Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:84.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan

Levia terdiam. Ratih pun ikut membeku.

Pertanyaan itu terasa aneh. Membuat suasana meja makan berubah dalam sekejap.

Selama hampir setahun menikah, Vandra tidak pernah sekalipun memintanya menunggu. Bahkan sejak awal, pria itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menginginkan pernikahan mereka.

Lalu sekarang...

Kenapa tiba-tiba bertanya soal dirinya menikah dengan pria lain?

Dalam hati Vivian mendengus. “Ngapain manusia kutub ini nanya begitu? Jangan-jangan... Ah, gak mungkin.”

Levia segera menyingkirkan pikiran itu. Ia menatap Vandra dengan tenang. “Kenapa nanya begitu?”

Vandra sedikit mengernyit. “Cuma penasaran.”

“Kalau begitu...” Levia mengambil gelas air putih di depannya. “Aku juga gak tahu jawabannya.”

“Gak tahu?”

Levia menggeleng. “Aku gak punya rencana menikah lagi dalam waktu dekat. Aku masih mau fokus sama diri sendiri, Ayah, dan pekerjaanku.”

Vandra mengangguk pelan. Namun sebelum sempat merasa lega, Levia melanjutkan.

“Tapi kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Jemari Vandra yang berada di atas meja perlahan menegang.

Levia tidak menyadarinya. “Namanya juga hidup. Kita gak pernah tahu siapa yang bakal datang.”

Ia tersenyum tipis.

“Yang jelas, kalau nanti aku nikah lagi, aku pengen sama orang yang benar-benar cinta sama aku, ngehargai aku, dan gak bikin aku ngerasa harus ngejer-ngejer perhatian tiap hari.”

Vandra terdiam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dilemparkan tepat ke arahnya. Padahal Levia mengucapkannya dengan nada begitu tenang.

“Aku juga pengen punya pasangan yang kalau aku sakit, dia peduli. Kalau aku sedih, dia mau dengerin. Bukan seseorang yang bikin aku terus bertanya-tanya apakah keberadaanku ganggu hidupnya.”

Ratih menatap putranya sekilas. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Levia.

Sementara Vandra hanya menatap meja makan. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.

Bukankah selama ini ia memang seperti itu? Tidak pernah memberikan perhatian. Tidak pernah memberi harapan. Bahkan ketika Levia berusaha mendekatinya, ia selalu menjauh.

Namun anehnya...

Mendengar wanita itu mengatakan ingin mendapatkan semua itu dari pria lain membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Levia menatap Vandra. “Tapi untuk sekarang, aku gak mikirin pernikahan lagi.”

“Kenapa?” tanya Vandra tanpa sadar.

Levia mengangkat alis. “Karena aku baru belajar mencintai hidupku sendiri.”

Vandra terdiam.

Ratih yang melihat suasana semakin canggung segera berdeham.

“Sudah, sudah. Jangan membahas hal seperti itu pagi-pagi.” Ia tersenyum, lalu mengambil sendok. “Lebih baik kita sarapan. Ibu penasaran sama masakan Via.”

Levia ikut tersenyum. “Iya, Bu. Coba saja.”

Ratih mengambil sedikit sayur dan lauk yang tersaji di depannya. Ia memasukkan suapan pertama ke mulut. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.

“Hmm?”

Levia langsung menatapnya. “Gimana, Bu?”

Ratih mengunyah perlahan, lalu tersenyum lebar. “Enak.”

“Beneran?”

“Beneran. Rasanya pas.”

Levia terlihat lega. “Syukurlah.”

Ratih mengambil satu suapan lagi. “Ini kamu yang masak?”

Levia mengangguk. “Iya.”

“Kalau begini, Ayahmu pasti senang.”

Levia tertawa kecil. “Semoga.”

Vandra yang sejak tadi diam akhirnya ikut mengambil makanan. Ia sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rasa masakan itu. Pikirannya masih tertinggal pada jawaban Levia.

Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, ia terdiam. Rasanya benar-benar enak. Bukan sekadar enak untuk makanan sehat. Memang enak.

Vandra menatap hidangan di depannya beberapa saat. “Dia bener-bener bisa masak?”

Ia kembali melirik Levia.

Wanita itu sedang berbicara dengan Ratih sambil tersenyum. Tidak ada sedikit pun usaha untuk menarik perhatiannya.

Tidak ada tatapan penuh harap. Tidak ada sikap manja. Seolah pertanyaan Vandra tadi tidak berarti apa-apa baginya. Justru itu yang membuat Vandra semakin terganggu.

Ia kembali menyuap makanan. Enak. Namun entah kenapa, pagi itu rasa makanan bukanlah hal yang paling memenuhi pikirannya. Yang terus terngiang justru satu kalimat Levia.

"Kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Vandra menelan makanannya perlahan. Entah mengapa, ia membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.

Levia... bersama pria lain.

Dan anehnya, bayangan itu sama sekali tidak terasa menyenangkan.

Ia menatap Levia yang sedang tersenyum kepada Ratih. Wanita itu benar-benar sudah tidak mengejarnya. Tidak menunggunya.

Bahkan tidak lagi takut kehilangan dirinya.

Dan jujur, Vandra justru takut pada satu kemungkinan.

"Gimana kalau suatu hari Levia bener-bener gak menginginkan aku lagi?"

 

Usai sarapan, Levia berdiri dari kursinya. “Bu, aku pulang dulu, ya.”

