Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Secercah Cahaya di Ujung Lorong
Ekaterina
Aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Kukenakan gaun sederhana, tapi salah satu yang terbaik yang kupunya. Kurapikan rambut dan kuambil dokumen-dokumenku.
Begitu keluar dan kembali ke ruang tamu, Nyonya Alina menatapku dengan mata yang teramat lembut. Dia tak sedang berusaha membaca isi hatiku. Tak menatapku seolah aku sebuah masalah.
Itu malah membuatku canggung.
Dia bangkit berdiri.
"Kita harus berangkat."
Aku hanya mengangguk.
Saat kami keluar, sopir sudah menunggu dengan pintu terbuka. Nyonya Alina masuk lebih dulu dan aku duduk di sampingnya.
Mobil mulai melaju dalam hening.
Setelah beberapa menit, dia bertanya:
"Berapa umurmu?"
"Delapan belas."
Dia meliriku sekilas, dan aku mengalihkan pandangan ke jendela.
Semuanya terasa makin buruk saat diucapkan lantang.
Delapan belas tahun.
Hamil.
Tanpa uang.
Tanpa siapa-siapa.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri berkata:
"Aku mau ikut, Nyonya... tapi dengan satu syarat."
Dia kembali menaruh perhatian padaku.
"Apa itu?"
Aku meremas dokumen di pangkuanku.
"Izinkan aku membayarnya nanti."
Dia menatapku beberapa detik. Bukan dengan iba. Hanya... tenang.
"Kau tak perlu memikirkan itu sekarang."
Aku langsung menunduk.
Karena itu sedikit mempermalukanku.
Tapi juga melegakanku.
Dan aku benci harus bergantung pada bantuan orang.
Setelah sekian menit yang panjang, mobil berhenti di depan sebuah klinik mewah. Terlalu besar. Terlalu bersih. Terlalu mahal.
Perutku bergolak.
Begitu masuk, Nyonya Alina langsung menuju resepsionis. Dia mengurus segalanya dengan cepat, seperti orang yang terbiasa dilayani tanpa menunggu.
Tak lama, namaku dipanggil.
Aku menggenggam tasku erat-erat selagi berjalan menyusuri koridor.
Nyonya Alina mendampingiku di sisiku dan berkomentar dengan wajar:
"Dokter ini yang menangani kedua persalinanku. Dokter Alda."
Aku mengangguk, tak tahu harus menjawab apa.
Ketika pintu ruang periksa terbuka, kulihat seorang wanita anggun berambut terang yang disanggul rapi. Dia tersenyum, mula-mula pada Alina lalu padaku.
"Jadi ini calon ibunya?" tanyanya ramah.
"Sungguh berkah, Alina, dua cucu sekaligus."
"Aku benar-benar diberkati, kawan. Dan aku berharap kali ini seorang cucu perempuan." Alina berkata sambil menggenggam tanganku.
Dokter itu memulai pemeriksaan dengan mengajukan berbagai pertanyaan.
Tentang tanggal haid terakhirku.
Bagaimana perasaanku belakangan ini.
Apakah aku merasa mual, pusing, atau nyeri.
Aku menjawab semuanya dengan suara pelan, sementara dia mencatat di sebuah formulir.
Nyonya Alina tetap duduk agak menjauh, diam, menghormati momen itu.
Setelah beberapa menit, dokter itu tersenyum ramah.
"Sekarang kita lakukan pemeriksaan USG."
Jantungku langsung berpacu.
Aku berbaring di ranjang periksa dengan sedikit gugup. Dokter mengoleskan gel dingin ke perutku lalu memulai pemeriksaan.
Lalu layar menyala.
Dan aku melihatnya.
Bayiku.
Kecil.
Cantik.
Bergerak.
Air mataku turun seketika, tanpa bisa kukendalikan. Aku terus menatap terpaku pada gambar bergetar yang, entah bagaimana, sudah berarti segalanya.
Bayiku.
Nyata.
Hidup.
