Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-tiba Sah

Bau bunga melati yang menyengat memenuhi ruangan privat di salah satu hotel berbintang lima siang itu. Karpet tebal berwarna krem dan dekorasi serba putih seharusnya menciptakan suasana romantis yang hangat.

Namun, bagi Nadhira Anindya Putri, udara di ruangan itu terasa sesejuk es batu yang baru dikeluarkan dari freezer, bahkan cenderung membekukan paru-parunya.

Jantung Nadhira berdegup kencang, memukul dadanya dengan irama yang benar-benar tidak beraturan. Kebaya putih payet yang melekat di tubuhnya terasa makin menyiksa, seolah-olah jerat kain itu sengaja dirancang untuk menahan napasnya yang sudah sesak sejak tadi pagi.

Di samping kirinya, Rina ibunya duduk dengan senyum mengembang paling lebar yang pernah Nadhira lihat sepanjang hidupnya.

"Genggam yang erat, Nak Reyhan," bisik Pak Bambang hangat, mengulurkan tangannya di atas meja akad yang dilapisi taplak putih polos.

Di kanannya, seorang pria berusia 29 tahun berdiri tegap dengan setelan jas dan peci hitam yang membalut tubuh jangkungnya. Pria itu adalah Reyhan Arkananta Wijaya.

Bagi ribuan mahasiswa di Fakultas Seni dan Desain, Reyhan adalah sosok pembawa bencana. Dosen muda berdarah dingin yang tidak pernah tersenyum, berprinsip bahwa nilai A hanyalah milik Tuhan dan nilai B adalah milik dosen, sementara mahasiswa harus berdarah-darah hanya untuk mendapatkan nilai C.

Pria yang tak ragu merobek draf storyboard atau menolak konsep desain mahasiswanya hanya dalam hitungan detik itu kini berdiri tepat di samping Nadhira. Bukan sebagai dosen pengampu mata kuliah, melainkan sebagai calon suaminya.

Reyhan menjabat tangan Pak Bambang. Otot-otot lengannya terlihat makin menegang di balik kain jas. Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun garis senyum atau ekspresi haru layaknya pengantin pria pada umumnya.

Rahangnya yang tegas mengeras, sementara matanya yang tajam dan pekat menatap lurus pada calon mertuanya. Tatapan mata yang persis sama saat ia memergoki mahasiswanya sedang copypaste karya desain di tugas akhir.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Reyhan Arkananta Wijaya bin Surya Baskara Wijaya, dengan putri kandung saya, Nadhira Anindya Putri, dengan maskawin seperangkat alat shalat dan logam mulia sebesar lima puluh gram dibayar tunai."

Tangan Reyhan menjabat erat. Tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun, dan dengan nada suara yang berat, dalam, serta tegas, ia mengucapkan kalimat sakral itu.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadhira Anindya Putri binti Bambang Utomo Suroso dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."

Satu detik. Dua detik.

"Bagaimana Saksi? Sah?"

"Sah!"

Suara sah meluncur bersahut-sahutan dari para saksi, termasuk dari Surya Baskara Wijaya ayah Reyhan yang mengangguk puas dan Joko Susilo Hadiningrat, Dekan Fakultas yang turut hadir sebagai saksi nikah dengan wajah terharu namun tegang.

Penghulu memimpin doa, namun pikiran Nadhira mendadak melayang jauh, linglung oleh kenyataan yang menghantamnya bertubi-tubi.

Bagaimana mungkin mahasiswi DKV semester enam yang hobinya tidur di atas drawing pad dan sering panik kalau revisi desainnya ditolak, kini sah menjadi istri dari dosen paling ditakuti di seluruh jajaran jurusan?

Kejadian gilanya berawal persis dua minggu yang lalu.

Nadhira masih ingat betul sore nahas itu. Ia baru saja keluar dari studio ilustrasi dengan mata merah akibat begadang mengejar deadline desain vektor dan kantung mata hitam yang tebal.

