Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Menaklukkan Nyi Weling Mestika 1

Bahwa dinding energi pembatas itu hanyalah dinding pembatas tingkat rendah.

Bukankah itu artinya sama saja dengan menyatakan Nyi Weling Mestika adalah sosok yang lemah ?  Semua orang tahu. Betapa sakti dan menakutkan nya Nyi Weling Mestika. Sehingga memasuki hutan Kamojing kalau tidak sangat terpaksa.

Orang orang akan memilih jalan melingkar yang jelas lebih jauh. Bahkan para pendekar jika tidak sangat terpaksa akan menghindari jalur hutan Kamojing yang terkenal angker.

Nyi Weling Mestika menatap Bagaga Alam dengan mata yang merah bersinar menyala bagaikan batu delima. Namun Pandeka Pedang Suling Kumala tetap saja menatap Nyi Weling Mestika dengan sikap tenang.

"Katakan siapa nama mu anak muda ?"

Bagaga Alam diam sejenak. Dia memikirkan sebuah gelar yang cocok untuknya. Rasanya sudah tidak sesuai lagi menggunakan gelar Pandeka Pedang Suling Kumala.

Yaa, bukankah pedang suling kumala telah ditinggal bersama Nirmala ? Hanya ada Pusaka Pedang Langitan alias pedang penakluk iblis. Setelah itu Bagaga Alam memperkenalkan sebuah nama baru.

"Pendekar Pembasmi Iblis, itulah nama ku." Kening Nyi Weling Mestika berlipat dalam.

Pendekar Pembasmi Iblis ?  Siapa itu ?  Apakah seorang pendatang baru di rimba hijau persilatan tanah Jawi ?

Sudah lebih dari lima ratus tahun usianya. Tapi dia belum pernah mendengar nama Pendekar Pembasmi Iblis. Tapi tunggu... Dulu ada seorang pendekar pedang yang menggunakan Pedang Penakluk Iblis. Apakah ini masih keturunan nya ?

Nyi Weling Mestika menatap Bagaga dengan sorot mata menyelidik. "Aku lihat kamu bukan orang tanah Jawi ini. Darimana kau berasal ?"

Bagaga Alam mengerutkan dahinya dan berkata dengan nada usil.

"Nyi Weling Mestika, untuk apa kau menanyakan tentang asal usul ku ? Apakah kau sedang mencari matuuu atau jodoh untuk diri mu ?  Aku jelas tidak akan mau."

Danang Wesi tersedak mendengar ucapan Bagaga Alam. Ni Kirana malah tidak sanggup menahan tawa.

Nyi Weling Mestika menjadi sangat marah mendengar ucapan Bagaga Alam. Ular besar dengan tubuh belang itu mendesis keras.

Zzssssssstttt....!

Danang Wesi dan Ni Kirana melihat wajah wanita cantik itu menjadi merah padam. Dia mengayun tangan seperti orang melempar.

Serangkum kekuatan besar menderu membelah lapisan udara tipis.

Whuaaaaaaaaamm...  Blaaaaarrr...!!

Ledakan dan ledakan.

Energi mendalam yang sangat besar menghantam dinding energi pembatas. Namun dinding energi itu hanya bergetar sedikit.

Palimo Alam melangkah keluar dinding pembatas. Danang Wesi dan Ni Kirana tetap berdiam dalam dinding pelindung transparan yang terbuat dari energi mendalam dan kekuatan bathin Bagaga Alam.

Aneka ular besar, kecil dan sangat beracun semakin banyak mengurung Bagaga Alam dan Danang Wesi serta Ni Kirana. Nyi Weling Mestika agak heran melihat Bagaga Alam keluar. Namun ular besar itu tidak langsung menyerang. "Kau berani keluar Pendekar Pembasmi Iblis ?"

"Kenapa aku tidak berani ?  Anak buah mu telah membuat kehilangan tiga ekor kuda kami. Kau tentu saja harus bertanggung jawab."

Bagaga Alam mengulurkan tangannya dan sebuah pedang bewarna hitam muncul di tangan Pendekar Pembasmi Iblis.

Aura kematian yang sangat kental menyebar. Udara terasa lebih berat dan menekan bagi Nyi Weling Mestika dan ribuan ular yang ada disitu. Ribuan ular itu mendesis dan bergerak mundur sedikit.

Danang Wesi dan Ni Kirana melihat wajah cantik Nyi Weling Mestika berubah. Wanita siluman ular itu bertanya dengan ragu.

"Itu Pedang Penakluk Iblis. Aka hubungan mu dengan Pandeka   Pedang Langitan ?"