Dokter menggerakkan alatnya perlahan lalu tersenyum.
"Usia kehamilan sekitar dua belas minggu lima hari."
Aku membawa tangan ke mulut, berusaha menahan tangis, tapi tak bisa.
Dan lalu...
seolah aku tak mungkin lebih terharu lagi...
sebuah suara memenuhi ruangan.
Kuat.
Cepat.
Hidup.
Detak jantung bayiku.
Aku memejamkan mata sesaat selagi air mataku jatuh makin deras.
Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula...
sesuatu dalam diriku berhenti menjadi ketakutan.
Dan berubah menjadi cinta.
Dokter memberiku beberapa lembar tisu untuk membersihkan gel dari perutku. Tanganku masih sedikit gemetar saat mengusap kulitku.
Nyonya Alina mendekat dan membantuku duduk lalu turun dari ranjang periksa dengan hati-hati.
Tindakan itu sederhana.
Tapi membuat mataku kembali terasa panas.
Kami kembali ke kursi di depan meja dokter. Dokter Alda mencatat beberapa hal di tabletnya sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke arahku.
Senyum ramahnya sedikit memudar, berganti nada yang lebih profesional.
"Bayinya sehat..."
Detak jantungku sedikit melambat.
Tapi dia melanjutkan:
"Namun beratnya di bawah yang seharusnya untuk usia kehamilan ini."
Udara seakan lenyap dari paru-paruku.
"Ini bukan hal yang gawat," dia cepat menjelaskan. "Tapi kita perlu memantaunya dari dekat."
Aku terpaku, menyimak setiap kata seperti perlahan tenggelam.
"Aku akan meresepkan beberapa vitamin penting dan juga meminta tes darah. Semuanya bisa dilakukan di sini."
Dia mengetik beberapa hal lagi sebelum melanjutkan:
"Dan aku minta kau kembali dalam tujuh hari."
Aku nyaris tak menyimak sisanya.
Karena satu kalimat terus menggema di kepalaku.
Di bawah berat normal.
Bayiku.
Karena kesalahanku.
Hari-hari tanpa makan yang layak.
Ketakutan.
Tekanan batin.
Semuanya datang sekaligus.
Air mataku kembali bahkan sebelum aku menyadarinya.
Aku tak sanggup menahan tangis.
Aku ibu yang buruk...
Pikiran itu menggema di kepalaku.
Nyonya Alina langsung menggenggam tanganku erat.
Kuat.
Hangat.
Seolah berusaha mencegahku runtuh.
Aku menunduk, malu.
"Bayiku jadi begini karena kesalahanku..."
Suaraku sepenuhnya pecah.
Alina meremas tanganku lebih erat.
"Tatap aku, Ekaterina. Kau ada di sini sekarang. Kau merawatnya sekarang. Dan semuanya akan baik-baik saja."
Aku memejamkan mata, berusaha mempercayainya.
Seorang perawat masuk ke ruangan tak lama kemudian. Dia mengambil darahku di situ juga. Cekatan. Praktis. Seperti orang yang terbiasa melakukannya sepanjang hari.
Aku nyaris tak merasakan jarumnya.
Nyonya Alina berterima kasih pada perawat itu dan langsung mengurus segalanya dengan wajar.
"Kami akan kembali dalam tujuh hari."
Kami keluar dari klinik tak lama setelahnya.
Di perjalanan, dia meminta sopir berhenti di sebuah apotek.
"Aku akan membeli vitaminmu."
"Nyonya, tak perlu..."
Tapi dia sudah turun dari mobil bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku tetap duduk mengamati lalu lalang jalanan lewat jendela. Masih mencoba mencerna semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.
Bayiku.
Aku mendengar detak jantung bayiku.
Pintu terbuka lagi dan Nyonya Alina kembali membawa sekantong belanjaan dari apotek.
Tapi bukan cuma itu.
Dia menyodorkan sebatang cokelat kecil padaku.
"Untuk cucu perempuanku."
Aku menerima cokelat itu dengan heran.
