Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Perjanjian Asisten
Siska berdiri mematung di tengah ruangan yang teramat luas dan dingin itu. Hening yang menyelimuti tempat itu terasa begitu mencekam, seolah-olah setiap detak jantungnya yang berpacu kencang terdengar nyaring di telinga Rendy. Tenggorokannya serasa tercekik oleh rasa malu, penyesalan, dan kehampaan yang tak tertahankan.
Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya kini akhirnya jatuh, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Riasan wajahnya yang biasanya tampak sempurna kini luntur, meninggalkan noda hitam di bawah matanya—sebuah cerminan dari dunianya yang kini benar-benar berantakan.
"Rendy... tolong," suara Siska terdengar sangat parau, pecah, dan nyaris seperti bisikan memohon di tengah keputusasaan yang melilit.
"Aku akui aku salah... Aku buta karena gengsi, kesombongan, dan harta. Aku mohon, jangan hancurkan perusahaan Ayah. Beliau tidak tahu apa-apa tentang segala keburukan dan kesombongan yang kulakukan di restoran hari itu. Hukumlah aku, sakiti aku, tapi jangan bunuh mata pencaharian keluarga kami! Itu satu-satunya harapan kami."
Rendy tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menciptakan jarak emosional yang menyiksa.
Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, ia meraih sebuah pena berbalut emas murni di atas meja kerjanya. Jemari tangannya yang kokoh memutar pena itu pelan, seolah sedang memainkan nasib seseorang. Tatapan matanya lurus ke depan, dingin, tajam, dan sama sekali tak menunjukkan secercah pun simpati—hanya ada ketenangan yang mengerikan dan aura dominasi yang menekan.
"Ibumu sakit sakaratul maut malam itu, Rendy... waktu itu aku benar-benar tidak tahu," bisik Siska, mencoba mengetuk sisi kemanusiaan pria di depannya, berharap ada sisa-sisa Rendy yang dulu ia kenal. "Aku tahu kamu pria yang baik, penyayang, dan pemaaf. Kamu tidak mungkin sekejam ini hanya karena masalah sepele—"
"Jangan pernah berani menyebut-nyebut nama ibuku dengan mulut kotor dan munafik itu!" potong Rendy dengan suara yang sangat rendah namun dinginnya setajam silet, hingga Siska refleks terloncat mundur karena kaget dan ngeri.
Rendy melemparkan sebuah map dokumen berwarna hitam pekat ke atas meja, tepat di depan Siska. Bunyi dentuman map itu di atas meja jati terdengar seperti vonis hukuman mati.
"Ayahmu tidak bersalah? Jangan membodohi saya," ujar Rendy tegas dengan nada yang tak memberi ruang untuk membantah.
"Perusahaan keluarga kalian telah melakukan manipulasi laporan keuangan yang sistematis, penggelapan aset, dan menunggak utang di tiga bank anak perusahaan Adhitama. Saya tidak meruntuhkan perusahaanmu karena dendam pribadi yang sempit, Siska. Saya hanya menghentikan toleransi gratis dan kebaikan bodoh yang selama ini diberikan Kakek kepada keluargamu yang serakah."
Siska memandangi map hitam itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia merasa seolah oksigen di ruangan itu terserap habis.
"L-Lalu... apa maksudmu dengan perjanjian tadi? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Rendy menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada dengan gaya penguasa yang absolut.
"Sederhana saja. Saya akan menyuntikkan dana darurat sebesar lima puluh miliar rupiah untuk menutup utang perusahaan ayahmu dan membatalkan pembekuan bank hari ini juga. Hidup keluargamu akan aman."
Napas Siska tertahan, matanya yang sembab membelalak tak percaya. "Kamu... kamu benar-benar mau membantu Ayah?"
"Ada syaratnya," sela Rendy, menyunggingkan senyum tipis tanpa kehangatan yang justru membuat Siska merinding.
"Kamu harus bekerja sebagai asisten pribadi saya di Menara Adhitama selama enam bulan penuh. Tanpa gaji, tanpa fasilitas istimewa, tanpa kemewahan, dan tanpa status sosial yang bisa kamu pamerkan."
Siska tertegun, otaknya mencoba memproses kata-kata itu. "Asisten pribadi...?"
"Kamu akan mematuhi semua perintah saya tanpa terkecuali, membersihkan ruangan ini setiap hari, menyiapkan semua keperluan saya, mencatat jadwalku, dan berdiri di samping saya sebagai saksi bisu bagaimana dunia bisnis yang sebenarnya bekerja," lanjut Rendy, suaranya terdengar seperti vonis tak terbantahkan.
"Tentu saja, kamu punya pilihan. Kamu bisa menolak sekarang. Tapi dalam waktu 24 jam, surat penyitaan rumah dan kantor ayahmu akan diterbitkan oleh pengadilan. Ayahmu akan jatuh miskin dan hidup di jalanan."
Siska meremas gaunnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pilihan ini benar-benar menghancurkan seluruh sisa harga dirinya. Dari seorang putri pengusaha kaya yang terbiasa dilayani oleh pelayan, kini ia harus menjadi pelayan bagi pria yang dulu begitu ia rendahkan dan hina dengan kejam.
Namun, bayangan wajah ayahnya yang mulai tua, jantungan, dan terancam diseret ke penjara membuat Siska tak punya jalan keluar lain. Ia terjepit. Dengan jemari yang gemetar hebat, Siska meraih pena emas di atas meja itu—benda yang baginya saat ini terasa seberat batu karang—dan membubuhkan tanda tangannya dengan air mata yang menetes membasahi kertas.
Srett. Tanda tangan itu kini mengikat nasibnya.
Siska mendongak, menatap Rendy dengan mata yang bersimbah air mata dan batin yang remuk.
"Aku sudah tanda tangan... Sekarang, biarkan perusahaannya selamat."
Rendy mengambil dokumen itu, memeriksanya sebentar dengan tatapan datar, lalu menyunggingkan senyum dingin penuh kemenangan.
"Bagus. Selamat bergabung di
Menara Adhitama, Nona Siska. Ingat, kontrak ini berlaku mulai besok pagi pukul enam tepat. Jangan terlambat satu detik pun, atau perjanjian ini akan hangus seketika."