Bagaga Alam terdiam sesaat. Dia berfikir dan bergumam dalam hati. Jadi begitu. Pusaka Pedang Langitan yang juga disebut Pedang Penakluk Iblis adalah milik Pandeka Pedang Langitan. Makanya orang rimba hijau juga menyebut pedang hitam itu dengan nama Pusaka Pedang Langitan. Padahal nama pedang hitam ini adalah Pedang Penakluk Iblis.

"He hei... Apakah kau malah tidak tahu dengan Pendekar Pedang Langitan ?"

Bagaga Alam tersenyum kecil dan menjawab dengan jujur.

"Ya... Aku baru pertama kali ini mendengar nama Pandeka Pedang Langitan."

"Kalau begitu serahkan Pusaka Pedang Langitan itu kepada ku. Kau dan dua teman mu akan kubiarkan hidup dan meninggalkan hutan Kamojing ini."

"He he hee... Apakah aku terlihat sangat bodoh dimata mu, Nyi Weling Mestika ?  Bagaimana aku bisa percaya kepada bangsa ular yang jelas lidahnya bercabang ?"

"Kalau begitu kau harus mati.

Seraaaaang....!!"

Nyi Weling Mestika tidak bisa lagi menahan diri. Rasa marah dan rasa kemaruk di hatinya.

Ribuan ular bergerak menyerang Bagaga Alam.

Zzzsssssssshhh....!! Cras crash..

Energi mendalam yang sangat tajam menyebar luas. Bias pedang bewarna hitam menabrak ular ular yang bergerak menyerang. Puluhan tubuh ular langsung terpotong.

Namun ular ular lain peduli.

Mereka mendesis keras dan terus maju menyerang. Bagaga Alam bergerak melingkar. Bias kekuatan yang sangat besar dan tajam kembali menyebar. Kali ini tebasan melingkar itu membunuh ular ular, jauh lebih banyak.

Nyi Weling Mestika menjadi semakin marah. Wanita cantik yang merupakan siluman ular itu menjadi sangat marah. Dia langsung melesat menerjang Bagaga Alam.

"Matilah...!!"

Bagaga Alam melenting tinggi.

Blaaaaarrr...!!

Pukulan keras Nyi Weling Mestika menghantam tanah bekas tempat Bagaga Alam berdiri. Lobang besar menghitam muncul di bekas tempat berdirinya Bagaga.

Bagaga yang masih berada di udara berputar. Bias energi hitam yang tajam kembali menyebar.

Zhuiiiiiinng...!  Crash crash crash 

Kembali puluh ular terpotong potong.

"Nyi Weling Mestika. Aku beri satu kesempatan. Pergilah. Kembali lah ketempat kalian. Atau kalian semua akan mati disini...!"

Jdaaaaaaaarrr....!!

Begitu Bagaga Alam selesai bicara. Petir tunggal menyalak sangat keras. Seakan Alam menyatakan persetujuan dengan ucapan Bagaga Alam.

Hujan deras masih turun. Air hujan membuat darah yang berceceran menyebar luas. Namun tubuh Bagaga tetap saja tidak basah. Tidak ada setetes air hujanpun yang mampu menyentuh tubuh Pendekar Pembasmi Iblis. Sementara Danang Wesi dan Ni Kirana sudah kuyup oleh air hujan.

"Huh... Jangan terlalu sombong anak muda. Mulutmu terlalu besar.

Seraaaaang....!!!!"

Ribuan ular kembali bergerak menuju Bagaga Alam. Kali ini ular ular itu mulai bergerak secara teratur. Tujuh ek yang ular besar yang berbeda-beda seakan mengatur pergerakan ribuan ular.

Dari tujuh ular besar itu dua ekor adalah ular kobra. Tiga ekor lainnya adalah ular tanah dan dua lainnya adalah ular hitam dengan garis emas dan merah dibagian tengkuk.

Ribuan ular itu bergerak seperti sebuah pasukan besar yang hendak menghancurkan musuh.

"Nyi Weling Mestika...!  Jika kalian tidak segera mundur. Tidak akan ada jalan untuk pergi selain jalan kematian...!!"

Nyi Weling Mestika hanya tersenyum sinis. Wanita cantik siluman ular itu sepertinya sama sekali tidak peduli.

Melihat itu Bagaga Alam melempar Pusaka Pedang Langitan. Pedang itu hilang begitu saja dan kini sebuah suling perak telah berada ditangan Bagaga Alam.

Perlahan Suling Perak mulai ditiup. Irama suling lembut mendayu dayu.

Suara suling yang lembut menyebar ke seantero hutan. Suara tiupan suling terdengar jernih, sama sekali tidak terdistorsi oleh deru hujan.

Ribuan ular seperti tertegun. Mereka mendesis dan mendesis.

\=\=\=\=\=***\=©

Note :

Ini mungkin bab terakhir. Karena jumlah pembaca terlalu sedikit

kecuali memang ada peningkatan jumlah pembaca

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!