Saat melangkah masuk ke rumahnya yang asri, suasana tidak seperti biasanya. Ada satu set parsel buah berukuran raksasa dan jejeran mobil mewah terparkir di halaman.

Di ruang tamu, kedua orang tuanya sedang duduk tertawa bersama pasangan suami istri setengah baya yang berpenampilan amat elegan namun ramah. Pria paruh baya itu adalah Pak Surya, sementara wanita berwajah manis di sebelahnya adalah Bu Wulan.

"Nah, ini dia Nadhira, panjang umur," seru Bu Rina, ibunda Nadhira, langsung bangkit dan menarik lengan putrinya yang masih memangku tabung gambar dan ransel penuh alat lukis.

Nadhira hanya bisa tersenyum kikuk, membungkuk sopan tanpa tahu apa yang sedang terjadi. "Selamat sore, Tante, Om..."

"Wah, makin cantik ya, Dhira. Dulu waktu kecil padahal sukanya coret-coret tembok pakai krayon," goda Bu Wulan hangat, langsung mengelus lengan Nadhira dengan kasih sayang.

"Langsung saja ya, Dhira," sambung Pak Surya dengan tawa khasnya yang berwibawa namun jenaka.

"Om dan Papa kamu ini sudah bersahabat dari jaman kita masih bau kencur di bangku kuliah dulu. Dan kami punya janji tua yang belum sempat ditepati."

Nadhira mengedipkan matanya polos. "Janji tua?"

"Iya, Nak," sela Pak Bambang sambil menyeruput teh hangatnya.

"Papa dan Om Surya sepakat untuk menjodohkan anak pertama kita. Dan karena Papa percaya sama Reyhan, anaknya Om Surya yang pintar dan bertanggung jawab, Papa setuju menjodohkan kamu sama dia."

Kala itu, Nadhira hanya bisa mematung. Nama Reyhan bukanlah nama yang asing. Di seluruh jurusan DKV, nama itu setara dengan Lord Voldemort.

"R-Reyhan? Maksud Papa... Pak Reyhan Arkananta Wijaya? Dosen DKV yang suka nyuruh ngulang karya dari nol itu?!" seru Nadhira spontan, panik tak tertahankan sampai suara melengkingnya memenuhi ruang tamu.

Ibu Rina langsung mencubit paha Nadhira gemas. "Ssst! Hus! Bicara apa sih kamu itu, Dhira. Nak Reyhan itu dosen muda berprestasi, ganteng lagi!"

"Tapi Ma, dia itu killer banget. Di kelas, kalau ketahuan niru palet warna dikit aja bisa disuruh keluar!" protes Nadhira histeris, matanya membelalak lebar memohon pertolongan pada Ibunya.

Namun, pertolongan itu tidak pernah datang. Perjodohan itu murni didasari oleh niat kedua keluarga untuk mempererat tali silaturahmi.

Bahkan Reyhan sendiri yang malam itu datang terlambat karena harus menilai puluhan porto folio mahasiswa, langsung menyetujui perintah ayahnya tanpa bantahan berarti.

Pria itu hanya menatap Nadhira datar dari balik kacamatanya, seolah-olah Nadhira hanyalah aset visual yang perlu direvisi.

"Pengantin wanita, silakan mencium tangan suaminya."

Instruksi penghulu mengembalikan Nadhira ke alam sadar secara paksa. Ia tersentak pelan. Di sampingnya, Reyhan sudah memutar tubuhnya menghadap Nadhira. Pria itu menyodorkan tangan kanannya yang kekar dengan punggung tangan yang bersih.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Nadhira mengulurkan tangannya. Ia meraih jemari Reyhan yang dingin namun kokoh.

Saat bibirnya menyentuh punggung tangan pria itu, Nadhira bisa merasakan harum aroma sandalwood dan citrus dari parfum mahal milik Reyhan. Tubuh Nadhira makin merinding.

Setelah itu, giliran Reyhan yang harus meletakkan telapak tangannya di atas dahi Nadhira untuk membacakan doa pernikahan.