Ratih ikut bangkit. “Ibu antar sampai depan.”

Levia mengangguk.

Vandra yang masih duduk di kursinya ikut menoleh. Entah mengapa, ketika melihat Levia mengambil tas, sebuah kalimat tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Via, selama aku pergi... tolong jaga Ibu."

Namun bibirnya tidak langsung mengucapkannya. Ia teringat surat perceraian yang sudah diberikan kepada Levia.

Mereka memang belum resmi bercerai. Tetapi ia sendiri yang sudah mengatakan ingin mengakhiri pernikahan itu.

Memangnya dengan hak apa ia meminta Levia menjaga ibunya?

Vandra akhirnya hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Levia menoleh. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, kamu juga hati-hati. Tidak ada perhatian berlebihan seperti dulu.

Levia hanya tersenyum tipis lalu berjalan bersama Ratih menuju pintu utama.

Baru beberapa langkah mereka berjalan...

Ting. Tong.

Bel pintu berbunyi.

Ratih mengernyit. “Siapa pagi-pagi begini?”

Levia ikut menoleh.

Vandra yang masih berada di ruang makan juga mengangkat kepala.

“Sekalian saja kita lihat siapa yang datang,” kata Ratih pada Levia.

Mereka sampai di depan pintu. Ratih meraih gagangnya.

Klik.

Pintu terbuka. Namun begitu melihat siapa yang berdiri di baliknya... keduanya terdiam.

 

...✨“Terkadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika membayangkan hidup kita tanpa dirinya.”✨...

.

To be continued

1
Septi Wijaya
status nya blm cere kan ya .. harusnya jgn bawa lelaki ke rumah...
Ma Em
Vandra hatinya sdh senang karena surat cerai blm di tanda tangan oleh Levia tapi Levia malah bilang kalau Vandra mau mengambil surat cerainya .
Uthie
selalu dibikin nagih terus baca kisah cerita mereka 😁👍👍
Ass Yfa
ya ampun..nyesek bngt..pulang jerumah istri yg buka pintu orang luar...maksutnya gimana..kalo Vandra nggk bisa mengelola emosi jelas mencak2,,,Via juga buasa aja...dia bukan Levia...mssalahnya dia Viviana..jadi rasa cinta iti tak pernah ada😭😭
Ass Yfa
ribet bngt sih Van..cintamu
Ass Yfa
kenapa harus Risa yg nelpon...berharap Levia....harusnya tiap kali Risa nrlpon tdk usah diangjt diabaikan saja...ters meners ngasih harapan ke Risa...Vandra sendiri tdk tegas
Anitha
Van jangan biarkan Levia tanda tangan surat cerai itu, ayo kamu ngomong jangan kelu gitu di depan Via...buktikan kalo kamu mesih mencintai Levia dan menginginkannya💪
mery harwati
Ini minum kopi online dulu lah pagi², agar kalian (Vandra, Andri & Levia) gak salah paham lagi, apapun akhir cerita ini, mau berpisah baik² mencari pasangan hidup masing² silahkan, mau dilanjut sebagai suami istri terserah, karena author yang punya alur ceritanya 😍
Wardi's
beuh berat vandra... berat..., hayo loh mau jawab apa .. mo ngomong apa..., jangan malu., akuin aja klo kamu mau batalin perceraian itu...
mery harwati
Sengaja alurnya dibuat Andri yang buka pintu saat Vandra berkunjung ke rumah Pak Gultom mertua Vandra, padahal ada Bu Sari ART di rumah Pak Gultom 😀
Apa iya Andri Mahesa sebagai tamu sekaligus rekan bisnis Brenda malah yang membukakan pintu saat ada tamu di rumah Pak Gultom? Sedangkan posisi Andri sendiri juga tamu 😂
Dan Pak Gultom sebagai tuan rumah tidak memperkenalkan Andri pada Vandra, kesannya dibuat agar salah paham antara Vandra, Andri & Levia 🤭
Anitha
setahun bertugas dan baru pulang ingin menemui istrinya,dan sampai rumah di sambut dengan adanya Andri yang nginep du rumah Levia...

panggilan kak Andri membuat Vandra membeku😄
Wardi's
pasti nyess bgt rasanya ya vandra.., yg sabar ya., anggap aja ujian atas perbuatanmu selama ini.. msh berhubungan sama risa pdhl blm cerai..
Wardi's
omegat gmn tuh rasanya vandra..., disaat sdh mulai menerima levia., tp ada pria lain yg nginap dirumahnya .
aku
terkesan plin plan. kmren bandingin sm si onoh yg bergelar dokter. klo skrg d blg ke via jd mkirnya org pasti krn via lbh sukses. 😌
Wardi's
nah loh.... pagi2 vandra d kejutkan ada andri nginep d rumah levia...
Anitha
kejutan untuk Vandra di saat pulang ke rumah Levia di sambut dengsn adanya Andrii yang nginep di rumah Levia...kamu jangan salah paham dulu ya Van..bersikaplah dengan bijak
asih
gimana reaksi vandra Nanti ketika DIA datang ke rumah via dan ternyata disana Ada andri hahaha
Ma Em
Apakah Levia akan kembali pada Vandra atau berjodoh dgn Andri Mahesa .
Kadek Sri
wah Vandra akan bertemu Levia
Puji Hastuti
jeng jeng jeng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!