Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Sah, Tapi Belum Terucap

Pesan Bobby tidak dibalas Karina.

Seminggu kemudian, paket dari Singapura tiba melalui kurir khusus. Jerry, pengacara keluarga Mah, mengirim dokumen registrasi perkawinan asli, terjemahan resmi, dan petunjuk pelaporan ke Dukcapil.

Nama pada surat itu tertulis jelas: Aries Mah dan Karina Wijaya.

Karina membentangkan dokumen di meja kerja. Di sebelahnya ada putusan perceraian Pengadilan Negeri yang telah berkekuatan tetap, sertifikat Sky Palace atas namanya, serta perjanjian saham perusahaan Nick.

Kurang dari setengah tahun lalu, ia masih tinggal bersama Andri dan percaya hidupnya akan berlangsung dalam garis lurus yang hambar. Sekarang hubungan delapan tahun itu telah putus secara hukum. Ia menjadi istri seorang laki-laki bernama Nathan sekaligus Aries, mengandung tiga anak, memiliki rumah, saham, dan perusahaan yang baru belajar berdiri.

Nathan datang membawa dua gelas susu. "Jerry bilang dokumennya lengkap."

"Kenapa semua urusan Singapura memakai Aries Mah?"

"Itu nama yang tercatat di sana sejak kecil. Nathan Hartawan adalah nama yang kupakai bersama keluarga Mama dan di Jakarta. Keduanya milikku."

"Dan Maxson?"

Nathan duduk di seberangnya. "Marcus mendirikan jaringan bank itu bersama keluarganya. Secara hukum, aku punya posisi dalam struktur keluarga Mah. Tapi aku belum menerima kendali apa pun."

"Bobby bilang pewaris tunggal."

"Dia menyederhanakan." Nathan memutar gelas. "Ada Mitchell, anak angkat Marcus. Ada perwalian aset, perusahaan induk, dan banyak kepentingan keluarga. Aku tidak mau hidup kita ditentukan semua itu."

Karina menyentuh baris nama Aries. "Tapi hidup kita sudah terhubung. Aku menandatangani ini."

"Aku tahu." Nathan mengangkat mata. "Aku seharusnya menjelaskan lebih awal."

Permintaan maaf itu tidak menghapus seluruh rahasia, tetapi Karina memilih tidak memaksa. Ia dapat melihat bahwa nama Marcus bukan sekadar daftar kekayaan. Ada luka lama yang belum Nathan tahu cara membaginya.

Mereka memeriksa daftar langkah administrasi. Jerry telah menunjuk pengacara lokal untuk menyerahkan laporan perkawinan luar negeri dan terjemahan tersumpah. Karina hanya perlu menghadiri verifikasi bila diminta. Pemberkatan gereja serta dua resepsi tetap ditunda sampai kondisi kehamilan aman.

Jerry bergabung lewat panggilan video untuk menjelaskan bahwa dokumen asli tidak boleh dilaminasi dan setiap salinan harus dilegalisasi sesuai kebutuhan instansi. Ia mengirim nomor referensi berkas, daftar penerjemah tersumpah, dan jadwal untuk memastikan pelaporan tidak melewati batas administratif.

"Status perkawinan kalian sah berdasarkan tempat pencatatan," katanya. "Pelaporan di Indonesia penting untuk pembaruan data kependudukan, kartu keluarga, dan administrasi anak nanti. Jangan menganggap resepsi menggantikan proses itu."

Karina menulis semua poin. Nathan terlihat bosan ketika Jerry membahas cap dan salinan, sehingga Karina menendang kakinya di bawah meja.

"Ini juga urusanmu," katanya.

"Aku mendengar."

Jerry menguji dengan bertanya dokumen apa yang harus dibawa untuk verifikasi. Nathan hanya mampu menyebut paspor. Karina menyebut seluruh daftar tanpa melihat catatan.

"Saya serahkan pengawasan kepada Cik Karina," kata Jerry.

"Semua orang selalu berpihak padanya," gerutu Nathan.

"Karena Cik Karina membaca email sampai selesai."

Setelah panggilan, Karina membuat dua folder terpisah: dokumen perkawinan dan dokumen kehamilan. Ia menambahkan kontak darurat, nomor polis asuransi, dan surat kuasa terbatas jika sewaktu-waktu harus dirawat. Pengaturan itu tidak romantis, tetapi justru membuat pernikahan mereka terasa nyata. Cinta bisa penuh kejutan; administrasi memastikan kejutan tidak berubah menjadi kekacauan.

