Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Evelyn keluar dengan langkah sedikit gontai.

Wajahnya masih pucat. Bahkan setelah membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, bayangan koper hitam itu masih terus muncul di kepalanya.

Koper di sudut lift.

Passengers: 2.

Dan kabar yang baru saja ia dengar dari Celine. Potongan tubuh manusia. Perutnya kembali terasa mual hanya dengan mengingatnya.

Dengan langkah pelan, ia kembali ke ruang tamu. Kael yang masih duduk di sofa langsung mengangkat pandangan.

Tatapannya jatuh pada wajah Evelyn yang jelas terlihat tidak baik-baik saja. "Kau pucat."

Evelyn menjatuhkan diri ke sofa di sebelahnya. "Aku juga tahu."

Biasanya ia akan bercanda.

Biasanya ia akan mengeluh panjang lebar. Namun kali ini suaranya terdengar lemah.

Kael mengamatinya beberapa saat. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Evelyn menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan.

"Di apartemen ini..." Ia menelan ludah. "Baru ditemukan koper."

Kael tidak menyela.

"Dan ternyata isinya mayat."

Sunyi.

Evelyn menundukkan kepala. "Yang bikin aku takut..."

Suaranya mengecil. "Tadi aku lihat koper itu."

Mata Kael sedikit menyipit.

Evelyn melanjutkan pelan. "Aku naik lift sendirian."

"Terus?"

"Ada koper hitam di dalam lift." Ia memejamkan mata sejenak. "Malah aku sempat lapor ke staf apartemen karena kupikir ada orang yang lupa mengambilnya."

Kael tetap diam mendengarkan.

"Aku bahkan lihat sendiri koper itu dibawa keluar dari lift." Evelyn tertawa kecil. Tawa yang terdengar kering.

"Dan sekarang gue baru tahu apa isinya." Tangannya tanpa sadar bergetar. "Bayangin aja... Gue satu lift sama benda itu."

Ruangan kembali hening. Untuk pertama kalinya malam itu, Evelyn terlihat benar-benar ketakutan.

Bukan takut karena tugas kuliah. Bukan takut karena rapat bisnis. Melainkan ketakutan yang jauh lebih sederhana. Dan jauh lebih manusiawi.

Kael memperhatikan wajah gadis itu beberapa saat. "Lalu?"

Evelyn menoleh. Tatapan mereka bertemu. "Lalu aku lihat sesuatu yang aneh."

"Aneh?"

Evelyn mengangguk pelan.

"Di lift ada indikator jumlah penumpang."

Kael menunggu.

"Waktu itu cuma ada aku."

"Lalu?"

"Tapi angka di layarnya menunjukkan dua."

Kael terdiam. Evelyn memeluk bantal sofa. "Awalnya aku pikir karena koper. Tapi sekarang..."

Ia menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa rasa dingin kembali menjalar di punggungnya.

Kael akhirnya bersandar. "Kau terlalu banyak berpikir."

"Mungkin."

"Ya."

Evelyn menghela napas panjang. Lalu tiba-tiba menatap Kael. "Kalau target berikutnya aku gimana?"

Kael mengernyit. "Kau kenapa berpikir begitu?"

Karena... Karena aku selalu ada di dekat semua kejadian aneh itu. Karena aku tahu sesuatu yang seharusnya tidak kuketahui.

Karena aku tahu nama seorang pembunuh yang bahkan tidak seharusnya ada di dunia ini.

Namun semua kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Tidak bisa keluar. Tidak boleh keluar.

Akhirnya Evelyn memalingkan wajah. "Ya... bukannya korban-korban kayak gitu kadang dipilih random?"

Ia memaksakan tawa kecil. "Siapa tahu besok giliran gue."

Kael menatapnya lama.

Terlalu lama. Sampai Evelyn mulai merasa tidak nyaman.

Kemudian pria itu menghela napas pelan.

"Kau terlalu banyak menonton berita."

"Mungkin."

"Kau aman."

Evelyn hanya tertawa hambar. Kalimat itu terdengar menenangkan. Tapi anehnya... Tidak cukup membuat rasa takutnya hilang. Kael melihat jam di pergelangan tangannya.

"Aku harus pergi."

"Oh..."

Evelyn mengangguk. Ia sebenarnya ingin meminta Kael tinggal sedikit lebih lama. Setidaknya sampai rasa tidak

nyaman di dadanya menghilang.

Tapi ia terlalu malu untuk mengatakannya. Kael berdiri.

"Aku pulang dulu."

"Ya."

"Sebaiknya kau istirahat."

Evelyn mengangguk lagi.

"Iya."

"Dan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu."

"Siap, Pak Guru."

Kael menggeleng pelan melihat candaan itu. Kemudian berbalik hendak pergi. Evelyn ikut berdiri. Namun saat baru melangkah satu langkah-

Pandangannya mendadak berputar. Dunia di sekelilingnya terasa miring.

"Hah...?"

Kepalanya berdenyut. Kaki Evelyn kehilangan keseimbangan. Dan-

Bruk.

Tubuhnya jatuh ke depan. Tepat ke arah Kael. Refleks pria itu menangkapnya. Membuat Evelyn kini terduduk di pangkuannya.

"..."

"..."

Dua orang itu membeku. Wajah Evelyn langsung merah. Otaknya bahkan berhenti bekerja selama beberapa detik.

"Maaf!"

Ia buru-buru hendak bangkit. Namun pandangannya kembali berkunang-kunang.

Kepalanya terasa semakin berat.

Tubuhnya limbung.

Dan sebelum benar-benar terjatuh lagi, lengan Kael menahan pinggangnya. "Jangan bergerak."