Nadhira memejamkan mata erat-erat saat telapak tangan hangat Reyhan menempel di dahinya. Suara Reyhan yang biasanya menggelegar saat mengritik hasil karya di depan kelas kini terdengar amat dekat, berbisik halus melafalkan doa-doa kebaikan dalam bahasa Arab.

Untuk sejenak, Nadhira merasa ada desir asing yang aneh di dalam dadanya. Suara berat pria itu tiba-tiba terasa begitu menenangkan.

Namun, ilusi romantis itu hancur berantakan detik berikutnya.

Begitu doa selesai dan Reyhan menarik tangannya, pria itu menunduk sedikit ke arah telinga Nadhira. Dalam jarak yang hanya beberapa sentimeter, suara berbisik Reyhan kembali ke mode aslinya dingin, lugas, dan menusuk.

"Jangan berpikir setelah menikah kamu bisa seenaknya dapat nilai A di mata kuliah metodologi desain saya, Nadhira," bisik Reyhan amat pelan, hampir tak terdengar oleh siapapun kecuali Nadhira.

"Keterlambatan pengumpulan tugas tetap dikurangi sepuluh poin per jam."

Mata Nadhira seketika terbuka lebar. Ia menatap Reyhan dengan tatapan tidak percaya. Sementara pria di sampingnya hanya menaikkan satu alisnya tipis, mempertahankan ekspresi wibawa tanpa dosa di depan para tamu undangan.

"Bagus sekali, pengantinnya serasi banget," seru Bu Wulan bertepuk tangan gembira dari kursi keluarga. "Ayo foto bersama!"

Fotografer bergerak cepat mengatur posisi. Pak Surya dan Pak Bambang berdiri di sisi kanan, sementara Bu Wulan dan Bu Rina di sisi kiri. Pak Joko sang Dekan ikut tersenyum lebar di samping mereka.

"Ayo, Mas Reyhan, rangkul pinggang istrinya dong. Jangan kaku seperti mau upacara begitu!" goda sang fotografer sambil memegang kameranya.

Wajah Nadhira memerah padam. Ia meremas kain kebayanya sendiri. Mati aku, batinnya berteriak panik.

Reyhan tidak membantah instruksi fotografer. Dengan gerakan tenang namun pasti, lengan panjangnya melingkar di pinggang Nadhira.

Sentuhan jari-jari Reyhan di pinggangnya membuat Nadhira tersentak dan reflek menegakkan punggung kakunya layaknya tiang listrik.

Jarak tubuh mereka mendadak begitu rapat sampai Nadhira bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh suaminya.

"Rileks, Nadhira," bisik Reyhan lagi di samping kepalanya, suaranya sangat minim nada. "Kamu makin terlihat seperti mahasiswi yang mau sidang skripsi kalau kaku begini."

Nadhira mengertakkan giginya menahan kekesalan. Ingin rasanya ia menyikut perut dosen di sebelahnya ini, tapi senyum palsu harus tetap ia tampilkan di hadapan kamera.

"Senyum... Satu, dua, tiga!" Cklik!

Lampu kilat kamera menyala berkali-kali, mengabadikan momen bersejarah yang bagi Nadhira terasa seperti awal dari masa hukumannya.

Setelah sesi foto keluarga dan ramah tamah yang singkat dan serba terbatas, karena pernikahan ini memang disepakati hanya dihadiri keluarga inti dan saksi kunci demi menjaga kerahasiaan di kampus, kedua pengantin baru itu akhirnya diizinkan untuk beristirahat di ruang tunggu VIP.

Pintu kayu tebal ruangan itu tertutup rapat, memblokir riuh suara keluarga di luar. Begitu pintu terkunci, keheningan yang canggung langsung melingkupi ruangan ber-AC tersebut.

