Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:343k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Kekhawatiran Seorang Ayah

Sore itu, Levia melangkah menuju garasi. Begitu melihatnya datang, sopir pribadi keluarga Gultom yang sedang membersihkan salah satu mobil segera berdiri.

"Selamat sore, Nona."

"Sore." Levia menghentikan langkahnya di tengah garasi yang luas.

Empat mobil terparkir berjajar rapi. Dua di antaranya milik Bram Gultom, sedangkan dua lainnya adalah mobil yang dibelikan khusus untuk Levia.

Ingatan pemilik tubuh ini masih tersimpan dengan jelas. Levia asli memang memiliki surat izin mengemudi. Namun, kemampuannya biasa saja. Selama ini ia lebih sering duduk di kursi belakang karena Bram tidak pernah mengizinkannya bepergian sendirian.

Pandangan Vivian berhenti pada sebuah SUV berwarna putih. "Yang itu saja."

Sopir segera mengambil kuncinya. "Baik, Nona. Saya keluarkan mobilnya."

Levia menggeleng. "Gak usah."

Sopir terdiam. "Nona?"

"Saya yang nyetir," kata Levia.

Seketika wajah sopir berubah panik. "Nona... biar saya saja."

Levia mengulurkan tangan. "Kuncinya."

"Tapi, Nona...."

"Aku bisa."

Sopir tersenyum canggung. "Bukan saya meragukan Nona. Tapi... lebih aman kalau saya yang mengantar."

Levia tetap menggeleng. "Hari ini aku ingin menyetir sendiri."

"Tapi Pak Gultom...."

"Kalau Ayah marah, nanti aku yang tanggung jawab."

Sopir masih tampak ragu. "Nona yakin?"

"Sangat yakin."

Beberapa detik kemudian, dengan wajah penuh kecemasan, sopir akhirnya menyerahkan kunci mobil.

"Kalau begitu... hati-hati ya, Nona."

Levia tersenyum. "Tenang."

Ia membuka pintu mobil. Namun, baru hendak masuk, ia langsung mengembuskan napas panjang.

"Kursinya sempit... atau badan ini yang kelewat besar?" batinnya.

Ia menarik napas, lalu berusaha memutar tubuhnya agar bisa duduk nyaman di balik kemudi. Butuh beberapa kali penyesuaian sebelum akhirnya berhasil.

"Ya Tuhan...." Ia menepuk pelan perutnya sendiri. "Levia... gimana kamu bisa bertahan hidup dengan badan segini?"

Setelah mengatur posisi duduk, ia menarik sabuk pengaman.

Klik.

Tangannya memegang kemudi. Jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat. Ingatan tentang hujan deras. Truk yang oleng. Mobil yang menabrak pembatas. Lalu sungai. Semuanya kembali terlintas begitu saja.

Vivian memejamkan mata selama beberapa detik. "Itu sudah berlalu." Ia mengembuskan napas perlahan. "Sekarang aku masih hidup."

Tangannya kembali mencengkeram setir dengan lebih mantap. Mesin dinyalakan.

Brumm....

Levia perlahan menginjak pedal gas. Mobil keluar dari garasi dengan mulus. Kemudian berbelok melewati halaman dan meluncur keluar dari gerbang rumah tanpa hambatan sedikit pun.

Sopir yang sedari tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya. "Syukurlah...."

Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. "Nggak." Ia menggeleng cepat. "Kalau terjadi apa-apa, aku bisa dipecat."

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari memasuki rumah.

 

Tok! Tok!

"Pak Gultom!"

"Masuk!"

Sopir membuka pintu ruang kerja dengan napas memburu. "Pak... maaf."

Bram mengangkat kepala dari berkas yang sedang dibacanya. "Ada apa?"

"Nona Levia... keluar."

"Keluar?" Bram mengangguk santai. "Ya sudah."

Sopir menelan ludah. "Nona... menyetir sendiri."

"Apa?!" Bram langsung berdiri hingga kursinya bergeser ke belakang. "Kamu bilang apa?"

"Nona membawa mobil sendiri, Pak."

Wajah Bram seketika berubah tegang. "Kok kamu biarin?"

"Saya sudah berusaha melarang, Pak. Saya juga berkali-kali menawarkan untuk mengantar. Tapi Nona tetap minta kuncinya."

Bram mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kamu kasih?"

"Saya gak berani menolak, Pak."

Bram terdiam sesaat. Ia tahu benar sifat putrinya. Kalau sudah keras kepala, siapa pun akan kesulitan menghentikannya.