Suara pria itu terdengar rendah. Evelyn menggigit bibir. "Aku baik-baik aja..."

saja." "Kau jelas tidak baik-baik Pandangan gadis itu mulai buram. Entah karena syok. Entah karena kelelahan. Entah karena beberapa malam terakhir ia hampir tidak pernah benar-benar beristirahat.

Ia mencoba fokus melihat wajah Kael. Namun semuanya terasa kabur. Yang ia rasakan hanyalah suara pria itu yang terdengar lebih dekat dari biasanya.

"Tenang." Bisik Kael pelan. "Kau aman."

Kalimat yang sama. Namun kali ini terdengar jauh lebih jelas. Jauh lebih hangat. Seolah benar-benar berusaha meyakinkannya.

Kelopak mata Evelyn mulai terasa berat. Sangat berat. Dan untuk pertama kalinya malam itu, semua ketakutan yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar.

Bibirnya bergetar pelan. Hampir seperti gumaman. Hampir seperti pengakuan.

"Aku takut..." Suara itu begitu lirih. Smpai membuat ruangan mendadak terasa sunyi.

Kael terdiam. Menatap gadis yang perlahan kehilangan kesadarannya di pelukannya.

Lalu untuk sesaat... Tatapan dingin yang selalu ia tunjukkan menghilang. Digantikan sesuatu yang jauh lebih rumit. Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak ingin mengakuinya.

Tangannya bergerak perlahan menyentuh rambut Evelyn yang berantakan.

Dan dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik, "Tidak akan ada yang menyentuhmu."

Ruangan itu kembali sunyi.

Hanya suara samar pendingin ruangan yang terdengar di tengah malam yang semakin larut. Kael masih duduk di sofa, sementara Evelyn tertidur di pelukannya.

Napas gadis itu perlahan mulai teratur. Wajah yang sejak tadi tampak tegang kini sedikit lebih tenang, meski sisa-sisa kecemasan masih terlihat dari kerutan halus di dahinya.

Pria itu menundukkan pandangan. Tatapannya jatuh pada wajah Evelyn yang terlelap. Untuk beberapa saat, pria itu tidak bergerak. Seolah menikmati keheningan yang jarang ia dapatkan.

Tangannya perlahan terangkat. Ujung jarinya menyentuh pipi gadis itu dengan hati-hati. Tatapan dingin yang biasanya menghiasi wajahnya perlahan melunak.

Entah sejak kapan. Entah bagaimana awalnya. Namun setiap kali berada di dekat gadis ini, sesuatu dalam dirinya terasa berbeda.

Pikiran yang biasanya dipenuhi berbagai urusan, strategi, dan masalah yang tak ada habisnya mendadak menjadi jauh lebih tenang.

Bahkan rasa lelah yang selama ini terus menumpuk seolah menghilang begitu saja.

Kael menghela napas pelan. Lalu tanpa sadar semakin mempererat pelukannya.

Tubuh Evelyn yang hangat berada dalam dekapannya. Pria itu menundukkan kepala sedikit. Dagunya bertumpu ringan di atas rambut gadis itu.

Aroma sampo yang samar tercium. Membuat matanya terpejam sesaat. Malam terasa begitu tenang. Sampai-sampai pria itu hampir lupa bahwa dunia di luar sana masih dipenuhi kekacauan.

Namun semua ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kael membuka matanya kembali. Tatapannya kembali jernih. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

Sudah cukup larut. Perlahan ia bangkit dari sofa. Gerakannya hati-hati agar tidak membangunkan Evelyn. Satu tangan menyelip di bawah lutut gadis itu.

Tangan lainnya menopang punggungnya. Lalu dengan mudah ia mengangkat tubuh Evelyn. Tubuh gadis itu terasa ringan. Evelyn sedikit bergerak dalam tidurnya.

Kepalanya tanpa sadar bersandar lebih dekat ke dada Kael. Pria itu terdiam sesaat. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Lampu kamar masih menyala redup.

Kael mendorong pintu dengan pelan lalu masuk. Ia berjalan mendekati ranjang. Setelah sampai, ia menurunkan tubuh Evelyn secara perlahan.

Sangat perlahan. Seolah takut membangunkannya. Kepala gadis itu menyentuh bantal empuk. Rambut panjangnya sedikit berantakan Kemudian menarik selimut

di atas seprai. Kael membenarkannya dengan satu gerakan sederhana.

hingga menutupi tubuh Evelyn. Malam ini udara cukup dingin. Ia tidak ingin gadis itu kembali sakit. Setelah memastikan semuanya rapi, Kael berdiri di samping ranjang.

Menatap wajah Evelyn sekali lagi. Wajah yang sekarang terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa jam sebelumnya. Tidak ada kecemasan. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kerutan frustasi yang biasanya muncul saat gadis itu membaca dokumen perusahaan.

Hanya seorang gadis yang akhirnya bisa beristirahat.

Sudut bibir Kael terangkat tipis.

Senyum kecil yang jarang sekali muncul.

"Sungguh merepotkan..." gumamnya pelan.

Namun tidak ada nada kesal dalam suaranya. Justru sebaliknya. Pria itu mengulurkan tangan. Dengan lembut menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Evelyn.

Kemudian mundur selangkah. Lampu kamar diredupkan sedikit. Lalu Kael berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, langkahnya sempat terhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah ranjang.

Tatapannya menjadi sedikit dalam. Sedikit rumit. Seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun pada akhirnya, tidak satu pun keluar dari bibirnya.

Kael hanya membuka pintu.

Keluar dari kamar. Lalu menutupnya perlahan tanpa suara.

Klik.

Dan.. Malam kembali sunyi.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!