Sudah lama tak ada yang melakukan hal semacam ini untukku.
"Terima kasih."
Aku membukanya perlahan dan memakan sepotong selagi memandangi kota yang berlalu di balik jendela mobil.
Keheningan di antara kami tak terasa buruk.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama... keheningan itu tak membebani.
Lalu Nyonya Alina kembali berbicara.
Suaranya pelan. Hati-hati.
"Izinkan aku ikut dalam kehidupan cucuku, Ekaterina."
Hatiku langsung mencelos.
Dia melanjutkan:
"Aku tahu ini mungkin sulit bagimu. Tapi aku ada di sini... untukmu dan untuk bayi kita."
Bayi kita.
Cara dia mengucapkannya sedikit meruntuhkan pertahanan dalam diriku.
"Boleh aku minta nomor teleponmu?"
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mengambil ponsel yang dia sodorkan dan menuliskan nomorku.
Dia tersenyum tipis.
Kukembalikan ponselnya dan aku menunduk.
"Terima kasih."
Nyonya Alina memandangiku dalam diam sebelum mengucapkan sesuatu yang membuatku kembali mengangkat pandangan.
"Aku pernah berada di situasi yang sama denganmu."
Aku sedikit mengerutkan kening.
Dia menatap ke depan sebelum melanjutkan:
"Hamil dan sebatang kara."
Mobil berhenti di depan rumahku.
Dia memandang ke luar beberapa detik lalu mengembuskan napas pelan.
"Tapi itu cerita panjang... simpan saja untuk minggu depan."
Aku hanya mengangguk.
Masih tak tahu persis kenapa aku ingin mendengarnya.
"Terima kasih sekali lagi," kataku pelan sambil membuka pintu.
Aku turun dari mobil.
Tapi Nyonya Alina ikut turun juga.
Lalu kulihat sebuah mobil lain terparkir tepat di belakang.
Beberapa pria mulai menurunkan banyak kantong besar.
Bahan makanan.
Buah-buahan.
Sayur-mayur.
Sayuran hijau.
Sekujur tubuhku membeku.
Aku memandang tak percaya selagi mereka membawa semuanya ke depan pintu rumahku.
Nyonya Alina langsung menyadarinya.
Lalu menatapku dengan tegas, tapi juga penuh kasih.
"Bayi kita perlu makan dengan baik..."
Aku kembali berterima kasih, dengan canggung.
"Nyonya Alina... aku bahkan tak tahu bagaimana berterima kasih atas semua ini."
Dia hanya menyentuh lenganku pelan, seolah ingin mencegah semua itu berubah menjadi beban yang lebih berat.
"Jaga dirimu dan bayimu, Ekaterina."
Aku mengangguk perlahan.
Kubuka pintu rumah dan para pria itu masuk sambil membawa kantong-kantong belanjaan. Mereka menaruh semuanya di dapur dalam diam, cepat dan tak banyak bicara, seolah sudah tahu persis apa yang harus dilakukan.
Beberapa menit kemudian, mereka keluar lagi.
Nyonya Alina menatapku sekali lagi sebelum masuk ke mobil.
Lalu melambai padaku dari balik jendela.
Aku membalas lambaiannya, masih agak linglung.
Mobil itu menjauh perlahan di sepanjang jalan.
Dan ketika ia lenyap di tikungan...
akhirnya aku menutup pintu.
Keheningan rumah kembali.
Tapi kali ini terasa berbeda.
Lebih ringan.
Sebuah senyum kecil lolos dariku, lega, nyaris tanpa kusadari.
Lalu aku menuju dapur.
Dan berhenti, memandangi semuanya.
Buah-buahan segar.
Sayuran.
Sayur-mayur.
Bahan makanan.
Kulkasnya akhirnya takkan kosong lagi.
Mataku kembali terasa panas.
Tapi kali ini bukan karena putus asa.
Aku mulai menyimpan belanjaan perlahan, menata setiap barang seolah benda-benda itu berharga.
Karena memang begitu.