Namun tetap saja...

"Kalau sampai terjadi sesuatu...." Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Bram segera meraih kunci mobil yang ada di atas meja.

 

Beberapa menit kemudian, mobil SUV hitam ikut keluar dari halaman rumah dengan jarak yang cukup jauh.

Di balik kemudinya, Bram Gultom menghela napas pelan.

"Semoga Ayah cuma terlalu khawatir."

Sejak kejadian di sungai kemarin, ia belum benar-benar tenang membiarkan putrinya bepergian sendiri.

Selain itu, setahunya, Levia bukan pengemudi yang percaya diri. Dulu putrinya lebih sering meminta sopir mengantar ke mana-mana.

"Sejak kapan Via berani nyetir sejauh ini?" gumamnya.

Mobil Levia melaju semakin kencang.

"Via.... Jangan bikin Ayah takut lagi."

Brami mencoba menghubungi putrinya. Namun panggilan itu tak kunjung diangkat. Dadanya kembali dipenuhi kecemasan.

 

Sementara itu, Vivian yang berada di balik kemudi melirik kaca spion. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Ketahuan."

Mobil ayahnya mengikuti dari kejauhan. Bukannya kesal, dadanya justru terasa hangat.

"Beliau pasti khawatir aku kenapa-kenapa." Ia mengembuskan napas pelan. "Levia... kamu bodoh sekali. Punya ayah yang begitu menyayangimu, tapi selama ini malah sibuk mengejer laki-laki yang gak pernah ngelihat kamu."

Ucapan itu tanpa sadar membuat Vivian teringat kehidupan lamanya. Ayah kandungnya tak pernah sekalipun menanyakan apakah ia lelah bekerja. Tak pernah memuji masakan yang ia buat. Tak pernah mengkhawatirkan keselamatannya.

Yang selalu ditanyakan hanya satu.

"Kapan kamu transfer uang?"

Vivian menggeleng pelan.

"Kalau dulu aku punya ayah seperti Pak Bram..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Mobilnya perlahan berbelok memasuki area sebuah minimarket yang cukup besar.

Levia memarkirkan mobil, lalu mengambil ponselnya. Ia baru sadar, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Gultom.

Vivian terkekeh kecil. "Pasti panik."

Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil balik. "Halo, Yah."

Suara Bram terdengar cepat. "Via—"

Levia langsung memotong sambil tertawa kecil. "Yah... gak usah sembunyi lagi."

"..."

"Aku tahu Ayah dari tadi ngikutin aku."

Di dalam mobilnya, Bram langsung terdiam. "Ketahuan..."

Levia tersenyum hangat. "Ayah ngikutin aku karena khawatir, 'kan?"

Bram menghela napas pasrah. "Iya."

"Maaf," ucap Levia penuh sesal.

"Bukan salah kamu." Bram tersenyum kecil meski Levia tak melihatnya. "Ayah cuma belum tenang."

Levia mengangguk pelan. "Kalau begitu sekalian aja."

"Maksudnya?"

"Ayah parkir di sebelah mobilku. Kita belanja bareng."

Beberapa detik Bram tidak menjawab. Kemudian senyumnya perlahan mengembang.

"Baik."

Tak lama kemudian SUV hitam itu berhenti tepat di samping mobil Levia. Begitu turun, Bram malah terlihat sedikit salah tingkah.

"Maaf ya... Ayah jadi kayak detektif."

Levia tertawa pelan. "Kalau detektifnya setampan Ayah, aku gak keberatan."

Bram sampai tertawa geli. "Kamu ini."

Mereka pun berjalan berdampingan memasuki minimarket. Entah sudah berapa lama Bram tidak pernah merasakan hal sesederhana ini bersama putrinya.

 

Di dalam minimarket...

Levia sibuk memilih buah, yoghurt tanpa gula, oatmeal, dada ayam kemasan, serta beberapa kebutuhan rumah.

Bram hanya mengikuti dari belakang sambil sesekali memasukkan barang lain ke keranjang.

Tiba-tiba...

Sebuah suara perempuan terdengar dari lorong sebelah.

"Kak Vandra?"

Levia dan Bram sama-sama menoleh.

 

...✨"Tak semua penjagaan terasa mengekang. Dari orang yang tepat, perhatian justru menjadi tempat paling nyaman untuk pulang."...

..."Hati yang lama kekurangan kasih sayang akan belajar menghargai hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa."✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!