"Jadi secara hukum aku benar-benar istrimu," kata Karina.

Nathan mengangkat alis. "Baru sadar?"

"Aku sedang memeriksa kemungkinan penipuan."

"Kalau aku penipu, aku sudah menyerahkan rumah, pendapatan, dan sepuluh persen perusahaan terlalu banyak."

"Penipu yang tidak efisien."

Nathan tertawa. Ia mengambil satu salinan, memasukkannya ke map tahan api, lalu menyimpan versi digital terenkripsi sesuai petunjuk Jerry.

Sore itu Livia dan Josie datang membawa contoh tampilan situs Metamorfosa. Logo kupu-kupu telah disederhanakan. Halaman depan menampilkan tiga jalur: bertumbuh, bekerja, dan membangun usaha.

Karina memberikan catatan pada ukuran huruf, sumber kutipan, serta tombol bantuan yang harus terlihat jelas pada artikel mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ia juga menolak foto stok perempuan menangis.

"Kita tidak menjual kesedihan," katanya. "Kita memberi jalan keluar."

Livia mengangguk. "Peluncuran lunak dua pekan lagi. Kamu yakin sanggup?"

"Aku mengatur jam kerja maksimal empat jam. dr. Silvia sudah menyetujuinya."

Josie meletakkan tangan di perut Karina ketika salah satu bayi bergerak. "Mereka ikut rapat."

"Dan kemungkinan tidak setuju dengan desainmu," kata Nathan dari pintu.

"Anakmu belum punya hak suara," balas Josie.

Rumah yang dulu terlalu luas mulai dipenuhi suara. Kevin datang pada akhir pekan, membawa catatan kuliah untuk Nathan dan buah untuk Karina. Cik Anna menelepon setiap dua hari, selalu berpura-pura hanya ingin memastikan dr. Silvia bekerja baik. Popo mengirim sup, sedangkan Engkong mengirim artikel bisnis dengan catatan tangan untuk Metamorfosa.

Mama Meilan juga membuat grup keluarga baru yang hanya berisi enam orang. Setiap pagi ia meminta foto sarapan, sementara Papa Hendra mengingatkan Nathan tentang kelas. Nathan mengeluh memiliki terlalu banyak pengawas, tetapi tidak pernah melewatkan satu laporan pun. Jaringan perhatian dari Bandung, Menteng, dan Singapura perlahan mengikat rumah itu menjadi pusat keluarga baru.

Karina tidak lagi merasa menumpang dalam hidup orang lain. Namun rasa aman itu justru menakutkan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak yang dapat hilang.

Malam hari, ia membawa dokumen registrasi ke ruang bunga. Hujan turun di luar kaca, membuat lampu SCBD menjadi garis kabur. Nathan datang dari belakang dan melingkarkan tangan di pinggangnya, berhati-hati pada perut yang kini jelas membulat.

"Anak-anak bergerak?" tanyanya.

"Yang tengah paling aktif."

Nathan menyelipkan telapak di tempat yang ditunjuk. Mereka menunggu dalam diam sampai satu dorongan kecil terasa.

"Nanti rumah ini benar-benar berisik," katanya.

"Kamu masih bisa berubah pikiran sebelum tiga bayi belajar menangis bergantian."

Pelukannya mengencang sedikit. "Kamu masih ingin memberiku jalan keluar?"

Karina menatap bayangan mereka di kaca. "Aku sedang belajar berhenti."

"Belajarlah lebih cepat."

Ada banyak kata yang dapat menjawab. Aku percaya padamu. Aku membutuhkanmu. Aku takut kehilanganmu. Semuanya mengarah ke satu kalimat yang belum berani dikeluarkan Karina.

Nathan juga diam. Dagunya bertumpu di bahu Karina, napasnya hangat di leher. Ia telah menjanjikan rumah, masa depan, dan perlindungan, tetapi belum pernah mengucapkan cinta secara langsung.

Mungkin keduanya menunggu orang lain melangkah dulu.

Di meja kecil, nama Aries Mah terlihat pada dokumen. Di ponsel Nathan, jadwal pemotretan Aegis di Singapura masih belum ditentukan. Di suatu tempat di negara itu, Marcus Mah mungkin sudah mendengar bahwa putranya menikah.

Untuk malam ini, Karina menutup map dan membiarkannya diam.

Nathan mencium pelipisnya. Kata yang memenuhi ruang di antara mereka tetap tidak terucap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!