimpinan Xing Yun perlahan merayap masuk ke dalam kegelapan malam Basis Timur.