Nadhira langsung melepas sepatu hak tingginya tanpa membuang waktu, mengaduh pelan sambil memijat pergelangan kakinya yang pegal. Ia lalu berjalan menuju sofa empuk dan mendaratkan tubuhnya di sana dengan tidak anggun sama sekali. Kebaya mewahnya terlipat sembarangan.

Reyhan, yang baru saja melepas peci hitamnya dan melonggarkan ikatan dasinya, berjalan mendekat. Pria itu berdiri di depan sofa, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan tingkah Nadhira dari atas ke bawah.

"Sopan santun kamu ke mana, Nadhira?" tanya Reyhan datar. "Kamu sedang di depan suami kamu, bukan di studio gambar."

Nadhira mendongak, menatap Reyhan dengan tatapan sebal yang tidak lagi ditutup-tutupi. Di kampus ia boleh saja takut setengah mati pada dosennya ini, tapi sekarang status mereka sudah berubah. Lagi pula, tidak ada orang lain di ruangan ini.

"Duh, Pak... eh, Mas... eh, Pak Reyhan!" Nadhira mengusap wajahnya frustrasi.

"Tolong ya, hari ini saya udah capekkk banget. Dari subuh udah dirias, sanggul saya dikasih pin ribuan biji rasanya kayak ditusuk paku, terus sekarang saya harus senyum terus sampai rahang saya mau copot. Jangan mulai ceramah dosennya sekarang deh, Pak."

Reyhan menghela napas panjang. Ia menarik kursi kayu di dekat meja dan duduk berseberangan dengan Nadhira. Pria itu melepas kacamatanya, mengusap batang hidungnya perlahan, lalu kembali memakai kacamatanya.

"Dengar, Nadhira," ujar Reyhan dengan nada bicara yang berubah formal dan serius.

"Pernikahan ini mungkin terjadi karena keinginan orang tua kita. Tapi karena sekarang kita sudah sah secara hukum dan agama, ada hal-hal mendasar yang harus kita sepakati bersama."

Nadhira membetulkan duduknya, sedikit terintimidasi oleh aura tegas pria itu. "Kesepakatan apa?"

"Terutama soal kampus," tegas Reyhan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Nadhira.

"Tidak boleh ada satu orang pun anak-anak DKV atau universitas yang tahu soal pernikahan ini. Tidak dosen lain, tidak staf jurusan, dan terutama tidak teman-teman seangkatan kamu."

"Ya ampun, Pak! Tanpa Bapak suruh juga saya ogah ngasih tahu teman-teman," balas Nadhira cepat, tangannya bergerak heboh di udara.

"Bisa hancur reputasi saya kalau Kania sama Dimas tahu saya nikah sama dosen paling killer di jurusan. Saya bisa diserbu satu angkatan, dikira ngerjain tugas pameran pakai jalur belakang."

Satu alis Reyhan terangkat. "Bagus kalau kamu sadar posisi. Dan ingat, interaksi kita di kampus harus seratus persen profesional. Jangan pernah panggil saya 'Mas' atau nampak akrab di area jurusan."

"Siap, Pak Dosen!" Nadhira memberi salam hormat secara berlebihan dengan wajah cemberut.

"Lagian siapa juga yang mau panggil Bapak 'Mas' di kampus? Ngeri banget."

Reyhan menyandarkan punggungnya di kursi. Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, sudut bibirnya terangkat tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat membentuk guratan tipis yang sangat misterius.

"Bagus," kata Reyhan dingin, lalu berdiri dari kursinya. "Sekarang rapikan kebayamu. Lima belas menit lagi kita pulang ke rumah baru."

Nadhira melotot. "Rumah baru? Kita... langsung tinggal berdua?"

Reyhan menoleh sedikit ke arah Nadhira. "Tentu saja. Kamu pikir setelah menikah kita bakal tinggal pisah rumah? Kamu istri saya sekarang, Nadhira."

Tanpa menunggu balasan Nadhira yang makin panik, Reyhan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Nadhira yang meremas bantal sofa dengan kepanikan membumbung tinggi.

...Bersambung... ...

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!